Entertainment
Adisoerya Abdy Bicara Film Horor
JAYAKARTA NEWS— Menyongsong Lebaran 2026, dari 6 film nasional yang tayang di bioskop, terselip 2 film horor yaitu ‘Danur : the Last Chapter’ dan ‘Suzzanna Santet Dosa Di atas Dosa’ selain 2 genre drama dan 2 anak.
‘Kuyank’, ‘Alas Roban’, ‘Kafir Gerbang Sukma’ dan ‘Setannya Cuan’ memenuhi layar bioskop selama Februari dan Maret 2026.
Nanti 2 April 2026, penonton bakal diteror lagi dengan film horor baru berjudul ‘Aku Harus Mati’ sutradara Hestu Saputra.
Kenapa horor ?
“Hantu di film horor Indonesia bukan lagi makhluk fiksi. Sosok kuntilanak, pocong, sundel bolong lama hidup dalam cerita turun temurun. Makhluk tersebut bukan lagi karakter di layar melainkan bagian dari memori budaya masyarakat kita sehari-hari,” ujar Adisoerya Abdy, sutradara dan produser.

Dikatakannya, kekuatan utama horor Indonesia tidak hanya ditonton tapi juga dirasakan.
Horor Indonesia tidak berdiri di ruang imajinasi tapi berpijak pada realitas sosial dalam artian lebih nyata di budaya cerita hantu biasa.
“Lihat di cerita ihwal pesugihan dan ritual adat, hal dan fenomena di alam gaib dipindah ke alam nyata realitas,” ucapnya.
Dicontohkannya ‘Pengabdi Setan’ karya Joko Anwar lalu ‘KKN di Desa Penari’ sutradara Awi Suryadi yang sukses ditonton jutaan orang menurut Adisoerya Abdy bukan lagi horor murahan dan bisa menjangkau publik luas.
“Ini horor berkualitas. Sinematik oke dan tata suara pas. Ceritanya pun berkelas,” imbuhnya.
Ditegaskan, horor bukan lagi teror biasa tapi juga tentang trauma, relasi keluarga dan kritik sosial.
“Penonton tak lagi takut tapi begitu dekat dan tidak lagi asing dengan kehidupan nyata disekeliling kita,” urai sutradara ‘Roman Picisan’ (1980) dan ‘Sara & Fei : Stadhuis Schandaal’ (2018) ini.
Last but not least, horor Indonesia adalah pertemuan budaya, pengalaman kolektif dan cermin yang memantulkan perkembangan industri yang makin matang.
“Apa yang ditakuti, apa yang kita percayai dan apa yang kita sembunyikan semuanya ada di horor Indonesia,” timpalnya.
Nah ! (pik)
