Ada Apa dengan Lurik Masa Kini?

 Ada Apa dengan Lurik Masa Kini?

JAYAKARTA NEWS – Lurik dikenal sebagai produk tekstil yang umurnya jauh lebih tua dari batik. Lurik adalah kreasi tenun dengan motif garis-garis. Lurik sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit sementara batik mulai masa keemasannya pada abad 19.

Kesamaan lurik dan batik terletak pada prosesnya. Lurik diproduksi melalui pemintalan dan batik harus dilalui dengan menggambar di atas kain menggunakan malam atau lilin. Baik lurik dan batik sama-sama masih eksis hingga kini namun dengan kondisi yang berbeda.

Batik dalam perjalanannya semakin banyak diminati dan karenanya mengalami perkembangan jauh meninggalkan lurik. Sementara lurik tak banyak orang mengenalnya namun lurik memiliki sejarah panjang yang bisa jadi itu membuatnya istimewa meski tak semoncer batik.

Meski demikian lurik zaman now, bisa saja hadir dijual di pasar internet. Motif dan warna lurik yang ditawarkan juga beragam karena lurik sudah diproduksi dengan mesin modern. Bahkan lurik yang kini banyak dijual tak sekadar untuk penutup aurat melainkan sudah bisa ditemui dalam bentuk tas, hiasan sepatu dan sarung bantal sofa.

Lalu apakah yang demikian itu bisa disebut sebagai lurik. Tidak ada pakem tertentu dalam memproduksi lurik, yang ada hanya meneruskan tradisi yang dilestarikan turun menurun. Khususnya tradisi menenun lurik yang ada di Klaten, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Lurik yang dihasilkan dari mesin modern menurut pendapat ekstrem bukanlah lurik. Hal itu menunjukkan lurik identik dengan proses yang terkait dengan alat penghasil lurik yaitu tenun atau disebut juga Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) .

Lurik tenun klasik yang proses pembuatannya menggunakan ATBM kini harus berhadapan dengan lurik modern yang diproduksi dengan mesin. Kenyataan itu tampaknya semakin membuat lurik klasik tersungkur. Rumitnya pembuatan lurik klasik juga menjadi alasan generasi milineal yang berada di alam indusri 4.0 yang menyukai serba cepat semakin tak melirik lurik.

Di sisi lain, biaya produksi lurik klasik di pasaran tak mampu ditawarkan dengan harga mahal. Sehingga para pengrajin lurik lama kelamaan bertumbangan satu per satu. Terlebih anak mudanya lebih tertarik bidang lain ketimbang meneruskan orang tua atau leluhurnya mahir memintal lurik dengan alat tenun. Hal itu semakin menjadikan lurik makin minim produksi karena tak banyak yang ingin jadi pengrajin lurik.

Kendala lainnya, alat tenun semakin tua bahkan tak mampu berproduksi lurik klasik. Lurik pun suatu saat menjadi langka karena pembuat maupun alatnya sudah hampir tak ada.

Untuk mengangkat kembali tenun lurik sebagai salah wastra Indonesia yang patut dilestarikan dan dikembangkan, Sarinah The Window of Indonesia bersama Himpunan Wastraprema menyelenggarakan Pekan Lurik Indonesia dari 19 -31 Maret di lantai Upper Ground (UG) Sarinah Thamrin. Pekan Lurik ini diisi dengan serangakain kegiatan seperti pameran wastra lurik, peragaan busana, bincang-bincang dan pasar lurik.

Pameran lurik menghadirkan 40 ragam lurik koleksi Rumah Wastra dan Museum Tekstil Jakarta. Di antara lurik yang di pamerkan terdapat lurik langka karena sudah tidak dibuat lagi. Sementara pasar lurik diikuti UMKM pengrajin lurik dari Jogjakarta, juga UMKM yang menghasilkan karya tenun garis dari NTT dan Badui.

Neneng Iskandar, Wakil Ketua Umum Himpunan Wastraprema berharap dengan Pekan Lurik Indonesia ini lurik semakin dicintai oleh masyarakat seperti halnya batik. “Selama ini Lurik dikenal kalangan menengah bawah. Dengan mengenal lurik nantinya semua golongan dapat mencintai lurik,” ujar Neneng di Jakarta, Selasa lalu (19/3/2019).

Direktur Ritel Sarinah Persero Lis Permana pada kesempatan konferensi pers mengatakan Sarinah sebagai BUMN ritel produk lokal wajib menjaga kekayaan budaya bangsa. “Lurik merupakan salah satu warisan budaya yang harus tetap dijaga. Jangan sampai lurik nanti diakui negara lain. Sehingga Sarinah ingin peduli pada pelestarian warisan budaya Indonesia,” tutur Lis. (Alifien)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *