Histori
Sejarah dan Ragam Motif Batik Betawi, Berkembang dari Masa ke Masa Dipengaruh Budaya Negara dan Daerah Lain
JAYAKARTA NEWS – Kendati identik dengan Jawa Tengah, setiap daerah di Indonesia punya budaya batik masing-masing, tak terkecuali Betawi.
Berbeda dengan batik dari daerah lain, belum banyak yang mengetahui tentang batik Betawi.
Alih-alih batik Betawi, orang lebih mengenal baju pangsi dan kebaya encim. Ini sejarah dan ragam batik Betawi dikutip dari Ragam BUMN, Senin (23/6/2025).
Berkembang awal abad 19
Batik betawi diperkirakan muncul sejak awal abad 19.
Di masa itu, untuk sehari-hari perempuan Betawi mengenakan kebaya yang terpengaruh gaya busana peranakan.
Mereka memesannya dari luar wilayah Batavia, kebanyakan dari Pekalongan dan Solo.
Kala itu industri batik di Pekalongan dan Solo sudah maju pesat.
Ini mendorong pengusaha Tionghoa di Batavia mengundang pengusaha batik di Pekalongan dan Solo.
Pengrajin dan pengusaha ini dipanggil untuk membantu bisnis batik.
Industri batik Betawi tumbuh di daerah Bendungan Hilir, Karet Tensin, Kebon Kacang, dan Palmerah.
Gaya pesisiran
Salah satu ciri khas batik Betawi di warna-warna yang lebih cerah dibandingkan batik Solo dan Yogyakarta.
Warna yang selalu muncul pada batik betawi adalah merah, hijau, orange dan kuning.
Ini dipengaruhi gaya batik pesisiran, seperti Pekalongan, Cirebon, Madura, dan Banyuwangi.
Tentu saja ada sedikit perbedaan dalam motif-motif yang dihasilkan.
Motif batik Betawi terpopuler adalah motif pucuk rebung yang dipengaruhi batik Lasem dan songket Melayu.
Pucuk rebung (batang bambu) memiliki makna mendalam bagi masyarakat Betawi.
Yakni, lambang keseimbangan hidup antara manusia, alam sekitar dan Sang Pencipta.
Motif lain yang tergolong klasik adalah tumpal yang berbentuk segitiga dan dipasang di ujung kain batik.
Bentuk tumpal atau cagak ini terinpirasi bentuk gunung.
Orang Betawi percaya gunung adalah lambang kekuatan sekaligus menolak bala.
Motif ondel-ondel
Di awal abad 20, motif batik betawi berkembang lebih pesat lagi.
Inspirasinya diambil dari sejarah Batavia dan kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi.
Misalnya saja motif salakanagara yang mengambil inspirasi dari Gunung Salak.
Dipercaya gunung ini memiliki kekuatan menjaga daerah Batavia.
Ada juga motif nusa kelapa yang terinsiprasi dari nama asli Jakarta sebelum Sunda Kelapa dan Batavia.
Nama Nusa Kelapa digunakan Prabu Siliwangi (sekitar abad 14) untuk membuat Peta Ciela.
Pertengahan abad 20 hingga kemerdekaan, muncul motif yang lebih kontemporer.
Seperti motif bangunan di Jakarta. Misalnya Monas, Masjid Istiqlal dan banyak lagi.
Motif yang tidak kalah unik adalah ondel-ondel dan tanjidor.
Batik dengan motif ini menambahkan warna cerah lainnya, seperti biru, merah dan jingga.***/mel
