Demi “Panembahan Reso” Rendra

 Demi “Panembahan Reso” Rendra

Sha Ine Febriyanti (Ratu Dara), Whani Darmawan (Panji Reso), dan Jamaluddin Latif (Pangeran Rebo), saat gladi resik tadi malam. (foto: roso daras)

Oleh Roso Daras

Atas nama penghargaan terhadap pementasan drama “Panembahan Reso” karya Rendra di Ciputra Artpreneur, Jakarta nanti malam (25/1/2020), saya menguak kembali catatan ini. Sebuah catatan usang yang tetap duduk manis di relung kenangan.

Syahdan, sejak tahun 1977 sastrawan Rendra dicekal pemerintahan Orde Baru karena puisi-puisi, dan karya-karya tulisnya yang pedas. Bahkan, naskah-naskah drama karya Rendra dengan Bengkel Teater-nya termasuk yang kena cegah-tangkal (cekal). Untuk sekian lama, nama Rendra seperti terkubur.

Agustus 1986, seperti bangkit dari kubur, Rendra lepas dari belenggu cekal dan tampil dengan Bengkel Teaternya. Sekian lama setelah repertoar itu, baru terkuak berita, bahwa pemunculan Rendra, berkat lobi-lobi intens orang-orang di sekitar Cendana (sebutan yang mengarah ke pusat kekuasaan di Jalan Cendana, kediaman Presiden Soeharto, ketika itu).

Kabar besar cepat tersiar. Berita tampil-kembalinya Rendra dengan Bengkel Teater, plus mementaskan karya drama terbaru berjudul Panembahan Reso, menyeruak juga ke ruang redaksi Jawa Pos di Jl Kembang Jepun, Surabaya. “Wajib nonton,” gumam saya, menyuarakan hasrat jiwa yang bergelora.

Betapa tidak merasa “wajib nonton”. Sebelum hijrah ke Surabaya, saya aktif di Teater Alam Yogyakarta, pimpinan Azwar AN. Di sanggar ini, bercokol teman-teman Rendra semasa Bengkel Teater masih bermarkas di Yogyakarta. Selain Azwar, ada mas Moorti Poernomo, Bambang Isworo, Gege Hang Andika, Mas Tertib Soeratmo, dan lain-lain. Dus… saya ini langsung-tak-langsung tergolong “trah” Bengkel Teater, juga.

Permohonan meliput Panembahan Reso di Jakarta pun saya ajukan, meski pengajuannya setengah pasrah. Saya sadar, di Jawa Pos Biro Jakarta sudah ada rekan Syahran, yang terbiasa meliput seni-budaya. Apa boleh buat, latar belakang sebagai orang teater pun kalah oleh pertimbangan efisiensi. Jadilah jawaban dari kantor, “Tidak perlu, sudah ada Syahran di Jakarta.” Masygul benar hati ini.

Jika membuka catatan pada tanggal 26 dan 27 Agustus 1986, saya pastikan tidak ada satu pun tulisan saya di Jawa Pos. Galau, bahasa kekiniannya. Yang saya lakukan adalah curhat ke kiri-kanan atas kemalangan saya, gagal menyaksikan Rendra. Tiba pada satu sosok yang memberi reaksi di luar dugaan. “Lhooo… awakmu kudu budal….” Dialah yang akhirnya memberangkatkan saya ke Jakarta.

Pementasan drama Panembahan Reso berlangsung dua hari, tanggal 28 dan 29 Agustus 1986. Saya berangkat tanggal 29 Agustus 1986. Sampai Jakarta, sekitar pukul 17.00 WIB. Dengan bekal koin, saya menelepon Jawa Pos Biro Jakarta. Syahran-lah yang saya cari. Dengan alasan demi efisiensi waktu, kami pun sepakat jumpa di Istora Senayan, Jakarta, tempat berlangsungnya pementasan Panembahan Reso.

Di Istora Syahran menyerahkan ID-Card ke saya. Dia menonton tanggal 28, dan saya tanggal 29-nya. Dengan ID-Card, tentu lebih leluasa melakukan peliputan. Saya duduk di lantai depan sebelah kanan panggung. Drama terpanjang di Indonesia itu, berlangsung 6,5 jam. Itu artinya, baru sekitar pukul 01.30 pementasan selesai. Hampir-hampir saya larut dalam adegan per adegan yang disajikan aktor-aktris Bengkel Teater. 

Perlu diketahui bahwa meskipun berlangsung 6,5 jam, pementasan Panembahan Reso mampu menyedot sekitar tujuh ribu penonton dan hanya seperempatnya saja yang tidak menonton sampai cerita berakhir. Naskah drama setebal 242 halaman ini terdiri atas 43 bagian (adegan). Setiap bagian (adegan) diberi judul secara berbeda, tidak sama antara satu dan yang lain. Benar-benar drama terpanjang, paling tidak di Indonesia.

Panembahan Reso berlatarkan sebuah kerajaan yang rapuh. Di kerajaan itu seorang Raja Tua bertahan memerintah hingga usia 85 tahun dengan kekuasaan mutlaknya. Ia bahkan tidak mempersiapkan penggantinya sehingga muncul kelompok-kelompok kekuatan di kalangan para pangeran, senapati, maupun panji.

Di tengah situasi kacau seperti itu, melalui serangkaian intrik politik: penghasutan, penipuan, persekongkolan, dan bahkan percintaan, Panji Reso (sebelum menjadi Panembahan Reso) menerobos liku-liku kekuasaan yang rapuh itu. Berkat kelicikan, keuletan, dan kepiawiannya dalam berstrategi, ia berhasil mengelabui banyak orang sehingga situasi kacau itu dapat dimanfaatkan sebagai ladang perburuannya.

Terhadap Pangeran Gada dan Pangeran Dodot, misalnya, Panji Reso berhasil mengelabui mereka (berpura-pura sepaham) dengan janji akan menyusul kedua pangeran itu, ikut bergabung dengan Panji Tumbal melakukan pemberontakan. Namun, janji tersebut tidak pernah dipenuhi. Sebaliknya, ulah kedua pangeran itu justru dilaporkan kepada Raja Tua melalui Ratu Dara. Dengan cara itu, dua keuntungan sekaligus diperoleh Panji Reso: mendapat kepercayaan raja dan mengurangi jumlah pesaingnya menggapai tahta.

Kelicikan Panji Reso terus berlanjut. Terhadap Raja Tua pun ia berpura-pura taat dan setia. Padahal, ia telah bersekongkol dengan Ratu Dara (salah satu selir Raja Tua) untuk menggulingkannya. Dengan bantuan Asasin (pembunuh bayaran) akhirnya mereka berhasil membunuh Raja Tua. Kedudukan raja digantikan Pangeran Rebo, putra Raja Tua dari Ratu Dara. Sementara itu, agar persekongkolan tetap lestari, Panji Reso mengawini Ratu Dara. Sejak saat itu pula Panji Reso diangkat jadi penasihat raja dan bergelar Panembahan Reso.

Pentas Panembahan Reso, Bengkel Teater 1986 di Istora Senayan Jakarta. (foto: genPi.co)

Rupanya, ketamakan dan kerakusan terus merasuki otak Panji Reso dan Ratu Dara. Mereka tidak menyetujui rencana Raja Muda (Pangeran Rebo) untuk memanggil pulang Pangeran Bindi dan Pangeran Kembar yang sudah berhasil menumpas pemberontakan Panji Tumbal. Karena keinginannya tidak dipenuhi, akhirnya Ratu Dara pun tega membunuh Raja Muda, anak semata wayangnya itu.

Anehnya, perbuatan keji tersebut disampaikan kepada seluruh punggawa kerajaan di Balai Istana sehingga membuat Panji Sekti marah. Tanpa berpikir panjang, Panji Sekti menghunus keris dan menghunjamkannya ke jantung Ratu Dara. Isteri Panji Reso itu pun meninggal dunia.

Kematian Ratu Dara ternyata tidak membuat Panji Reso bersedih. Ia justru merasa beruntung atas tindakan Panji Sekti karena hal itu berarti sudah tidak ada lagi penghalang baginya untuk menduduki tahta kerajaan. Keinginan Panji Reso pun segera terwujud. Oleh para punggawa kerajaan ia dinobatkan sebagai raja. Namun sayang, tiba-tiba Ratu Kenari datang. Selir Raja Tua, yang oleh Panembahan Reso dan Panji Sekti telah dianggap gila itu, tiba-tiba menikam Panji Reso dengan kerisnya.

Persoalan utama yang disuguhkan Panembahan Reso adalah perihal perebutan kekuasaan (suksesi). Persoalan itu oleh Rendra diolah dan disajikan dalam bentuk intrik-intrik melalui kelicikan tokoh-tokoh Panembahan Reso yang memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan diri masing-masing. Mereka (tokoh-tokoh itu) tidak segan-segan melakukan penipuan, pengkhianatan, dan bahkan pembunuhan demi kepentingannya. Mereka hanya memikirkan bagaimana memperoleh kedudukan (kekuasaan) yang lebih tinggi, dengan segala cara.

Syahdan, pentas pun usai. Penonton bubar. Wartawan di kiri-kanan pun sudah hengkang. Lantas, apa beda tulisan saya kalau tidak ada pendalaman? Ketika penonton beringsut meninggalkan Istora, saya bergeser ke belakang panggung. Tidak ada penjagaan keamanan yang ketat. Dengan ID-Card yang menggantung di leher, saya leluasa mewawancarai tokoh-totok utama yang patut diwawancarai.

Sekelebat tampak Sunarti Suwandi, istri Rendra pertama. Rumah Sunarti di Yogya, tak jauh dari sanggar Teater Alam, di Jl Sawojajar. “Mbak Narti…,” saya sapa dia. Dia pun menoleh. “Salam dari Bang Azwar AN,” saya membuka alasan untuk bisa lebih dekat. Password Azwar AN benar-benar manjur.

Sunarti menjadi sosok penting malam itu. Sebab, dialah koodinator pengiring musik pentatonis-diatonis yang menyempurnakan keseluruhan repertoar Panembahan Reso. Darinya, bukan saja konsep musik yang didapat, tetapi juga keseluruhan proses persiapan sebelum pementasan, dan manajemen pertunjukan secara umum.

Malam dinihari itu, aktor Adi Kurdi tak kalah bersemangat menceritakan pementasan yang baru saja dilakoninya. Terakhir, tentu saja Rendra. Sejenak, ia minta izin sebelum wawancara, untuk melakukan ritual doa bersama pasca pementasan. Saya pun ikut dalam lingkaran aktor-aktris, pemain musik, dan para kru pertunjukan.

Dan… kerja panjang malam itu terbayar tuntas, demi melihat hasil reportase Panembahan Reso menjadi laporan utama dan menempati hampir satu halaman penuh wajah depan Jawa Pos edisi Minggu, 31 Agustus 1986.

Gladi resik “Panembahan Reso” 2020 di Ciputra Artpreneur, Jakarta. (foto: roso daras)

Panembahan Reso 2020

Menyaksikan gladi resik “Panembahan Reso” tadi malam, saya harus membunuh nafsu “membandingkan”, antara Panembahan Reso 1986 dan Panembahan Reso 2020. Jeda 34 tahun antarkedua pementasan itu, adalah jeda yang cukup panjang.

Panembahan Reso 1986 telah menempatkan posisi repertoar pada level sangat tinggi, yang sangat sulit didekati, disamai, apalagi dilebihi, oleh kelompok teater mana pun. Dus, Panembahan Reso 2020 memang bukan untuk disandingkan.

Beruntung, sutradara Hanindawan menggarapnya secara berbeda. Drama dengan kekuatan dialog, dikemas dalam kolaborasi sederhana teater, musik, dan tari. Tak pelak, Panembahan Reso pun menjadi pertunjukan yang lebih “segar”.

Aspek koreografi digarap dengan baik dalam Panembahan Reso 2020. (foto: roso daras)

Itukah wujud pesan yang hendak disampaikan Auri Jaya, sang Produser Eksekutif pertunjukan ini? Ia membandingkan teater dengan media massa, khususnya cetak. Keduanya sama-sama berpontensi ditinggalkan peminatnya. Sama-sama terancam eksistensinya.

Auri Jaya, alumni Jawa Pos yang masih aktif bergiat di bidang media ini meyakini, teater –juga media— akan bertahan jika adaptif terhadap perkembangan zaman. Totalitas bekerja serta pengelolaan manajemen yang profesional, adalah salah-satu kunci kelangsungan teater.

Memasuki jagad millenial dengan sajian teater, tentu bukan perkara mudah. Alhasil, tampilnya aktor-aktris papan atas yang banyak dikenal seperti Whani Darmawan (Panji Reso) dan Sha Ine Febriyanto (Ratu Dara), memudahkan divisi markom melesakkan konsep pertunjukan teater ini ke generasi muda.

Ditambah, profesionalisme panitia mengemas pertunjukan melalui optimalisasi media partner, membuat 1.157 kursi yang tersedia di Ciputra Artpreneur dipastikan bakal terisi penuh. Berapa pun jumlah tiket yang dijual, faktanya sudah sold out beberapa hari sebelum pementasan. Luar biasa.

Rendra tersenyum bangga di atas sana. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *