KPAI: Bantuan Kuota Internet hanya Dinikmati Pemilik Gawai, Bagaimana Nasib Mereka yang Luring?

 KPAI: Bantuan Kuota Internet hanya Dinikmati Pemilik Gawai, Bagaimana Nasib Mereka yang Luring?

Ilustrasi– pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (daring) –sumber foto jpnn.com

JAYAKARTA NEWS— Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengapresiasi keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI  untuk membantu Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp7,2 triliun untuk subsidi pulsa dan kuota internet bagi guru, dosen, siswa dan mahasiswa untuk 4 bulan kedepan.

Demikian disampaikan Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti, Sabtu (28/8/2020). “Paling tidak, bantuan tersebut dapat mengatasi salah satu masalah atau kendala PJJ, meskipun beberapa permasalahan PJJ sejak awal pandemic,  bukan hanya masalah mahalnya tarif paket data, tetapi juga ada masalah lain yang harus diselesaikan , yaitu ketiadaan gawai atau laptop dan akses internet yang terkendala di sejumlah daerah,” ujarnya.

Namun anggaran Rp 7,2 T hanya untuk pemberian kuota internet seperti yang dilakukan Kemdikbud mengundang pertanyaan bagi banyak pihak. Karena hanya menyelesaikan satu kendala dan jadi bias kelas. Bantuan kuota hanya untuk anak-anak yang memiliki gawai dan akses sinyal tidak terkendala di wilayahnya.

Bagi anak-anak miskin dan anak-anak di pelosok,  yang tidak punya gawai dan susah sinyal maka bantuan ini tidak bisa mereka nikmati. Kelompok ini hanya bisa dilayani secara luring, namun tak ada bantuan pemerintah untuk luring. Kelompok anak-anak ini tetap tak terlayani PJJ-nya.

“Semestinya masalah dipetakan dulu. Berapa Giga yang diperlukan, berapa persen siswa/guru yang  butuh kuota dan  berapa persen  siswa/guru yang  butuh bantuan lain. Padahal jika data-data itu diminta ke semua sekolah, hanya dalam 3 hari saja bisa tersedia. Mengapa data tersebut tidak ada di Kemdikbud dan Dinas-dinas Pendidikan Daerah. Padahal sangat mudah mendapatkannya, hanya butuh rapat koordinasi daring dengan stakeholder terkait secara berjenjang”, tegas Retno.

Retno menambahkan,”Layanan Pembelajaran luring juga membutuhkan dukungan anggaran pemerintah, jadi kalau ada pemetaan masalah dan kebutuhan yang jelas, maka anggaran, tujuh ratus ribu miliar tersebut, bisa dialokasikan untuk membantu membeli gadget bagi siswa/guru yang tidak memiliki, pasang alat penguat sinyal di daerah-daerah yang susah sinyal, dukungan transportasi untuk para guru kunjung dan dukungan penyiapan infrastruktur sekolah dalam menghadapi  pembelajaran tatap muka,” tandas Retno. ***/ebn

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *