Ketika Polwan “Menjadi” Sastrawan

 Ketika Polwan “Menjadi” Sastrawan
Dua orang polwan, masing-masing Bripka Devina (kiri) dan seorang Polwan perpangkat Bripda tampak sedang tekun berlatih baca puisi. Foto: Gde Mahesa

UNIK… puluhan orang polisi wanita yang berdinas di wilayah kerja Polda DI Yogyakarta tiba-tiba “menjadi” sastrawan. Beberapa kali mereka tampak naik ke puncak pegunungan Watu Lumbung, Parangtritis dan belajar tentang sastra, belajar memaknai puisi, dan belajar membaca puisi.

Lokasi Kampung Edukasi Watu Lumbung, bersama para seniman Yogyakarta memprakarsai gelar baca puisi dan apresiasi sastra memperingati ulang tahun Polri, HUT Bhayangkara ke-72. Kegiatan yang dilaksanakan Minggu, 1 Juli 2018, dihadiri Kapolda DI Yogyakarta, Brigjen Pol Drs H. Ahmad Dofiri, MSi dan jajarannya.

Pengelola Watu Lumbung, Boy Rifai (Mbah Boy) sedang memberi pembekalan tentang kegiatan baca puisi HUT Bhayangkara ke-72 di tempatnya. Foto: Gde Mahesa

Boy Rifai, pengelola Watu Lumbung yang akrab disapa Mbah Boy pun sukses menggelar kerja kreatif bareng antara aparat kepolisian dan seniman Yogyakarta. Ratusan puisi tercipta khusus untuk event tersebut. Puluhan penyair, seniman dan aparat kepolisian pun naik panggung dan membacakan puisi bak penyair. Sungguh elok.

Menjadi makin menarik, karena mayoritas pembaca puisi dari unsur kepolisian adalah para polisi wanita (Polwan) yang muda, energik, dan cantik. Jayakartanews mendapatkan komentar-komentar menarik dari para Polwan yang mengikuti kegiatan itu, dari beberapa hari sebelumnya, hingga gladi bersih, dan saat pentas berlangsung.

Briptu Herning misalnya. Polwan yang sehari-hari berdinas di Dit Sabhara Polda DIY itu mengaku sangat terkesan dengan acara tersebut. Bidang tugas sehari-hari yang sangat jauh dari dunia sastra, menjadikan kegiatan itu sebagai pengalaman baru. “Tidak semua orang bisa memahami, karena sastra itu tampak sederhana tetapi punya makna yang luas. Ini tantangannya,” ujar Herning.

Sementara Bripda Marina Pratiwi dari Direktorat Pam Obvit Polda DIY juga mengaku senang karena banyak mendapatkan hal baru selalama proses pengenalan sastra hingga akhirnya tampil membacakan puisi di depan audiens. “Unik, karena bisa mengurus administrasi surat-menyurat lalu harus membacakan puisi agar bisa diapresiasi orang lain,” tutur Marina sambil tersenyum.

Para Polwan tekun belajar tentang sastra, belajar memaknai puisi, dan belajar baca puisi untuk mengisi perayaan HUT Bhayangkara ke-72 di Watu Lumbung, Parangtritis, Yogyakarta. Foto: Gde Mahesa

Polwan lain, Bripda Nindya Windayati dari Dit Intelkam Polda DIY malah mengaku awalnya sama sekali tidak menyangka akan bertemu para seniman dan sastrawan, belajar sastra hingga baca puisi. “Terus terang saya nggak bisa baca puisi. Sehari-hari berkutat dengan produk-produk intelijen terkait kegiatan di luar. Jadi, speechless saya…. Makanya tadi saya merasa kaku banget, kurang mahir. Tapi yaaa…. Tidak ada salahnya mencoba hal baru kan?” kata Nindya.

Sedangkan bagi Bripda Kurniawati dari Dit Reskrimum Polda DIY, baca puisi adalah tantangan baru. Sangat menantang, karena selain hal baru, ia harus membacakan pesan atas puisi yang dibacakan kepada audiens. “Seru sekaligus menyenangkan bisa belajar sastra, apalagi diajari cara baca puisi,” katanya.

Rekan Polwan yang lain, Bripda Fatim Ganis dari Dit Intelkam Polda DIY mengatakan sudah lama tertarik dan mengerti sastra. Setidaknya, lamat-lamat masih teringat pelajaran di bangku sekolah. Akan tetapi begitu masuk Polri, sama sekali tidak pernah bersinggungan dengan sastra. “Jadi kegiatan ini sangat baik untuk refreshing. Saya sangat senang dan menikmati,” ujarnya.

Bahkan, Bripda Lestari Suci Karyani, dari Dit Reskrimum Polda DIY menganggap, kegiatan pengenalan, pembelajaran sastra hingga teknik baca puisi, justru bisa menjadi ajang penggalian potensi lain pada Polwan. “Ini kegiatan yang sangat positif, dan pasti ada manfaatnya untuk menunjang tugas sehari-hari,” ujarnya mantap. Pendapat sama juga disampaikan Briptu Novia Asni dari Dit Intelkam Polda DIY.

Sedangkan Bripti Ayu Kusumaningrum dari Dit Intelkam mengaku sempat kesulitan belajar puisi. Kesulitannya, tidak saja harus memahami pesan yang ada dalam puisi, tetapi juga harus bisa menyampaikannya kepada audiens. “Terus terang, kalau bicara puisi yaaa sedikit banyak tentu hampir semua orang tahu. Saya juga tahu puisi. Tapi untuk belajar mamaknai dan membaca, ini pertama. Tantangannya bagaimana saya bisa menyampaikan sebuah karya sastra kepada audiens dalam posisi sesbagai polisi, bukan sebagai sastrawan, seniman atau masyarakat umum,” paparnya.

Polwan terakhir yang memberikan komennya bernama Bripda Putri dari Dit Intelpam Polda DIY. Ia merasa senang dengan pengalaman baru bertemu dengan para seniman Yogyakarta. Setidaknya ia menjadi tahu, bahwa puisi tidak sekadar puisi, tetapi harus bisa memaknai dan menyampaikan pesan yang ada dalam puisi itu kepada masyarakat. ***

Kapolda DIY, Brigjen Pol Drs H. Ahmad Dofiri, MSi (berkalung kain) didampingi Pengelola Watu Lumbung Boy Rifai (paling kanan) serta para seniman dan jajaran kepolisian, menyimak seorang Polwan yang tengah membaca puisi. Foto: Gde Mahesa
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *