Blusukan Seni Dalem Djayaningratan

 Blusukan Seni Dalem Djayaningratan

Devi Eka Aryani, mahasiswa jurusan Tari Institut Seni Indonesia. Siap mendukung Blusukan Seni Djayaningratan. (foto: nina)

Jayakarta News – Tampaknya Dalem Djayaningratan segera menjadi pusat seni budaya yang diperhitungkan di jantung kota Yogyakarta. Sudah beberapa kali agenda seni budaya digelar di kompleks bangunan tua Warisan Budaya peninggalan Pangeran Djayaningrat, putra Hamengku Buwono VII ini.

Dalam waktu dekat, Paguyuban Dalem Djayaningratan akan mengemas agenda baru, blusukan seni. “Blusukan seni Djayaningratan tak hanya digelar di Kabupaten seputar DIY, tetapi di seluruh Nusantara. Puncak acaranya akan diadakan di Dalem Djayaningratan,” kata Rully Permana, Ketua Paguyuban Dalem Djayaningratan.

Untuk kepentingan blusukan seni itu Rully menggandeng seniman semua genre: lukis, patung, tari, musik dll. Para seniman akan diterjunkan ke tempat terpencil. Di situ mereka menggandeng penduduk setempat untuk berbagai ilmu berkesenian selama beberapa bulan. Sebagai penutup, di tempat blusukan akan digelar pertunjukkan sekaligus pameran hasil kreasi seni budaya masyarakat yang berkolaborasi dengan pelaku blusukan.

Dua atau tiga kali setahun acara ini diadakan di tempat yang berbeda. Selanjutnya, para pelaku seni di tempat terpencil itu akan dibawa ke Dalem Djayaningratan untuk unjuk kebolehan. “Di tempat ini mereka akan bergabung dengan seniman dari Yogya dan kota-kota lainnya. Ke depan Dalem Djayaningratan akan menjadi pusat seni budaya yang mampu menyemarakkan dunia pariwisata Yogyakarta,” ucap Rully. 

Dari Kiri: Devi Eka Aryani, Rully Permana dan Sukoco Hayat sedang mendiskusikan ide Blusukan Seni. (foto: nina)

Ide blusukan seni itu berawal dari kunjungan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Jurusan Tari ke Dalem Djayaningratan. Mereka ditantang Rully untuk turut menyumbangkan ide bagaimana membuat bangunan kuno di Jalan Dagen kawasan Malioboro  Yogyakarta ini menjadi pusat seni budaya yang hidup dan semarak.

“Blusukan seni itu akan mendekatkan kegiatan seni budaya ke masyarakat. Tidak semua orang bisa datang ke pusat-pusat seni budaya karena berbagai keterbatasan,” tutur Devi Eka Aryani, mahasiswi ISI Jurusan Tari angkatan 2015. Untuk itu, kata Devi, perlu dicarikan jalan keluar yakni dengan cara blusukan seni.  

Devi menuturkan, selain mendekatkan seni budaya kepada masarakat, blusukan seni itu akan memberikan pelajaran kepada pelaku seni bahwa sebuah even pertunjukan seni budaya tak harus diadakan  di gedung-gedung, pusat-pusat keramaian yang banyak bertaburan di kota-kota, tetapi ia bisa digelar di mana pun termasuk di desa-desa bahkan tempat terpencil. “Ketrampilan menari kami bisa dinikmati masyarakat di mana saja,” tambahnya.

Selanjutnya, para pelaku seni dari banyak daerah itu akan ditampilkan di Dalem Djayaningratan. Sinergi seperti ini menjadi daya dukung untuk menghidupkan gedung tua yang sebelumnya ngangkrak bertahun-tahun ini. 

Rully menyadari agenda besarnya itu menuntut kesiapan tempat secara fisik dan dukungan dana.  “Kami akan bekerja keras untuk mewujudkan Dalem Djayaningratan sebagai pusat seni buadaya,” ucapnya.  Ketua Paguyuban Dalem Djayaningratan ini menceritakan, bangunan di sisi barat akan dijadikan semacam warung seni. Di tempat ini masyarakat bisa membeli aneka produk seni sekaligus tempat kulineran. Gedung Sayap utara dan timur menjadi Galeri Seni. 

Pendapa Utama Dalem Djayaningratan tampak deoan. Warisan Budaya Ini rusak di beberapa tempat. (foto: nina)

Sementara pendapa besar di bagian tengah akan menjadi arena pagelaran seni budaya. Rully menegaskan, pihaknya akan merenovasi semua banguan di bagian samping. “Pendapa itu Warisan Budaya, menjadi wewenang pemerintah untuk merenovasinya,” imbuhnya.

Rully dan Tim Paguyuban Dalem Jayaningratan kini sedang membuka komunikasi dengan berbagai pihak untuk berkolaborasi mewujudkan mimpinya itu. Ia telah menggandeng Sanggar Sedulur Nyeni pimpinan Sukoco Hayat yang sampai saat ini sedang menggelar pameran seni PSROO (Pameran Seni Rupa Offline Online) di Daem Djayaningratan. Pameran yang menurut agenda berakhir pertengahan Oktober diperpanjang hingga akhir Desember mendatang.

“Saya siap mengerahkan perupa untuk mendukung kiprah Dalem Djayaningratan ke depan,” kata Sukoco. Untuk menggalang dana, Rully juga membuka hubungan dengan berbagai pihak.  “Semoga mimpi kami terwujud,” tambahnya. (Ernaningyas)

Bagian dalam pendopo. (foto: nina)
Bagian dalam bangunan pendapa Dalem Djayaningratan yg bolong pada bagian atap. (foto: nina)
Bangunan di Sisi barat Dalem Djayaningratan ini akan direnovasi dan difungsikan untuk warung Seni sekaligus tempat kuliner. (foto: nina)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *