“Ngunduh Mantu”, Narik Becak

 “Ngunduh Mantu”, Narik Becak
Dari kiri ke kanan : Didik, Teguh Rahardjo, Sri, Ani, Suparman dan Agus Suryadi, dengan peran masing-masing, mereka bersiap di depan keluarga pengantin, saat acara akan dimulai. ( Foto : Nanang S).

JAYAKARTA NEWS – Janji suci telah mereka ucapkan. Nur Yullia Quratu Aini (Via) dan Dhany Haries Nurhamdany (Aris), baru saja menyelenggarakan pesta pernikahan 7 April 2019. Keduanya bak sepasang raja dan ratu semalam.

Usai pesta pernikahan, lazimnya mempelai diantar ke rumah keluarga mempelai pria. Kelaziman itu pun terjadi 20 April 2019, dalam rangkaian acara ‘ngunduh mantu’ atau boyongan. Sebuah acara yang dilaksanakan keluarga pengantin pria.

Upacara adat ‘ngunduh mantu’ dalam tradisi pengantin Jawa, dilakukan oleh orang tua mempelai pria di rumahnya, dengan mendatangkan kedua pengantin dan keluarga mempelai wanita. Tujuan acara ini adalah memperkenalkan mempelai wanita beserta keluarganya kepada keluarga besar mempelai pria sekaligus sebagai pemberitahuan kepada tetangganya bahwa mempelai pria sudah beristri.

Biasanya, rombongan pengantin dan keluarga mempelai wanita datang berbondong-bondong. Jika dekat jarak, mereka berjalan kaki. Jika jauh jarak untuk ditempuh, maka mereka menggunakan kendaraan bermotor. Dalam peristiwa ini, kebetulan rombongan datang dengan berjalan kaki beriring-iringan.

Dengan membentuk sebuah formasi barisan, pihak panitia membagi tugas dan peran, setiap anggota rombongan pengiring memiliki peran masing-masing sesuai posisinya. Kelihatannya sepele, tetapi masing-masing peran memiliki filosofi sendiri.

Posisi paling depan diperankan Teguh Rahardjo. Salah satu warga yang dituakan. Dengan pakaian kebesaran, serta membawa sebuah tongkat kayu di tangan, ia bertugas membuka jalan. Sebagai yang dituakan, ia tampil di depan memberikan tuntunan dan suri tauladan bagi anak-anaknya untuk dapat meraih sebuah kehidupan yang lebih baik.

Jono beserta istri, orang tua pengantin wanita, sedang menarik becak pengantin yang di tumpangi kedua mempelai Via dan Aries. (Foto : Nanang S).

Kemudian di tengah ada orang tua pengantin wanita. Mereka tampak menarik becak pengantin. Filosofinya, adalah sebuah niat orang tua untuk mengantarkan anaknya ke jenjang kehidupan baru, yang selama ini posisi anak masih dalam bimbingan orang tua yang belum dilepas seluruhnya.

Dua orang di belakang becak tampak Suparman dan Didik yang bertugas mendorong becak pengantin. Maknanya, memberikan dorongan moral atau dorongan semangat dari belakang untuk menumbuhkan sebuah motivasi.

Di belakangnya lagi ada dua wanita penari dan penyanyi, Sri dan Ani, diiringi musik angklung. Ini menggambarkan sebuah godaan, agar lebih waspada, karena dalam kehidupan berumah tangga itu pasti selalu ada godaan-godaan, baik godaan yang senang maupun godaan yang susah.

Didik dan Suparman, sedang mendorong becak pengantin, diikuti para penari dibelakangnya serta suasana jalan saat dilalui rombongan pengiring. (Foto : Nanang S).

Barisan paling belakang adalah rombongan keluarga dan warga sekitar yang ikut jadi pengiring, menggambarkan bahwa kelak setelah hidup di dalam masyarakat tentunya harus dapat menjaga kerukunan di antara keluarga dan tetangga.

Acara yang berlangsung Sabtu pagi itu nampak meriah. Sejumlah warga turut menyaksikan kirab unik itu. Bahkan para pengguna jalan pun juga sempat berhenti menyaksikan iring-iringan tadi. “Dikira ade acara ape gitu.., pagi-pagi sudah ramai sekali, gue kira ade pawai, ee… nggak taunye orang lagi ngiring nganten…,” ujar salah satu warga dengan logat Betawi.

Tak pelak, sepanjang jalan iring-iringan itu pun menyedot perhatian masyarakat. Yang di jalan, menghentikan langkah kaki atau kendaraannya. Yang di dalam rumah, bergegas keluar pintu ingin melihat keramaian apa gerangan.

Arak-arakan tadi, sekilas memang seperti karnaval keriaan. Musik angklung terus-menerus ditalu, mengiriingi lagi-lagi seperti Pengantin Baru, Perahu Layar, dan lain-lain. Penyanyi dan pengiring pun larut ikut berjoget sambil jalan. Sepanjang perjalanan, sesekali tampak iringan berhenti, memberi kesempatan tarik nafas dan menenggak minuman, utamanya bagi para pengiring lanjut usia.

Setelah mendekati lokasi tujuan, tampak barisan penerima tamu berbaju batik berjejer. Begitu rombongan tiba di lokasi, terdengar suara, “Ini baru acara yang luar biasa, belum pernah ada di komplek PU ini, nguri-uri budaya,” kata Basuki, salah satu panitia melontarkan rasa kagumnya.

Usut punya usut, ide ini timbul dari Suparman dan Teguh Rahardjo, beberapa waktu lalu usai acara lamaran. Mereka berpendapat, mengiring penganten naik mobil itu sudah biasa. Lalu dicarilah cara unik agar lebih berkesan di kemudian hari. Gayung pun bersambut. Ide itu diterima keluarga dan kedua calon pengantin.

“Saya rasa ini masih orisinil, belum pernah ada sebelumnya, dan mudah-mudahan kelak bisa menjadi sebuah budaya yang dapat kita terapkan dalam acara acara berikutnya,” ujar Suparman. Sementara itu, Teguh Rahardjo berharap acara acara sejenis bisa memasyarakat di masa yang akan datang. (Nanang S.)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *