PONTIANAK, JAYAKARTA NEWS— Sebanyak 11 personel Polres Kubu Raya mendapat penghargaan atas prestasi mereka dalam menjalankan tugas, Senin (6/6/2022). Upacara pemberian pemberian dipimpin langsung oleh Kapolres Kubu Raya, AKBP Jerrold H.Y Kumontoy.
Hadir dalam acara tersebut, Wakapolres Kubu Raya, para PJU Polres Kubu Raya, jajaran Kapolsek Pama, Bintara serta ASN Polres Kubu Raya.
Kapolres Kubu Raya, AKBP Jerrold H.Y Kumontoy dalam amanatnya menyatakan, penghargaan yang diberikan dalam rangka menyambut HUT Bhayangkara ke-76 pada 1 Juli mendatang, merupakan bentuk apresiasi atas prestasi yang diukir para personel selama menjalankan tugasnya.
Diharapkan, hal ini selain dapat menumbuhkan rasa kebanggaan juga menjadi penambah motivasi kerja serta ketauladanan.
Tema peringatan hari Bhayangkara ke-76 tahun 2022 adalah ‘Polri yang presisi mendukung pemulihan ekonomi dan reformasi struktural untuk mewujudkan indonesia tangguh-indonesia tumbuh’. Oleh karena itu, dalam rangka mendukung kebijakan pimpinan Polri, ia meminta seluruh personel Polres Kubu Raya dan jajaran Polsek Polres Kubu Raya untuk; pertama, meningkatkan kinerja dengan dengan sebaik-baiknya.
Kedua, membangun sinergitas dalam melaksanakan tugas dengan penuh amanah. Ketiga, responsif sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat serta penegak hukum yang professional.
Keempat, tidak terpengaruh dengan hal-hal negatif dalam melaksanakan tugas serta tidak menyalahgunakan wewenang kepolisian untuk hal yang bersifat kepentingan pribadi. Kelima, terus tingkatkan pengabdian dan prestasi dengan penuh keikhlasan dengan semangat presisi.
“Saya berharap pemberian penghargaan ini dapat memotivasi seluruh personil Polres Kubu Raya untuk berlomba dan lebih semangat lagi dalam meningkatkan kinerja, loyalitas dan pengabdiannya untuk Polri. Saya tekankan tidak ada lagi anggota yang melakukan pelanggaran sekecil apapun, baik disipilin, kode etik apalagi pidana, punishment dan sanksi tegas pasti saya terapkan,” tegas Kapolres.***tris
Kapolda DIY, Brigjen Pol Drs H Ahmad Dofiri, selain membaca puisi, juga mendengarkan para seniman Yogyakarta membacakan puisi-puisinya. Termasuk kritik kepada polisi lewat puisi. Foto: Gde Mahesa
PULUHAN seniman, sastrawan, budayawan Yogyakarta mengkritik kepolisian lewat puisi. Inilah persembahan seniman Yogya yang dikoordinir Boy Rifai alias Mbah Boy guna mengisi Hari Bhayangkara 1 Juli 2018. Tagline event juga menarik “Bersastra di Hari Bhayangkara”.
Bertempat di Kampung Edukasi Watu Lumbung, Parangtritis, tidak hanya puluhan seniman yang membacakan puisi tetapi juga melibatkan para Polisi Wanita (Polwan). Tak kurang dari Kapolda DIY, Brigjen Pol Drs H Ahmad Dofiri, MSi pun hadir dan ikut membaca puisi. Tak pelak, acara yang dikemas sarat nuansa tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal itu, pun menarik perhatian media untuk datang meliput.
Usai pembukaan, Kapolda Ahmad Dofiri sempat “ditodong” statement oleh awak media. Antusias ia memberi keterangan, yang intinya pihaknya mengapresiasi acara yang diinisiasi oleh para seniman Yogyakarta itu. “Kita tahu betul, Yogyakarta itu kan gudangnya seniman. Semua jenis seni tumbuh dan hidup subur di sini. Hidup dan berkembangnya seni dan budaya, tak lepas karena keberadaan para seniman itu sendiri,” ujar Dofiri yang menjabat Kapolda DIY sejak tahun 2016 itu.
Ahmad Dofiri melanjutkan, “Saya ingat betul apa yang dikatakan Prof Satjipto Rahardjo almarhum. Beliau pernah mengatakan, bahwa hubungan polisi dengan masyarakat itu ibarat ikan dan air. Saling membutuhkan. Seperti itulah tugas polisi di tengah masyarkat,” tandas lulusan terbaik Akpol (peraih adhi makayasa) tahun 1989 itu.
Kapolda DIY, Brigjen Pol Drs H Ahmad Dofiri, MSi tampak akrab dan menyatu dengan para seniman Yogyakarta di Watu Lumbung, Parangtritis dalam acara “Bersastra di Hari Bhayangkara”. Foto: Gde Mahesa
Sebagai Kapolda DIY, ia sadara bahwa Yogyakarta juga kota budaya, kota seni. Sudah seharusnya ia menyelami hal itu. Karenanya, ia menyambut baik ketika komunitas seniman memprakarsai ide spontan “Bersastra di Hari Bhayangkara”. Sekaligus, mendukung pelibatan para Polwan untuk belajar mengapresiasi sastra, hingga belajar baca puisi. “Sungguh ini kegiatan yang sangat menarik,” ujar Dofiri, senang.
Kepada Jayakartanews, Ahmad Dofiri secara khusus menyitir sejumlah puisi yang dibacakan para seniman di hadapannya. Di dalam karya-karya puisi, yang dicipta khusus oleh para penyair menyambut Hari Bhayangkara itu, tidak hanya berisi pujian dan apresiasi seniman terhadap kepolisian, tetapi juga kritik tajam.
“Contoh, dalam bahasa yang indah, mereka menyelipkan kritik tajam berupa pesan moral kepada Polri. Contoh, ada kalimat ‘dalam penegakan hukum, polisi tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas’. Selain itu, ada juga yang mengkritik, ‘dalam melayani masyarakat jangan mengedepankan wani piro’. Ada juga kalimat kritik terkait pelayanan, ‘lapor kehilangan ayam, malah kehilangan kambing’. Ini semua kritik tajam yang disampaikan lewat bahasa puisi. Dikemas dengan sastra, lewat puisi melalui bahasa yang menyentuh dan halus, kadang menghentak berirama, semua jadi indah,” papar Dofiri.
Atas kritik-kritik seniman terhadap institusinya, Dofiri menyampaikan terima kasih. Umumnya, seniman berbicara secara jujur, keluar dari hati nurani, dengan tutur bahasa yang berbudaya. Kritik seniman itu tanpa vested interest. Kritik mereka adalah ungkapan jiwa. “Silakan seniman mengkritik dengan karya, dengan hati terdalam. Silakan seniman memuji dan mengapresiasi kinerja Polri. Prinsipnya, apresiasi atau kritik itu jamak. Kami pun jadi tahu, bahwa seniman pun peduli terhadap Polri,” ujarnya.
Pendeknya, Ahmad Dofiri mengaku sangat surprise dengan acara itu. Peringatan Hari Bhayangkara justru dirayakan oleh para seniman sejak tanggal 1 Juli sore hari hingga tanggal 2 Juli subuh. “Luar biasa. Ini merupakan salah satu bentuk kerjasama dan komunikasi Polri dengan semua lapisan masyarakat, termasuk para seniman,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Kapolda DIY, Ahmad Dofiri juga didaulat membacakan puisi. Bak seorang penyair, Ahmad Dofiri pun tampil ke panggung dan membacakan puisi “Di Tapal Batas” karya Mukti Sardjono. Berikut puisinya:
Di Tapal Batas
Karya Mukti Sardjono
Di sini aku berdiri, di tapal batas
tapi tidak tahu di mana batas-batasku.
Ketika engkau berjoget dan bermusik, aku berdiri di tapal batas tugas
Ketika engkau menikmati sepakbola, aku berdiri di tapal batas tugas
Ketika engkau bermudik lebaran pun, aku berdiri di tapal batas.
Negeri-negeri punya tapal batas
Provinsi-provinsi punya tapal batas
Kota-kota dan kabupatan punya tapal batas
Juga desa-desa dan dusun, semua punya tapal batas.
Lalu di mana tapal batas tugasku
Aku tidak pernah bertanya, pada siapa, bahkan kepada komandanku
Karena nurani sudah memberi tahu
Tapal batas tugas itu ada di lubuk hati dan jiwa para bhayangkara
Di sini, di tapal batas tugas
Ada sumpah setia bela negara, bela nusa dan bangsa.
Di sini, di tapal batas tugas
kuabaikan kepentingan pribadi,
kupertaruhkan jiwa dan raga
demi bangsa yang kucinta.
***
Dari kiri: Boy Rifai alias Mbah Boy (Pengelola Kampung Edukasi Watu Lumbung, Parangtritis), Brigjen Pol Drs H Ahmad Dofiri, MSi (Kapolda DIY), dan penulis. Foto: Istimewa