Review Film
Pernikahan Tanpa Cinta di “Kupilih Jalur Langit”: Saat Masa Lalu Suami Masih Menghantui
JAYAKARTA NEWS — MD Pictures resmi merilis trailer film Kupilih Jalur Langit yang langsung mencuri perhatian publik. Film ini mengangkat kisah pernikahan yang tidak berjalan sesuai harapan, memperlihatkan realita pahit ketika cinta tak sepenuhnya hadir dalam sebuah ikatan suci.
Diadaptasi dari kisah viral di TikTok karya Elizasifaa dan disutradarai Archie Hekagery, film ini menjadi proyek terbaru MD Pictures yang kembali mengangkat cerita emosional tentang hubungan manusia. Kolaborasi dengan Manara Films diharapkan mampu mengulang kesuksesan karya sebelumnya.
Trailer menampilkan kehidupan Amira yang diperankan Zee Asadel, bersama Furqon yang dimainkan Emir Mahira. Alih-alih menikmati kebahagiaan sebagai pasangan baru, Amira justru dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya masih menyimpan perasaan untuk sosok dari masa lalu, Dara.
Konflik batin Amira menjadi sorotan utama, terutama saat ia harus menerima kenyataan bahwa pernikahan yang dijalaninya tidak sepenuhnya dilandasi cinta. Sementara itu, karakter Furqon digambarkan kompleks, tanpa benar-benar ditempatkan sebagai sosok antagonis.
Menurut Manoj Punjabi, kisah ini mencerminkan realitas yang banyak terjadi di masyarakat, terutama tentang hubungan yang tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Ia menilai cerita ini memiliki kekuatan karena dekat dengan kehidupan nyata.
Zee Asadel mengungkapkan bahwa perannya sebagai Amira menggambarkan pergulatan emosi seorang perempuan yang merasa tidak dicintai sepenuhnya. Di sisi lain, Emir Mahira menilai film ini akan memicu perdebatan karena menghadirkan sudut pandang yang beragam dari tiap karakter.
Trailer ditutup dengan adegan emosional saat Amira mempertanyakan takdir pernikahannya. Ia dihadapkan pada pilihan sulit, antara bertahan atau melepaskan, di tengah luka yang terus menghantui.
Film Kupilih Jalur Langit dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 April 2026. Kisahnya diharapkan mampu menyentuh perasaan penonton sekaligus menjadi refleksi tentang makna cinta, keikhlasan, dan menerima kenyataan.(Agus Oyenk)
