Brexit ala Theresa May

 Brexit ala Theresa May

Bekasi – Theresa May duduk diam sambil menyeruput teh di pojokan ruang kecil tempat konferensi Partai Konservatif di Manchester, Oktober tahun lalu. Perdana menteri Inggris baru saja selesai menyampaikan pidatonya yang bertujuan memperkuat otoritasnya terhadap partai berkuasa, yang makin turun di jajak pendapat dan terbelah pada soal keputusan untuk keluar dari Uni Eropa.

Soal keluarnya Inggris dari Eropa makin lama makin terlihat kacau balau. Ketika berpidato, dia berjuang tetap tenang ditengah batuknya. Bahkan slogan partai dibelakang podium, “Membangun negeri yang melayani semua warga” tidak punya pengaruh apa-apa. Apalagi ketika beberapa lembar kertas pidatonya jatuh, sehingga beberapa anggota parlemen tertawa kecil.

Kelihatan sekali, kekuasaan Theresa May melemah. Penulis pidato May, saat itu, Chris Wilkin memasuki ruangan tempat perdana menteri dan suaminya serta beberapa pembantu dekat sedang duduk. Dia Wilkin menyebutkan suasana sangat terasa tegang, bahkan dia berpikir mungkin May akan mundur.

Namun May mengangkat bahu dan mengatakan, “Saya tidak bisa melakukan apapun. Ini bukan salah saya. Itu salah satunya,” cerita Wilkin.

Banyak orang, yang pernah bekerja dengan May, menyebutkan reaksi tanpa emosi May memang sudah seperti itu sejak lama. Mereka, termasuk mantan pembantunya dan mantan menteri, menggambarkan dia sebagai orang yang menyambut kritikan, bencana, bahkan kesuksesan dengan cara yang sama.

Mereka selalu menyatakan May orang yang kuat dan punya kehendak untuk terus giat bekerja serta punya perhatian terhadap detil. Mereka juga menyebutkan dalam proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa, dia bekerja secara detil, menyerap kemuduran dan terus maju.

Sementara, para pengkritik May, di dalam dan di luar Partai Konservatif, mengatakan dia berada jauh dari issue dan tidak memiliki visi, sebuah robot atau ‘Maybot’. Dalam pandangan mereka, dia terbentur oleh negosiasi Brexit dengan Brussels (ibukota Uni Eropa), seorang perdana menteri dadakan yang pekerjaannya tidak dikehendaki oleh siapapun.

Upaya terakhir Inggris untuk menyepakati rencana Brexit menghadapi tantangan besar ketika dua menteri senior mundur. Sebabnya, mereka memprotes langkah May untuk menerima kesepakatan yang membuat Inggris terus terikat dengan Uni Eropa. Dadiv Davis, menteri urusan perundingan Brexit, dan Menteri Luar Negeri Boris Johnson, keduanya pendukung kuat Brexit, mundur bersamaan. May langsung menunjuk pengganti, namun sekarang dia berhadapan dengan penentang kuat yang akan menyerangnya dari luar pemerintahan.

Sekali lagi, terlihat kekuasaan Theresa May melemah. Inggris harus menyelesaikan proses keluar dari Uni Eropa dalam waktu kurang dari sembilan bulan. Sekaligus menetapkan posisinya di luar Uni Eropa. Pada tanggal 29 Maret tahun 2019, Inggris resmi keluar dari Uni Eropa setelah selama 40 tahun bergandeng tangan bersama. Karena itu, ada pekerjaan maha besar; soalnya sebagian besar ekonomi dan hukum perdagangan Inggris serta juga urusan perburuhan sangat terkait dengan sistem Uni Eropa —- yang harus diubah. Ditengah ini berdiri Perdana Menteri Theresa May dan dialah yang akan membentuk Inggris setelah Brexit.

“Dia menghadapi masalah jauh lebih banyak dari perdana menteri manapun disepanjang hidup saya dan tidak satupun merupakan kesalahannya, dia tidak menciptakan satupun masalah itu, “ tutur Ken Clarke, tokoh senior Partai Konservatif. Clarke pernah memengang posisi penting di pemerintahan, termasuk menteri dalam negeri dan menteri keuangan. Dia punya karir politik selama 50 tahun lebih.

May tetap tenang setelah menteri-menterinya mundur. Dia mengatakan, di parlemen, dia tetap pada rencananya dan menggambarkanya sebagai Brexit yang benar (‘right Brexit’).

Pilihan Berat

Ketika Inggris memilih meninggalkan Uni Eropa dalam sebuah referendum Juni 2016 lalu. Hasil ini telah memecah bangsa dan juga Partai Konservatif. May muncul dari kekacauan ini setelah terpilih menggantikan David Cameron sebagai pimpinan partai dan sekaligus perdana menteri.

Sama seperti Cameron, dia berkampanye agar Inggris tetap berada dalam Uni Eropa. Namun setelah dia dilantik sebagai perdana menteri Juli 2016, dia berjanji akan menghormati pilihan rakyat dan melakukan proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Dia memperlihatkan gaya yang lebih tenang dan tidak kurang berhubungan dengan media.

“Saya tidak masuk studio-studio televisi, Saya juga tidak bergosip saat makan siang. Saya tidak minum di bar-bar parlemen. Saya sering tidak membawa perasaan saya. Saya langsung melakukan pekerjaan yang ada dihadapan saya,” tukas May.

Uniknya, May (61 tahun) tidak masuk faksi manapun di Partai Konservatif. Meskipun, dia pernah menjabat sebagai menteri dalam negeri selama enam tahun pemerintahan Cameron. Dia bahkan bukan bagian dari lingkar dalam Cameron. Dia tidak suka diwawancara media, ujar pembantunya. Dia juga muncul di acara-acara sosial hanya sebatas sebagai ketua partai.

“Jika anda harus memilih antara duduk dalam sebuah pertemuan yang membahas sebuah kebijakan penting, dan membahasnya selama setengah jam atau setengah jam untuk menyiapkan diri menghadapi wawancara media. Dia (May) akan memilih yang pertama daripada yang kedua, karena itu adalah pekerjaannya,” ujar Wilkin, mantan penulis pidato Theresa May.

Mambandingkan jurnal kegiatan May dan Cameron memperlihatkan gaya yang berbeda. Contohnya, dalam tiga bulan, dari April sampai Juni 2016, Cameron melakukan 10 kali pertemuan dengan media dan dua kali acara di rumah resmi perdana menteri Downing Street. Sementara tiga bulan yang sama di tahun 2017, May hanya bertemu satu kali dengan media dan tidak ada acara pesta di Downing Street.

Namun apapun karekater Perdana Menteri Theresa May, dialah orang yang jadi nahkoda Inggris keluar dari Uni Eropa. Apa yang akan terjadi terhadap kekuatan ekonomi no 5 dunia ini, kita semua akan melihatnya. Mungkin kita akan terkejut.

Sumber informasi : reuters.com

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *