Tim “Food Green Belt” Dojo Renzo, Siap Garap Kopi dan Sagu

 Tim “Food Green Belt” Dojo Renzo, Siap Garap Kopi dan Sagu

Para pendekar karate Dojo Renzo tengah membahas program pengembangan dan pemasaran kopi dan sagu. (foto: dojo renzo)

Jayakarta News – Tim Dojo Renzo yang membidangi aksi sosial kemasyarakatan bidang pertanian, tengah intensif menggarap Program Sabuk Hijau Pangan (Food Green Belt). Setelah beraudiensi dengan Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Kasdi Subagyono, M.Sc, beberapa wktu lalu, tim ini tengah memfokuskan pada komiditi kopi dan sagu.

Ratusan hektare tanah yang tidak produktif di Papua, Jawa Barat dan Jawa Timur akan digarap oleh pendekar-pendekar Karate Padepokan Modern Dojo Renzo. Melalui program Community Development Kementerian Pertanian, para pendekar karate ini akan menghijaukan lahan di Cileungsi Bogor, Argopuro Jember dan beberapa kabupaten di Provinsi Papua.

Tidak hanya menghijaukan, tetapi juga menggarap aspek produksi. “Khusus kopi, kita punya problem laten. Antara lain soal produk kopi yang berstandar internasional. Problematika lain adalah soal permodalan bagi para petani kopi. Dan masalah selanjutnya, soal pemenuhan pasar. Ini kami kaji, dan kami buatkan program jitu untuk membantu mengatasi problematika tersebut,” ujar Prof (Ris) Hermawan Sulityo, ketua tim Program Sabuk Hijau Pangan yang diinisiasi oleh Menteri Pertanian Syahrul Yassin Limpo.

Di Papua, tim ini sudah memiliki sejumlah lahan. Nantinya tim ini akan melakukan pendampingai  pengolahan dan pemasaran perkebunan Kopi di Papua untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Mengingat kopi arabika yang dibudidayakan masyarakat pegunungan Jayawijaya terkenal memiliki kualitas terbaik karena ditanam di lahan perawan yang subur tanpa menggunakan pupuk kimia dengan ketinggian lahan terbaik dan bebas polusi.

“Kita akan dorong supaya produk kopi Papua mendapatkan sertifikasi internasional,” tegas Prof Kikiek, panggilan akrab Hermawan Sulistyo.

Program yang sama juga akan dilakjkan di perkebunan Kopi Argopuro, Jember. Tapi, lanjut Kikiek, produk kopi Argopuro akan lebih difokuskan kepada pemenuhan kebutuhan pasar kopi dalam negeri.

Pada hasil produksi petani kebun kopi di Jember ini para pendekar ini akan berinovasi dengan racikan kopi-kopi unik seperti kopi greng untuk pria berkebutuhan khusus, Kopi Smart untuk membantu meningkatkan fokus konsentrasi pelajar, kopi awet muda.

Akan halnya sagu, Kikiek mengatakan, Papua adalah “surga sagu”. Di sana, tanaman sagu tumbuh dengan sendirinya, dan menjadi sumber pemenuhan pakan sebagian besar masyarakat. “Di sisi lain, kami melihat potensi ekspor sagu sangat besar. Dengan pelatihan dan mesin pengolah sagu, tentu masyarakat Papua akan mendapatkan nilai lebih dari sagu,” ujar Kikiek. (rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *