Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman Terima Donasi 500 Liter Eco Enzyme Atasi PMK

 Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman Terima Donasi 500 Liter Eco Enzyme Atasi PMK

Hiasinta Kiki menyerahkan donasi Eco Enzyme kepada Suparmono, Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, DI Yogyakarta.

JAYAKARTA NEWS – Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, DIY menerima donasi 500 liter Eco Enzyme dari Relawan Eco Enzyme Nusantara (EEN) Sleman. “Saya mendengar info Eco Enzyme bisa mengatasi PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) dari testimoni peternak asal Jawa Timur,” kata Suparmono, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman saat menerima Relawan EEN, Jumat (8/7) di kantornya. Penyerahan Eco Enzyme dilakukan oleh Ketua Relawan EEN Sleman, Hiasinta Kiki. 

Suparmono menyatakan bahwa PMK atau penyakit mulut dan kuku yang biasa menyerang hewan ternak berkuku genap sudah 20 tahun lamanya tidak muncul. Ketika pada tahun 2022 ini wabah itu merebak, andalan peternak untuk mengatasinya adalah dengan ramuan obat yang melibatkan penggunaan telur, madu, dsb. “Dinas belum pernah menggunakan Eco Enzyme karena itu kami akan segera mengaplikasikan,” tambahnya. Usai acara serah termia, Suparmono pun berniat ingin menjadi Relawan Eco Enzyme.  

Sebanyak 500 liter Eco Enzyme siap didustribusikan untuk mengatasi PMK di Sleman, Yogyakarta.
Hiasinta Kiki dan Suparmono

Eco Enzyme (EE) adalah cairan serba guna hasil fermentasi dari tiga bahan, yakni molase atau gula merah, bahan organik sisa dapur dan air dengan perbandingan 1:3:10. Proses fermentasi berlangsung selama 3 bulan atau 90 hari di daerah tropis dan enam bulan di kawasan subtropis. Hasilnya adalah cairan berwarna coklat muda hingga tua (tergantung warna gula dan bahan organik yang digunakan), berbau asam segar khas fermentasi.

Para relawan dan pegiat EE selama ini menggunakan cairan yang mengandung enzyme, alkohol juga mikroba baik itu untuk kehidupan sehari-hari (ngepel, mencuci, desinfektan, pembersih udara dll), pertanian (pupuk, pestisida alami), juga untuk membantu proses penyembuhan luka baik luka baru maupun lama. “Eco Enzyme ini bukan obat tetapi cairan ini bisa membantu penyembuhan,” kata Kiki, panggilan akrab Hiasinta Kiki. Ia menambahkan bahwa cairan sejuta manfaat ini hanya untuk pemakaian luar dan bukan untuk dikonsumsi. EE tidak memiliki masa kadaluwarsa. Semakin lama umurnya, kandungan metabolit sekunder atau alkohol kian tinggi dan ini bermanfaat untuk membantu penyembuhan.   

Ketika PMK merebak, di media sosial banyak dikabarkan bahwa peternak berhasil menyembuhkan serangan virus itu dengan cairan EE.  Caranya dengan menyemprotkan EE murni ke bagian mulut dan kuku ternak. Sementara untuk menyemprot kandang, pakan juga petugas yang mengeksekusi, EE dilarutkan terlebih dahulu dengan air. IG ecoenzyme.jogja  pada (4/7) mengunggah testimoni peternak sapi yang tergabung dalam Koperasi Sapi Merapi Sejahtera di Cangkringan Sleman. Dalam dua hari pemakaian EE, sapi penderita PMK terlihat sehat dan kembali berselera makan rumput.

Bincang bincang Relawan EEN Sleman bersama Nawang Wulan (keempat dari kiri).

Mencari-cari EE

Setelah acara seremonial penyerahan EE usai, para relawan EEN Sleman berkesempatan berbincang-bincang dengan Kabid Peternakan instansi terkait, Nawang Wulan. “Pada awal PMK saya mencari-cari dimana komunitas EE berada, saya ingin menyemprot ternak menggunakann EE untuk mengatasi PMK,” kata Nawang Wulan. Media sosial dan pertemanan membantunya menemukan komunitas EEN Sleman.  

Nawang Wulan memaparkan, sampai dengan tanggal 6 Juli 2022, ada 4.500 kasus ternak terjangkit PMK di Sleman. “Cepatnya penyebaran disebabkan oleh sistem kandang komunal, ternak di pool di satu lokasi. Dengan demikian jika satu saja ternak terkena maka tiga sampai empat hari semua ternak akan terjangkit PMK,” papar Nawang Wulan. Ia menambahkan bahwa penyebaran itu berlangsung lewat udara. 

Kasus PMK pertama di Sleman dideteksi pada tanggal 20 Juni 2022.  Menurut cerita Nawang Wulan, kasus pertama itu terjadi karena  kehadiran ternak dan pedagang dari kota Boyolali. Pedagang itu membawa virus di baju atau alat transportasinya. “Di Sleman, angka kematian ternak akibat PMK mencapai 50 hingga 60 sapi yang masih muda,” tuturnya. Saat ini lalu lintas ternak di Sleman berada pada level tinggi berkaitan dengan penyediaan hewan kurban.  Sleman hanya bisa menyediakan 60 persen dari kebutuhan masyarakat untuk merayakan Idhul Adha.

Wulan menjelaskan bahwa penanganan PMK memakai mekanisme penanganan Covid. Dilakukan gerakan penyemprotan kandang serentak dan melibatkan aparat dari berbagai instansi. Ia berharap 500 liter EE donasi Relawan EEN Sleman itu bisa mencukupi untuk satu kabupaten.

Sementara Hiasinta Kiki menyatakan bahwa jika ada kekurangan EE komunitas EEN Sleman bisa menyediakan. “Tapi kami juga ingin mendengar testimoni pascapenyemprotan nanti,” kata Kiki. Ia menegaskan bahwa donasi seperti ini justru akan menambah semangat relawan untuk membuat EE.  Kiki menyampaikan bahwa relawan EEN Sleman bersedia melakukan pendampingan kepada Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan untuk memproduksi EE, tentu saja kegiatan ini juga melibatkan para peternak. (Ernaningtyas)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.