Mengkritik Polisi dengan Puisi

 Mengkritik Polisi dengan Puisi
Kapolda DIY, Brigjen Pol Drs H Ahmad Dofiri, selain membaca puisi, juga mendengarkan para seniman Yogyakarta membacakan puisi-puisinya. Termasuk kritik kepada polisi lewat puisi. Foto: Gde Mahesa

PULUHAN seniman, sastrawan, budayawan Yogyakarta mengkritik kepolisian lewat puisi. Inilah persembahan seniman Yogya yang dikoordinir Boy Rifai alias Mbah Boy guna mengisi Hari Bhayangkara 1 Juli 2018. Tagline event juga menarik “Bersastra di Hari Bhayangkara”.

Bertempat di Kampung Edukasi Watu Lumbung, Parangtritis, tidak hanya puluhan seniman yang membacakan puisi tetapi juga melibatkan para Polisi Wanita (Polwan). Tak kurang dari Kapolda DIY, Brigjen Pol Drs H Ahmad Dofiri, MSi pun hadir dan ikut membaca puisi. Tak pelak, acara yang dikemas sarat nuansa tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal itu, pun menarik perhatian media untuk datang meliput.

Usai pembukaan, Kapolda Ahmad Dofiri sempat “ditodong” statement oleh awak media. Antusias ia memberi keterangan, yang intinya pihaknya mengapresiasi acara yang diinisiasi oleh para seniman Yogyakarta itu. “Kita tahu betul, Yogyakarta itu kan gudangnya seniman. Semua jenis seni tumbuh dan hidup subur di sini. Hidup dan berkembangnya seni dan budaya, tak lepas karena keberadaan para seniman itu sendiri,” ujar Dofiri yang menjabat Kapolda DIY sejak tahun 2016 itu.

Ahmad Dofiri melanjutkan, “Saya ingat betul apa yang dikatakan Prof Satjipto Rahardjo almarhum. Beliau pernah mengatakan, bahwa hubungan polisi dengan masyarakat itu ibarat ikan dan air. Saling membutuhkan. Seperti itulah tugas polisi di tengah masyarkat,” tandas lulusan terbaik Akpol (peraih adhi makayasa) tahun 1989 itu.

Kapolda DIY, Brigjen Pol Drs H Ahmad Dofiri, MSi tampak akrab dan menyatu dengan para seniman Yogyakarta di Watu Lumbung, Parangtritis dalam acara “Bersastra di Hari Bhayangkara”. Foto: Gde Mahesa

Sebagai Kapolda DIY, ia sadara bahwa Yogyakarta juga kota budaya, kota seni. Sudah seharusnya ia menyelami hal itu. Karenanya, ia menyambut baik ketika komunitas seniman memprakarsai ide spontan “Bersastra di Hari Bhayangkara”. Sekaligus, mendukung pelibatan para Polwan untuk belajar mengapresiasi sastra, hingga belajar baca puisi. “Sungguh ini kegiatan yang sangat menarik,” ujar Dofiri, senang.

Kepada Jayakartanews, Ahmad Dofiri secara khusus menyitir sejumlah puisi yang dibacakan para seniman di hadapannya. Di dalam karya-karya puisi, yang dicipta khusus oleh para penyair menyambut Hari Bhayangkara itu, tidak hanya berisi pujian dan apresiasi seniman terhadap kepolisian, tetapi juga kritik tajam.

“Contoh, dalam bahasa yang indah, mereka menyelipkan kritik tajam berupa pesan moral kepada Polri. Contoh, ada kalimat ‘dalam penegakan hukum, polisi tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas’. Selain itu, ada juga yang mengkritik, ‘dalam melayani masyarakat jangan mengedepankan wani piro’. Ada juga kalimat kritik terkait pelayanan, ‘lapor kehilangan ayam, malah kehilangan kambing’. Ini semua kritik tajam yang disampaikan lewat bahasa puisi. Dikemas dengan sastra, lewat puisi melalui bahasa yang menyentuh dan halus, kadang menghentak berirama, semua jadi indah,” papar Dofiri.

Atas kritik-kritik seniman terhadap institusinya, Dofiri menyampaikan terima kasih. Umumnya, seniman berbicara secara jujur, keluar dari hati nurani, dengan tutur bahasa yang berbudaya. Kritik seniman itu tanpa vested interest. Kritik mereka adalah ungkapan jiwa. “Silakan seniman mengkritik dengan karya, dengan hati terdalam. Silakan seniman memuji dan mengapresiasi kinerja Polri. Prinsipnya, apresiasi atau kritik itu jamak. Kami pun jadi tahu, bahwa seniman pun peduli terhadap Polri,” ujarnya.

Pendeknya, Ahmad Dofiri mengaku sangat surprise dengan acara itu. Peringatan Hari Bhayangkara justru dirayakan oleh para seniman sejak tanggal 1 Juli sore hari hingga tanggal 2 Juli subuh. “Luar biasa. Ini merupakan salah satu bentuk kerjasama dan komunikasi Polri dengan semua lapisan masyarakat, termasuk para seniman,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Kapolda DIY, Ahmad Dofiri juga didaulat membacakan puisi. Bak seorang penyair, Ahmad Dofiri pun tampil ke panggung dan membacakan puisi “Di Tapal Batas” karya Mukti Sardjono. Berikut puisinya:

 

Di Tapal Batas
Karya Mukti Sardjono

Di sini aku berdiri, di tapal batas

tapi tidak tahu di mana batas-batasku.

Ketika engkau berjoget dan bermusik, aku berdiri di tapal batas tugas

Ketika engkau menikmati sepakbola, aku berdiri di tapal batas tugas

Ketika engkau bermudik lebaran pun, aku berdiri di tapal batas.

Negeri-negeri punya tapal batas

Provinsi-provinsi punya tapal batas

Kota-kota dan kabupatan punya tapal batas

Juga desa-desa dan dusun, semua punya tapal batas.

Lalu di mana tapal batas tugasku

Aku tidak pernah bertanya, pada siapa, bahkan kepada komandanku

Karena nurani sudah memberi tahu

Tapal batas tugas itu ada di lubuk hati dan jiwa para bhayangkara

Di sini, di tapal batas tugas

Ada sumpah setia bela negara, bela nusa dan bangsa.

Di sini, di tapal batas tugas

kuabaikan kepentingan pribadi,

kupertaruhkan jiwa dan raga

demi bangsa yang kucinta.

***

Dari kiri: Boy Rifai alias Mbah Boy (Pengelola Kampung Edukasi Watu Lumbung, Parangtritis), Brigjen Pol Drs H Ahmad Dofiri, MSi (Kapolda DIY), dan penulis. Foto: Istimewa
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *