Dari Pagerngumbuk untuk Indonesia Emas

 Dari Pagerngumbuk untuk Indonesia Emas

Achmat Irfandi dan anak yang bermain di Kampung Lali Gadget

JAYAKARTA NEWS— Warung kopi yang  dilengkapi fasilitas Wi-Fi di Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo acap dikunjungi anak-anak muda tanggung, seusia SMP. Kadang masih dengan seragam sekolahnya, biru putih.  Juga yang lebih senior, pelajar SMA/ SMK dengan uniform-nya, abu-abu-putih. Jelang petang baru pulang. Kadang saat adzan mahgrib mereka masih nongkrong di sana.

Di Warnet pun tak jauh beda. Di warung internet ini banyak anak SD bermain game online. Mereka tampak asyik sekali dengan permainannya.  Keasyikan semacam itu tidak hanya mengepung desa Pagerngumbuk. Desa-desa tetangga juga seperti dirasuki  “kegilaan” serupa pada internet. 

Ternyata “kegilaan” anak-anak tersebut berkebalikan dengan apa yang dirasa  Achmad Irfandi (28), pemuda  desa setempat.  Ia disergap kegelisahan melihat anak-anak berbetah-betah di warnet,  juga di warung-warung ber-Wi-Fi dengan telepon pintarnya, gadget atau gawai.  

Di puncak kegalauannya itu ia  dihujani rasa gemas, dibelit kecemasan  dan  ingin meronta. Pokoknya khawatir banget, katanya. Letupan-letupan pertanyaan bermunculan di benaknya. Mengapa orangtua mereka diam saja ? Apakah mereka tahu?  Apakah mereka mengira anak-anak mereka sedang belajar kelompok? Mengapa masyarakat juga cuek?  Mengapa  ini dibiarkan? Akan seperti apa Indonesia nanti kalau anak-anak keranjingan gadget seperti itu?

Kalau pun anak-anak itu  di rumah, kata Irfandi, aktivitasnya  banyak  bermain gadjet juga. Nonton youtube, bermain game, dan pelbagai komunikasi lewat media  sosial (medsos).

“Musholah jadi sepi. Waktunya ngaji ga ngaji. Waktunya belajar bermain, “  ujar  Irfandi menuturkan kegalauannya kepada jayakartanews, Jumat (24/12) pekan lalu.

Bermain gamelan di Kampung Lali Gadget

Klimaks kegalaunya itulah,  sarjana pendidikan   lulusan Universitas Negeri Surabaya 2016 ini  bertekad mendirikan suatu wadah kegiatan bagi anak-anak  agar tidak kecanduan gadjet. Itulah latar dia membentuk Kampung Lali Gadget (KLG) di desanya pada 11 April 2018 lalu.  Tujuannya sederhana,  Kampung Lali (lupa: Jawa) Gadget  adalah suatu wadah kegiatan untuk mengimbangi anak-anak dari  kecanduan gadjet.   

Menurut Irfandi, sang penggagas,  Kampung Lali Gadget merupakan sebuah program edukasi inovatif yang bertujuan untuk mengurangi kecanduan gawai pada anak. Kampung Lali Gadget  juga merupakan sebuah arena atau lingkungan bermain yang ramah anak.

Lingkungannya cukup adem. Di bawah rumpun pohon bambu rindang atau biasa disebut  barongan. Juga di bawah pepohonan yang rindang lainnya.  Di area milik warga setempat yang cukup luas inilah anak-anak diajak bermain dengan permainan tradisional, seperti gobak sodor, enggrang, kasti, dan lain-lain. Kadang bermain gamelan, wayang kulit di teras atau di halaman rumah warga. 

Kampung Lali Gadget bukan sebuah program yang menjauhkan anak-anak dari gawai  atau telepon pintar tersebut, namun lebih kepada mengimbangi penggunaan gawai pada anak dengan permainan tradisional.

“Kita tidak bisa ya melawan teknologi, tapi yang kita lakukan  mengimbangi. Memanfaatkan teknologi itu secara bijak. Jadi tidak menghilangkan teknologi tapi lebih pada  aspek-aspek pengembangan diri mereka, “ ujar Irfandi, Duta Pemuda Indonesia Provinsi Jawa Timur 2017 ini.

Permainan tradisional di Kampung Lali Gadget

Irfandi,  pecinta dunia anak-anak dan selalu tertarik pada permasalahan pendidikan anak-anak, bertekad hendak mengembalikan anak-anak pada dunianya, dengan pijakan budaya kita. Menerapkan sosialisasi secara nyata, bukan selalu lewat medsos. Bersosialisasi dengan lingkungannya, bermain dengan teman-temannya,  bergembira dengan  permainan tradisional sekaligus mengembangkan folklor dan nilai-nilai budaya lokal yang penuh kearifan.

Konsen dia pada pendidikan, khususnya anak-anak merupakan  hal yang semestinya, aku Irfandi. Karena selain minat, dunia pendidikan sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya. Juga merupakan   dasar atau pondasi bagi pemikiran dan penanaman nilai-nilai seseorang, lebih-lebih di saat masih anak-anak. Hal ini pula yang jadi pijakannya membentuk KLG.  

Pendidikan itu baginya adalah momentum menanamkan hal hal baik pada diri manusia. Pada anak anak adalah momen tepat sebelum mereka terpapar banyak hal negatif dalam kehidupan ini.

“Pendidikan adalah upaya perubahan. Mengubah dari yang tidak bisa menjadi bisa. Dari yang tidak tahu menjadi tahu. Dari yang tidak berkarakter menjadi berkarakter, “  ujar Irfandi.

Senada dengan pandangannya,  pernyataan tokoh berikut juga menegaskan  bahwa “Pendidikan adalah tiket ke masa depan. Hari esok dimiliki oleh orang-orang yang mempersiapkan dirinya sejak hari ini,” kata Malcolm tokoh muslim Afrika-Amerika, pejuang hak asasi manusia.

Dan Irfandi, ingin turut ambil bagian mempersiapkan dan mewarnai masa depan anak-anak itu yang selaras dengan akar budayanya,  kearifan lokalnya, seperti nilai-nilai gotong royong, musyawarah, dan lainnya. Ia juga berusaha sedini mungkin memperkenalkan anak-anak  untuk mencintai bahkan gandrung pada literasi, membaca dan menulis.  Karena itu literasi ini termasuk juga dalam kegiatan KLG.  

Dari proses pendidikan dan pengajaran yang kita alami, kata Irfandi, esensinya belum kita dapatkan secara maksimal pada pendidikan formal kita saat ini. Kita sepertinya lebih  diajak untuk menghafal dan berkompetisi. Lalu ditentukan nilainya, rangking ke berapa, IPK berapa, ujian, dsb

Esensi yang diharapkan tentu kecerdasan dan penalaran, kepekaan sosial dan insan yang berkarakter lebih baik. “Kita hampir tidak pernah diajarkan berkolaborasi dan berkontribusi terhadap perubahan peradaban dunia, “  tutur Irfandi yang telah menyelesaikan pendidikan Strata 2 (2021) pada Jurusan yang sama dengan Strata 1 yakni Bahasa dan Satra Indonesia di Universitas Negeri Surabaya.

Mewariskan Budaya dan Karifan Lokal

Irfandi pemuda kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur 12 Mei 1993 ini menyadari betapa melesatnya teknologi telekomunikasi, informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa perubahan besar dalam peradaban dunia. Dan produk teknologi itu sampai kepada kita dalam bentuk gadjet atau gawai. Telepon pintar itu membuka cakrawala luas  jagat ini,  namun menurutnya,  keberadaannya belum  ditangkap secara tangkas dan bijak.

Achmad Irfandi, pendiri Kampung Lali Gadget

Kemudian banyak orang mengatakan,  dunia dalam genggaman. Atau dunia dalam saku kita. Dengan gawai itu  setiap orang berpeluang untuk tahu, melihat dan mengunduh khasanah pengetahuan dan informasi penting lainnya.  Namun fenomena dan realita yang dilihat Irfandi di desanya dan desa-desa sekitarnya, sangat merisaukannya. Mungkin ini juga terjadi di banyak tempat. Sisi negatif dari kegandrungan yang berlebihan pada penggunaan gadjet.

Anak-anak  yang kecanduan gadjet tampak lebih akrab dengan teman-teman sosialnya di jagat maya itu, tapi kurang bergaul dengan teman-teman di lingkungannya, dengan teman-teman tetangganya sendiri. Kadang  anak-anak juga  acuh tak acuh untuk menyapa teman-temannya itu.

“Menyapanya di medsos.  Ketika nge-chat orang kadang kurang  sopan, ga pakai salam, ga pakai assalamualaikum, tapi pakai…..,ping,….. ping! Gitu, “ujarnya menirukan bahasa sapa kalangan mileneal.

Sebagai founder, dengan membentuk  KLG ada titik yang ingin disasar sebagai tujuan besarnya yakni   Masyarakat Indonesia yang bijak menggunakan gadjet,  Mewariskan  budaya dan kearifan lokal Indonesia pada generasi emas, serta Terbentuknya generasi emas yang tidak bisa didekte teknologi, namunmenguasai  atau mengendalikan teknologi.

Adapun  tujuan spesifiknya Irfandi merincinya dalam beberapa target,  meliputi ;

a. Mengurangi ketergantungan gawai pada anak

b. Mengurangi efek negatif penggunaan gawai yang berlebihan pada anak (game online, media sosial, youtube, dll)

c. Mengajarkan permainan tradisional, seni budaya, kearifan lokal, kuliner, dan

sebagainya pada anak-anak

d. Mengangkat iklim literasi (budaya  baca tulis) di masyarakat, terutama anak-anak

e. Mengurangi paparan informasi bohong (hoax) yang hadir dalam media sosial

f. Mengangkat potensi desa menjadi desa edukasi (pengubahan mindset) dan

berdampak  pada pariwisata sehingga  mampu mengangkat perekonomian masyarakat

g. Memantik inovasi dan aktivitas pemuda di desa-desa secara kreatif

h. Memberi pemahaman orang tua tentang pengasuhan di era teknologi gawai

i.  Membentuk kampung ramah anak

j.  Meningkatkan kesadaran masyarakat akan besarnya  resiko kecanduan gawai

Bukan Hanya Anak-anak

Menurut Irfandi, putra dari  Khoiril Anam dan  Siti Mas’udah ini,  bukan hanya anak-anak sebenarnya yang  sering kebablasan dalam penggunaan  gadjet. Penyakit kecanduan gadjet ini juga menimpa orang dewasa, lalu nilai-nilai pun pudar dan kadang hilang. Kalau dulu orang menyelesaikan masalah dengan bermusyawarah. Sekarang  dengan sindiran-sindiran di medsos, sehingga tidak menyelesaikan masalah. Bahkan muncul masalah baru.

Segala isu di muka bumi ini tampaknya bisa dilihat lewat internet kita.  Dari isu yang biasa-biasa saja hingga yang luar biasa. Dari yang atraktif hingga yang sensitif. Dari yang sekadar mbanyol (ngelawak)  hingga yang konyol. Dari petuah yang bikin pikiran segar hingga hal-hal yang sangat vulgar. Dan tak ketinggalan  informasi atau pesan-pesan yang sakral hingga  profan.

Termasuk yang miris dan nggegirisi, kata Irfandi, adalah berita atau  “atraksi” pornografi dan kekerasan.  Semua bisa diakses dengan mudah bahkan oleh anak-anak. Pada  genggamannya. Dari saku atau dari tasnya. Pintu internet kita benar-benar terbuka.

Ia  mengaku  belum   memahami mekanisme saluran internet kita. Mungkin para pakar atau otoritas bidang TIK yang bisa menjelaskan. Tapi berdasarkan pengalamannya,  kontrol sensor untuk internet kita lemah.

“Buktinya banyak anak yang bisa akses pornografi atau terpapar iklan dewasa pada ponselnya, “ ucap Irfandi lagi.

Fenomena itu menambah galau Irfandi sehingga untuk membentuk dan merealisasikan kegiatan-kegiatan KLG  kala itu – hampir empat tahun silam tak bisa dibendung lagi. Selain itu, ada satu arah yang dia pikirkan jauh ke depan. Bagaimana Indonesia nanti jika  keranjingan anak-anak terhadap gadjet seperti itu?  Bukankah anak-anak yang sekarang kecanduan gadjet itu pada 2045 nanti akan menjadi penerus bangsa ? Pemimpin bangsa ?

Karena itu, dalam kiprah KLG, kata Irfandi,   Indonesia Emas nanti jadi target limit awalnya.  Ia ingin ikut mewarnai wajah Indoesia di usia emas itu dari khasanah budaya, potensi, dan nilai-nilai Indonesia sendiri. Indonesia gemilang dan sejahtera namun dalam corak karakter ke-Indonesia-an sejati.

Apa yang dicetuskan Irfandi  tentang KLG pada April 2018, ternyata juga menjadi kerisauan China.  Dalam sebuah artikel di Harian Kompas 20 September 2021 menyebutkan,  Ambisi Xi Jinping mewujudkan China yang sejahtera, berkeadilan, dan menjunjung tinggi nilai sosialisme Partai Komunis China mulai merambah ke dunia internet. Sebelumnya, pemerintah membatasi akses informasi masyarakat terhadap konten sensitif, seperti isu Xinjiang, Tibet, dan demokrasi di Hong Kong. Baru-baru ini, giliran industri game daring, pengimbas atau influencer, dan warganet yang menjadi sasaran.

Pesan Partai Komunis China (PKC) ialah segala sesuatu yang diproduksi atau disebarluaskan di China wajib menjunjung nilai-nilai budaya China kontemporer. Apabila ada produk, kegiatan, ataupun layanan yang tidak menganut nilai tersebut, pemerintah akan bertindak tegas.

Di bagian lain disebutkan, …. kantor berita Xinhua menerbitkan tajuk rencana yang menuduh game daring sebagai candu spiritual. Alasannya, tua-muda masyarakat China keranjingan bermain game daring sehingga lupa waktu. Akibatnya, rakyat lupa nilai-nilai PKC, yakni bekerja keras dan berkontribusi pada pembangunan nasional.

Langkah Kecil Berjejaring

Irfandi, kelahiran 12 Mei 1993  yang masih tergolong pemuda  mileneal,  turut bergegas ingin menyelamatkan anak-anak dari kecanduan gadjet yang disebutnya sebagai langkah kecilnya. Langkah kecil itu dimulai di kampung halamannya,  Desa Pagerngumbuk dengan membentuk KLG. Namun kini langkah kecilnya itu bersama komuntas pemuda  terus melebarkan jejaring dan berkolaborasi dengan daerah lain di luar Sidoarjo.

Yang belum lama dilakukan adalah berkolaborasi dalam kegiatan literasi dengan komunitas penggiat literasi di Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang,  dan Kabupaten Pasuruan Jawa Timur.

Bermain di sawah

KLG telah berhasil mewujudkan kampung ramah anak. Pagerngumbuk dipandang sebagai desa yang menjadi pusat kegiatan anak-anak. Menghidupkan permainan tradisional dan upaya pelestarikan budaya lokal. Menyemarakkan kegiatan literasi di kalagan anak-anak.

Berkat inisiatif dan inovasinya membentuk KLG, pada tahun 2021 ini Achmad Irfandi, warga  Dusun  Bendet RT 02/03, Desa Pagerngumbuk,

Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jatim  mendapat penghargaan Satu Indonesia Award dari Astra  untuk kategori Pendidikan

Ia tergolong pemuda aktif. Kegiatan organisasi, pengabdian dan capaiannya antara lain :  Ketua Komunitas Wonoayu Kreatif  2017 – sekarang, Penulis buku BDBA SMPN 10 Muara Teweh, Barito Utara, Kalteng 2016,  Founder Gerakan Darjoisme (2017),  Founder Program Kampung Lali Gadget (2018),  Pengurus KPOTI Jawa Timur 2019,  Duta Pemuda Indonesia Provinsi Jawa Timur 2017,  Ketua DPC PPMI Kabupaten Sidoarjo (2018),  Sekretaris BUMDES Pagerngumbuk (2018),  Anggota Rotaract Club Of Sidoarjo, Rotary D3420 Indonesia (2019),  Pemuda pelopor Sidoarjo Bidang Pendidikan 2017 & 2018,  Pemuda Pelopor Jatim Bidang Pendidikan 2019 – 2020,  Co Founder Lintas Komunitas dan OKP Kab Sidoarjo (2018),  Humas Yayasan Rehabilitasi Korban Narkoba Jatim 2020,  Penyusun Materi Pembinaan Organisasi Kesiswaan Kemendikbud 2020

Kecanduan Gadjet Juga Spesifik

Bagaimana KLG memulai  kiprahnya? Tentu tidak mudah.  Ketika memulai menerapkan kegiatan seperti yang tercermin dari tujuan spesifik KLG, Irfandi  menggandeng teman-teman komunitas. Mulai komunitas kepanduan, literasi, komunitas budaya, dan teman-teman yang memiliki kepedulian sama terhadap dunia anak-anak terutama terkait pendidikan.

“Jadi kami tidak menggandeng warga lokal dulu, tapi justru teman-teman komunitas dari luar desa  bahkan di luar kabupaten, “ paparnya.  Karena strateginya, kata sulung dari 3 bersaudara ini, orang itu butuh bukti dulu, tidak langsung diajak merintis dari awal. Itu akan susah, dan tidak akan nyambung pemikirannya. Maka kami gandeng komunitas dari luar untuk merintis.

Kesulitan ketika memulai  ya pasti  dana, lalu sumber daya manusia (SDM). Tenaga, itu yang  susah. Kendala besarnya adalah mindset masyarakat yang masih mendewakan gadjet sebagai  kebutuhan pengasuhan anak

“Alhamdulillah,  sekarang warga mulai sadar dan ikut-ikut kontribusi, “ jelas Irfandi. Kontribusi warga diantaranya  merelakan lahan, kebun, halaman rumah , dan  ada juga teras rumahnya dimanfaatkan untuk kegiatan KLG.

Respon yang tumbuh dari warga, dari masyarakat sekitar dipandang bisa lebih  mengakar. Ia yakin suatu kegiatan, suatu pergerakan yang tumbuh dari bawah itu punya nyawa beneran. Kalau tumbuh dari kebijakan, dari program ya nyawanya dari anggaran. Ga ada anggaran ga jalan.

KLG kemudian menggeliat menjadi arena bermain anak, mereka bisa bergembira dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Di area itu bisa tereksplor permainan tradisional seperti bermain dakon, gobak sodor, kasti, dan lain-lain. Juga bermain wayang, berlatih gamelan.

Menurutnya, segala kegiatan yang dilakukan didanai secara  swadaya, dengan iuran , donasi masyarakat sekitar, dan hasil jualan. KLG jualan produk mainan, dan sekarang  juga jualan jasa riset pengembangan desa

Ia memang memerlukan dukungan pemerintah, tapi bukan anggaran.   “Kami ingin  mengganggu kebijakan (pemerintah), “ tuturnya.  Mengganggu yang dimaksud adalah intervensi agar Pemkab Sidoarjo bisa membuat kebijakan  yang  mengarah pada penyelesaian masalah, seperti  problem kecanduan gadjet ini. Menurut Irfandi,  kecanduan gadjet problem spesifik juga seperti narkoba, juga kekerasa anak.

Ia sudah membaca Raperda Kabupaten Sidoarjo. Memang diakui, banyak hal spesifik yang dibahas, misalnya menyasar anak-anak dengan HIV/ AIDS,  menyasar anak-anak korban nakoba,  anak-anak korban kekerasan seksual. Tapi, Raperda itu belum menyasar bagaimana mengatasi/ mengamankan anak-anak dari internet, mengamankan anak-anak dari media sosial, dari kecanduan game online.

 Kalau maunya spesifik,   saya kira ini juga spesiafik. Sudah terjadi banyak korban, ini juga berdampak pada  kekerasan, pada pornografi, pada narkoba. Kalau mau dirunut, kata Irfandi bersemangat, ya dari internet. Kenapa dampak internet ini tidak diperdulikan untuk masuk dalam Raperda, untuk UU Perlindungan Anak. Justru ini hulunya. Mereka tampaknya belum memikirkan itu. Dipikir internet itu positif terus dan bermanfaat terus.

“Dalam Raperda yang saya baca, masalah kecanduan anak pada gadjet itu tidak ada. Padahal ini problem juga. Hampir setiap keluarga, anak-anaknya kecanduan gadjet, “ ujarnya menandaskan..

Irfandi sudah melakukan pendekatan dengan  Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan  Masyarakat  Kelurahan (P3A dan PMK) Kab. Sidoarjo  untuk intervensi Raperda Kabupaten Layak Anak. Sebab, kata Irfandi, Sidoarjo itu sudah dinobatkan sebagai kabupaten layak anak tingkat menengah. Namun kekerasan masih sering terjadi. Kasus yang mencabuli anak-anak itu masih banyak. Lalu, dengan “intervensi” itu ia berharap Pemkab tidak hanya  responsif ketika terjadi kasus, tapi segera  mengupayakan  langkah preventifnya. Itulah jurus intervensi KLG.

Salah satunya, menurut Irfandi,  ya Pemkab membangun pusat-pusat edukasi anak, membangun pusat-pusat kesibukan anak, membangun pusat-pusat perlindungan anak yang banyak di kampung-kampung di Sidoarjo ini. Kita mau intervensi itu supaya Dinas P3A dan PMK  membangun kampung-kampung layak anak.

“Tapi kita kasih contoh dulu ya melalui kegiatan KLG ini. Kita kasih contoh dengan  beberapa kampung yang kita dorong menjadi kampung yang ramah anak, “  ujar Irfandi. Hingga kini  ada 10 kampung di Kecamatan Wonoayu  yang berjejaring dengan Desa Pagerngumbuk untuk menjadi kampung ramah anak.  “Nanti kita tunjukkan. Artinya, kita tidak minta anggaran. Tapi kita ingin intervensi kebijakan, “  tegasnya pula. .

“Ini lho, kami yang swadaya bisa  mengadakan kampung ramah anak. Dan Pemkab yang didukung anggaran tentu lebih mampu membuat kegiatan atau menyediakan sarana yang jauh lebih baik. Taman-taman bermain yang layak anak, lingkungan yang ramah anak “ tukasnya. 

Jadi Perhatian

Meski dianggap pelan tapi langkah KLG di  Pagerngumbuk yang berpenduduk 2.968 jiwa (2020) akhirnya menjadi perhatian publik sebagai kampung ramah anak, tempat kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak.

“Kami senang kalau makin banyak orang yang terinspirasi mau bergerak di Sidoarjo. Itu yang saya lihat. Kegelisahan banyak orang itu terwakili. Ada yang mau mencoba menyelesaikan permasalahan itu, “ ujarnya.

Kalau dari sisi ekonomi, UMKM mulai tumbuh di sekitar tempat kami Minimal di saat ada event warga memanfaatkan peluang untuk berjualan. Sedangkan dari segi budaya jelas ada upaya pelestarian.

Dari 10 objek pemajuan kebudayaan, KLG mewakili dua objek yaitu pelestarian permainan rakyat dan olahraga tradisional, termasuk folklor karena  permainan tradisional juga termasuk folklor.

Dukungan masyarakat dirasa menjadi energi untuk terus  mengembangkan KLG. Pak RW yang merupakan tokoh masyarakat setempat sangat mendukung sejak awal. Pemerintah desa pun mendukung dalam bentuk perizinan dan kadang juga meminjamkan alat-alat seperti sound system. Dan belakangan dirasa makin lengkap karena Pak RT-nya  juga  mendukung.

Tahun lalu, kata Irfandi, dua kandidat Bupati berkenan mengunjungi Pagerngumbuk jelang Pilkada di Kabupaten Sidoarjo. Tak ketinggalan juga dukungan wakil rakyat atas kegiatan-kegiatan KLG, meski sifatnya normatif.   Dan tentu dukungan media massa,  baik lokal maupun nasional  acap mempublikasikan kegiatan-kegiatan KLG ini.

Kiprah KLG tidak cukup di situ. Menjadikan desanya sebagai kampung ramah anak, pusat kegiatan anak. Dari permainan hingga literasi dan pelestarian budaya. Mimpi-mimpi atau gagasan pun akhirnya  bekembang. 

“Kami ingin membentuk suatu entitas pendidikan dimana anak-anak bisa  belajar langsung dari alam, dari kondisi nyata, dari desa. Membuat sekolah berbasis desa, kemudian membentuk jejaring para penggerak, minimal di seluruh Kabupaten Sidoarjo, “.

Pada peringatan Indonesia emas nanti,  2045, targetnya ada 100 ribu penggerak di kabupaten Sidoarjo. Nah itu tentu memerlukan strategi bagaimana menumbuhkan banyak penggerak yang tersebar di desa-desa yang jumlahnya 253 desa di Kabupaten  Sidoarjo.

Sekarang baru 15 orang pemuda, usianya 20-an tahun. Kadang jika ada kesibukan dan bersamaan dengan kegiatan lain, dengan  5 orang pemuda pun kegiatan KLG tetap jalan. Dan setiap event besar yang rutin diadakan tiap 2 bulan sekali, setidaknya melibatkan 3-5 komunitas. Misalnya pertandingan dolanan anak, dan lainnya.  “Dengan tiga komunitas pun kegiatan tetap meriah, “ ujar Irfandi. Dan masyarakat bisa menyaksikan sendiri.

Ya, kita boleh bangga dan tersenyum atas langkah-langkah KLG. Terselip harapan besar karena yang bergerak dalam kegiatan KLG ini anak-anak muda, dipelopori pemuda  pula yang bergegas turut menyiapkan Indonesia Emas.  Energi Pemuda dikenal dahsyat, penuh vitalitas. Kita ingat jargon Bung Karno;  Beri aku 1000 orang tua, aku runtuhkan  Mahameru. Tapi beri aku 10 pemuda, akan kuguncang dunia.***iswati

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.