Connect with us

Entertainment

Pesta Babi akan Diputar di M Bloc, Kebenaran Diuji

Published

on

Dandhy Dwi Laksono: Publik bertanya 'apa ini nyata?'

JAYAKARTA NEWS—  Pesta Babi atau awow atatbon (joewo, Papua Selatan dan Papua pegunungan Tengah) adalah pesta adat yang melambangkan kekayaan, kehormatan dan sosial dengan menyembelih babi dan membakarnya di batu (bakar batu).

Namun, jurnalis investigasi Dhandy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale membuat film dokumenter berjudul ‘Pesta Babi, Kolonialisme di Zaman kita’) dan akan diputar di M Bloc, Senin (27/4) pk 6 PM.

Berdurasi 90 menit, film ini telah tayang di beberapa kota seperti Batam, Bandung, Jogjakarta, Bojonegoro dll. Bahkan, juga telah diputar di TIM yang mendapat apresiasi dan simpati dari kalangan pelajar dan mahasiswa serta pengamat sosial.

Memang tak diputar di bioskop karena film ini tak disensor LSF. Ditayangkan di kampus dan balai desa atas bantuan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan donasi pengunjung.

Pesta Babi menurut Dhandy Laksono bukan hanya dokumenter tapi narasi bicara ulang tentang relasi kekuasaan, bisnis dan operasi pendekatan keamanan di Papua.

“Ini dampak Proyek Strategis Nasional alias PSN. Yaitu memaparkan dari sudut pandang yang tak biasa : ada konflik di permukaan tapi bisa jadi menyimpan lapisan kepentingan yang lebih dalam,” ujar Dhandy.

Ditegaskannya, Proyek PSN katanya meredam separatisme atau ada agenda ekonomi terselubung. Kita yaitu Pemerintah kong kalikongdengan konglomerat hitam dan oknum TNI ikut bermain.

Dandhy Dwi Laksono ‘kami tak didanai Pemerintah’ (foto watchdog)

“Film ini mencoba membongkar dugaan keterlibatan konglomerat hitam yang memanfaatkan situasi dan kondisi untuk kepentingan bisnis,” ucapnya.

Selama bertahun-tahun yang jadi korban masyarakat adat Papua dimana tanah leluhur dan hutan adat terancam punah dan habis.

Dhandy mengungkapkan, film ini tak didanai kepentingan-kepentingan tertentu tetapi lahir dari kerja advokasi.

“Ketika diputar di Berlin, atas sponsor Watchdog, Greenpeace dan Ekspedisi Indonesia Baru di Jerman, pengunjung dan pengamat sosial lingkungan di sana mengatakan, ini bukan cuma  isu Papua, melainkan sudah mendunia. Isu bersama,” jelas Dhandy lagi.

Pesta Babi dibuat dari pertarungan narasi  di era digital.

Dulu yang bicara teks. Kini gambar/film dominan.

Medium visual di era terkini penting sebagai alat kritik.

Gambar film memiliki kekuatan membentuk realitas tanpa distorsi (pemutatbalikan fakta).

“Publik bertanya : apa yang terjadi ? Tetapi mereka juga bertanya : apa ini nyata ?,” pungkas Dhandy.

Last but not least, saat ini kebenaran diuji, dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan kepada generasi masa depan bangsa. (pik)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement