Sensasi Hujan Lampion di Kali Surabaya

 Sensasi Hujan Lampion di Kali Surabaya

BANYAK kota yang dibelah sungai. Tapi hanya sedikit yang berhasil memanfaatkannya sebagai asset. Salah satu yang sedikit itu bisa ditemukan di Kali Surabaya yang mengalir di sepanjang Jalan Raya Kayoon.

Dulu, pada tahun 1991, pernah terjadi kehebohan di Kali Surabaya. Jembatan Kayoon yang legendaris itu pernah tertutup busa. Gumpalan busa raksasa berasal dari aliran air sungai di bawahnya.

Tak jelas dari mana asalnya. Pagi-pagi, warga Surabaya heboh. Ada busa segede gaban menggumpal di bawah jembatan. Kian lama kian besar. Sampai naik ke atas jembatan. Kemudian menutup jalan.

Itulah kali pertama saya mengenal Jalan Raya Kayoon. Untuk menggali informasi, saya mewawancarai warga yang tinggal di kios kembang dan warung makan di sepanjang sungai.

Setahun kemudian, sebuah kehebohan terjadi lagi di lokasi yang sama. Bukan oleh busa yang menutup jalan, tetapi matinya ribuan ikan. Termasuk ikan sapu-sapu yang terkenal paling tahan terhadap polusi. Air sungai yang dulunya berwarna ‘’keruh tanah’’ berubah merah seperti darah.

Tentu perubahan warna itu karena polusi. Juga munculnya busa. Tapi tak pernah ketahuan, siapa yang membuang zat polutan ke Kali Surabaya itu.

Sekarang Kali Surabaya sudah bersih. Di sisi sungai sepanjang Jalan Raya Kayoon sudah dibuat pedestrian. Biasa dibuat masyarakat jalan-jalan. Dari rolak atau pintu air yang berfungsi untuk mengatur debit hingga Monumen Kapal Selam (Monkasel). Bahkan sampai ke depan Hotel Weta.

Malam sebelum pulang naik kereta api, saya sempat jalan kaki di depan Hotel Weta. Sekitar pukul 01:00. Pemandangan malam itu sangat indah. Kali Surabaya berhias lampion. Merah, hijau, kuning dan ungu.

Kebetulan saya menginap di Hotel Weta. Dapat kamar di lantai tiga. Dengan jendela menghadap jalan raya. Hujan lampion itu tampak di sepanjang sungai. Menjadi pemandangan yang istimewa.

Awalnya saya tidak menginap di Hotel Weta. Saya sudah ‘’langganan’’ di Hotel Cleo. Hotel budget yang berada di pojok Balaikota Surabaya.

Malam itu, saya janjian dengan Pak Slamet dan Pak Suryadi, Senior saya saat masih bekerja di Jawa Pos. Tiba di hotel, keduanya sudah menunggu di lobi. Sambil ngopi. Saya pun langsung nimbrung.

Asyik mengobrol sampai lupa kalau belum menyelesaikan pembayaran kamar yang sudah saya pesan sebelumnya secara online. Setelah Pak Slamet dan Pak Suryadi pulang, saya lanjutkan proses pembayaran.

Ternyata sistem menolak. Rupanya limit waktunya telah lewat. Terpaksa harus mengulang dari awal. Apa daya, kamar sudah tidak ada lagi.

Sebenarnya saya dapat pilihan hotel lain. Pop Hotel di sekitar Gubeng. Tapi saat hendak membayar, ATM satu-satunya di dekat saya sedang offline.

Ya sudah. Tidak ada pilihan. Saya pun berjalan kaki saja, menuju Hotel Weta. Siapa tahu bisa dapat kamar murah dengan pembayaran tunai.

Saat berfoto ria di atas jembatan, saya lihat neon sign Hotel Weta menawarkan ‘’Hot Deal Package’’. Tarif normal didiskon besar menjadi Rp 305.000. Lumayan. Dapat hotel bagus dengan tarif hotel budget.

Siangnya, saat berjalan dari Stasiun Gubeng ke Jalan Raya Kayoon itulah, saya lihat banyak orang yang menikmati akhir pekan bersama keluarga di sana. Tidak hanya Monkasel yang ramai. Perahu wisata juga tampak mondar-mandir membawa wisatawan.

Kali Surabaya benar-benar sudah berubah. Tentu bukan saja karena pemerintah daerahnya punya perhatian. Masyarakat Surabaya juga punya kesadaran menjaga lingkungan. Perubahan prilaku masyarakat itulah yang menjadikan Surabaya berbeda dengan kota lainnya. ***

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.