Connect with us

Kabar

Simfoni Ketukan “Patah” di Kepuhsari

Published

on

Di sebuah sudut Kabupaten Wonogiri, tepatnya di Kecamatan Manyaran, waktu seolah bergerak lebih lambat. Bukan karena tertinggal, melainkan karena masyarakatnya memilih untuk setia menjaga warisan yang telah berumur ratusan tahun.

Selamat datang di Kampung Wayang Kepuhsari, sebuah desa yang bukan sekadar destinasi, melainkan sebuah museum hidup bagi seni wayang kulit.

Jejak Abadi Sejak Abad ke-17

Perjalanan saya kali ini membawa saya kembali ke masa lalu. Sejarah mencatat bahwa denyut nadi seni di Kepuhsari telah dimulai sejak abad ke-17. Konon, keahlian tata sungging (memahat dan mewarnai wayang) di desa ini diwariskan secara turun-temurun dari para abdi dalem kraton yang membawa kemahiran mereka ke wilayah perbukitan ini.

Hingga saat ini, tradisi tersebut tidak memudar. Justru, Kepuhsari tumbuh menjadi fenomena unik: hampir setiap warganya adalah pengrajin wayang. Berjalan menyusuri gang-gang desa, Anda akan mendengar simfoni ketukan patah (pahat kecil) menghantam kulit kerbau, sebuah suara yang menandakan bahwa kreativitas sedang bekerja di balik pintu-pintu rumah warga.

Retno Lawiyani (Pengelola Sanggar Asto Kenyo Art)

Bertemu Sang Penjaga Tradisi: Ibu Retno Lawiyani dan Asto Kenyo Art

Pusat dari perjalanan saya adalah Sanggar Asto Kenyo Art. Di sana, saya disambut oleh sosok yang menjadi motor penggerak desa ini: Ibu Retno Lawiyani. Beliau bukan hanya pengelola sanggar, tetapi juga memikul tanggung jawab sebagai koordinator wisata Kampung Wayang.

Mendengar Ibu Retno bercerita adalah cara terbaik memahami Kepuhsari. Dengan nada yang tenang namun penuh semangat, beliau menjelaskan bagaimana wayang bukan sekadar komoditas ekonomi bagi warga, melainkan identitas diri.

“Di sini, wayang adalah cara kami bercerita kepada dunia tentang kesabaran dan ketelitian,” tutur Ibu Retno sambil menunjukkan beberapa detail halus pada wayang yang sedang dikerjakan.

Di bawah arahannya, Sanggar Asto Kenyo Art menjadi ruang inklusif. Tidak hanya menjadi tempat produksi, sanggar ini adalah sekolah bagi generasi muda dan pintu masuk bagi wisatawan yang ingin belajar langsung bagaimana selembar kulit kerbau bertransformasi menjadi tokoh ksatria atau raksasa yang gagah.


Asto Kenyo Art: Spektrum Kreativitas dari Pakem hingga Modernitas

Di tangan Ibu Retno dan para pengrajin di Sanggar Asto Kenyo Art, seni tata sungging tidak berhenti pada lembaran wayang untuk pertunjukan semata. Sanggar ini telah bertransformasi menjadi pusat kreativitas yang luas, membuktikan bahwa keahlian warisan abad ke-17 bisa diaplikasikan ke berbagai bentuk karya modern.

Bagi pengunjung yang datang, mata akan dimanjakan oleh variasi produk yang luar biasa:

  • Seni Lukis Wayang: Bukan sekadar tokoh berdiri, tetapi narasi epik yang dituangkan di atas media datar dengan detail warna yang sangat presisi. Lukisan-lukisan ini sering kali menjadi koleksi seni tinggi bagi para kolektor.
  • Aksesori Pernikahan: Sentuhan etnik Kepuhsari kini merambah ke pelaminan. Dari hiasan rambut hingga detail dekoratif lainnya, keahlian memahat kulit kerbau diaplikasikan untuk mempercantik momen sakral pasangan pengantin.
  • Cinderamata & Merchandise: Inilah jembatan bagi kaum muda dan wisatawan untuk membawa pulang sepotong sejarah Kepuhsari. Mulai dari gantungan kunci, pembatas buku, hingga hiasan dinding minimalis, semuanya dibuat dengan teknik manual yang sama dengan pembuatan wayang kulit asli.

“Kami ingin seni ini tidak hanya diam di kotak dalang,” ungkap Ibu Retno. Diversifikasi produk ini adalah strategi cerdas agar ekonomi warga tetap berdenyut sekaligus memastikan seni tata sungging tetap relevan di ruang tamu, di pelaminan, hingga di meja kerja masyarakat modern.

Melampaui Sekadar Tradisi

Langkah yang diambil Sanggar Asto Kenyo Art menunjukkan bahwa regenerasi di Kampung Wayang tidak hanya soal mengajarkan cara memahat, tapi juga tentang inovasi. Dengan menciptakan produk seperti aksesori dan lukisan, Ibu Retno telah membuka pintu bagi pasar yang lebih luas—memastikan bahwa denyut nadi Kepuhsari tidak akan pernah berhenti selama kreativitas masih mengalir.

Sanggar ini memberikan perspektif baru: bahwa untuk menjaga tradisi tetap hidup, terkadang kita harus berani memberinya wajah-wajah baru yang bisa diterima oleh semua kalangan.

Penutup: Warisan yang Terus Hidup

Perjalanan ke Kepuhsari mengingatkan saya bahwa di tengah gempuran teknologi digital, ada hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin: ketulusan tangan manusia. Melalui tangan dingin Ibu Retno dan dedikasi warga di Sanggar Asto Kenyo Art, Kampung Wayang Kepuhsari membuktikan bahwa warisan abad ke-17 bisa tetap relevan, berdaya secara ekonomi, dan tetap mempesona di mata dunia. Jika Anda mencari ketenangan yang dibalut dengan kekayaan budaya, Kepuhsari adalah jawabannya. ***

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement