Aku Kreatif maka Aku Ada

 Aku Kreatif maka Aku Ada

Talk show musik yang digelar oleh Direktorat Pengembangan Ekonomi Kreatif, baru-baru ini–foto istimewa/instagram

JAYAKARTA NEWS— Pengamat musik dan Ketua Indonesia Music Forum, Buddy Ace mengaku bersyukur kepada pemerintah karena kata ‘kreatif’ menjadi penting saat ini.

Mengutip ucapan Presiden Jokowi di hadapan Menteri-Menterinya bahwa di masa pandemi saat ini, masyarakat dan kaum seniman tak bisa lagi berpikir biasa-biasa saja. Kita harus berpikir luar biasa. Kita harus kreatif extra ordinary.

“Aku kreatif, maka aku ada. Kreatif itu berpikir, berkarya. Demikian Presiden Jokowi,” lontar Buddy Ace dalam virtual talk show musik yang digelar oleh Direktorat Pengembangan Ekonomi Kreatif, baru-baru ini.

Dikatakan Buddy Ace yang juga wartawan musik ini bahwa dunia berubah begitu cepat. Semua jadi bengong kok situasi menjadi seperti ini. “Di masa pandemi Covid 19, orang harus siap dengan konsep. Berkreasi. Berpikir kreatif. Jangan loyo karena pikiran jadi tumpul. Kita harus berpikir, bergerak cepat, berkreasi guna menggairahkan musik Indonesia,” tutur Buddy.

Buddy Ace, Ketua Indonesia Music Forum (foto : Istinewa)

Seperti kata Einstein, imajinasi adalah segalanya dan penarik masa depan yang lebih penting dari pengetahuan. Beberapa musisi papan atas kita tetap bisa berkarya di masa pandemi meski konsernya di daerah batal. Karena mereka punya brand.

Seperti Iwan Fals, Slank, God Bless, Didi Kempot (sebelum wafat), Padi, SO7, Dewa Budjana dll. Namun, musisi yang belum punya brand pun, seperti Alif Ba Ta dan Tami Aulia dikenal publik dan viewersnya bejibun. Juga musisi jazz Metha Chandra. Mereka unjuk diri dengan extra ordinary.

Lalu, apa saja kreasi dan inovasi para musisi kita?

Banyak gagasan segar dan mengejutkan, inovasi baru selaras imajinasi. Seperti Tommy Pratama yang akan membangun Drive In Concert. Penonton boleh makan minum di mobil, sembari melihat live show musisi dan band di panggung.

Harry ‘Koko’ Santoso dari Deteksi sedang berinovasi konser di atas kapal yang disebutnya Arka Kinari. Inovasi terus bergulir.   Ada konser Ruth Sahanaya bersama DSS dan Donny Hardono meraup donasi Rp 109 juta dalam 2 jam. Ada konser Aksi Damai, konser Masker Pasti Berlalu di Manado (dengan tag line ‘Kawanua Nyanyi, Kawanua Peduli’) dll.

Musisi daerah yang belum punya brand bisa diterima dengan konsep berpikir dan berkreasi, maka mereka ada. “Satu hal, di konser musik ini, negara wajib hadir. Slank mengeluh karena ketiadaan sponsor. Begitu juga yang lain,” timpal Buddy Ace.

Tya Subiakto, konduktor dan musisi (foto Instagram)

Senada Tya Subiakto, musisi, konduktor dan penata musik di film. “Musik itu bahasa Drama. Ini psikologi sekali dan konteksnya apa,” kata Tya berfalsafah. Tatkala awal pandemi, Tya jujur mengaku deg-degan. Bisa jadi, dirinya nganggur and tak ada job.

Ternyata, berkarya dan berpikir di rumah saja, banyak ide dan inovasi yang tak disangka. “What project?  I have something, karena saya punya skill dan saya pasti bisa. Ayo asah pikiran  dan pakai kreativitas kita untuk kemajuan musik Indonesia,” papar Tya yang belakangan aktif di luar jalur film karena adanya pandemi.

Harry ‘Koko’ Santoso, promotor musik (foto Instagram)

Apa kabar Harry ‘Koko’ Santoso, promotor konser Soundrenaline dan Parade Bedug di 60 kota? “Kreatif itu sangat penting, enggak boleh berhenti” ungkap Harry. Dalam hal konsep dan strategi bermusik, dia menganalogikan seperti ibu yang welas asih terhadap anaknya.

“Ini luar biasa. Kita ini negara besar. The spirit of thousand island. Ada semangat dari anak-anak seribu pulau. Saya menginjakkan kaki di 1000 pulau. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Ada 117 pulau dimana musisinya tampil di tiap desa, kabupaten, lurah, camat dll. Semua bernyanyi, semua berdendang. Memberikan udara segar dan nuansa bahagia di negeri ini,” jelas Harry yang punya kiat ‘saya hidup dan dihidupkan oleh konser musik’ ini.

Dewa Budjana, gitaris Gigi ( foto Istimewa )

Gitaris band Gigi, Dewa Budjana lain lagi kiat dan promosi musiknya. Dia mengumpulkan sekitar 60an gitaris untuk berdialog n berencana tampil di panggung musik. Budjana juga tak melupakan akar tradisi Balinya. Tampil dengan busana Bali dan mencipta komposisi musik etnis Iindonesia yang kental rasa Bali-nya.

Gitar yang dimainkan dilukis motif Bali dan bahkan berencana mendirikan Museum Gitar di Bali. “Di Amerika, musisi nganggur dibiayai pemerintah,” ucapnya. Dalam bermusik, Budjana menerapkan 3 kiat yaitu kemampuan, nekad dan keberuntungan.

“Sebagai musisi pas-pasan, saya bertekad n nekad ke Amerika dengan biaya sendiri. Saya bisa rekaman bersama musisi jazz kelas 1 di Amerika,” cerita Budjana yang ‘nekad’ juga menemui Jordan, musisi Dream Theater ketika show di Prambanan Jazz Festival, Jogjakarta.

Budjana berhasil menyodorkan komposisi lagu daerah ‘Gundul Pacul’ untuk diselipkan dalam show akbar di Jogjakarta yang dihelat oleh Anas Syahrul Alimi.

Diskusi musik ini juga dihadiri oleh pejabat pemerintah, yaitu Ricky Fauziyani selaku Direktur Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Frans Teguh sebagai Deputi SDM dan Kelembagaan Ekraf. Alhasil, Brand adalah gabungan nama dan makna. Cekak aos : aku kreatif dan aku berpikir, maka aku ada. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *