Thousand Hills, Pelukan Hutan Leuser

 Thousand Hills, Pelukan Hutan Leuser

Thousand Hills Ketambe sebuah penginapan di Desa Balailutu, Jalan Blangkejeren – Kutacane No. km 32, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara ibukota Kutacane. (Foto Monang Sitohang)

Jayakarta News – Ini tulisan ketiga tentang Petualangan Kecil kami dari Medan – Kutacane – Sidikalang (Kabupaten Dairi). Bagian ini harus saya mulai dengan pernyataan, “betapa nyaman tidur dalam pelukan hutan Leuser”.

Penginapan asri di tepi hutan Lueser itu bernama Thousand Hills Ketambe, Desa Balailutu, Jalan Blangkejeren – Kutacane No. km 32, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara. Keteduhan akibat pepohonan yang rimbun, sungguh menjanjikan kenyaman malam.

Bungalow seluas satu hektare ini, sudah becokol lima tahun. Memasuki lokasi, para tamu akan disambut taman berbunga yang terawat baik. Lokasinya terbilang mudah dijangkau. Ia berada tak jauh dari jalur lintas Kutacane. Sebuah beranda hangat menyambut dengan meja-kursi serta rak buku. Sedikit menaiki tangga, kita akan berada di ruang resepsionis dan coffee shop.

Bangunan bungalownya terletak di belakang. Ada beberapa yang nempel dan ada juga yang terpisah-pisah. Total kamar ada delapan. Di kamar tersedia kamar mandi shower, tempat tidur king size bed dan kelambu. Pada bagian teras, tersedia meja kursi untuk bersantai menikmati alam.

Sesaat setelah kami check in dan mengaso, datang Edy Ikhsan dan bertanya, “Jadi bagimana kegiatan kita selanjutnya, ayo kita traking atau rafting, biar Ayah telepon teman di Ketambe.” Apa boleh buat, ajakan Ayah bak bertepuk sebelah tangan. Tiga teman seperjalanan: Fajar, Rahmad, dan Monang “tumbang” kecapeken.

Salah satu bungalow Thousand Hill Ketambe yang jadi tempat penginapan Petualangan Kecil Kutacane. (Foto: Monang Sitohang)
Joglo salah satu fasilitas di Thousand Hills Ketambe tempat beristirahat melepas lelah. Tampak Ayah, Fajar, Rahmad dan Nasir salah seorang gait. (Foto: Monang Sitohang)

Atas keputusan bersama, kami mengaso di joglo tak jauh dari beranda yang ada kolam ikannya. Sore hari baru kami menunu ke Sungai Alas untuk mandi-mandi. Fajar kembali menyetir melajukan mobil ke lokasi tempat dilangsungkan “Alas River Rafting Championship” (Kejuaran Arung Jeram Sungai Alas 2019).

Malam harinya kami memilih makan malam di Coffee Shop Thousand Hills. Selain kami berempat, malam itu tampak delapan turis asing juga sedang makan malam. Di sudut lain, tampak duduk driver dan guide.

Ketika malam semakin larut, aroma bunga kantil menyergap hidung. Di kejauhan, suara jangkrik dan kodok bersahut-sahutan, menyempurnakan suasana malam.

Para bule tampak masih asyik ngobrol di coffee shop, diseling gelak tawa sesekali. Tampak benar kepuasan di wajah-wajah mereka.

Di antara kesibukan coffee shop, ternyata ada Josep, yang ternyata pemilik bungalow. Ia tanpa canggung sedikit pun ikut melayani para tamu. Ikut sibuk di dapur.

Jarum jam menunjuk pukul 21.00 WIB ketika turis tiga turis asal Jerman (satu laki-laki dan dua wanita) minta kepada guide untuk mengatarnya masuk hutan Leuaser yang berjarak sekitar tiga kilometer. Saya membatin, “Aktivitas gila apa pula yang mau mereka lakukan di tengah hutan. Malam-malam pula!”

Astaga! Mereka mencari ular! Bukan untuk ditangkap, tapi untuk dilihat!!! Kami bertiga, (Fajar, Rahmad, Monang) tak habis-habis geleng-geleng kepala terkaget-kaget. Ayah tidak mengetahui peristiwa itu, sebab sudah lebih dulu masuk kamar.

Suasana kamar di Thousand Hill Ketambe. (Foto: Monang Sitohang)

Aku menunggu Josep menyelesaikan pekerjaannya di coffee shop, sebelum bisa berbincang-bincang tentang bisnis bungalownya. “Sesuai perkembangan zaman, para peminat sudah bisa memesan kamar secara online,” ujar Josep seraya menyebut harga Rp 250.000 per malam untuk kamar dengan double bed dan Rp 170.000 untuk yang single bed. “Include breakfast,” tambahnya.

Sejak awal, bungalow ini dikonsep untuk memberikan kenyamanan beristirahat. Betapa tidak, lokasinya yang berada di Kutacane, membutuhkan waktu tempuh sekitar enam jam, baik dijangkau dari Medan atau Danau Toba. “Bayangan kami, sesampai di sini, para tamu pasti lelah. Mereka butuh tempat istirahat yang benar-benar memberi kenyamanan dan kualitas beristirahat,” kata Josep pula.

Berbicara konsep pengembangan, Josep tidak terlalu muluk. Ia menjalankan bisnis yang sudah jalan. Kalaupun ada inovasi, tidak terlalu drastis. “Salah satunya, saya ingin memindah wastafel dari kamar mandi ke halaman. Jadi para tamu sikat gigi, cuci tangan di luar. Biar terasa benar-benar di alam bebas. Di sisi lain, ruang kamar mandi pun menjadi lebih luas,” ujarnya.

Tambahan lain adalah menambah koleksi tanaman bunga. Saat ini, Thousand Hills sudah memiliki ratusan jenis tanaman bunga. Ia akan menambah lebih banyak lagi. Bahkan, terbersit di benaknya untuk membuat taman kupu-kupu, botanical garden dengan penamaan spesifik jenis-jenis tanaman yang ada. “Jadi ada unsur edukasinya,” kata Josep.

Lebih lanjut, ia menyebut tanaman Heliconia (sejenis bunga pisan-pisangan), Hibiscus (kembang sepatu) jenis tanaman semak tanaman hias khas tropis dan subtropis, Kroton (tanaman hias pekarangan), Pandanos (jeinis pandan), Cordyline (sekolompok tumbuhan monokotil), Herikonia, Sibiskus, Pandanus, dan lain-lain.

Fajar bersama Josep pemilik Thousand Hill Ketambe. (Foto: Monang Sitohang)

Bicara tentang tingkat okupansi, Josep mengatakan tergantung musim. Ia menyebut antara bulan Juli sampai September, bungalownya bisa dipastikan penuh oleh tamu manca negara. Mereka kebanyakan datang dari Belanda, Australia, dan Jerman. Di luar itu, relatif biasa-biasa saja.

Bungallow Thousand Hills Ketambe yang memilih tagline “a jungle retret” ini, melalui website-nya juga menawarkan sejumlah paket menginap yang menarik. Di antaranya paket bugi jungle atau exterme jungle, love jungle, dan dan paket-paket wisata petualangan yang menarik.

Ihwal nama Thousand Hills asalnya lahir dari kerjasama dengan orang Belgia. Ia mengisahkan, dulu ada hotel di Afrika milik orang Perancis. Hotel itu bernama Mill Colin. Jadi Thousand Hill itu sudah mendunia namanya, ada di Amerika, Afrika, dan lain-lain.

Di tempat yang sama, saya juga berbincang dengan seorang guide bernama Nasir. Ia sudah tiga tahun melakoni profesi itu. Ia sudah terbiasa melayani dan menemani para tamu menelusuri hutan Gunung Leuser. “Paket-paket wisata yang ada di sini itu sangat menarik, utamanya bagi para turis asing. Mereka menikmati perjalanan menjelajah hutan sejauh tiga-puluh kilometer bahkan lebih. Makanya, umumnya turis yang menginap di sini, bisa sampai lima atau enam hari,” kata Nasir.

Untuk bisa menikmati semua paket petualangan yang ada, para tamu cukup membawa badan dan perlengkapan pribadi. Sedangkan, perlengkapan selebihnya sudah disediakan oleh Thousand Hills. Ketika ditanya, paket mana yang paling diminati, Nasir menyebut paket jelajah hutan sambil menikmati Danau Marpunge. Selama perjalanan, para turis bisa menyaksikan tanaman-tanaman eksotik seperti anggrek hutan, aneka jenis primata, bahkan jika beruntung bisa melihat harimau, gajah, reno dan kucing hutan,” ujar Nasir. (Monang Sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *