Connect with us

Kabar

Seni Memerintah ala Majapahit

Published

on

Lima Pilar Tata Kelola yang Mengubah Nusantara Menjadi Imperium

Oleh: Heri Mulyono

Di antara derit kayu perahu jung yang membelah Selat Malaka hingga gemuruh pasukan di ladang-ladang Jawa, Majapahit—kerajaan yang berdiri sejak 1293 Masehi—membangun kekuasaannya bukan semata dengan pedang, melainkan dengan sebuah sistem tata kelola yang jauh melampaui zamannya.

Trowulan, sebuah nama yang hari ini hanya terdengar sebagai kawasan arkeologi di Kabupaten Mojokerto, pernah berdenyut sebagai pusat peradaban terbesar di kawasan Asia Tenggara. Di sinilah, pada abad ke-13 hingga ke-15, para Maharaja Majapahit merancang sebuah mesin kekuasaan yang begitu cerdik sehingga pengaruhnya—menurut Kakawin Nagarakretagama karya Mpu Prapanca (1365 M)—membentang dari Semenanjung Malaya hingga Papua dan Filipina bagian selatan.

Selama lebih dari dua abad, Majapahit bukan sekadar bertahan. Ia tumbuh. Para sejarawan seperti Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakretagama (1979) dan Agus Aris Munandar dalam studinya tentang budaya Majapahit menemukan bahwa kehebatan kerajaan ini bersandar pada lima pilar tata kelola yang saling menopang: diplomasi yang lentur, ekonomi yang cerdas, visi pemersatu yang berani, kekuatan militer yang inovatif, dan ruang spiritual yang lapang. Lima pilar inilah yang menjadi rahasia agung Majapahit.

1. Mitreka Satata: Ketika Diplomasi Mendahului Pedang

Kata itu terukir dalam Nagarakretagama: mitreka satata, yang secara harfiah berarti “sahabat yang setara” atau “mitra yang sejajar.” Konsep ini bukan sekadar ungkapan puitis; ia adalah doktrin kebijakan luar negeri Majapahit yang memosisikan kerajaan-kerajaan tetangga bukan sebagai taklukan, melainkan sebagai mitra dalam jaringan kekuasaan yang lebih luas.

Mpu Prapanca menyebut daftar negeri-negeri mitreka satata dalam pupuh XIV Nagarakretagama, mencakup Syangkayodhyapura (Ayutthaya di Thailand), Dharmanagari (Kerajaan Nakhon Si Thammarat), Marutma, Rajapura, Sinhanagari, Campa, Kamboja, dan Yawana (Annam/Vietnam). Mereka bukan bawahan Majapahit, tetapi sekutu yang diikat oleh perjanjian diplomatik, perkawinan politik, dan pertukaran dagang.

Strategi ini memungkinkan Majapahit membangun pengaruh tanpa harus terus-menerus mengucurkan darah. Hayam Wuruk (berkuasa 1350–1389 M) dan Mahapatih Gajah Mada memahami bahwa biaya perang jauh lebih mahal dari biaya diplomasi. Misi-misi diplomatik dikirimkan ke Tiongkok pada era Dinasti Yuan dan kemudian Dinasti Ming—dengan penghormatan berupa persembahan upeti—untuk memastikan jalur dagang tetap aman dan posisi Majapahit diakui oleh kekuatan besar Asia Timur.

Pendekatan mitreka satata juga tercermin dalam cara Majapahit mengelola wilayah-wilayah nusantara yang berada dalam orbit kekuasaannya. Slamet Muljana mencatat bahwa banyak daerah bawahan dibiarkan mempertahankan raja lokal dan sistem pemerintahan mereka sendiri, asalkan mengakui supremasi Majapahit dan membayar tribut. Ini adalah model federasi kuno yang jauh lebih efisien daripada penaklukan total.

2. Agraris Sekaligus Maritim: Kecerdasan Ekonomi Dua Kaki

Salah satu paradoks yang sering luput dari perhatian adalah fakta bahwa Majapahit berhasil membangun ekonomi yang berdiri di atas dua kaki sekaligus: pertanian dan perdagangan laut. Sementara banyak kerajaan di kawasan ini memilih salah satu, Majapahit merangkul keduanya dengan kesadaran penuh.

Di pedalaman Jawa Timur, sistem irigasi sawah telah berkembang sejak era Medang. Majapahit mewarisi dan menyempurnakannya. Prasasti-prasasti dari era Hayam Wuruk menyebut pembangunan bendungan dan saluran air yang menjamin produksi padi sepanjang tahun. Surplus pangan inilah yang menjadi fondasi kestabilan domestik: tentara yang kenyang tidak mudah memberontak, dan rakyat yang makmur tidak mudah dihasut.

Namun Majapahit tidak berhenti di sawah. Pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa—terutama Tuban, Gresik, dan Surabaya—menjadi simpul jaringan perdagangan internasional. Catatan sejarawan Tiongkok Wang Dayuan dalam Daoyi Zhilue (sekitar 1349 M) menggambarkan Majapahit sebagai entrepôt besar tempat bertemunya pedagang dari Tiongkok, India, Arabia, dan kepulauan timur Nusantara.

Komoditas andalan ekspor Majapahit mencakup rempah-rempah dari Maluku, beras dari Jawa, dan tekstil. Kenneth Hall dalam A History of Early Southeast Asia (2011) menganalisis bahwa kontrol Majapahit atas jalur laut antara Jawa dan kepulauan rempah menjadikannya pemain kunci dalam rantai pasokan global abad pertengahan. Ketika cengkeh dan pala dari Maluku masih menjadi komoditas yang lebih mahal dari emas di pasar Eropa, Majapahit duduk di posisi strategis sebagai pengendali rantai itu.

Sinergi antara surplus agraris dan pendapatan maritim menciptakan kekayaan yang tidak hanya membiayai tentara dan istana, tetapi juga mendanai pembangunan candi, jalan, dan infrastruktur yang memperkuat otoritas negara.

3. Sumpah Palapa: Visi yang Membakar Satu Generasi

Tahun 1258 Saka (1336 Masehi), dalam sebuah pertemuan di istana Majapahit, Gajah Mada—yang baru saja diangkat sebagai Mahapatih—mengucapkan sumpah yang akan tercatat dalam sejarah nusantara. Sumpah Palapa, sebagaimana termaktub dalam Pararaton, berbunyi bahwa ia tidak akan menikmati palapa (diartikan sebagai rempah-rempah atau kenikmatan duniawi) sebelum Nusantara benar-benar dipersatukan di bawah Majapahit.

Sumpah ini bukan sekadar janji personal. Ia adalah pernyataan visi politik yang memberi arah dan legitimasi bagi seluruh proyek ekspansi Majapahit. Slamet Muljana menafsirkan Sumpah Palapa sebagai momen ketika Majapahit secara resmi mengadopsi sebuah grand strategy: penyatuan kepulauan nusantara di bawah satu payung kekuasaan.

Efek psikologis dan politis dari visi ini sangat besar. Ia memberikan kohesi ideologis kepada aparatus militer dan birokrasi Majapahit. Para perwira tahu untuk apa mereka bertempur. Para diplomat tahu apa yang mereka perjuangkan. Bahkan para pedagang dan seniman memahami diri mereka sebagai bagian dari proyek peradaban yang lebih besar.

Di bawah kepemimpinan Gajah Mada selama kurang lebih dua dekade (1336–1364 M), ekspedisi-ekspedisi militer berhasil menaklukkan atau mendapatkan pengakuan dari Bali (1343 M), berbagai wilayah di Kalimantan, Semenanjung Malaya, dan bagian barat Nusantara. Tragedi Bubat (1357 M)—insiden diplomatik yang berujung pertempuran dengan rombongan pengantin dari Kerajaan Sunda—menjadi noda dalam perjalanan ini, menunjukkan bahwa visi besar pun tidak selalu bebas dari kesalahan fatal.

Namun warisan ideologis Sumpah Palapa melampaui Gajah Mada sendiri. Ia menanam benih konsep kesatuan nusantara yang—enam abad kemudian—akan menginspirasi para pendiri bangsa Indonesia.

4. Bhayangkara dan Cetbang: Militer yang Berpikir Melampaui Pedang

Kebesaran militer Majapahit tidak terletak semata pada jumlah tentara, melainkan pada inovasi organisasional dan teknologi persenjataan yang mendahului zamannya. Dua inovasi menonjol layak disebut: korps Bhayangkara dan senjata cetbang.

Bhayangkara adalah pasukan pengawal elite yang didirikan oleh Gajah Mada—yang ironisnya memulai kariernya sendiri sebagai komandan pasukan Bhayangkara pada masa pemberontakan Ra Kuti (1319 M). Pasukan ini terlatih secara khusus, memiliki jalur komando yang jelas, dan berfungsi sebagai inti kekuatan militer yang profesional di tengah era di mana banyak kerajaan masih mengandalkan pasukan feodal yang tidak terorganisasi. Kesetiaan Bhayangkara langsung kepada Maharaja menjamin stabilitas dinasti dalam menghadapi ancaman kudeta internal.

Inovasi yang lebih mengejutkan adalah cetbang—senjata api berupa meriam atau bedil berbahan perunggu yang dikembangkan pada era Majapahit. Temuan arkeologis dan kajian sejarawan seperti Tom Gunnarsson dan H.J. de Graaf mengonfirmasi bahwa Majapahit mengenal teknologi senjata api setidaknya pada abad ke-14, kemungkinan melalui kontak dengan pedagang Tiongkok yang telah mengembangkan bubuk mesiu berabad-abad sebelumnya.

Cetbang yang ditemukan secara arkeologis memiliki diameter laras kecil dan dirancang untuk dipasang di perahu maupun digunakan dalam pertempuran darat. Kehadiran teknologi ini memberi Majapahit keunggulan taktis signifikan dalam ekspedisi maritim. Armada yang dilengkapi cetbang jauh lebih menakutkan bagi lawan yang hanya mengandalkan busur dan tombak.

Kombinasi antara korps profesional Bhayangkara dan inovasi persenjataan cetbang menjadikan mesin perang Majapahit sebagai yang paling canggih di kawasan pada masanya—sebuah keunggulan yang tidak terlepas dari dukungan finansial negara yang kuat berkat ekonomi agraris-maritimnya.

5. Toleransi Beragama: Kekuatan yang Lahir dari Keberagaman

Mungkin pilar yang paling sering diremehkan namun paling fundamental dari keberhasilan Majapahit adalah kebijakan toleransi keagamaan yang sistematis dan deliberatif. Di tengah kerajaan yang dikenal sebagai Hindu-Buddha, berbagai keyakinan hidup berdampingan tanpa represi negara.

Majapahit mewarisi tradisi sinkretisme Siwa-Buddha (Siwa-Siddhanta dan Vajrayana) yang telah berkembang sejak era Singhasari. Konsep Siwa-Buddha ini—yang mencapai puncak ekspresinya dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular (abad ke-14) dengan semboyan terkenalnya “Bhinneka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrwa”—bukan sekadar kompromi teologis, melainkan sebuah filsafat negara yang melihat kebenaran sebagai satu meski jalan menuju ke sana berbeda-beda.

Di lingkungan istana Majapahit, para pejabat keagamaan dari tradisi Siwa dan Buddha memiliki kedudukan setara. Mpu Prapanca sendiri adalah seorang biksu Buddha yang menulis Nagarakretagama di bawah patronase raja yang memeluk tradisi Siwa. Fakta ini saja sudah berbicara tentang iklim intelektual dan spiritual yang ada.

Lebih jauh, catatan-catatan dari abad ke-14 dan 15 menunjukkan bahwa pedagang Muslim sudah bermukim dan beraktivitas di pelabuhan-pelabuhan Majapahit—di Gresik, Tuban, dan Surabaya—tanpa gangguan. Sejarawan Denys Lombard dalam Le Carrefour Javanais (1990) menganalisis bahwa koeksistensi ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari kebijakan sadar yang melihat keberagaman agama sebagai aset ekonomi: semakin beragam pedagang yang merasa nyaman, semakin ramai pelabuhan, semakin besar pendapatan.

Kebijakan toleransi ini pula yang memperlambat—meski akhirnya tidak mencegah—disintegrasi Majapahit saat Islam mulai menguat di pesisir utara Jawa. Proses Islamisasi di kawasan Majapahit berlangsung relatif damai dan gradual, bukan melalui penaklukan berdarah, sebagian karena fondasi toleransi yang telah dibangun selama berabad-abad.

Epilog: Warisan yang Hidup

Majapahit runtuh sekitar awal abad ke-16, dipercepat oleh konflik suksesi internal dan bangkitnya Kesultanan Demak di pesisir utara Jawa. Namun keruntuhan politiknya tidak menghapus jejak peradabannya.

Lima pilar tata kelolanya—diplomasi mitreka satata, ekonomi dua kaki, visi pemersatu, militer inovatif, dan toleransi spiritual—meninggalkan preseden yang terus bergema. Konsep Bhinneka Tunggal Ika hari ini terukir dalam lambang negara Indonesia. Nama Bhayangkara masih disandang oleh institusi kepolisian Republik Indonesia. Dan gagasan bahwa kepulauan yang terpencar-pencar ini bisa—dan harus—bersatu, pertama kali dirumuskan secara serius di bawah langit Trowulan.

Rahasia agung Majapahit, pada akhirnya, bukanlah tentang penaklukan militer semata. Ia adalah tentang bagaimana sebuah negara mampu mengelola kompleksitas—geografi yang terpecah, identitas yang beragam, kepentingan yang saling bersilang—menjadi sebuah kekuatan yang kohesif dan bermakna. Sebuah pelajaran yang, enam abad kemudian, masih terasa relevan. (*)

Sumber & Referensi

Mpu Prapanca, Nagarakretagama (Desawarnana), 1365 M. | Slamet Muljana, Tafsir Sejarah Nagarakretagama (1979). | Pararaton (Kitab Raja-Raja), suntingan J.L.A. Brandes. | Kenneth Hall, A History of Early Southeast Asia (2011). | Denys Lombard, Le Carrefour Javanais (1990). | Agus Aris Munandar, Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian (2008). | Wang Dayuan, Daoyi Zhilue (ca. 1349 M). | Mpu Tantular, Kakawin Sutasoma (abad ke-14).

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement