Paul McCartney Ungkap Kisah Di Balik Top Hit The Beatles

 Paul McCartney Ungkap Kisah Di Balik Top Hit The Beatles

Band legendaris The Beatles telah mengukir banyak rekor bersejarah, salah satunya yang menarik adalah sejak tahun 1960 an lagu mereka sudah bertengger dengan gagah di Billboard Hot 100 sepanjang masa dengan puluhan lagu hits. John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr pernah berada di posisi teratas Top 100 lima kali berturut-turut.

Paul McCartney mengungkapkan cerita menarik dibalik 8 lagu top hit The Beatles;

“I Want To Hold Your hand” (Meraih No 1. 1 Feb 1964 )

Pada akhir tahun 1962, The Beatles sudah mengguncang Inggris tetapi publik Amerika masih adem ayem terhadap grup band ini, apalagi ditambah tampang mereka yang berpotongan rambut poni dan berjas itu. Saat itu, McCartney, yang baru berusia 16  tahun,  mengatakan kepada Brian Epstain, manajer band,”Kita tidak akan pergi ke Amerika sampai ada lagu yang berada di puncak tangga lagu.” Apalagi banyak pemusik Inggris telah mencoba peruntungan di negeri Paman Sam ini dan gagal, pulang dengan kepala tertunduk.

Kemudian, Epstein berusaha meyakinkan Ed Sulivan agar The Beatles bisa tampil di acara televisi CBS, yang kala itu sangat populer. Epstein berhasil dan juga perusahaan rekaman Capitol Record setuju mengedarkan lagu single “I Want To Hold Your Hand” bersamaan dengan acara Ed Sulivan Show. Belakangan, Capitol Record terpaksa mengedarkan single lebih awal setelah seorang penyiar radio memutar lagu itu terlebih dahulu pada medio Desember 1963.

The Beatles yang sedang berada di Paris dalam rangka tur Eropa mereka, setelah tampil di Teater Olympia. McCartney mengatakan, “Kami mendapat telegram, isinya ‘Selamat No 1 di AS. Kami langsung berloncatan saking gembiranya. Lagu itulah yang membawa kami ke Amerika.”

 “Love Me Do” (30 Mei 1964)

“Love Me Do” merupakan sebuah lagu sederhana jika dibandingkan dengan lagu-lagu Beatles lain setelahnya. Lagu ini juga jadi bagian dari album pertama “Please Please Me”. “Lagu-lagu awal kami lebih sederhana dari lagu sesudahnya, dan itulah yang paling bagus dari The Beatles,” cerita McCartney. ““Lagu ini sederhana dan bisa dinyanyikan dengan mudah oleh para pengemar. Seluruh lagu mula-mula kami berisi ‘aku’ atau ‘kau’. Kita benar-benar langsung dan terbuka terhadap para penggemar. Lagu ‘Love Me Do’, ‘Please Please Me’, ‘I want to Hold your Hand’. Banyak orang sangat suka dengan lagu ‘Love Me Do’ karena lagu ini mengungkap sebuah priode  dan hey, lagu itu mencapai No 1. Jadi buat saya, OK saja.”

Namun ada cerita kurang sedap dari rekaman lagu ‘Love Me Do’, Ringo Starr tidak mengebuk drum, dia hanya membunyikan tamborin saja. Karena, produser George Martin, yang terbiasa bekerjasama dengan pemusik top Inggris, mengantinya dengan penabuh drum veteran Andy White. “George memang belum pernah berurusan dengan orang-orang seperti kami, yang belum belajar musik, dia pikir Ringo belum sampai tingkat pro, kasihan Ringo. Jadi Ringo hanya kebagian tamborin. Kami tidak senang. Kami pikir Andy White masih kalah jauh dari Ringo. Tapi kami terpaksa menuruti orang-orang dewasa itu.”

“Eight Days A Week” (13 Maret 1965)

Belum lama ini, McCartney, di konsernya,  melantunkan lagu “Eight Days A Week” , yang rekaman aslinya dinyanyikan oleh Lennon. “Ketika orang menulis mengenai konser saya, mereka menyatakan dia membuka konser dengan lagu klasik Beatles,’Eight Days A Week’. Saya sendiri tidak akan menyebutnya sebagai klasik. Apakah ini lagu terbagus? Tidak. Apa lagu ini punya ciri khas Beatles? Ya. Yang paling bagus adalah judulnya. “

Banyak cerita beredar, judul itu berasal dari celotehan Ringo, tapi cerita sebenarnya adalah McCartney ditilang dan SIM-nya dicabut selama setahun, karena itulah dia menggunakan supir untuk mengantarnya ke rumah Lennon. “Ketika kami sampai di rumah John, saya bilang, kamu lagi sibuk? Dia menjawab. Sibuk? Aku kerja delapan hari seminggu. Saya langsung berlari masuk rumahnya dan mengatakan, kita sudah dapat judul lagunya. Dan kami menulis lagu itu pada jam berikutnya,” cerita McCartney.

Dengan lirik, ‘Hold me, love me’ pada bagian refreain, The Beatles — saat itu masih berusia 20 an — mulai berubah menjadi lebih “duniawi”. “Orang tua kami banyak mengekang kami dan kami mulai keluar dari tekanan itu. Semua mulai terlepas. Berangkat dari Liverpool ke London, apalagi banyak gadis menarik dan kami adalah pemuda berdarah panas. Pada usia seperti itu, semua yang ada dalam pikiran anda para gadis”.

“Help!” ( 4 September 1965)

John Lennon, di akhir tahun 1965, mengalami masalah besar. Setelah dua tahun super sibuk dengan rekaman dan tur, dia mengalami masalah pernikahan. Masalahnya ditambah dengan kebiasan baru John menenggak obat-obatan. Ketika dia sedang menggarap lagu-lagu untuk film kedua Beatles (Help!). Dia sedikit menghapus nada gembira dengan lagu ‘Help!’. McCartney berkomentar,”Saya sampai di rumah John untuk menulis lagu. Dan saya melihat ada kemungkinan untuk menambah melodi di baris kedua. Kami juga berhasil menelesaikan lagu dengan cepat. Setelah itu, kami turun ke lantai satu dan menyanyikannya di depan isteri John kala itu, Cynthia, dan seorang wartawan, yang dikenalnya, Maureen Cleave. Kami sangat senang dengan hasilnya.”

Belakangan Lennon mengatakan, “Aku jadi gemuk dan depresi, dan menjerit minta tolong.” Meskipun dia menyamarkan kesengsaraannya dengan tempo yang cepat. McCartney menambahkan, “Dia tidak pernah mengatakan, saya sekarang gemuk dan merasa kacau. Dia mengatakan, ‘Ketika saya muda, jauh lebih muda dari hari ini (When I was younger, so much younger than today). Dengan kata lain, dia ingin menerobos keluar. Kami merasakan hal yang sama. Tapi jika melihat kebelakang, John selalu mencari pertolongan. Dia merasa orang dekat di sekitarnya akan meninggal. Ayahnya meninggalkan rumah ketika dia baru berusia 3 tahun, pamannya, tempatnya bernaung, juga belakangan meninggal, kemudian ibunya meninggal. Saya pikir seluruh hidup John adalah teriakan minta tolong.”

“We Can Work It Out” (8 Januari 1966)

Bagi McCartney lagu ‘We Can Work It Out’ adalah lagu untuk pacar yang sedang marah dan upaya berbaikan kembali. Beberapa orang menyebutkan dia menulis lagu itu setelah bertengkar dengan pacarnya, Jane Asher. Tapi apa kata McCartney sendiri, “Saya tidak tahu persis situasinya, namun saya katakan dengan jelas ‘coba lihat dengan cara pandangku, karena aku memang benar (‘Try and see it my way, because I’m obviously rigth’). Kayaknya sombong, tapi itulah yang diinginkan seorang pemuda terhadap pacarnya. Coba pikir dari posisi saya, itu akan lebih mudah, itu jelas lebih mudah (‘Please thing of this from my point of view. It might make things easier. It’d certainly make it easier for me’ — bagian dari lirik lagu).

Dalam buku Revolution in the Head: The Beatles’ Record and the Sixties, penulisnya, Ian MacDonald, menyatakan “We Can Work It Out” sebagai momen saat dominasi Lennon berakhir dan mulailah masa McCartney, yang tidak hanya jadi penulis lagu, tapi juga pemain instrumen musik, penata musik, produser, dan de facto direktur musik The Beatles. MacDonald juga mencatat bahwa lagu itu membutuhkan waktu 12 jam untuk direkam, jangka waktu yang lama dan belum pernah dialami band. McCartney berkomentar, “Itu bukan lagu yang sukar. Mungkin karena saya cerewet karena itu lagu yang saya tulis. Anda punya ide bagaimana lagu itu dinyanyikan dan belum sampai taraf itu karenanya kamu terus mengupayakannya.”

“Paperback Writer” (25 Juni 1966)

“Cinta adalah inspirasi besar untuk ditulis jadi lagu. Kamu tinggalkan aku, aku benci kamu. Aku cinta kamu, ku mohon kembalilah. Jangan pergi , karena aku datang. Itulah cerita kita sebagai manusia,” tutur McCartney.

Tapi McCartney juga mengalami kelelahan menulis lagu cinta. Salah satu hasil diluar lagu cinta adalah ‘Paperback Writer’, yang bercerita tentang ambisi, frustasi, dan rasa putus asa untuk memuaskan orang lain. Lagu ini ditulis McCartney setelah dia membaca sebuah artikel mengenai kehidupan seorang penulis novel di Daily Mail. McCartney menulis lirik lagu ini seperti menulis surat dan Lennon bersikeras agar dia tidak mengubahnya.

Lagu ini didominasi oleh dua suara, petikan suara bass dari McCartney dan harmoni gaya The Beach Boys. Lagu ini sendiri sempat bertengger di No1 Hot 100 selama tiga pekan. “Sebelum ini, kami dipengaruhi oleh pemusk seperti Smokey Robinson & The Miracles atau Phil Spector. Tapi pada saat itu, The Beach Boys.  Lagu ‘Paperback Writer’ adalah pengakuan terhadap mereka dan sebuah ide bahwa setiap orang ingin menulis novel.” Saya suka kata ‘paperback”. Dan kenapa Lennon dan Harrison bersenandung “Frere Jacques” sebagai vokal latar?  Ini pertanyaan bagus. Tidak tahu! Kami memasukkan banyak hal. Kenapa kami mengatakan Harold Wilson dan Edward Heath (vokal latar lagu ‘Taxman’ tahun 1966)? Kami benar-benar bebas memasukkan ide-ide menarik.”

“Penny Lane” (18 Maret 1967)

The Beatles berangkat dari Liverpool — secara fisik dan emosi — ke London. Mereka juga suka bernostalgia dan lagu ini  adalah saat Beatles bernostalgia. “Penny Lane adalah sebuah tempat di Liverpool yang sangat memberi kenangan kepada kami. Itu adalah terminal, dimana aku dan John turun dari bus dan berjalan ke rumah. Dan seluruh lirik di lagu itu adalah benar (sesuai kenyataan). Kami memang belum pernah melihat seorang bankir mengenakan jas hujan — kami mengarang disini — tapi ada tukang cukur, ada bank. Ada pos pemadam kebakaran. Satu kali ada seorang perawat menjual opium — banyak orang berpikir lirik itu ‘menjual anak anjing’ (selling puppies), tapi yang kami katakan adalah “poppies” (opium), saat itu merupakah hari peringatan Legiun Kerajaan Inggris. Itu kejadian sebenarnya,” cerita McCartney.

Lagu ini juga jadi lagu aransemen baroque The Beatles, tanpa gitar — pengaruh (baroque) masih ada sampai abad ke 18. “Aku mendengarkan lagu Bach, Brandenburg Concertos, dan bertanya kepada George Martin mengenai suara terompet bernada tinggi. Dia menjelaskan itu terompet piccolo, terus kami mendapat peniup terompet piccolo terbaik dan saya menuliskan nada untuk dia mainkan dan direkam. Aku ingin sebuah rekaman yang jernih. Itu sangatlah luar biasa, benar,” tuturnya.

“Hey Jude” (28 September 1968)

Kisah lagu ini sudah dikenal luas, McCartney menuliskannya untuk putera John, Julian yang saat itu berusia 5 tahun – tapi ini baru sebagian dari ceritanya. “Saya sedang berada di jalan untuk mengunjunginya (Julian) setelah John dan Cynthia bercerai, dan karena saya berteman baik dengan Julian, langsung muncul di pikiran saya: hey Jules, jangan terlalu dipikirkan (Hey, Jules, don’t make it bad). Itu adalah lagu pengharapan.”

Belakangan, McCartney mengubah Jules menjadi Jude. “Saya mendengar nama dalam sebuah musik, saya pikir semacam ‘Jude sudah mati’ atau hal semacam itu. Saya sama sekali tidak tahu bahwa Jude berarti Yahudi (dalam bahasa Jerman). Hal ini menyebabkan ada kebingungan, dan cukup banyak orang jadi marah,” kata McCartney. Begitu marahnya orang, ketika McCartney dan beberapa teman mengecat “HEY JUDE” di jendela Apple Boutique di Baker Street, London, tahun 1968, orang-orang melihat itu sebagai anti-Semitik dan melemparkan pipa sehingga jendela pecah berantakan.

Lennon sendiri curiga lagu itu sebenarnya ditujukan kepada dirinya dan hubungannya dengan Yoko Ono, dengan merujuk pada lirik — terutama “You have found her, now go and get her” — itu untuk orang dewasa bukan anak-anak. “Semua hal mengenai Julian ada di lirik pertama,” tukas McCartney, dia juga menolak untuk mengungkapkan misteri kepada siapa lagu itu ditujukan.

“Hey Jude” bukan saja lagu paling panjang The Beatles, tapi juga lagu pertama yang keluar dari label Apple Records (miliknya The Beatles). Single ini tertancap 19 minggu memuncaki tangga lagu Hot 100 — jauh lebih lama dari semua lagu Beatles da nada 9 lagu pernah bertengger di puncak tangga lagu itu. Lagu itu juga berada di No 10 Hot 100 sepanjang masa. Bahkan Lennon, yang belakangan sering menyatakan tidak suka dengan lagu McCartney, menyebutkan lagu balad itu merupakan mahakarya. ***

Sumber informasi: billboard.com

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *