Sarwozen, Dunia Film dan Merdeka Belajar

 Sarwozen, Dunia Film dan Merdeka Belajar

Zen merekam gambar di lokasi Candi Prambanan, Yogyakarta. (foto: ernaningtyas)

Jayakarta News – Ketika mendapat kabar bahwa ia diminta mengirimkan video untuk mengikuti Festival Film Internasional Lonely Wolf 2021 di London, Sarwozen tertegun. Sekedipan mata ia tak percaya. Beberapa detik setelahnya, hatinya diliputi rasa bangga. Siswa kelas sembilan SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta ini membayangkan, momen internasional pertamanya itu bakal menjadi pengalaman luar biasa.

“Lonely Wolf mengunjungi media sosial saya. Video pendek yang berjudul Creativity mendapat pujian fantastik,” kata Zen, sapaan akrabnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa video-video karyanya dilihat oleh manajemen Lonely Wolf. Dan ternyata, pemangku kepentingan di ajang festival film bergengsi Inggris itu tak sekadar menyaksikan lantas melewatkannya begitu saja. Creatifity yang diunggah Zen di akun Instagram @zenartstudios pada 28 Juni 2020 itu membetot perhatian mereka. 

Selanjutnya pada hari Minggu (26/7), Adrian Perez selaku Direktur Festival Film Lonely Wolf menghubungi Zen lewat pesan pribadi Instagram, dalam bahasa Inggris. Zen menerjemahkannya untuk JayakartaNews.    

“Halo Zen Art Studios. Aku sudah memperhatikanmu selama beberapa waktu. Film terakhirmu Creatifity terlihat keren.  Itu semua menarik perhatianku. Aku ingin mengundangmu untuk berkompetisi di festivalku, Lonely Wolf. Filmmu berada di standar yang tinggi, dan itu masuk dalam parameter persaingan kita yang ketat. Ke depan, kita memiliki beberapa kompetisi hebat. Kurasa Anda akan bangga bersaing dengan sutradara terkenal di seluruh dunia terutama yang baru saja mengirimkan kepada kami proyek (film) pribadi terbaru. Aku dan para juri ingin menonton film Anda. Atau mungkin menulis ulasan film untuk Anda dan membuat Anda bersaing dengan para best of the best,” tulis Adrian.

“Terima kasih banyak atas informasi Anda. Apakah ada persyaratan untuk bergabung ke festival?” jawab Zen.

“Tidak ada banyak persyaratan untuk mengikuti festival ini. Jika filmmu bukan berbahasa Inggris, Anda  harus menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Kirimkan karyamu hanya lewat FilmFreeway,” timpal Adrian.

“Apakah memerlukan biaya untuk mengirimkan filmku?” tanya Zen.

“Kita berbayar. Seperti yang aku katakan di pesan, aku bisa membantumu dengan 20 persen diskon,” tutur personil Lonely Wolf itu.

“Berapa dolar?” Zen kembali bertanya.

Adrian menjawab, “Itu tergantung kategorinya. Ada banyak kategori di dalamnya, antara lain musik video, dokumenter, film pendek dan lain-lain.”

“Terima kasih banyak atas informasimu. Aku berharap filmku bisa selesai dan bisa bersaing dengan yang lain,” tulis Zen.

“Aku mendoakan yang terbaik untuk Anda. Aku akan sangat senang jika Anda berkompetisi karena karya Anda terlihat fantastik,” pungkas Adrian. 

Pada 1 Agustus 2020, Adrian Perez kembali membuka percakapan dengan Zen. Ada satu pernyataan dari direktur festival film kelas dunia itu yang membuat Zen menjadi tidak sabar untuk segera memulai proyek filmnya. Zen mencuplik satu pernyataan Adrian dan ia langsung memberikan terjemahannya.

“Jarang aku mencari film dan secara langsung mempertimbangkan untuk memberi kode unik. Jadi aku ingin mengucapkan selamat kepada Anda karena telah menarik perhatianku. Dan aku harap aku bisa membantu Anda dalam membuat platform festival agar lebih mudah diakses. Aku harap ini menjadi berita yang menggembirakan bagi Anda dan aku akan menyambut Anda dalam paket “Serigala” dan bertemu langsung dengan Anda di Festival London suatu hari nanti. Aku akan sangat menantikan kedatanganmu.” Demikian Adrian menulis pesannya.

Zen bercerita, di momen percakapan selanjutnya, Lonely Wolf menambah diskonnya menjadi 40 persen.  Ia memilih kategori Drama Fantasi berdurasi maksimal lima menit, bertarif 33 dolar atau Rp 487 ribu.  Dengan fasilitas potongan harga sebesar 40 persen, Zen cukup membayar 20 dolar atau sekitar Rp 300 ribu Rupiah.  

Zen merekam gambar Candi Prambanan dari berbagai sudut pandang untuk persiapan mengikuti Festival Film Internasional Lonely Wolf 2021 di London. (foto-foto: Ernaningtyas)

Sudah sekitar dua minggu belakangan ini, usai mengikuti pembelajaran jarak jauh, Zen merancang cerita dan menyusun jadwal pengambilan gambar. Pemberian judul akan ditentukan kemudian, sebab katanya, sangat mungkin ada perubahan di tengah jalan. Zen sudah menyelesaikan storyboard (semacam skenario) dan hari Senin (24/8) ia mulai merekam gambar. Candi Prambaban menjadi lokasi pengambilan gambar pertamanya. Selanjutnya, Zen merekam gambar di Desa Albasta Sleman. Ilustrasi musiknya ia buat sendiri. Caranya dengan mengkomposisi elemen-elemen suara alat musik yang tersedia di akun-akun gratis, ditambah bebunyian apa saja yang ia rekam di alam bebas. Salah satunya, suara gemerisik daun kering yang ia injak-injak sendiri.  

Ia bertekad menyelesaikan filmnya dengan baik namun dalam suasana tanpa beban. “Saya tidak membidik target juara, dikenal di kancah sineas dunia sudah sangat menyenangkan dan menyemangati,” kata Zen yang bercita-cita menjadi sutradara atau sinematografer.

Sinematografer idola Zen adalah Roger Deakins yang menggarap sinematografi Skyfall, 1917 dan Blade Runner 2049.  Sementara sutradara kebanggaannya Christopher Nolan dalam film Interstellar, serial Batman, Tenet dan Inception. YouTuber favoritnya adalah Agung Hapsah asal Indonesia. Ia banyak menggarap film pendek berbahasa Inggris, salah satunya “Dear Friend”. 

Ben TK dan Sam Kolder juga menjadi favorit Zen. Kedua YouTuber ini mengunggah video perjalanan wisata di media sosial. Ben TK asal Australia, Sam Kolder dari Kanada. “Kreatif, transisinya unik, seamless nggak kasar perpindahannya dan berbeda dari yang lain,” kata Zen memberikan alasannya.  

Demi mendapatkan ilmu-ilmu para idolanya itu, Zen berburu tutorial di internet. Anjas Maradita, pengunggah konten-konten kreator sekaligus kreatipreneur papan atas Indonesia, menjadi guru idolanya. Tutor asing kesukaannya adalah Kyler Holland yang banyak membeberkan ilmu tentang efek visual. Akun Youtube “Film Riot” yang banyak membahas pembuatan film juga sering menjadi rujukan Zen. 

Kegiatan Zen merekam gambar di Desa Albasta Sleman Yogyakarta. (foto-foto: Ernaningtyas)

Zen percaya, sejalan dengan waktu ia akan menguasai ilmu tentang film. Saat ini, selain menimba pengetahuan, yang ia butuhkan adalah praktek. Dengan banyak berlatih, ilmu yang selama ini telah mengendap di otaknya bisa mendapatkan penyaluran. Pengalaman akan mengasah ketrampilannya.  Karena itu di tahap belajarnya ini, Zen belum membidik target juara pada rupa-rupa lomba yang pernah maupun akan ia ikuti dalam waktu dekat. “Belum target award. Butuh proses untuk bisa meraih posisi puncak di Lonely Wolf, juga di ajang Golden Globe, apalagi berjaya di Academy Award dengan merebut piala Oscar seperti Bong Joon-ho,” papar Zen. Ia mengagumi Parasite karya si Bong pada sudut pengambilan gambarnya yang menurutnya unik. 

Dalam proses belajarnya Zen mengaku membutuhkan kawan berdiskusi. Karenanya, di dunia maya ia bergabung dengan grup Visual Sans, Visual Art dan Sarang Editor. Belum lama ini, kelompok “Sarang Editor” mengadakan jumpa darat. Di dunia maya, grup yang beranggotakan praktisi video dari seluruh Indonesia ini mengevaluasi dan me-re post karya-karya anggotanya. 

Acara jumpa darat pertama itu dihadiri hampir 20 anggota seprovinsi DIY. Agendanya membahas proyek film bersama dengan tema budaya. “Kami akan mengangkat keunikan Yogya,” kata Zen yang dalam pertemuan di Kafe Senja dan Pagi Yogyakarta itu, ia adalah anggota termuda. Zen murid SMP yang berkarakter pendiam itu berada semeja dengan kawan-kawannya yang sudah duduk di bangku SMA dan Perguruan Tinggi. Di proyek bersama itu ia mendapatkan tugas sebagai pemeran atau aktor. Film itu nantinya akan disatukan dengan semua karya anggota “Sarang Editor” di seluruh Indonesia.     

Searah jarum jam: Zen makan malam sambil menimba ilmu sinematografi lewat film “The Making of Stranger Things”; Zen (paling kanan) di acara jumpa darat “Sarang Editor”; Zen diapit personil “Sarang Editor”; Kegiatan Zen mengedit video. (foto-foto: Ernaningtyas)

Merdeka Belajar

Merdeka belajar yang sering kali sulit dijangkau nalar dan membuat pusing pikiran orang dewasa itu, ringan-ringan saja dilakukan Zen. Pengalamannya berproses sejak belia, bertumbuh menjadi kanak-kanak, menuju remaja dan perjalanannya meraih usia dewasa dipenuhi nuansa kemerdekaan. Bukan dalam arti semau gue tetapi merdeka menentukan sendiri tema belajar yang ia sukai dan bertanggung jawab pada pilihannya itu. Bagi Zen belajar, baik di sekolah atau pun di rumah, sudah menjadi sebuah budaya yang menyenangkan.         

Zen tertarik dengan film sejak balita. Awalnya ia hobi menonton film. Selayaknya bocah sebaya, kala itu ia amat menyukai fim kartun anak-anak, salah satunya Spongebob. Film karya Stephen Hillenburg ini ia tonton berulang kali. “Satu judul film Spongebob ditayangkan televisi  berulang-ulang selama beberapa tahun. Tidak bosan saya melihatnya,” tutur Zen mengenang masa silamnya. 

Waktu demi waktu berlalu. Seiring perkembangan usianya, genre film yang ia tonton kian bervariasi, seperti  horor, fiksi ilmiah, remaja, aksi, misteri. Ia menonton film Indonesia dan asing. Film Indonesia yang pernah ia saksikan antara lain Sultan Agung dan Bumi Manusia karya sutradara Hanung Bramantyo. Sementara deretan film yang paling ia sukai adalah Star Wars, Spiderman, The Invisible Man, Harry Potter, Stranger Things, The Imitation Game, Avengers Series, Joker, Interstellar, Parasite dan lain-lain.

Zen yang sudah melihat ratusan judul film itu mengaku tidak menyukai film komedi. “Aneh saja melihat film komedi, bukan tipe favorit saya,” tutur Zen yang jatuh cita berat pada film-film serius. Film “The Imitation Game” yang dibintangi Benedict Cumberbatch menjadi  idolanya. Film ini berkisah tentang drama misteri yang dilatari cerita perang. Ringan-ringan saja Zen memahami  film misteri yang rumit dalam bahasa Inggris pula. “Dari film juga saya belajar bahasa Inggris,” tuturnya.

Ibarat sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Lewat sebuah film, Zen tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga menyerap nilai kehidupan, ide membuat cerita, dan tentu saja cara membuat film. “Setiap melihat film, tidak sekadar jalan cerita yang menjadi fokus saya, tetapi saya selalu berpikir, bagaimana ya cara membuat adegan itu baik pencahayaan, transisi gambar, sudut pengambilan gambar dan proses editingnya?” imbuhnya. 

“Saya tertawa geli ketika tahu bahwa adegan mobil melaju kencang menghindari lompatan material letusan Yellow Stone Park dalam Film 2012, ternyata terjadi di studio. Mobil yang melaju kencang itu cukup bergoyang-goyang, gambar layar lebar pada latar belakangnyalah yang bergerak. Sementara letusan gunung dan lompatan bebatuan berlangsung di tahap editing,” papar Zen.                     

Kiri: Zen kelas VI SD, belajar biota air tawar di areal persawahan. Kanan: Zen (ketiga dari kanan) dalam pentas memperingati Hari Musik Nasional bersama kawan-kawan SD. (foto-foto: dokumentasi pribadi)

Dari kegiatan menonton film, akhirnya Zen tertarik membuat video dan menjadikannya sebagai hobi. Sejauh ingatannya, ia mulai mencoba-coba merekam gambar hidup pada kelas tiga Sekolah Dasar (SD). Berbekal hape android, ia mengabadikan obyek yang ada di sekitaran tempat tinggalnya. Aktivitas itu itu gayung bersambut dengan agenda sekolah. “Di kelas enam ada proyek membuat film. Kami dibagi dalam tim dan harus menyelesaikan film itu mulai dari menemukan ide cerita, menulis skenario,  menentukan pemain, membuat jadwal, mengambil gambar, mengedit film, sampai memasarkannya dengan penonton para orang tua murid dan adik kelas. Harga satu tiket lima ribu rupiah,” cerita Zen panjang lebar. Di akhir pemutaran film itu, ada agenda “Meet and Greet” (bertemu dan menyapa). Semua kru film dan pemain berjumpa dengan para penonton dalam paket acara bincang-bincang santai.

Zen beruntung karena ia bersekolah di tempat yang memberikan keleluasan untuk menyalurkan hobi. Nyaman-nyaman saja ia melewatkan hari-hari di luar jam sekolah dengan rupa-rupa aktivitas yang ia suka. Tak ada PR (Pekerjaan Rumah) dari sekolah yang menjadi kewajibannya. Saat duduk di SD, kalaupun ada pekerjaan rumah (PR) cukup berupa kegiatan membaca dan meresensi buku. Ulasan ditulis, mulai dalam bentuk paling sederhana di kelas satu sampai yang paling mendalam di kelas-kelas yang lebih tinggi. Buku-buku kesukaan Zen kala itu adalah fiksi, fiksi ilmiah, cerita petualangan Enid Blyton, dan novel remaja. 

“Oh ya, ada satu lagi tugas dari sekolah,” sela Zen. Wujudnya adalah berpartisipasi dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dan membiasakan pola hidup sehat. Karena itu, sejak SD Zen sudah terbiasa mandiri. Ia rutin membersihkan kamar sendiri, menyapu seluruh lantai rumah, dan mencuci peralatan makannya. Olah raga setiap hari dan mengkonsumsi makanan sehat menjadi agenda rutin Zen tanpa intervensi orang lain untuk mengingatkannya. Ia gemar senam, lari di tempat juga bermain basket dengan keranjang kardus dan bola plastik. Sementara pepaya, pisang, kelor dan bayam adalah buah dan sayur kesukaannya.

Zen bercerita bahwa guru di sekolah dasarnya duduk semeja dengan anak-anak dalam formasi saling berhadap-hadapan seperti perjamuan di meja makan. “Kami selalu berdiskusi dan mencari banyak informasi bersama-sama, tentang sain, matematika, seni, berkebun dan lain-lain lewat buku referensi atau mencari  di internet. Tidak ada buku paket. Materi belajar disampaikan lewat proyek. Kami belajar langsung dari tempatnya seperti pergi ke sawah, kebun sekolah, sungai, umbul, lapangan, rumah Pak Dukuh dan ke tempat-tempat yang jauh dari sekolah seperti Gedung Agung, Museum Wayang, pembangkit kincir angin, candi Prambanan dan banyak lagi,” cerita Zen.    

Di rumah Zen tidak direpotkan kegiatan sekolah dalam bentuk menyelesaikan soal-soal, menghafal rupa-rupa materi pelajaran atau mengikuti les rupa-rupa mata pelajaran demi meraih nilai tinggi. Nilai rapor di SD Zen berupa diskripsi, bukan angka, kecuali jika ada permintaan khusus dari orang tua dan untuk kepentingan mendaftar di sekolah lanjutan. Diskripsi itu berisi proses belajar dan pencapaian anak.  Sekolah yang berpusat pada pengembangan bakat anak ini tidak memberikan ranking pada hasil belajar.  Proses belajar mendapatkan penghargaan lebih besar ketimbang  nilai akhir. 

Karena itu, di luar sekolah, Zen bisa sangat leluasa menyalurkan hobinya antara lain: menonton film, melukis, membaca cerita, bermain game, dan membuat video.  

Awalnya Zen merekam gambar menggunakan hape dengan hasil akhir apa adanya. Lambat laun ia mulai mempelajari editing video dengan menggunakan program Kinemaster. Ia belajar secara otodidak. Internet menjadi wahananya untuk mendapatkan tutorial cara mengedit itu. Tak masalah baginya bila si tutor menyampaikan materi dalam bahasa Inggris. Sebab, SD Zen menggunakan dua bahasa, yakni Inggris dan Indonesia. Selain itu, hobi Zen menonton film asing melatih kepekaan indera pendengarannya terhadap kosa kata bahasa Inggris. Soal arti, bila tidak paham, ia membuka kamus virtual. Tetapi itu tak sering ia lakukan. Sejauh pengalamannya, kendati disajikan dalam bahasa Inggris, tutorial yang dilengkapi sajian praktek itu membuatnya paham. Zen mengunggah video karyanya di akun YouTube “Zen Art Studios” dan Instagram @Zenartstudios.

Kiri: Zen (batik merah) bersama kawan-kawan di SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta. Kanan: Zen (kedua dari kanan) belajar dan bermain di sungai bersama kawan-kawan SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta. (foto-foto: dokumentasi pribadi)

Di SMP, hobi membuat dan menonton film berlanjut. Untunglah, ia masuk ke sekolah yang setipe dengan SD-nya. Ketika banyak siswa lain menonton film di akhir pekan untuk melepas kepenatan belajar sehari-hari, Zen melihat film kapan pun ia mau. Banyak pilihan yang selama ini menjadi sumber untuk menyalurkan hobinya itu. Jika uang saku yang ditabungnya cukup untuk membeli tiket dan ada film yang menarik perhatiannya, ia pergi ke bioskop. Kadang sendiri, suatu kali bersama kawan-kawan sekolah, terkadang ditemani ibunya. Sehari-hari, Zen memburu film-film yang bisa diakses lewat internet. 

Hobi membuat video juga terus ia salurkan. Kepiawaiannya mengedit film ia tingkatkan dari waktu ke waktu. Awal tahun 2020, Zen menekuni editing video dengan lebih serius. “Saya mempelajari Adobe Premier Pro dan rupa-rupa program untuk kepentingan editing film secara otodidak,” tutur Zen.

Wabah covid 19 tak menghalangi Zen berproses dengan filmnya. Selepas belajar jarak jauh, ia menonton film, berguru sinematografi lewat turorial virtual dan mengedit video. Karena tidak bisa pergi keluar rumah untuk mengambil gambar sendiri, Zen berburu potongan-potongan film di akun-akun yang menyediakannya secara gratis. Jadilah rupa-rupa video pendek yang sudah ia unggah di akun pribadinya: India, Sweet Scar, Suport Your Culture, Moving Forward, Aventador, Predator Energy, Caffe, Indonesia, Cretaifity.    

Creatifity yang berdurasi 19 detik itu ia rekam sendiri gambarnya di dalam rumah. Video singkat itu ia buat untuk kompetisi film pendek. Penyelenggaranya The PanasdalaMovies. Di ajang itu ia kalah. Ini membuat ibunda Zen, Nina Hafez, bertanya-tanya. Creatifity kalah dalam kompetisi di tanah air, bagaimana mungkin ia mendapatkan pujian fantastik dari Lonely Wolf? Apa yang menjadi dasar festival film internasional di negeri Ratu Elizabeth itu menggunakannya sebagai rujukan untuk mengundang Zen?” tanya Nina Hafez.

Nina, demikian ia akrab disapa, menduga bahwa ada kemungkinan lewat film Creatifity Lonely Wolf mengendus bakat Zen. Institusi kaliber dunia itu bisa jadi tidak menggubris hasil akhir. Pengalamannya puluhan tahun di bidang film, mungkin membuat Lonely Wolf piawai meneropong bakat sineas seseorang lewat karya filmnya, kendati karya itu belum mencapai level sempurna. “Saya tidak tahu persis, apa alasan Lonely Wolf memberikan komentar fantastik pada film Creatifity. Atau mungkin film itu memang fantastik ya?,” tanya Nina yang mengaku awam soal dunia film.  

Apa pun alasan film Creatifity menjadi dasar Lonely Wolf untuk mengundang Zen ikut berkompetisi di Festival Film Internasional London itu, Nina tak menggubris. Sebab, ia lebih menghargai proses. “Biarlah  anak saya berproses dalam menyelesaikan karyanya. Karena ini tantangan besar, saya yakin Zen akan berusaha sebaik mungkin mempersiapkan festival di London itu,” kata Nina. 

Zen mengerjakan tugas sekolah, menanam daun bawang di wadah plastik bekas merah putih untuk memperingati 75 tahun Indonesia merdeka. (foto: Ernaningtyas)

Sejak mendampingi Zen berdinamika mulai balita hingga remajanya, Nina selalu menekankan pada proses. “Kalau anak sadar proses, ia tidak akan pernah meraih puncak lewat jalan pintas,” tambahnya.   Nina mencontohkan, menyontek, menjiplak skripsi, korupsi, suap menyuap, adalah contoh nyata orang-orang yang bernapsu mencapai puncak lewat jalan pintas tanpa mempedulikan proses.

“Saya betul-betul menekankan agar Zen menikmati proses dalam suasana belajar yang merdeka tanpa tekanan,” pungkasnya. Untunglah, Zen mendapatkan SMP yang kondusif untuk menjalani proses belajar yang merdeka itu. SMP Eksperimental Mangunan yang didirikan budayawan kondang Romo JB Mangunwijaya itu setipe dengan pemikirannya. Selain fokus pada hobinya, Zen tetap menjunjung tinggi tanggung jawabnya sebagai murid di sekolah yang terletak di bilangan Kalasan Yogyakarta itu. Selama empat semester berproses di SMP, ia banyak meraih nilai A dan B di rapornya. 

Beberapa waktu lalu, Zen mulai membidik SMA. Ia ingin melanjutkan pendidikan menengah atasnya di Kolese De Brito Yogyakarta. Ini sebuah SMA swasta legendaris yang juga menekankan pengembangan minat dan bakat anak. Ada banyak hal yang menarik Zen di tempat itu. Salah satunya kebebasan. Bebas tapi bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya, menghormati sesama, berempati kepada orang miskin dan peduli lingkungan. Demikian informasi yang didapat Zen dalam penelusurannya di dunia maya tentang profil SMA idolanya itu. 

Jika banyak kasus anak lulusan SMA terjebak kebingungan menentukan mau kuliah di mana dan mengambil jurusan apa, sejak SD Zen bercita-cita kuliah di Perancis. “Saya ingin memperdalam Teknologi Informasi (TI) dan film di negara Eiffel itu,” kata Zen.

Alasan mengapa Perancis menjadi pilihannya adalah, kota-kota di negara itu indah, klasik, banyak bangunan tua bersejarah dan masyarakatnya santai. Zen juga  terinspirasi pebola Paul Pogba dan  kehidupan seni lukis di negera Perancis yang  kental. Zen yang telah beberapa kali mengikuti pameran lukisan di kota Yogya itu juga ingin mengembangkan bakat melukisnya sebagai hobi. “Saat ini saya sudah belajar sedikit-sedikit Bahasa Perancis secara otodidak,” tambahnya.

Zen (paling kiri) fokus mengerjakan evaluasi di SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta. (foto: dokumentasi pribadi)

Mengubah Pola Pikir

Di awal jabatannya sebagai Menteri Pendidikan Nasional, Nadiem Makarim melontarkan ide perihal merdeka belajar. Saat dimintai komentarnya terhadap ide mas menteri itu, Nina Hafez menjawab, “Ide Pak Nadiem seperti gunung yang tiba-tiba menyembul di keramaian pasar, bikin heboh, membuat bingung, dan memicu rupa-rupa pemahaman,” tuturnya. Ia mengakui ide itu sebagai sebuah gagasan yang brilian. Sebab, demikianlah semestinya belajar. Ia harus berada pada atmosfer kemerdekaan.    

Nina sadar diri, sebenarnya bukan kapasitasnya untuk mengomentari itu. Ia hanyalah ibu rumah tangga yang sedang mendampingi seorang anak bertumbuh, bukan pakar pedagogi pun bukan pribadi yang berkutat dengan dunia pendidikan formal. Sebagai pihak yang bukan siapa-siapa ia hanya bisa menyaksikan, betapa banyak ibu di kampungnya kebingungan, merdeka belajar seperti apa yang mesti dijalani buah hati mereka. 

“Berdasarkan pengalaman saya selama ini, ada satu hal yang mesti ditempuh sebelum merealisasikan  ide merdeka belajar, yakni mengubah pola pikir,” tegas Nina. Pengubahan pola pikir itu pertama-tama harus berlangsung di tataran orang tua. Nina mengutarakan, konsep merdeka belajar Mas Menteri pasti berbeda dengan sistem kurikulum dan target pencapaiannya yang selama ini dijalankan sekolah formal.  “Ketika ada perbedaan tanpa ada perubahan pola pikir, pasti akan menimbulkan protes dan selanjutnya akan memicu keserampangan ketimbang sebuah gerak langkah maju yang rapi, serempak  dan leluasa,” tambahnya.

Nina menceritakan pengalamannya. Ia memiliki kawan yang memasukkan anaknya ke sekolah dasar inklusif. Harapan si kawan, di tempat itu anaknya bisa menempuh pendidikan secara bebas tanpa tekanan. Tetapi, kemudian ketika ia menyaksikan bahwa di sekolah si anak lebih banyak bermain ketimbang belajar, nilai rapor berupa pemaparan cerita bukannya angka-angka, si kawan melancarkan protes. Protes itu berlanjut ketika si anak tak pernah mendapatkan PR berupa soal-soal tanya jawab.

Pembelajaran Jarak Jauh. Zen membedah persoalan sampah plastik kemasan makanan, sekaligus belajar mengukur volume benda padat. (foto: Ernaningtyas)

Pengalaman Nina yang lain adalah soal belajar membaca di usia Taman kanak-kanak (TK). Konon, peraturan menyebutkan bahwa pelajaran membaca semestinya dilakukan ketika anak duduk di kelas satu SD. “Tetapi, betapa orang tua bangga jika anak-anak mereka bisa membaca di usia jauh sebelum SD-nya tiba,” tuturnya. Ia banyak menemukan kasus bahwa orang tua begitu bahagia ketika mendapati putra putri mereka mampu membaca di usia yang sangat belia. Tetapi, para orang tua itu seperti tidak peduli ketika di usia selanjutnya anak-anak mereka hanya bisa membaca tanpa tahu makna yang terkandung di dalamnya. “Inilah yang membuat anak terjebak pada hafalan,” imbuhnya. 

Soal ranking juga dilihat Nina sebagai satu hal mesti direvolusi ketika merdeka belajar benar-benar dilaksanakan. Menurutnya, merdeka belajar membebaskan anak berkembang sesuai minat dan bakatnya, karenanya untuk menakar keberhasilan tidak bisa dilihat lewat indikator ranking. Sebab, ranking mengukur keberhasilan pada semua bidang pelajaran. “Acapkali saya melihat betapa orang tua bangga dengan ranking. Usai penerimaan rapor misalnya, pasti para orang tua saling bertanya ranking berapa anakmu?” kata Nina. Pujian pasti ditujukan pada anak-anak yang nangkring di ranking atas. Sebaliknya, betapa mindernya para orang tua pemilik anak yang mendapatkan ranking rendah.

Mengukur keberhasilan lewat ranking membuat para orang tua berlomba-lomba memasukkan buah hati mereka ke tempat-tempat les. Demi mendongkrak nilai pada pelajaran yang dianggap kurang bisa dikuasai anak. “Pagi sekolah, sore les matematika dan bahasa Inggris, otak anak diperas-peras, kapan bermainnya?” tambahnya.

Nina memaparkan, jika pola pikir orang tua sudah berubah, maka merdeka belajar akan ikut terkondisikan, pelan tapi pasti. Karena itu, sangat penting untuk menjadikan orang tua sebagai agen perubahan dalam membangun merdeka belajar. Perubahan pola pikir itu selayaknya sebuah infratsruktur. Ia menjadi pondasi atau jalan untuk mencapai tujuan.

Di sekolah, dalam semangat merdeka belajar, orang tua akan protes kalau guru sekadar berbicara menyampaikan materi dan lupa mengajak anak-anak berdiskusi. Orang tua pasti menuntut guru agar anak-anak mereka diajak berdinamika di luar kelas. Orang tua tidak akan memasukkan anak mereka les pada mata pelajaran yang nilainya rendah. Di alam merdeka belajar, nilai rendah mengindikasikan bahwa si anak tak memiliki minat di situ. Justru pada pencapaian nilai yang tinggi, kemampuan si anak dikembangkan. Sudah lazim anak mencapai nilai tinggi mata pelajaran yang disukainya.

Zen, fokus mengambil gambar Candi Prambanan, Yogyakarta. (foto: Ernaningtyas)

Di rumah, dalam nuansa merdeka belajar, orang tua tidak akan sewot melihat anaknya memukul-mukul kaleng bekas. Suara cempreng yang menggampari indera pendengaran itu bagi orang tua sungguh mengganggu. Tetapi bagi si anak, ia mungkin saja sedang membayangkan diri selayaknya Gilang Ramadan di belakang drum, di atas panggung terhormat, di hadapan tamu-tamu istimewa. Para orang tua pun tak akan pernah melarang anak-anak mereka hujan-hujanan. Sebab, aktivitas yang acapkali dikhawatirkan memicu  masuk angin itu, di mata anak adalah sesuatu yang asyik. Siapa tahu lewat kebiasaannya bermain hujan, anak lebih mencintai alam semesta. Kelak mungkin ia akan menjadi tokoh lingkungan penyelamat bumi lewat konservasi sumber-sumber air. Para orang tua pun menjadi maklum, jika anak-anak mereka berusaha mati-matian mempertahankan pendapat. Sebab, siapa tahu si anak kelak menjadi wakil negara di meja perundingan PBB yang membahas penyerobotan pulau terluar Indonesia oleh negara tetangga.     

Pola seperti itu akan membuat anak senang belajar. Ketika anak melakukan sesuatu dengan senang, otomatis akan terjadi pengulangan. Budaya belajar dengan media apa saja, entah di sekolah juga di rumah, akan berlangsung dengan sendirinya. Dan ini membuat anak-anak bahagia. Rasa bahagia membuat anak rindu sekolah juga bersemangat melakukan banyak eksperimen di rumah.

Mengubah pola pikir orang tua adalah satu dasar yang penting. Jika pemerintah serius dengan merdeka belajar ini, harus ada kampanye yang bersifat masif. “Seperti kampanye pada program imunisasi anak nasional,” kata Nina. Kampanye itu akan membuka mata dan hati orang tua, bahwa pola belajar di sekolah yang kental dengan kurikulum dan pencapaian target seperti saat ini, sama saja membebani anak dengan sekarung beras di lintasan lari. Si anak mencapai garis finis dalam kondisi kepayahan total.

“Bukankah lebih menggembirakan jika anak berlari mencapai finish tanpa beban yang kelewatan?  Bukankah tanpa beban berat anak pun bisa mencapai garis finish?” tambahnya. Bila diibaratkan sekarung beras itu kurikulum, maka tugas selanjutnya adalah menyiapkan guru, sumber daya manusia (SDM) paling penting dalam agenda merdeka belajar. Atmosfer merdeka belajar membutuhkan guru yang kreatif dan sekolah yang mampu melahirkan “warna baru” isi “karung beras” itu. Kebaruan itu ada pada implementasi di lapangan, agar kurikulum itu menjadi ringan, menyenangkan, tidak membebani. Pemerintah cukup sebagai pihak yang berperan di ranah regulasi.

Nina menyatakan, tanpa mengubah pola pikir orang tua, Nadiem Makarim dengan merdeka belajarnya  ibarat membangun rumah  tanpa pondasi. Bagus penampakannya, tetapi rapuh konstruksinya. Rumah itu mudah roboh. (Ernaningtyas)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *