Merdeka Ujian ala Netisa

 Merdeka Ujian ala Netisa

Karya siswa-siswa SMP Negeri 3 Salatiga, Jawa Tengah. (foto: widodo)

Jayakarta News –  “Wah… tanganku belang separo, pirang sasi baline iki,” (Wah tangan saya belang separuh, berapa bulan pulihnya ini) ucap Roby (kelas IX G) usai mandi matahari. Benar, setahun sekali, pertengahan Desember 2019, ia dan teman-teman melakukan “ritual” ujian praktik seni rupa di sekolahnya, SMP Negeri 3 Salatiga, Jawa Tengah.

Sekitar 75 siswa menggoreskan kuas dengan cat di halaman sekolah yang telah terkapling-kapling. Roby dan kelompoknya mendapatkan kavling ukuran empat kali tujuh meter, sama seperti teman-teman di kelompok lain. Kelompok Roby memilih tema toleransi hidup beragama, yang digambarkan melalui tokoh-tokoh berbagai agama yang dijumpai dalam kehidupan kesehariannya. Tema ini pernah membawanya menjadi juara satu tingkat kota kelahirannya saat diikutsertakan dalam lomba poster beberapa bulan sebelumnya.

Teman-teman yang lain tampak sibuk menggambar pada kavlingnya masing-masing. Tema-tema yang dijadikan sarana menuangkan ide dan keterampilannya antara lain: Hemat energi, re-use reduce recycle, pilah sampah sesuai jenisnya, hemat air untuk generasi masa depan, kendalikan sampah plastik demi ekosistem, tanam pohon untuk generasi mendatang, bersih tangan bersih pikiran, pola hidup sehat, hidup cerdas tanpa narkoba, hindari rokok, bentuk karakter siswa masa depan, cita-cita dan membaca mengubah dunia. Tema-tema tersebut tertuang apik, digelar di atas paving lapangan sekolah yang berbentuk segi empat. Sangat indah jika dilihat dari lantai dua gedung sekolah yang mengitari lapangan.

Para siswa ekstra kulikuler melukis sedang ujian praktik. (foto: widodo)
Hari kedua ujian praktik seni tari, disaksikan para siswa dan orang tua murid. (foto: widodo)

Hari berikutya, ada sekitar 150 siswa yang menggelar pentas, disaksikan enam ratus siswa lain dan para orang tua siswa. Hari itu mereka sedang melaksanakan ujian praktik Seni Tari dan Seni Musik. Di atas panggung berukuran 12 x 6 meter, mereka menyalurkan ekspresinya.

Tampilan dibuka dengan Tarian bali yang terdiri dari lima penari wanita, berlenggak-lenggok dalam alunan gamelan khas Bali. Setelahnya, tampil reog topeng ireng ala siswa Netisa (mereka menyebut almamaternya SMP Negeri 3 dengan Netisa), Sendratari Panembahan Senopati dan Ratu Kidul. Tak kalah serunya tari kecak yang disajikan dengan gerak tari dan suara gamelan yang gegap gempita. Hadir juga operet Cinderella, Ande-ande lumut bahkan Sam Pek Eng Tay ala Tiongkok.

Di antara tampilan-tampilan sendratari, ditampilkan operet musikal dari siswa yang menyajikan gerakan dan musik-musik hasil aransemen para siswa, medley dan lagu-lagu daerah. Sajian dipadu berselingan antara siswa yang melaksanakan ujian praktik Seni tari dan Seni Rupa. Keduanya memerlukan durasi sekitar 5 jam. Sungguh kemasan acara berdurasi lumayan panjang yang dilakukan oleh siswa seusia mereka.

Menurut Suyudi, M.Pd, Kepala SMP Negeri 3 Salatiga, ini adalah upaya menyambut era baru pembelajaran yang produktif selaras dengan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kemerdekaan berekspresi dituangkan dalam pemilihan mata pelajaran Seni Budaya sesuai minat, bakat dan keinginan para siswa.

Siswa diberikan keleluasaan memilih seni yang tersedia pada Mata Pelajaran Seni Budaya di sekolah. Disediakan tiga pengajar Seni Budaya, yakni guru seni tari, seni musik dan seni rupa, untuk membentuk karakter seni budaya pada para siswa yang sesuai dengan kompetensinya. Harapannya, para siswa mempunyai bekal kecakapan berkesenian yang akan digunakan pada kehidupannya di masa mendatang. (widodo)

Foto-foto karya lukis para siswa SMP Negeri 3 Salatiga Jawa Tengah. (foto-foto: widodo)
Para siswa-siswi SMP Negeri 3 Salatiga praktik ujian seni tari. (foto-foto: widodo)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *