Connect with us

Kabar

Monster Pabrik Rambut Wakili RI di FF Berlinale

Published

on

JAYAKARTA NEWS— Film adalah medan pertempuran ide, nilai dan masa depan kebudayaan. Para sineas telah bekerja keras menyuarakan dan memvisualkan cerita-cerita yang terserak dari tanah air.

Film berjudul ‘Monster Pabrik Rambut’ (Sleep no More) karya Edwin akan mewakili Indonesia di ajang FF Berlinale ke 76, 12 s d 22 Februari 2026.

Bergenre horor fantasi produksi Palari Films ini akan tayang perdana di program spesial midnight. Ini panggung prestisius bagi sineas internasional dalam karya-karya lintas genre dari seluruh dunia.

Apa tujuan dan manfaat Edwin ikut Berlinale ?

“Paling enggak saya mampu menguatkan kembali film Indonesia. Ya sebagai vaksin, booster dan vitamin atau pendorong,” jelas Edwin.

Ia membawa pengalaman baru di kancah perfilman dunia dengan karya horor fantasi surealis dan komedi gelap yang menyelipkan kritik sosial mencekam.

“Tentang kelelahan fisik dan eksploitasi tenaga kerja sebagai monster yang memakan buruh akibat sistem kerja diluar batas,” tutur Edwin.

Dan ini menjadi terobosan baru sinema Indonesia yang bersaing di kancah global lewat kolaborasi internasional (RI, Singapura, Jepang dan Jerman).

Rachel Amanda dan Iqbaal Ramadhan (foto palari)

Berdasar naskah yang ditulis sastrawan Eka Kurniawan, Monster Pabrik Rambut berkisah tentang dua saudara wanita (Rachel Amanda dan Lutesha) yang menemukan peristiwa mengerikan di pabrik rambut tempat ibu mereka wafat.

Bona (Iqbaal Ramadhan) yang memiliki indra ke enam bantu mengungkap rahasia kelam di pabrik rambut.

Film yang diproduseri Meiske Taurisia dan Muhamad Zaidy ini juga diperkuat sederet pemeran lain yaitu Sal Priadi, Kev Luqman dan Datshi Matsunaga.

Selama ini, sineas Edwin awalnya membuat film bernuansa surealis dan absurd.

Di film ‘Babi Buta Ingin Terbang’ (Postcards from the Zero), ada adegan pemeran Ladya Cheryl membawa petasan di mulut.

Beberapa film karya Edwin adalah ‘Posesif’ (2017), ‘Aruna dan Lidahnya’ (2018)  dan ‘Seperti Dendam, Rindu harus Dibayar Tuntas’ (2021, film terbaik FFI yang menyabet Golden Leopard di FF Locarno, Swiss).

Film ‘Kabut Berduri’ tayang di aplikasi Netflix dan film pendek karyanya ‘Kara, Anak Sebatang Pohon’ memperoleh applause dari audience saat diputar di FF Cannes, Perancis.

Kenapa Anda selalu membuat film bernuansa surealis yang tak biasa ?

“Film tak bisa lepas dari pembuatnya. Saya selalu tertarik pada lokasi. Di ‘Babi Buta’, saya memimpikan Kebun Binatang Ragunan jadi semacam oase pemikiran dari bermacam ide yang berbhineka. Di ‘Seperti Dendam’, saya berkisah ihwal preman dan kembang di desa. Dan ada jagoan yang impoten. Dan macam-macam sifat lain,” urai Edwin.

Monster Pabrik Rambut setelah diputar di Berlinale bakal dirilis di bioskop tanah air Februari 2026 sebelum Lebaran.

Edwin dan sineas lain adalah wajah masa depan sinema Indonesia yang tumbuh dari cerita, identitas dan sejarah bangsa sendiri. (pik)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement