Connect with us

Kolom

Reog: Seni Sindiran Kuno yang Diakui UNESCO dan Terancam Punah

Published

on

Oleh Heri Mulyono

Reog Ponorogo, seni sindiran dari zaman kerajaan, resmi diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia yang terancam punah. Di balik topeng harimau dan bulu merak, tersimpan filosofi perlawanan yang hidup hingga kini.

Ia bukan sekadar tarian. Reog Ponorogo adalah sindiran politik yang membeku menjadi gerak, ratapan rakyat kecil yang dibungkus gemuruh gamelan, dan doa leluhur yang diwariskan melalui keringat serta tulang rahang. Kini, pada awal Desember 2024 di Asunción, Paraguay, UNESCO mengukuhkan Reog sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia yang membutuhkan perlindungan mendesak.

Pengakuan itu datang dalam sidang ke-19 Komite Antarpemerintah. Bagi warga Ponorogo, ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pengakuan atas identitas yang mereka jaga selama lebih dari lima abad—melewati keruntuhan Majapahit, gelombang dakwah Islam, revolusi kemerdekaan, hingga gempuran budaya digital.

Namun, di balik gemerlap mahkota bulu merak dan gemuruh tepuk tangan internasional, tersimpan pertanyaan: akankah Reog benar-benar lestari, atau hanya menjadi tontonan musiman yang perlahan kehilangan jiwanya?

Akar Sejarah yang Tumbuh Bercabang

Tidak seperti kesenian lain yang lahir dari satu dongeng resmi, Reog justru tumbuh subur dari tiga versi sejarah yang kadang bersilangan, tapi tak pernah saling membatalkan. Masyarakat Ponorogo dengan bijak memandang ketiganya sebagai lapisan-lapisan waktu yang saling melengkapi, bukan sebagai pertentangan.

Versi Bantarangin: Cinta dan Syarat Mustahil

Versi tertua ini membawa kita ke abad ke-11, masa Kerajaan Kediri. Alkisah, Prabu Kelana Sewandana dari Kerajaan Bantarangin jatuh hati pada Dewi Songgolangit, putri Kediri yang terkenal cantik bagai cahaya langit. Sang dewi tak mudah direbut. Ia mengajukan syarat yang sulit dibayangkan: “Hadirkanlah kesenian baru yang belum pernah ada. Lengkap dengan gamelan model baru, dan seorang manusia yang menjelma menjadi harimau dengan mahkota bulu merak.”

Di sinilah akar artistik Reog mulai terbentuk. Kata “Songgolangit” sendiri—yang berarti “sangga langit” atau penyangga langit—menyiratkan sesuatu yang tinggi, sakral, dan hampir mustahil dijangkau. Maka, terciptalah Singo Barong: kepala harimau sebagai lambang kekuasaan duniawi, di atasnya bersemayam merak yang melambangkan keindahan dan dunia spiritual. Kelana Sewandana akhirnya bertempur dengan Singo Barong, dan dengan pusaka Cemeti Samandiman ia menaklukkan sang harimau. Pertarungan ini hingga kini menjadi inti dramatik pertunjukan Reog: pergulatan antara nafsu dan keindahan, antara kuasa dan tunduk.

Versi Ki Ageng Kutu: Sindiran Politik yang Berdarah

Namun versi yang paling menggugah adalah cerita dari abad ke-15, saat Majapahit mulai rapuh. Seorang demang bernama Ki Ageng Kutu Suryongalam mengasingkan diri ke hutan Wengker (sekarang Ponorogo). Ia murka. Raja Brawijaya V dinilai lemah, terlalu dikendalikan oleh permaisuri asal Campa.

Ki Ageng Kutu tidak bisa melawan dengan pedang—pasukannya terlalu kecil. Maka ia menciptakan pertunjukan. Setiap tokoh dalam Reog adalah kode politik yang hidup:

  • Singo Barong (harimau dengan mahkota merak) adalah gambaran raja yang perkasa secara fisik, tetapi dikendalikan oleh burung merak di atas kepalanya—yaitu permaisuri.
  • Bujang Ganong yang bertopeng merah dengan gerakan jenaka dan akrobatik adalah rakyat jelata: cerdik, lincah, dan tak pernah takut menertawakan kekuasaan.
  • Jathil yang menunggang kuda kepang melambangkan pasukan kerajaan yang gagah, tetapi terkadang buta arah karena hanya mengikuti komando tanpa berpikir.

Pertunjukan ini digelar di pasar dan alun-alun. Rakyat Wengker datang berbondong-bondong, tertawa, terkesima, lalu perlahan menyadari sindirannya. Reog menjadi api perlawanan yang menyala tanpa asap. Inilah filosofi pertama Reog: kritik tidak harus berteriak, ia bisa menari.

Versi Batoro Katong: Dakwah Tanpa Penghancuran

Ketika Islam mulai masuk ke Jawa akhir abad ke-15, banyak tradisi lama dihancurkan. Tetapi Batoro Katong (Raden Katong) yang beragama Islam mengambil jalan berbeda. Setelah mengalahkan Ki Ageng Kutu dan mendirikan Kadipaten Ponorogo pada 11 Agustus 1496, ia tidak melarang Reog.

Ia mengubahnya. Gamelan yang dulu membangkitkan semangat perlawanan, kini menjadi panggilan untuk berkumpul sebelum ceramah agama. Tarian yang dulu penuh sindiran, kini disisipi nilai-nilai ketauhidan. Singo Barong tidak lagi dilihat sebagai simbol raja lemah, melainkan sebagai nafsu yang harus ditaklukkan oleh akal sehat. Bujang Ganong menjadi representasi manusia kecil yang tetap teguh dan cerdas dalam menjalani hidup.

Batoro Katong mengajarkan filosofi penting: tradisi tidak harus dihancurkan, tetapi bisa diisi dengan ruh baru. Inilah yang membuat Reog bertahan hingga kini—ia terus beradaptasi tanpa kehilangan akar.

Ketiga versi ini, alih-alih saling meniadakan, justru dengan cerdas ditempatkan oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam satu alur sejarah yang utuh. Dimulai dari kelahiran bentuk artistik (Bantarangin), diisi dengan jiwa perlawanan (Ki Ageng Kutu), lalu disempurnakan dengan nilai-nilai spiritual baru (Batoro Katong). Bagi masyarakat Ponorogo, sejarah bukanlah garis lurus yang tunggal, melainkan anyaman dari banyak cerita yang saling menguatkan.

Lebih dari Sekadar Tari: Tubuh, Rahang, dan Jiwa

Secara fisik, Reog adalah pertunjukan yang menegangkan sekaligus memukau. Elemen paling ikonik adalah Dadak Merak—topeng raksasa berbentuk kepala harimau dengan mahkota dari ratusan bulu merak yang disusun seperti kipas raksasa, lebarnya bisa mencapai dua meter. Beratnya antara 40 hingga 60 kilogram.

Dan ia tidak digendong, tidak dipanggul. Ia digigit.

Seorang penari Singo Barong menahan seluruh beban itu hanya dengan kekuatan gigi dan rahang. Ia menari, berputar, membungkuk, dan berinteraksi dengan penari lain—semua sambil mempertahankan topeng tetap tegak di atas kepalanya. Satu gerakan salah, rahang bisa retak. Satu detik lengah, leher bisa terkilir.

Ini bukan sekadar atraksi fisik. Dalam tradisi warok—para tetua spiritual pelindung Reog—kemampuan ini diperoleh melalui laku bertahun-tahun: puasa mutih (hanya makan nasi putih dan air), tapa kungkum (berendam di sungai malam hari), hingga semedi di tempat-tempat yang dianggap keramat. Seorang warok tidak hanya melatih otot, tetapi juga melatih pikirannya untuk tidak merasakan sakit, melatih egonya untuk tidak merasa berat. Filosofinya: siapa yang mampu menahan beban terberat dengan senyuman, dialah pemenang sejati.

Selain Singo Barong, ada tokoh-tokoh lain yang tak kalah penting:

  • Bujang Ganong: patih dengan topeng merah menyala, perut buncit, tetapi gerakannya lincah seperti monyet. Ia melompat, berjungkir balik, dan membuat penonton tertawa. Bujang Ganong adalah rakyat kecil: lucu, cerdik, namun jika dipojokkan, ia bisa menggigit.
  • Jathil: penari yang menunggang kuda kepang. Awalnya hanya ditarikan oleh laki-laki yang berbusana perempuan, melambangkan keseimbangan gender dalam kekuatan. Kini Jathil juga ditarikan oleh perempuan, dengan gerakan yang makin dinamis, seakan kuda-kuda itu benar-benar hidup.
  • Kelana Sewandana: sang raja yang gagah, penuh wewenang, tetapi sering terjebak dalam keinginannya sendiri. Ia adalah penguasa yang butuh dituntun.

Musik pengiring Reog juga unik. Bukan gamelan Jawa yang lembut dan mendayu. Reog menggunakan slompret yang melengking, kendang yang memburu, angklung yang getarannya kasar, serta teriakan senggakan dari para penabuh. Suasananya riuh, hampir kacau, tetapi tertata dalam pola yang sakral. Nama “Reog” sendiri konon berasal dari kata Jawa kuno yang berarti “ramai dan bersahutan”. Ini adalah kegaduhan yang teratur—seperti kehidupan.

Nilai Artistik dan Filosofi yang Hidup

Setiap elemen Reog menyimpan pesan universal yang telah dibaca oleh para budayawan dan tokoh adat selama bergenerasi:

  1. Keseimbangan Kuasa

Singo Barong adalah penguasa hutan, tetapi ia ditaklukkan oleh merak yang lembut. Merak adalah keindahan, seni, dan kehalusan. Pesannya: kekuasaan tanpa keindahan adalah tirani. Seni tanpa kekuatan hanyalah hiasan.

  1. Solidaritas Komunal

Reog tidak bisa ditarikan sendirian. Butuh puluhan orang: penari, penabuh, penyenggak, dan warok yang menjaga dari belakang. Setiap orang punya peran, tidak ada yang lebih penting dari yang lain. Ini adalah gotong royong dalam bentuk tarian.

  1. Kritik Sosial yang Halus

Dari sindiran Ki Ageng Kutu hingga kini, Reog tetap menjadi ruang bagi rakyat untuk “berkomentar” tentang pemimpin mereka. Di Ponorogo, tidak jarang kelompok Reog menyelipkan gerakan atau dialog jenaka yang menyindir kebijakan pemerintah setempat. Dan itu dibiarkan, bahkan diapresiasi, karena Reog memang lahir dari tradisi perlawanan yang santun.

  1. Transendensi Melalui Penderitaan Fisik

Menahan topeng 50 kilogram dengan rahang adalah bentuk tapa. Warok percaya bahwa dengan melampaui batas fisik, seseorang bisa menyentuh kesadaran yang lebih tinggi. Inilah mengapa Reog sering diundang dalam upacara bersih desa, tolak bala, atau selamatan bumi. Ia bukan hiburan, tetapi doa yang bergerak.

Jalan Panjang Menuju UNESCO: Lebih dari Sekadar Pengakuan

Proses pengusulan Reog tidak mudah. Indonesia memiliki lebih dari 2.000 warisan budaya tercatat dalam inventaris nasional. Hanya belasan yang berhasil menembus UNESCO. Reog menjadi salah satunya setelah koordinasi bertahun-tahun antara Kabupaten Ponorogo, Kementerian Kebudayaan, dan Kantor Staf Presiden.

Berkas resmi dikirim Januari 2024. Pada 3 Desember 2024, pengumuman datang: Reog masuk dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Membutuhkan Perlindungan Mendesak. Bukan daftar representatif biasa. Status ini menunjukkan bahwa meskipun Reog masih dipertunjukkan, ia dalam bahaya serius.

Apa ancamannya?

  • Regenerasi warok terhambat: anak muda enggan menjalani laku spiritual berat.
  • Penari Singo Barong semakin langka: hanya orang dengan kondisi gigi dan rahang sempurna yang bisa melakukannya.
  • Komersialisasi: banyak grup Reog lebih memilih gerakan instan yang “fotogenik” untuk turis, meninggalkan kedalaman ritual.

Status “perlindungan mendesak” dari UNESCO bukanlah hadiah; itu adalah alarm.

Reog di Tengah Dunia yang Berubah

Kini Reog telah tampil di festival-festival Eropa, menjadi duta budaya Indonesia. Di Ponorogo, sanggar-sanggar remaja mulai berlatih kembali. Pemerintah daerah memasukkan Reog ke dalam kurikulum muatan lokal. Beberapa warok sepuh mulai membuka “kelas rahasia” untuk melatih calon penerus, meskipun tidak semua sanggup bertahan.

Seorang warok berusia 73 tahun dengan gigi depan yang masih utuh meski sudah banyak yang ompong, yang enggan disebut nama aslinya, pernah berujar pelan di sela latihan malam. “Reog itu ajarane urip,” katanya. “Kowe seng kudu kuwat nahan beban, tapi ora kowe pamer. Kowe mung terus nari.” (Reog itu ajaran hidup. Kamu harus kuat menahan beban, tapi tidak kamu pamerkan. Kamu hanya terus menari.)

Pengakuan UNESCO pada Desember 2024 bukanlah akhir. Ia adalah awal dari tanggung jawab baru: mendokumentasikan setiap gerakan, melatih rahang-rahang muda, menuliskan ketiga versi sejarah dengan hormat, dan memastikan bahwa Reog tidak berubah menjadi fosil museum.

Dari sindiran seorang demang terhadap raja yang lemah, hingga menjadi pusaka dunia yang terancam, jejak Reog Ponorogo adalah bukti bahwa seni rakyat bisa melampaui zaman. Ia merekam politik, religi, cinta, dan perlawanan dalam satu tubuh yang menari. Dan hingga hari ini, di desa-desa Ponorogo, di bawah cahaya lampu petromaks, dentuman slompret masih terdengar. Dan seseorang dengan rahang bajanya masih mengangkat Singo Barong—bukan untuk pamer, tapi untuk berdoa. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement