Pembinaan Ideologi Pancasila: Berkaca Dari Tradisi Lisan Warga Penghayat

 Pembinaan Ideologi Pancasila: Berkaca Dari Tradisi Lisan Warga Penghayat

Oleh Janu Wijayanto

Tulisan ini sifatnya refleksi budaya. Sebagian besar isinya saya tulis ulang dari lirik tembang pangkur yang saya dapati dari tradisi lisan di Tatar Sunda. Tepatnya saya dapat dari seorang salik kalau versi sufisme Islam, karena dia tidak membawa-bawa Islam mungkin bisa disebut praktisi jalan ketuhanan yang berkebudayaan (ha…bikin istilah sendiri). Kan istilah itu lagi ramai gara-gara RUU HIP. Tapi kita tidak bahas itu.

Sebuah Desa di Kaki Gunung Ciremai saya mendapatkan lirik tembang pangkur itu. Disebutkan dari sumber yang saya temui itu bahwa syair yang ada adalah dari Mama Mei Kartawinata, dimana dia mendapat dari penuturan kasepuhannya atau ‘orang tua’. Saya tidak sedang meneliti sejarah untuk menggali lebih jauh kebenaran dan buktinya. Saya tertarik membahas isinya.

Sontak saya mencari tahu siapa itu Mama Mei Kartawinata. Ada yang menyebut beliau sahabat diskusinya Bung Karno. Ada yang bilang salah seorang pejuang bawah tanah era pergerakan kemerdekaan dan ternyata dari hasil googling, ketemulah saya dengan satu blog lama yang sepi pengunjung tentang Mama Mei berikut http://orgbudidaya.blogspot.com/2015/01/tentang-mei-kartawinata.html.

Mama Mei Kartawinata

Disebutkan beliau pendiri organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dinamakan Budi Daya. Konon seseorang di Kaki Gunung Ciremai yang saya temui itu tidak mendapatkan tulisan itu dari organisasi penghayat tersebut karena bukan warga resmi penghayat, tetapi dari tradisi lisan turun-temurun, dan hanya disebutkan bahwa lirik syair tembang itu dari Mama Mei Kartawinata. Baiklah, toh niat saya sekadar menyampaikan darimana sumbernya.

Berikut kutipan tembang pangkur yang berisi tentang pentingnya pengembangan kepribadian bagi pencapaian cita-cita Bangsa dan Negara Indonesia, di dalamnya banyak menyebut pengajaran tentang penghayatan Pancasila dalam bahasa Sunda dan terjemahan Indonesianya :

Gumelarna Kamanusan, sabagian ti Pancasila katulis, meujeuhna ngidung ka waktu, jeung mibapa ka jaman, kahayang mah para wargi sami ma’lum, tariasa midamelna, suka sirna, suka galih. (Gelarnya Kemanusiaan yang merupakan sebagian dari Pancasila, sudah selaras dengan jaman dan waktunya; seyogianya sama tahu dan mau mengamalkannya secara suka dan berhati gamblang).

Utama laku lampahna, Sampurna Ibu nata Bapa tani, Jauh ti kedul mutangul, sangkan karta jeung winata, dialajar sangkan ulah buta hurup, ngawujudkeun Pancasila, ngudag merdeka abadi. (Utamakan perilaku, sempurnanya ibu dan bapa tani yang tidak malas bekerja, agar karta dan winata –adil makmur-; belajarlah agar tidak buta huruf; mewujudkan Pancasila, menujud kemerdekaan abadi).

Dongengna Ciung Wanara, nu tumurun nya tepi ka Silih Wangi, rukun jeung sasama hirup, usik-malik Katuhanan, kabadanan ku Kama-Nusa pininjul, kocap ka unggal nagara, wangina ageman kuring. (Seperti cerita Ciung Wanara yang berkesinambungan hingga Silihwangi, rukun dengan sesama, semua gerak Ketuhanan dalam Susana Kemanusiaan asli, termasyur ke Negara lain, wanginya panutanku).

Ageman kapribadian, Kiamuhubinafsihi estu asli, moal jumeneng ku batur, kapribadian salbiah, henteu umum lamun rek nempat ka batur, wahdahulah sarikalah, teu sacara teu saciri. (Pengangan Kepribadian, Kiamuhubinafsihi -Tuhan melakukan segalanya sendiri- asli, tak tergantung yang lain, justru kepribadian Salbiah, tiada umum ikut orang lain, wahdahulah sarikalah, sungguh tidak sama cara dan cirinya).

Cara-ciri Pra-Hiyangan, nu ngahiyang jaman Pajajaran Nagri, alun-aluna ngabandung, ngabandungan nu ngumbara, anu ngulon, ngetan, ngaler reujeung ngidul, neangan geusan panutan, pamimpin anu pinilih. (Cara dan ciri Parahiyangan, yang muksa di jaman Pajajaran, yang alun-alunnya menghampar, menyaksikan yang mengembara, yang mencari ke barat ke timur, ke utara dan ke selatan, dalam mencari panutan, pemimpin yang bijaksana).

Ayeuna sakabeh rakyat, nu di dayeuh nu di sisi sami, pilihan umum kacatur, nu rek milih ITU ETA, hayang boga pemimpin anu jujur, boga jiwa karakyatan, teureuh terah silih asih. (Kini rakyat seluruhnya, di kota dan di pesisian, bersiap dengan pemilihan umum, ingin memilih ia dan dia pemimpin yang berhati jujur, memiliki jiwa kerakyatan, punya sifat belas kasih).

Nu baheula suka sirna, ngahiyang tumut kersa-Na Hyang Widi, ayeuna cunduk ka waktu, nyinglarkeun goda rencana, anu ngarusutkeun nagri. (Yang terdahulu sudah tiada, moksa (hilang) kehendak Tuhan, sekarang tiba saatnya, untuk mengenyahkan segala rintangan dan godaan yang datang dari perusuh negeri).

Umumna sa-Indonesia nu kasebat Sunda Agenung Sunda Alit, ku wakilna estu butuh, terah teureuh perjuangan, anu cageur, balageur sarta jalujur, ma’lum luang nu katukang, seueur anu nyiliwuri. (Umum nya se Indonesia yang disebut Sunda Besar dan Sunda Kecil, sangat membutuhkan wakilnya, yang BERJIWA PERJUANGAN, yang sehat, bijaksana serta jujur, maklumlah pengalaman yang sudah, banyak wakil yang menyusup).

Ratusan tahun lilana, bangsa kuring nyaksian bari eling, tinglah polah nu karitu, saesu ngan ngomong doing, tapi kabeh buktina ngan ukur nanglu, kabeh bangsa nu ngajajah, ku nu kitu di pingusti. (Ratusan tahun lamanya, bangsaku menyaksikan dan ingat, tingkah laku para wakil yang demikian, hanyalah bicaranya saja, tapi buktinya mereka hanya ikut-ikutan kepada yang menang, semua bangsa yang menjajah oleh mereka dipertuan).

Ayeuna enggeus waktuna, Kabangsaan Indonesia pulih deui, estu Waris ti karuhun, nu wajib ditarimana, malah hina lamun make nu batur, siga nu taya kaboga, ruksak lahir ruksak batin. (Sekarang tiba saatnya, Kebangsaan Indonesia pulih kembali, justru waris dari Leluhur, yang wajib kita terima, malah harus merasa hina dengan menggunakan milik orang lain, seperti bangsa yang tak memiliki sesuatu, rusak lahir rusak batin).

Hayu batur babarengan, urang milih bangsa urang anu asli, tapi omat rek kaliru, bisi milih ciciptaan, anu daek diadukeun jeung dulur, lalakon Ciun Wanara, sing jadi pangeling-eling. (Mari kawan kita bersama, kita pilih bangsa kita asli, dan janganlah kita keliru, jangan memilih wakil ciptaan, yang mau diadudombakan dengan sesama saudara. Cerita Ciung Wanara hendaknya menjadi peringatan untuk kita).

Nagara, Nagara urang, sapantesna make undang-undang nagri, nu asli ulah ti batur, lahir batin ulah ngunjang, tangtu aman bagri bakal subur makmur abdi-abdina sa-Gusti. (Negara adalah Negara kita, sepantasnya memakai undang-undang negeri yang asli dan bukan berasal dari orang/bangsa lain, lahir batin harus berih murni, pasti Negara akan aman dan subur, serta abdi-abdinya se-Tuhan).

Eusi nagri Ka-Tuhanan, pada eling kabala geusan ngajadi, Kama-Nusaan, Rama Ibu, pepek seusining badan. Kabangsaan wris ti para Luhur, Rakyat taat ka Nagara, sosialna sami Adil. (Isi negeri ber-Ketuhanan, semua ingat kepada alasnya, terhadap kama-nusa (asal sari patinya alam) dan kepada Ibu dan Bapak, sungguh lengkap seisi badan, Kebangsaan waris dari para Leluhur, Rakyat penuh taan terhadap Negara, Sosialnya adil merata).

Memetik Hikmah dan Sumbang Saran

Bagi seseorang yang saya temui di Kaki Gunung Ciremai Jawa Barat itu, Pancasila dilakoninya secara khidmad. Ia tidak pernah mengikuti penataran P4 atau pembinaan ideologi Pancasila lewat seminar-seminar BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) tapi praktek hidupnya yang selalu gotong royong menjadikan Pancasila hidup bersamanya. Ia pun menyebut benar saat ini Pancasila penting untuk dilakukan pembinaan, apa yang dia sampaikan dalam tembang pangkurnya terbukti menjadi wujud nyata pembinaan ideologi itu hingga ke desa-desa. Perlu kearifan seperti BPIP saat ini membuka diri terhadap orang-orang sederhana yang justru menjaga sinar nilai kebajikan dan kebijaksanaan Pancasila terus menyala.

Perlu strategi kebudayaan dalam pembinaan ideologi Pancasila. Warisan budaya sebagaimana tembang pangkur itu perlu dihargai terutama untuk suksesnya pembinaan ideologi Pancasila. Sebagaimana fungsi sejarah yang menurut Gadamer filsuf Jerman dengan nama lengkap Hans-Georg Gadamer (1900-2002) menyebut perlunya warisan masa lampau berorientasi ke depan, warisan budaya perlu dihargai dan agar warisan masa lampau itu mampu menunjukkan maknanya bagi kehidupan masyarakat di masa sekarang maka perlu dibuat tafsiran-tafsiran kreatifnya. Dengan begitu strategi kebudayaan mampu mencipta kemandirian, rasa percaya diri dan optimisme untuk atasi permasalahan jaman baru (Soerjanto Poespowardojo: 1989) dalam buku Strategi Kebudayaan Suatu Pendekatan Filosofis.

Dari pelosok desa di Kaki Gunung Ciremai dan kesederhanaan manusianya itu kita belajar. Melihat kenyataan, menatap masa depan, dan warisan budaya adalah modal utama membangun kepribadian bangsa. Literasi juga kita temukan dari tradisi lisan, masih banyak kearifan yang menawarkan pencerahan. Mungkin ini yang dimaksud Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarno Putri dalam MOU Kemenagri dan BPIP, Senin (20/5/2019) agar BPIP memetakan dan menggali lagi mutiara-mutiara Pancasila. Nampaknya hal itu belum banyak dilakukan oleh BPIP sendiri. Setidaknya akses penguatan dan pelibatan komunitas diperluas dan wilayah advokasi yang dikerjakan BPIP utamanya advokasi kebudayaan atau kepribadian dalam kebudayaan nasional Indonesia. (*)

*) Penulis adalah Pemerhati Budaya & Kebangsaan, Pendiri Pusat Kajian Ideologi Pancasila Jakarta

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *