Tor Tor Sipitu Cawan Penyambut Raja-raja

 Tor Tor Sipitu Cawan Penyambut Raja-raja

Para penari Tor-tor Sipitu Cawan saat melakukan atraksinya di acara pembukaan Festival Danau Toba 2019. (Foto: Monang Sitohang)

Jayakarta News – Tor tor Sipitu Cawan, bukan tor tor sembarang tor tor. Tari tor tor yang satu ini adalah jenis tari tor tor yang acap ditarikan guna menyambut raja-raja.

Memeriahkan Festival Danau Toba (FDT) 2019 beberapa waktu lalu, tor tor Sipitu Cawan ditampilkan di Open Stage, Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Kabupaten Simalungun adalah tuan rumah FDT VII tahun 2019.

Sebagai tuan rumah, Simalungun mempersembahkan tari tor tor spesial penyambut raja-raja tadi. Jumlah penarinya terbilang masif, 106 penari berasal dari beberapa sanggar, di antaranya Sangar Artturnung, Pusuk Buhit, dan beberapa sekolah. Lebih rinci, 56 penari dari Kabupaten Samosir, 50 penari dari Kabupaten Simalungun. Mereka terdiri atas siswa SD sampai SMA, dan ada beberapa mahasiswi.

Bertindak sebagai koreografer adalah Perri Sagala, pemilik Sanggar Jolonew yang berdomisili di Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Ia secara khusus menyiapkan koreografi tor tor Sitipu Cawan, mengingat yang hadir saat itu bisa dibilang “para raja”. Mereka antara lain Gubernur Sumut, H. Edy Rahmayadi, Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih S.H., M.H, Walikota Siantar, Hefriansyah Noor, Kapolres Simalungun, AKBP Heribertus Ompusunggu, S.I.K., M.Si, Direktur BPODT, Arie Prasetyo, dan lain-lain.

Koreografer Perri Sagala memang menggarap khusus persembahan kali ini. “Awal tor-tor diiringi musik Gondang lalu muncul anak lelaki membawa bendera Batak, lalu beberapa cawan saya ciptakan koreo sendiri, berbeda dari aslinya. Yang asli sebenarnya hanya satu cawan. Ini karya kelima saya membuat tari kolosal. Waktu Festival Danau Toba tahun 2013 di Danau Toba, saya menampilkan 600 penari tor tor. Karya lain lagi, saya pentaskan di Festival Horas Viesta Samosir,” ujar Perri.

Sibaso dan para penari Tor-tor Sipitu Cawan. (Foto: Monang Sitohang)

Tor tor yang terbilang “sakral” itu memunculkan penari awal yang disebut Si Baso. Dialah si pembawa cawan. Cawan yang diisi air, memiliki makna menguras atau menyucikan roh-roh dan pikiran-pikiran jahat di lingkungan sekitar. Lalu tiga perempuan dalam tor tor Sipitu Cawang menggambarkan perempuan suci yang disebut Si Baso Bolon.

Sibaso Bolon kemudian mamipis (memeras) air suci di dalam cawan lalu dibagi dan dipercik-percikkan. Setelah itu muncul bendera tiga warna yang dibawa enam anak laki-laki. Itulah bendera Batak yang terdiri atas tiga warna: merah, putih, dan hitam.

“Itu bendera Batak yang sarat makna. Jika dikaitkan dengan Dalihan Na Tolu (wawasan sosial-kultural masyarakat dan budaya Batak) warna merah menggambarkan mardongan tubu yaitu kakak beradik (semarga), hula-hula warna putih melindungi dan mengayomi, yang hitam itu untuk boru atau pekerja,” jelas Perri.

Jadi konsep membawa bendera di tarian Tor-tor Sipitu Cawan itu adalah ide koreografer untuk mengangkat budaya Batak, yang memang harus dijunjung tinggi. Lantas apa hubungannya dengan cawan? Perri lantas menyebut pondasi kehidupan orang Batak Sidalihan Na Tolu. Jika prosesi itu terlaksana dengan baik, maka Dalihan Na Tolu juga berjalan dengan baik.

Kreasi tor tor Sipitu Cawan sudah dilakukan Perri sejak tahun 90-an. Sebuah proses kreatif yang tetap menjunjung tinggi filsafat dan budaya Batak. Tak heran jika kini sudah menjadi tradisi. Puncak tarian tor tor cawan kesembilan, sementara ini menjadi pencapaian tertinggi. Sebab untuk melakukannya dibutuhkan skill yang memadai.

Perri Sagala (kanan), koreografer tarian Tor-tor Sipitu Cawan yang pemilik Sanggar Jolonew (baju merah) berfoto bersama dua penari usai acara tor-tor Sipitu Cawan. (Foto: Monang Sitohang)

Perri tidak memungkiri, jika kelak akan ditemukan teknik baru lagu, dan tor tor Sipitu Cawan bisa lebih berkembang. Yang pasti, perkembangan tor tor Sipitu Cawan sudah sampai pada level yang tinggi. Jika aslinya ditarikan oleh tujuh orang dengan satu cawan, kini sudah dikembangkan, dengan ditarikan oleh banyak penari dengan masing-masing penari memainkan tujuh cawan sekaligus. Akan tetapi, fokus penari ada pada tiga orang. Bandingkan dengan aslinya, tujuh orang dengan satu sibaso dan enam pengawal.

Properti dalam tari Tor Tor Sipitu Cawan itu antara lain, cawan, air (air suci) jeruk purut dan ada daun yang terbagi untuk mamipis. Properti lain adalah sisakel dan jabijabi yang diikat menjadi satu untuk mencongkel sesuatu yang buruk keluar. Jadi cawan dan isinya itu adalah simbol kebaikan.

Kemudian kain, ia tidak memakai warna kuning atau hijau, melainkan tiga warna Batak: merah, putih, hitam. Sedangkan kain yang diikatkan di kepala hanya aksesoris Sibaso daun beringin silijuang, sicakil. Apa yang ada di cawan itu juga yang menjadi pengikat kepala.

Perri sendiri memilik sanggar yang dinamakan Artturnung, yang artinya seni berbahagia atau seni itu bagian dari kebahagiaan. Dan artturnung tidak ada dalam kamus tapi artinya senang, bahagia. Adapun sanggar pribadinya Jolonew, sedangkan Artturnung adalah sanggar sekolah.

“Keduanya saya proses dua kali seminggu latihan. Lama latihan ada yang delapan ada yang enam tahun, bahkan sejak SD. Untuk berpenampilan seperti atraksi tadi itu enam kali latihan. Sedangkan untuk menggabungkan beberapa sanggar sekaligus, relatif tidak perlu waktu lama, karena sudah ada konsep dan formasinya. Tinggal dipelajari dan digabung,” pungkasnya. (Monang Sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *