“Pak Habibie, Mengapa Anda Pintar?”

 “Pak Habibie, Mengapa Anda Pintar?”
Episode Mengenang BJ Habibie
Roso Daras dan BJ Habibie—dokpri

Jayakarta News – Indonesia berduka, atas berpulangnya orang Indonesia paling jenius, BJ Habibie. Sosok yang satu ini, menyisakan satu pengalaman menarik, sepanjang karier kewartawanan saya. Kisah ini terjadi sekitar tahun 1985, saat saya masih bekerja di Harian Jawa Pos, Surabaya.

Suatu pagi, mbak Oemi, sekretaris redaksi Jawa Pos memanggil dan menyodorkan gagang telepon. Saya pun bertanya, “Dari siapa, mbak? Sekenanya saja dia menjawab, “Pacarmu!” 

Sambil meraba-raba tentang siapa gerangan penelepon di ujung kabel sana, saya beruluk kata, “Hallooo… “, belum lanjut ke pertanyaan standar “dengan siapa ini?” suara di ujung sana sudah menimpal, “Ros… sinio… ada pak Habibie.”

Ah… itu suara Peggy Limanseto, tidak salah lagi, Public Relations (PR) Manager Hotel Hyatt Bumi Surabaya. Ya, nama hotel terbaik di Surabaya memang masih itu. Ini kejadian tahun 1985.

Peggy adalah seorang PR yang baik. Seorang PR yang smart. PR yang sangat profesional pada zamannya. PR yang ramah… dan yang pasti, dia bukan pacarku….

Sebagai hotel tempat menginap tamu-tamu dari pusat, Peggy sadar betul, banyak “sumber berita” check-in-check-out. Ia sadar, nama hotelnya pasti akan disebut dalam reportase ketika menyebut unsur “where”.

“OK, aku meluncur ke situ,” jawabku sambil menutup gagang telepon.

Bergegas saya sedia meluncur ke Hyatt. Di tengah tangga turun, pak bos –Dahlan Iskan, Pemred Jawa Pos biasa dipanggil— ucluk-ucluk naik. “Mau ke mana Ros?!” Lekas saya menukas, “Hyatt, ada pak Habibie!”

Saya terus menuruni tangga, dia pun terus menaiki tangga. Belum habis anak tangga kupijak, pak bos teriak, “Ros… titip pertanyaan!” Saya berhenti, sosok Dis –inisial tulisannya ketika itu—jelas tak lagi bisa kulihat, tapi kaki ini sungguh enggan untuk naik tangga menghampiri.

“Apa?” bertanya dengan setelan volume yang aku tinggikan. Nada tak kalah tinggi menjawab dari atas sana. Kukira ia ada di bibir tangga atas, tak jauh dari meja resepsionis tempat mbak Oemi mangkal, “Tanyakan, kenapa dia pintar?!”

Sepeda motor Honda GL-Max kreditan yang masih gres –belum lama turun dari dealer— kustarter, meninggalkan markas Jawa Pos di Jl. Kembang Jepun menuju hotel Hyatt Bumi di Jl Basuki Rahmat, Surabaya.

Sepanjang perjalanan, kulesakkan betul titipan pertanyaan pak bos di batok kepala. Rancangan inisiatif topik wawancara seputar PT PAL, tempat keesokan harinya BJ Habibie beracara, jadi buyar. Atau tepatnya, menjadi tidak penting.

Lupakan topik PT PAL, fokus pada pengembangan atas pertanyaan titipan pak bos, “Pak Habibie, kenapa Anda pintar?”

Hapal betul saya perangai pak bos. Kalau hasil tulisan tidak berkisar di soal kejeniusan Habibie, maka akan dianggap sampah. Sungguh, tidak penting lagi menyandingkan kekuatan topik PT PAL dengan keenceran otak Habibie.

Satu hal yang pasti, dan ini yang penting…. jika tulisan nanti tidak berkisar seputar kepintaran Habibie, itu artinya hanya akan menyisakan dua pilihan yang tidak enak… Pertama, telinga sakit mendengar omelan. Kedua, disuruh balik lagi ke narasumber untuk menggali lebih dalam.

Syahdan, sepeda motor sudah terparkir di tempat semestinya. Saya tahu ada jalan pintas dari parkiran motor untuk lekas sampai ke ruang kerja Peggy, tanpa harus melalui lobby hotel.

Ketuk pintu, dan masuk ruang PR Manager, ahhh… sontak kecamuk tentang topik wawancara hilang. Pikiran jadi fokus demi melihat Peggy yang cantik lagi berkulit putih, serta aroma harum yang segera menyeruak melebarkan rongga dada. Bernapas jadi lebih lega, rasanya.

“Pak Habibie di kamar berapa?” itu pertanyaan pokok. Tanya-jawab sebelumnya, tidak penting, tapi bukan pula off the record.

Berbekal nomor kamar, kuhampiri kamar Habibie dan pelan tombol bel kupencet. Tidak lama, pintu dibuka. Dor…dor..dor…. Bukan tembakan. Tapi saya berondong dia dengan kalimat pengenalan diri, penyampaian maksud dan tujuan, yang diberondongkan secara cepat. Maka, duduklah kami berhadap-hadapan.

Meledak tawa Habibie saat saya lempar pertanyaan yang ada di judul tulisan ini.

Stop…. tahan dulu….

Sebentar… izinkan saya mendeskripsikan tawa Habibie hari itu. Begini. Anda pasti bisa dengan mudah membedakan orang Indonesia berbahasa asing dengan pronunciation yang baik, dan orang Indonesia yang berbahasa Inggris medok. Mendengar orang ngomong Inggris dengan pronunciation yang baik, di telinga juga enak kan?

Ledakan tawa Habibie ini seenak kita mendengar orang ngomong Inggris dengan pronunciation yang baik. Berderai-derai… sedikit lebih soft dari tergelak-gelak.

Mendengar tawa Habibie, saya nyengir saja sambil menatap orang dengan postur pendek pemilik IQ 200 itu. Usai derai tawa terakhir, dengan mimik khas –mulut agak dimajukan, mata mendelik— dia pun menjawab pertanyaan yang telah menyegarkan saraf-sarafnya… kukira.

Dia menjawab dengan sangat ilmiah. Disebutlah tentang bangunan otak yang berukuran lebih besar dibanding otak kebanyakan. Bicara volume otak, Habibie menggabungkannya dengan soal lemak, omega-3, asupan gizi, dan… panjanglah….

Ukuran panjang pendek uraian Habibie, kalau sekadar untuk mengisi rubrik “Foto-B”, lebih dari cukup. Bahkan jika redaktur memintanya sebagai bahan tulisan box (features), tidak akan kurang. Benar, Jawa Pos tahun segitu, setiap hari di kiri atas ada rubrik yang diistilahkan “Foto B”. Isinya, kisah human inerest dari prominent/eminent people.

Kembali ke laptop…. Kembali ke momen wawancara dengan Habibie yang ketika itu menjabat Menristek/Kepala BPPT, Kabinet Pembangunan IV.

Sekali lagi saya mendengar tawa Habibie yang berderai-derai itu, ketika ia menangkap pertanyaan yang lain, “Apa ada hubungannya (kepintaran) dengan postur tubuh Anda yang pendek?”

Sekali lagi… di pungkasan tawa, ia dengan mimik serupa tadi, menjawab dengan sangat ilmiah. Dan menjawab dengan panjang-lebar.

Awalnya ia bicara soal anomali. Sebab, rata-rata manusia dengan IQ tinggi memiliki postur tubuh yang relatif tinggi. Artinya, secara ilmiah ada kecenderungan bahwa tubuh tinggi cenderung lebih cerdas dibanding tubuh pendek. Kecenderungan itulah yang tidak berlaku bagi dia.

Lalu Habibie bicara soal genetika. Bicara soal pola makan, pola tidur,… pola ibadah, dan… ah… maaf selebihna lupa. Maklum, itu kejadian puluhan tahun lalu.

Yang pasti, usai wawancara balik ke kantor dan mengetik. Wawancara eksklusif dengan  BJ Habibie membuat banyak orang senang. Setidaknya, pak bos berkenan. Redaktur bahkan berebut antara menjadikannya rubrik “Foto B” atau “Box” halaman 1. Bagaimana dengan Peggy? Keesokan pagi, saya pastikan dia akan membaca tulisan itu dengan tersenyum…. (roso daras)

Sumber: Buku “Api Revolusi Jawa Pos Kembang Jepun”

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *