Azwar AN “Si Slentem”

 Azwar AN “Si Slentem”
Azwar AN dan penulis.

SEBAGAI teatrawan, nama Azwar AN berada pada jajaran atas sekelas Rendra. Keduanya sama-sama mendirikan Bengkel Teater yang legendaris itu. Bahwa kemudian di tahun 1972 Azwar AN memutuskan hengkang dari Bengkel Teater, dan mendirikan Teater Alam, adalah sebuah hikayat yang panjang.

Jauh sebelum mendirikan Bengkel Teater, Azwar pada usia 17 tahun sudah meneguhkan sikapnya sebagai orang teater. Ia membuat naskah dan mementaskannya di Lampung, sekitar tahun 60-an. Tak lama kemudian, ia menuju kota Yogyakarta untuk lebih menggali dan mengembangkan bakatnya berteater.

Sejak itulah, Azwar lebih Yogya dari orang Yogya. Sekalipun logat bicaranya tetap kental logat Sumatera, tapi Azwar bukannya tidak menguasai bahasa Jawa. Letak uniknya justru tampak ketika ia ngomong Jawa. Di kuping, bukan logat aneh yang terdengar, tetapi logat khas-lucu, dan orang (Yogya) memakluminya dengan sangat.

Azwar AN saat menghadiri acara Pesatu.

Penulis tidak menyaksikan semua peran yang dimainkannya di atas panggung teater. Alasannya sederhana: Beda umur! Tapi dari sepenggal kala penulis bersamanya di Teater Alam, sosok Azwar AN ini mengingatkan pada karakter Slentem pada naskah drama realis karya Danarto (alm): Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek.

Tokoh Slentem yang mewakili kaum proletar, seorang tukang sapu di Pasar Beringharjo. Bukan tokoh utama dalam lakon itu, tetapi Slentem adalah suh, pengikat cerita. Tokoh-tokoh seperti Tomi, Profesor, Sumirah juragan batik, dan Kusningtyas terlibat konfllik yang dibangun dengan apik oleh Danarto. Soal-soal sepele, dibalut cinta segitiga Tomi – Sumirah – Kusningyas yang putri profesor, diikat oleh narasi dominan seorang Slentem.

Bagaimana Slentem kemudian menjelma menjadi tokoh tritagonis, tokoh yang menyatukan peran antagonis dan protagonis. Lebih dari itu, Slentem juga menjelma menjadi supranatural-absurd ketika tokoh lain menua menanti ajal, Slentem seperti bisa menghentikan putaran waktu.

Narasi panjang tentang penggalan kisah Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek itu, hanya untuk menggambarkan bagaimana Azwar AN memainkan peran Slentem dengan sempurna. Kebiasaan buruk “lupa dialog”, seperti dipahami benar oleh Danarto ketika membuat setting cerita, sehingga naskahnya menyediakan ruang improvisasi yang maha-luas bagi Azwar Slentem.

Begitulah tokoh Azwar AN sebagai “empu” teater Yogyakarta. Ketika anak-didiknya menjadi teatrawan besar seperti Meritz Hindra, Tetet Srie WD, Puntung CM Pudjadi, Gege Hang Andika, Liek Suyanto, dan masih banyak lainnya, Azwar memandangnya dengan senyum bangga. Ketika murid-muridnya berambut putih, toh Azwar tidak juga uzur. Setidaknya, semua anak didiknya masih memanggilnya “bang”, “Bang Azwar”. Bagi murid berlidah Jawa, tetap dengan panggilan “mas Azwar”. Tidak ada yang memanggilnya “pak”, apalagi “kakek”……

Azwar AN (tengah), main film.

Dalam beberapa kali bertandang dan berbincang dengan Azwar AN di Wirokerten, Banguntapan – Bantul, tempat ia bermukim, tidak ada yang benar-benar berbeda dengan belasan bahkan puluhan tahun lalu. Kalau toh ada yang beda, stamina yang sudah turun karena usia. Atas saran medis pula, ia harus mengatur pola istirahat.

Selebihnya, tetap gayeng. Tutur katanya tertata, vokalnya masih prima, dan joke-joke segar selalu meluncur dari mulutnya. Ia menyambut setiap muridnya dengan gembira. Tak lupa, ia akan mengenakan topi bareta ciri khasnya. Sesekali keluar kalimat nostalgia, sesekali wejangan, kali lain guyon.

Yang pasti, Azwar adalah seniman teater yang cerdas. Ia fasih diajak bicara soal seni dan budaya, bahkan nyambung jika diajak bicara politik. Pendek kata, topik apa pun akan ia ladeni, sepanjang kopi dan rokok tetap tersedia.

Sebagai aktivis Laskar Ampera Aris Margono yang bermarkas di Alun-alun Utara Yogyakarta tahun 60-an, Azwar sejatinya tak pernah melepaskan perhatiannya pada isu-isu kebangsaan. Terhadap hal-hal yang dianggapnya prinsip, pantang ia bergeming. Azwar bicara hitam adalah hitam, putih adalah putih. Jika kemudian ia masuk dalam pusaran pro-kontra, dianggapnya wajar.

Azwar AN bersama Titiek, dan tiga anaknya: Nanna, Renny, Ronny.

Sayang keluarga

Dalam kehidupan berkeluarga, tak ada yang menyangkal, ia sangat menyayangi keluarga. Istri dan tiga putra-putrinya adalah segala-galanya bagi Azwar. Ia menikahi Titiek Soeharti 5 Juli 1965. Darinya, Azwar dikaruniai tiga anak: Rony, Nana, Renny. Mereka besar dalam didikan penuh sisiplin, budaya Timur, dan tentu saja kasih sayang berimpah.

Sejak muda, Azwar gigih bekerja. Sesekali meninggalkan istri dan anak-anaknya untuk kerja sebagai aktor maupun sutradara film di Ibukota. Beberapa film besutan Azwar AN umumnya film bergenre komedi, seperti “Kejamnya Ibu Tiri tak Sekejam Ibukota”, “Tiga Cewek Indian”, “Tante Sun”, dan beberapa lagi.

Pada saat tawaran film sepi, yang dilakukan adalah menjadi pengisi suara (dubber) di PFN. Selain itu ia juga sering menjadi sarasumber untuk seminar atau ceramah kebudayaan. Hidup dan aktivitasnya, tak pernah jauh dari berkesenian.

Hingga usia memasuki 70 tahun, Azwar AN masih berkarya dengan membuat program talk show di sebuah TV lokal. Tak kenal lelah, tak kenal menyerah, dalam segala hal. Termasuk ketika istrinya dalam keadaan sakit (dan akhirnya wafat), sekian lamanya Azwar menemani, memotivasi dengan setia.

Menulis kehidupan Azwar, seperti menulis sosok Slentem. Merakyat, cerdas, sentral, dan tak lekang dimakan usia. Ia adalah legenda hidup. ***

—————

Gde Mahesa

Penulis adalah “cantrik” Teater Alam sejak tahun 1976/1977. Pernah aktif di Desa Seni Taman Mini Indonesia Indah, berkelanjutan di dunia layar kaca, jurnalis, juga dubber. Menjelajah dunia entertainment bersama Deddy Corbuzier. Mendirikan Pentagram Management yang melahirkan Romy Rafael, Demian, Oge Arthemus, dll. Profesi sebagai creative program dijalani hingga sekarang. Penulis juga aktif di beberapa Ormas. Salah satu karya buku motivasi “Tatah” dengan penerbit BIP telah diluncurkan. Selain itu, Gde Mahesa sekarang menulis di Jayakartanews.

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *