Bamboo Drip Coffee

 Bamboo Drip Coffee

Oleh Joko Intarto

Hari masih pagi. Subuh baru saja usai. Taufiqur Rahman tiba-tiba mengirim pesan. “Saya tertarik dengan bamboo drip coffee. Coklat point bisa membuat menu barunya,” kata Rahman.

Rahman pengusaha muda yang tinggal di Semarang. Anak kyai pemilik Pondok Pesantren Bumi Bersolawat di Batu, Malang, Jawa Timur itu sudah memiliki lebih dari 200 outlet Coklat Point dengan sistem waralaba.

Lewat pesan pendek, Rahman mengabarkan akan ke Jakarta tanggal 29 Oktober. Khusus ingin bertemu saya. Membahas rencananya membuat menu kopi dengan saringan bambu sebagai menu baru di Coklat Point. Tentu saja dengan paket penjualan produk saringannya.

Tak lama berselang, masuk pula komentar Syahrul Rusli, direktur utama PT Pesonna Optima Jasa, anak perusahaan pegadaian. “Bamboo drip bisa dijual di Gade Cafe,” kata mantan GM Pemasaran Pegadaian itu.

Gade Cafe adalah cafe milik anak perusahaan Pegadaian. Cafe yang dibuka kali pertama di Galery 24 di Jl Wijaya, Blok M itu, sekarang berkembang ke beberapa kota. Gade Cafe menjadi strategi Pegadaian untuk menarik kelompok milenial dan eksekutif muda mengenal Pegadaian.

Alhamdulillah. Banyak yang peduli dengan program pemberdayaan desa miskin penghasil produk kerajinan bambu ini. Saya jadi tak sabar lagi untuk segera memproduksi bamboo drip itu di Ciburial. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *