Tags : joko intarto

Fokus

Oleh Joko Intarto Saya beruntung bisa berkenalan dengan Sphinx. Pengusaha muda di bidang jasa penyediaan LED video wall. Layar digital dengan ukuran raksasa. Sphinx yang menghubungi saya. Karena mencari mitra penyedia yang bisa jasa siaran langsung menggunakan SNG. Di wilayah blank spot Pelabuhan Ratu, Sukabumi Selatan, awal Desember lalu. Sejak itu, kami terus berkomunikasi. Lewat […]Read More

Salah Perhitungan

Oleh Joko Intarto Ngantuknya tak tertahankan lagi. Segelas kopi susu tidak banyak menolong. Mata saya rasanya tetap saja berat. Semua gara-gara datang kepagian. Jadwal penerbangan dari Solo ke Jakarta tertulis pukul 11.40. Saya dan teman-teman memutuskan untuk meninggalkan kota Madiun pukul 06:27. Naik mobil carteran. Setelah menyusuri jalan tikus, kami masuk pintu tol Ngawi tepat […]Read More

Jagaters dan Acis Berkolaborasi

Oleh: Joko Intarto Jagaters dan Acis dua perusahaan berbeda. Jagaters penyedia jasa live streaming dan webinar. Acis penyedia network dan pemilik bonding encoder multi SIM card. Kedua perusahaan ini sepakat berkolaborasi untuk menghadirkan layanan yang lebih baik kepada para pelanggan. Dua produk yang ditawarkan adalah: Layang dan Monars. Layang merupakan kependekan dari langsung tayang. Layanan […]Read More

Kisah di Balik Buku Baru Dahlan Iskan

Oleh: Joko Intarto Meski e-commerce sudah demikian maju, penjualan konvensional ternyata masih ada penggemarnya. Setidaknya, ini berdasarkan pengalaman saya saat menjual buku. Saat ini saya sedang menyiapkan penerbitan buku baru. Dahlan Iskan sebagai penulis. Saya menjadi editor. Wujud bukunya masih berupa naskah. Saya baru bisa mengedit separo. Konsep desain visualnya masih belum ketemu: menunggu Jos […]Read More

Rezeki Barista Senior

Oleh: Joko Intarto “Assalamu’alaikum barista senior!” teriak barista kurus di stand Pondok Pesantren Darul Mursyid di arena Indonesia Sharia’a Economic Festival (IFES) 2018. Deg! Penggilannya sungguh membuat jantung saya deg-degan. Jangan-jangan dia akan komplain karena membaca postingan saya di Facebook sebelumnya? “Wa alaikum salaam…” jawab saya sambil berjalan gontai. Menuju stand mungil yang dipenuhi aneka […]Read More

Gara-gara Live Streaming Reuni 212

Peluang itu muncul begitu saja. Tidak pernah saya sangka-sangka. Semua gara-gara cerita sulitnya mendapatkan bandwidth di balik siaran langsung Reuni PA 212 yang viral itu. (https://www.facebook.com/joko.intarto.9/posts/1874764135906886). Rabu sore, saya mendapat tawarkan dari ACIS, perusahaan penyedia solusi komunikasi digital di Jakarta. Untuk memanfaatkan produknya: bonding encoder berbasis jaringan data selular. Bonding encoder ini bermanfaat untuk siapa […]Read More

Bayar Utang Nomor Satu

Oleh: Joko Intarto Selesai presentasi webinar di Cawang, satu agenda baru telah menanti: membuat konten keuangan syariah. Lokasi syutingnya di Kantor Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah, Tebet, Jakarta Selatan. Tema video edukasi yang dipilih kali ini adalah: perencanaan keuangan syariah untuk keluarga muslim. Tema ini sederhana. Tapi penting. Banyak keluarga muslim yang belum membuat perencanaan keuangan […]Read More

Bamboo Drip Coffee

Oleh Joko Intarto Hari masih pagi. Subuh baru saja usai. Taufiqur Rahman tiba-tiba mengirim pesan. “Saya tertarik dengan bamboo drip coffee. Coklat point bisa membuat menu barunya,” kata Rahman. Rahman pengusaha muda yang tinggal di Semarang. Anak kyai pemilik Pondok Pesantren Bumi Bersolawat di Batu, Malang, Jawa Timur itu sudah memiliki lebih dari 200 outlet […]Read More

Ciburial Coffee Shop, Inspirasi Sociopreneur

Oleh Joko Intarto Rumah itu sudah berubah. Lebih cantik. Catnya biru cerah. Sekarang ada namanya: Saung Ilmu. Semacam sanggar belajar. Hari ini Saung Ilmu diresmikan. Saya mendapat kehormatan. Mengisi “kuliah perdana”. Bersama sobat saya: Granados Suminto. Seniman dan pemilik coffee shop “Tukang Seduh” di Bekasi. “Mahasiswa” yang hadir 99 persen emak-emak. Warga Ciburial, Cikalong Wetan, […]Read More

Disrupsi Pendidikan

Oleh: Joko Intarto Satu kelas 40 siswa. Perlu 25 ribu kelas untuk menampung sejuta siswa. Perlu 25 ribu pertemuan untuk memgajar satu modul. Kalau jumlah guru hanya seribu, butuh 25 hari untuk mengajar satu modul kepada sejuta murid. Alangkah mahalnya? Alangkah lamanya? Tidak adakah cara yang bisa menurunkan biayanya? Tidak adakah cara untuk mempercepat prosesnya? […]Read More