Kampung Cina, Kampung Damai Warisan Kong Coh

 Kampung Cina, Kampung Damai Warisan Kong Coh
Suasana Kampung Cina, Tajur Halang, Kabupaten Bogor. (foto: inal ginting)

Jayakarta News – Teks bertuliskan “SELAMAT DATANG DI KAMPUNG CINA”, terpampang di gapura ujung jalan. Ia menyambut siapa pun yang datang ke Kampung Cina, Kampung Baru, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor – Jawa Barat.

Dulu, jalan ke arah kampung itu penuh bebatuan bercampur tanah yang lengket jika kena air hujan. Namun, sejak Juli 2019, jalan tak lebar itu telah berubah. Tidak lagi penuh batu dan tanah, tetapi telah di-hotmix. Kini, jalan itu nyaman untuk diluncuri roda kendaraan sekalipun hujan lebat mengguyur, tanpa khawatir “roda slip”.

Kampung itu terdiri atas tiga RT, 01, 02 dan 03 di bawah RW 09 dengan populasi kurang dari 300 KK. Sementara jalan masuk tadi berada di RT 01 dengan jumlah warga berkisar 80-an KK. Jarak antar rumah tidak berdekatan. Masih banyak rumah dengan halaman cukup luas dan penuh pepohonan. Bahkan di belakang rumah masih bisa memelihara babi sebagai salah satu mata pencaharian mereka.

Kiri: Jalan Kampung Cina ketika masih berupa jalan bebatuan berlapis tanah merah. Kanan: Jalan sama yang sudah di-hotmix, sejak Juli 2019. (foto: inal ginting)
Suasana Kampung Cina, mirip kampung Betawi pinggiran. Sepi dan damai. (foto: inal ginting)

Di antara rentetan rumah penduduk, terlihat satu bangunan sekolah yang tidak begitu besar. Dekat sekolah ada satu gereja kecil. Dan, menuju ujung Kampung Cina, akan terlihat tempat beribadah umat Konghucu. Desa ini terkesan sepi. Damai, tepatnya.

Kampung Cina, bukanlah daerah yang terkenal. Coba tanyakan ke beberapa orang tentang tempat ini. Masih banyak yang mengatakan, tidak tahu. Bahkan, warga Bogor sekalipun masih ada yang tidak tahu keberadaan kampung yang telah ada sejak 300 tahunan lalu. 

Seorang pria tua yang akrab dipanggil Ncek Sanusi, menuturkan bahwa etnis keturunan Tionghoa di Desa Tajur Halang, Bogor ini, sudah bermukim di wilayah itu sejak 350 tahun silam. Ncek yang mantan Ketua RT 01 ini berkisah, dirinya pun keturunan pendatang awal bernama Kong Coh. “Kong Coh, memiliki sebelas anak, salah satunya Keng Sauw, dan saya dari garis keturunannya,” ujar Ncek yang memperkirakan dirinya adalah generasi ke-5 atau ke-6.

Ia mengisahkan, setelah menikah dengan gadis desa setempat, Kong Coh beranak-cucu, beranak-pinak menjadi banyak. Dari sinilah asal mula lahirnya Kampung Cina.

Masih menurut Ncek, saat ia jadi Ketua di RT 01 tahun 2002 hingga 2007, warga kampung  masih berjumlah 42 KK. Saat ini, telah menjadi 80-an KK. Tidak seperti keturunan Cina pada umumnya, di sini mereka berkulit sawo matang, dan mata yang tidak sipit-segaris. Semakin banyak keturunan Kong Coh, semakin beragam agama yang dianut dan berkembang di lingkungan itu. Sebagian besar penganut Konghucu, sebagian lainnya Kristen dan Islam.

Kampung Damai

Sepanjang perjalanan Kampung Cina yang ratusan tahun, tempat ini senantiasa damai. Menjadi kebanggaan bagi warganya, ketika kampung ini mendapat nama Kampung Damai. Adalah Wahid Foundation, yang memberikan nama Kampung Damai pada Kampung Cina ini di tahun 2017, bersama UN Women. Di tengah keberagaman agama dan suku, para warga masih mampu mempertahankan toleransi dan keguyuban di antara mereka.

“Kampung kami dijadikan percontohan kampung damai oleh Wahid Foundation. Kenyataannya, di tempat kami memang tidak pernah ada keributan. Bukan karena ingin damai tetapi kami memang sudah damai dan akan terus damai. Walaupun mayoritas etnis Cina di sini, tapi sangat rukun satu dengan yang lain,” papar seorang tokoh masyarakat di tempat ini, Pdt Denny.

Bahkan, tidak sedikit satu keluarga turun-temurun yang memiliki keyakinan berbeda-beda, tetapi tetap rukun dan harmonis. Tak heran jika ada acara keagamaan, mereka saling mengunjungi dan menghormati. Seperti yang dituturkan Hendra, Ketua RW 09. “Di sini kami saling mendukung bila ada perayaan hari-hari besar keagamaan masing-masing,” ujar Hendra mengenai kehidupan warga di wilayah “kekuasaannya”. 

Warga Kampung Cina umumnya mencari nafkah dengan menjadi buruh di peternakan babi, selain ada juga yang berdagang. Dari ragam pekerjaan itu, bisa diketahui penghasilan mereka tidak begitu besar.

Salah seorang warga Kampung Cina, peternak babi. (foto: inal ginting)

Kondisi ekonomi yang pas-pasan, menjadi faktor tingkat pendidikan yang relatif rendah. Masih banyak orang tua enggan menyekolahkan anak di usia dini. Keadaan warga yang demikian, membuat salah seorang warga di RT 01 terpanggil memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak usia sekolah, sejak dini.

Sekolah Gratis

Denny prihatin demi melihat banyaknya bocah di Kampung Cina yang tidak sekolah. Terdorong rasa nasionalisme, keinginan turut memajukan bangsa, dan rasa kebersamaan di wilayahnya, ia spontan mendirikan sekolah gratis dengan nama Sekolah Sinar Kasih.

Tekadnya yang mulia, bermula dari kenyataan bahwa sebagian besar warga Kampung Cina, mempunyai latar belakang pendidikan rendah. “Mereka masih menganggap pendidikan usia dini tidak begitu penting,” ujarnya. Bukan hanya itu, diakuinya juga keadaan ekonomi masyarakat di Kampung Cina, masih tergolong lemah. “Selama ini, mereka lebih mementingkan kebutuhan sehari-hari daripada pendidikan,” ujarnya.

Dengan tidak terpenuhinya pendidikan sejak usia dini, tentu saja, untuk masuk tingkatan selanjutnya, menjadi sulit. Karena itu, ia mengawali pendidikan gratis dari tingkat TK di tahun 2010. Kemudian pada 2011, tingkat SD. Pada tahun 2019 SMP dimulai bersamaan tingkat Taman Bermain. Saat ini, jumlah murid boleh dibilang cukup banyak. TB dan TK berjumlah sekitar 50-an murid, SD 40-an dan SMP ada 16 siswa.

Sekolah Sinar Kasih di Kampung Cina, Tajur Halang. (foto: ist)
Murid kelas 7 dan 8 SMP Sinar Kasih setelah upacara. (foto: ist)

Sekolah ini tidak berbayar. Sekolah ini juga tidak besar. Tidak ternama dan bukan milik orang terkenal pula. Namun, sekolah gratis ini dijalankan berlandaskan motto “kasih untuk menjangkau dan memajukan sesama umat manusia” dan penuh harapan agar siswa-siswi mempunyai keseimbangan ilmu, iman, dan pengabdian diri kepada Tuhan serta sesama manusia. “Biarpun tidak berbayar, kami tetap mengacu pada kurikulum dan program pendidikan pemerintah,” ujar pria ini bersemangat.

Keberadaan sekolah ini, patut diapresiasi. Ia hadir dengan bersahaja, di tengah dunia pendidikan (utamanya swasta) yang berlomba-lomba membesarkan nama, membangun gedung dan ruang kelas ber-AC, mengincar murid berprestasi, serta menyasar kaum the have. Di tengah kesederhanaannya, sekolah ini fokus pada lingkungan. Berpikir dan bekerja untuk membangun SDM di sekitar untuk memahami makna pentingnya pendidikan. Membangun jati diri dan membangun karakter bangsa.  

Sekolah ini pun memperhatikan kebutuhan pengetahuan para murid. Karenanya, para murid pun diberi pendidikan ekstrakulikuler seperti olah raga bela diri Taekwondo, pelajaran kemahiran bermain musik, juga pengetahuan kecanggihan komputer.

Guru-guru yang ada pun memberikan segenap kemampuan dirinya sebagai wujud pelayanan. Kerja tanpa pamrih, tanpa tendensi “bayaran” karena memang itu bukan tujuan utama. Memberikan pendidikan kepada anak bangsa untuk membangun diri, itulah hal penting yang ingin dicapai para pendidik di tempat ini.  

Sekolah ini akhirnya muncul sebagai wujud kebersamaan di Kampung Cina. Kampung yang tidak besar namun damai. Sebagian besar murid yang beragama Konghucu bergaul dengan mereka yang beragama Kristen dan Muslim.

Sejak usia dini mereka telah diajarkan arti kebesamaan dan cinta tanah air. Karena itu, pada waktu-waktu tertentu, murid juga diajarkan mencintai negeri tercinta Indonesia. Upacara Kemerdekaan, Perayaan Keagamaan, diajarkan kepada murid agar memahami keberagaman di tanah airnya.

Kegiatan Pramuka pada hari Kamis juga menjadi bagian untuk para siswa berlatih mandiri, serta memahami makna kebersamaan, kerjasama, dan kesatuan. Para murid dididik mencintai NKRI. Di dada setiap murid, NKRI terpatri sebagai sebuah harga diri.

Setiap hari Kamis, para murid Sekolah Sinar Kasih melakukan kegiatan pramuka. (foto: inal ginting)
Belasan murid kelas 7 memainkan suling, mengiringi lagu “Padamu Negeri”. (foto: ist)

Kampung Cina yang damai, Sekolah Gratis Sinar Kasih yang sederhana, berpadu di sebuah tempat kecil lagi tidak populer. Siapa sangka, di sana, terdapat anak-anak bangsa yang mencintai negeri ini dengan segenap hati. Siang itu, murid kelas 7 yang berjumlah 14 orang, tampak berseragam pramuka. Mereka memperlihatkan kebolehannya memainkan suling. Lengkingan nyaring dan merdu seruling, melantun padu mengiringi alunan lagu Padamu Negeri.

Lagu nasional ciptaan Kusbini dibawakan anak-anak Kampung Cina dengan sangat khidmat. Memperhatikan mereka mengucapkan kata demi kata lagu yang ada dalam lirik lagu itu, ada rasa bangga di hati, bisa mengenal orang-orang sederhana ini dari jarak yang begitu dekat.

Padamu negeri kami berjanji; 

Padamu negeri kami berbakti;

Padamu negeri kami mengabdi;

Bagimu negeri  jiwa raga kami.

(melva tobing)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *