Merdeka Belajar, Merdekalah Pendidikan di Indonesia

Jayakarta News – “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia” – Nelson Mandela. Apa yang dikatakan Nelson Mandela, pejuang anti-aparheid, tentu saja benar dan dibuktikannya. Ia menjadi orang pertama di keluarga yang mengenyam pendidikan. Dilaluinya dengan tidak mudah. Ia adalah pejuang melawan politik kulit hitam. Perjuangannya ditulis dalam buku yang berjudul “Walk to Freedom”. Ia berhasil menjadi Presiden pertama kulit hitam di Afrika Selatan, 1994-1999, dan membebaskan dunia kulit hitam dari “penjajahan”.  

Berbicara tentang pendidikan, tokoh pendidikan dari Brasil, Paulo Freire, pernah menggugat sistem pendidikan dalam masyarakat Brasil. Menurut Freire, sebagaimana diungkapkan Masykur H Masyur dalam tulisannya yang berjudul Pendidikana Ala “Paulo Freire” Sebuah Renungan, sistem pendidikan yang ada, sama sekali tidak berpihak kepada rakyat miskin, tapi sebaliknya justru mengasingkan dan menjadi alat penindasan bagi penguasa, karenanya sistem yang ada harus dihapus dan digantikan dengan sistem yang lebih memihak kepada kaum miskin. Paulo yang meninggal pada 2 Mei 1997, sebagai sosok yang secara teoritis sekaligus praktis telah menjalankan agenda pendidikan. Telah melakukan perubahan-perubahan hidup masyarakat melaluipendidikan.  “Dia adalah seorang pejuang pendidikan yang telah membebaskan masyarakat dari kebodohan dan kegelapan. Konsep pendidikannya betul-betul memanusiakan manusia dan memberadabkan manusia,” demikian dijelaskan Masykur Masyur dari IAIN Cirebon DPK FAI Universitas Singaperbangsa Karawang.

Dengan demikian, pendidikan mengembalikan jati diri manusia yang sesungguhnya sebagai manusia yang merdeka, berhak untuk hidup, tidak ditindas, dan tidak diperlakukan secara sewenang-wenang.  Pendidikan merupakan malaikat penjaga kebaikan kehidupan manusia dari kejahatan. “Bagi Paulo, pendidikan harus mampu membebaskan. Membebaskan manusia kaum-kaum tertindas dan kaum-kaum penindas dari sistem pendidikan yang menindas,” papar Masykur Masyur lagi. 

Pendidikan di Indonesia

Berkibarlah sang saka merah putih. (foto: ist)

Di Indonesia, saat ini, ada Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang sedang mengusung program baru dalam dunia pendidikan. Seolah “menggugat” dunia pendidikan yang selama ini berjalan di bumi pertiwi, Nadiem mencanangkan program Merdeka Belajar.

Sistem pendidikan di Indonesia, menurut Nadiem sifatnya sangat administratif. Guru hanya mengajarkan apa yang tertera di silabus dan mengejar silabus hingga tuntas. Hal inilah yang membuatnya mengusung konsep Merdeka Belajar. Konsep ini membebaskan sekolah untuk menciptakan kreatifitas dan inovasi.

Merdeka Belajar esensinya adalah kemerdekaan berpikir. Ini harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya kepada para murid. Menurut Nadiem, dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi.

Nadiem menjelaskan, dengan konsep merdeka belajar, semua pihak dalam sistem pendidikan akan merasa merdeka. Merdeka dari aturan, baik pemerintah atau lembaga sekolah itu sendiri. Guru merdeka berkreasi dalam kelasnya sendiri, murid merdeka dalam menentukan arah dan level yang cocok untuknya. 

Sistem pengajaran juga berubah dari yang semula hanya di dalam kelas menjadi di luar kelas. Dengan demikian, nuansa pembelajaran akan lebih nyaman. Murid dapat berdiskusi lebih nyaman dengan guru,  belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking yang menurut beberapa survei hanya meresahkan anak dan orang tua saja, karena sebenarnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya dalam bidang masing-masing. Akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat.

Kemerdekaan belajar, menurutnya harus dimulai dari sektor paling bawah, yaitu murid, guru, sekolah dan orang tua. Apabila pergerakan itu tidak dimulai dari bawah, menurut Nadiem program tersebut akan gagal.

Merdeka Belajar di Sekolah Gratis  

Pendidikan, mengubah dunia. Pendidikan, memanusiakan manusia. Namun, untuk mendapatkan pendidikan, tidaklah mudah dan murah. Masih sangat banyak masyarakat yang belum dapat menikmati pendidikan dikarenakan biaya yang mahal.  

Sebagai contoh di wilayah Kampung Cina, Tajurhalang, Bogor. Warga Kampung Cina umumnya mencari nafkah dengan menjadi buruh di peternakan babi, selain juga ada yang berdagang kecil-kecilan. Penghasilan mereka tidak banyak. Bahkan, mirisnya, untuk membayar biaya pendidikan anak-anak pun, sangat sulit.  Ekonomi yang pas-pasan, menjadi faktor tingkat pendidikan di tempat ini, relatif rendah. Banyak orang tua enggan menyekolahkan anaknya di usia dini.  Keadaan ini membuat salah seorang warga terpanggil memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak usia sekolah, sejak dini di wilayahnya.

Siswa-siswi SD di Kampung Cina, Tajurhalang, Bogor. (foto: istimewa)

Dirk Denny Sahetapy, pria setengah baya di tempat itu, kepada Jayakarta News mengungkapkan rasa prihatinnya demi melihat banyaknya bocah di Kampung Cina yang tidak sekolah. Terdorong rasa nasionalisme, keinginan turut memajukan bangsa, dan rasa kebersamaan di wilayahnya, ia mendirikan sekolah gratis dengan nama Sekolah Sinar Kasih. Ia mengawali pendidikan gratis dari tingkat TK di tahun 2010. Kemudian pada 2011, tingkat SD. Pada tahun 2019 SMP dimulai bersamaan tingkat Taman Bermain. Saat ini, jumlah murid boleh dibilang cukup banyak. TB dan TK berjumlah sekitar 50-an murid, SD 40-an dan SMP ada 23 siswa.

Untuk mendapatkan pendidikan yang baik tidaklah murah, sehingga tidak semua bisa mendapatkannya. Sekolah Sinar Kasih hadir untuk berusaha menjawab kebutuhan tersebut dengan menyediakan pendidikan yang baik tapi gratis. Demikian diungkapkan Yohanes Tarigan, Kepala Sekolah SD Sinar Kasih.  Ia mengatakan, di Sekolah Sinar Kasih para guru bukan hanya berusaha memberikan pendidikan yang baik tapi memberikan teladan hidup yang baik. “Dengan harapan suatu hari nanti dari sekolah Sinar Kasih akan muncul mereka yang bukan hanya cerdas tapi juga memiliki hati yang baik dan mau berkorban bagi orang lain sehingga mereka berguna bagi Tuhan, sesamanya manusia, memberikan dampak yang positif bagi dunia ini.”

Cita-cita luhur dari sekolah tidak berbayar ini, harusnya disambut baik oleh  Nadiem dan jajarannya, sebagai pemegang kekuasaan di dunia pendidikan Indonesia. Bahkan harusnya ada perhatian bagi orang-orang seperti Dirk Denny Sahetapy dan Yohanes Tarigan. Merdeka Belajar harus juga memerdekakan sekolah-sekolah gratis seperti Sekolah Sinar Kasih ini bukan hanya dalam program atau sistem pendidikan yang dijalankan, tetapi juga dalam urusan tertentu seperti perijinan dan lainnya.

Konsep Merdeka Belajar Nadiem Makarim ini, terdorong karena keinginannya menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu. Dengan Konsep Merdeka Belajar, tentu saja diharapkan akan membuat masyarakat bergelora dalam belajar.

Belajar menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia. Mengenyam pendidikan dengan konsep yang baru akan menjadi budaya yang menyenangkan. Guru tidak lagi mengajar hanya dengan mengejar selesainya silabus. Murid tidak terpaksa dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Orang tua akan ikut senang melihat anak-anak belajar tanpa tekanan. Pihak sekolah pun menjalankan kewajiban-kewajiban tidak lagi ditekan dengan aneka biaya. Sekolah gratis pun  tidak akan tertatih-tatih menjalankan pelayanannya di dunia pendidikan dengan memikul beban aturan bahkan biaya yang harus ditanggungnya. Dengan Merdeka Belajar, Merdekalah Pendidikan di Indonesia. (Melva Tobing)

Sarwozen, Dunia Film dan Merdeka Belajar

Jayakarta News – Ketika mendapat kabar bahwa ia diminta mengirimkan video untuk mengikuti Festival Film Internasional Lonely Wolf 2021 di London, Sarwozen tertegun. Sekedipan mata ia tak percaya. Beberapa detik setelahnya, hatinya diliputi rasa bangga. Siswa kelas sembilan SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta ini membayangkan, momen internasional pertamanya itu bakal menjadi pengalaman luar biasa.

“Lonely Wolf mengunjungi media sosial saya. Video pendek yang berjudul Creativity mendapat pujian fantastik,” kata Zen, sapaan akrabnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa video-video karyanya dilihat oleh manajemen Lonely Wolf. Dan ternyata, pemangku kepentingan di ajang festival film bergengsi Inggris itu tak sekadar menyaksikan lantas melewatkannya begitu saja. Creatifity yang diunggah Zen di akun Instagram @zenartstudios pada 28 Juni 2020 itu membetot perhatian mereka. 

Selanjutnya pada hari Minggu (26/7), Adrian Perez selaku Direktur Festival Film Lonely Wolf menghubungi Zen lewat pesan pribadi Instagram, dalam bahasa Inggris. Zen menerjemahkannya untuk JayakartaNews.    

“Halo Zen Art Studios. Aku sudah memperhatikanmu selama beberapa waktu. Film terakhirmu Creatifity terlihat keren.  Itu semua menarik perhatianku. Aku ingin mengundangmu untuk berkompetisi di festivalku, Lonely Wolf. Filmmu berada di standar yang tinggi, dan itu masuk dalam parameter persaingan kita yang ketat. Ke depan, kita memiliki beberapa kompetisi hebat. Kurasa Anda akan bangga bersaing dengan sutradara terkenal di seluruh dunia terutama yang baru saja mengirimkan kepada kami proyek (film) pribadi terbaru. Aku dan para juri ingin menonton film Anda. Atau mungkin menulis ulasan film untuk Anda dan membuat Anda bersaing dengan para best of the best,” tulis Adrian.

“Terima kasih banyak atas informasi Anda. Apakah ada persyaratan untuk bergabung ke festival?” jawab Zen.

“Tidak ada banyak persyaratan untuk mengikuti festival ini. Jika filmmu bukan berbahasa Inggris, Anda  harus menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Kirimkan karyamu hanya lewat FilmFreeway,” timpal Adrian.

“Apakah memerlukan biaya untuk mengirimkan filmku?” tanya Zen.

“Kita berbayar. Seperti yang aku katakan di pesan, aku bisa membantumu dengan 20 persen diskon,” tutur personil Lonely Wolf itu.

“Berapa dolar?” Zen kembali bertanya.

Adrian menjawab, “Itu tergantung kategorinya. Ada banyak kategori di dalamnya, antara lain musik video, dokumenter, film pendek dan lain-lain.”

“Terima kasih banyak atas informasimu. Aku berharap filmku bisa selesai dan bisa bersaing dengan yang lain,” tulis Zen.

“Aku mendoakan yang terbaik untuk Anda. Aku akan sangat senang jika Anda berkompetisi karena karya Anda terlihat fantastik,” pungkas Adrian. 

Pada 1 Agustus 2020, Adrian Perez kembali membuka percakapan dengan Zen. Ada satu pernyataan dari direktur festival film kelas dunia itu yang membuat Zen menjadi tidak sabar untuk segera memulai proyek filmnya. Zen mencuplik satu pernyataan Adrian dan ia langsung memberikan terjemahannya.

“Jarang aku mencari film dan secara langsung mempertimbangkan untuk memberi kode unik. Jadi aku ingin mengucapkan selamat kepada Anda karena telah menarik perhatianku. Dan aku harap aku bisa membantu Anda dalam membuat platform festival agar lebih mudah diakses. Aku harap ini menjadi berita yang menggembirakan bagi Anda dan aku akan menyambut Anda dalam paket “Serigala” dan bertemu langsung dengan Anda di Festival London suatu hari nanti. Aku akan sangat menantikan kedatanganmu.” Demikian Adrian menulis pesannya.

Zen bercerita, di momen percakapan selanjutnya, Lonely Wolf menambah diskonnya menjadi 40 persen.  Ia memilih kategori Drama Fantasi berdurasi maksimal lima menit, bertarif 33 dolar atau Rp 487 ribu.  Dengan fasilitas potongan harga sebesar 40 persen, Zen cukup membayar 20 dolar atau sekitar Rp 300 ribu Rupiah.  

Zen merekam gambar Candi Prambanan dari berbagai sudut pandang untuk persiapan mengikuti Festival Film Internasional Lonely Wolf 2021 di London. (foto-foto: Ernaningtyas)

Sudah sekitar dua minggu belakangan ini, usai mengikuti pembelajaran jarak jauh, Zen merancang cerita dan menyusun jadwal pengambilan gambar. Pemberian judul akan ditentukan kemudian, sebab katanya, sangat mungkin ada perubahan di tengah jalan. Zen sudah menyelesaikan storyboard (semacam skenario) dan hari Senin (24/8) ia mulai merekam gambar. Candi Prambaban menjadi lokasi pengambilan gambar pertamanya. Selanjutnya, Zen merekam gambar di Desa Albasta Sleman. Ilustrasi musiknya ia buat sendiri. Caranya dengan mengkomposisi elemen-elemen suara alat musik yang tersedia di akun-akun gratis, ditambah bebunyian apa saja yang ia rekam di alam bebas. Salah satunya, suara gemerisik daun kering yang ia injak-injak sendiri.  

Ia bertekad menyelesaikan filmnya dengan baik namun dalam suasana tanpa beban. “Saya tidak membidik target juara, dikenal di kancah sineas dunia sudah sangat menyenangkan dan menyemangati,” kata Zen yang bercita-cita menjadi sutradara atau sinematografer.

Sinematografer idola Zen adalah Roger Deakins yang menggarap sinematografi Skyfall, 1917 dan Blade Runner 2049.  Sementara sutradara kebanggaannya Christopher Nolan dalam film Interstellar, serial Batman, Tenet dan Inception. YouTuber favoritnya adalah Agung Hapsah asal Indonesia. Ia banyak menggarap film pendek berbahasa Inggris, salah satunya “Dear Friend”. 

Ben TK dan Sam Kolder juga menjadi favorit Zen. Kedua YouTuber ini mengunggah video perjalanan wisata di media sosial. Ben TK asal Australia, Sam Kolder dari Kanada. “Kreatif, transisinya unik, seamless nggak kasar perpindahannya dan berbeda dari yang lain,” kata Zen memberikan alasannya.  

Demi mendapatkan ilmu-ilmu para idolanya itu, Zen berburu tutorial di internet. Anjas Maradita, pengunggah konten-konten kreator sekaligus kreatipreneur papan atas Indonesia, menjadi guru idolanya. Tutor asing kesukaannya adalah Kyler Holland yang banyak membeberkan ilmu tentang efek visual. Akun Youtube “Film Riot” yang banyak membahas pembuatan film juga sering menjadi rujukan Zen. 

Kegiatan Zen merekam gambar di Desa Albasta Sleman Yogyakarta. (foto-foto: Ernaningtyas)

Zen percaya, sejalan dengan waktu ia akan menguasai ilmu tentang film. Saat ini, selain menimba pengetahuan, yang ia butuhkan adalah praktek. Dengan banyak berlatih, ilmu yang selama ini telah mengendap di otaknya bisa mendapatkan penyaluran. Pengalaman akan mengasah ketrampilannya.  Karena itu di tahap belajarnya ini, Zen belum membidik target juara pada rupa-rupa lomba yang pernah maupun akan ia ikuti dalam waktu dekat. “Belum target award. Butuh proses untuk bisa meraih posisi puncak di Lonely Wolf, juga di ajang Golden Globe, apalagi berjaya di Academy Award dengan merebut piala Oscar seperti Bong Joon-ho,” papar Zen. Ia mengagumi Parasite karya si Bong pada sudut pengambilan gambarnya yang menurutnya unik. 

Dalam proses belajarnya Zen mengaku membutuhkan kawan berdiskusi. Karenanya, di dunia maya ia bergabung dengan grup Visual Sans, Visual Art dan Sarang Editor. Belum lama ini, kelompok “Sarang Editor” mengadakan jumpa darat. Di dunia maya, grup yang beranggotakan praktisi video dari seluruh Indonesia ini mengevaluasi dan me-re post karya-karya anggotanya. 

Acara jumpa darat pertama itu dihadiri hampir 20 anggota seprovinsi DIY. Agendanya membahas proyek film bersama dengan tema budaya. “Kami akan mengangkat keunikan Yogya,” kata Zen yang dalam pertemuan di Kafe Senja dan Pagi Yogyakarta itu, ia adalah anggota termuda. Zen murid SMP yang berkarakter pendiam itu berada semeja dengan kawan-kawannya yang sudah duduk di bangku SMA dan Perguruan Tinggi. Di proyek bersama itu ia mendapatkan tugas sebagai pemeran atau aktor. Film itu nantinya akan disatukan dengan semua karya anggota “Sarang Editor” di seluruh Indonesia.     

Searah jarum jam: Zen makan malam sambil menimba ilmu sinematografi lewat film “The Making of Stranger Things”; Zen (paling kanan) di acara jumpa darat “Sarang Editor”; Zen diapit personil “Sarang Editor”; Kegiatan Zen mengedit video. (foto-foto: Ernaningtyas)

Merdeka Belajar

Merdeka belajar yang sering kali sulit dijangkau nalar dan membuat pusing pikiran orang dewasa itu, ringan-ringan saja dilakukan Zen. Pengalamannya berproses sejak belia, bertumbuh menjadi kanak-kanak, menuju remaja dan perjalanannya meraih usia dewasa dipenuhi nuansa kemerdekaan. Bukan dalam arti semau gue tetapi merdeka menentukan sendiri tema belajar yang ia sukai dan bertanggung jawab pada pilihannya itu. Bagi Zen belajar, baik di sekolah atau pun di rumah, sudah menjadi sebuah budaya yang menyenangkan.         

Zen tertarik dengan film sejak balita. Awalnya ia hobi menonton film. Selayaknya bocah sebaya, kala itu ia amat menyukai fim kartun anak-anak, salah satunya Spongebob. Film karya Stephen Hillenburg ini ia tonton berulang kali. “Satu judul film Spongebob ditayangkan televisi  berulang-ulang selama beberapa tahun. Tidak bosan saya melihatnya,” tutur Zen mengenang masa silamnya. 

Waktu demi waktu berlalu. Seiring perkembangan usianya, genre film yang ia tonton kian bervariasi, seperti  horor, fiksi ilmiah, remaja, aksi, misteri. Ia menonton film Indonesia dan asing. Film Indonesia yang pernah ia saksikan antara lain Sultan Agung dan Bumi Manusia karya sutradara Hanung Bramantyo. Sementara deretan film yang paling ia sukai adalah Star Wars, Spiderman, The Invisible Man, Harry Potter, Stranger Things, The Imitation Game, Avengers Series, Joker, Interstellar, Parasite dan lain-lain.

Zen yang sudah melihat ratusan judul film itu mengaku tidak menyukai film komedi. “Aneh saja melihat film komedi, bukan tipe favorit saya,” tutur Zen yang jatuh cita berat pada film-film serius. Film “The Imitation Game” yang dibintangi Benedict Cumberbatch menjadi  idolanya. Film ini berkisah tentang drama misteri yang dilatari cerita perang. Ringan-ringan saja Zen memahami  film misteri yang rumit dalam bahasa Inggris pula. “Dari film juga saya belajar bahasa Inggris,” tuturnya.

Ibarat sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Lewat sebuah film, Zen tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga menyerap nilai kehidupan, ide membuat cerita, dan tentu saja cara membuat film. “Setiap melihat film, tidak sekadar jalan cerita yang menjadi fokus saya, tetapi saya selalu berpikir, bagaimana ya cara membuat adegan itu baik pencahayaan, transisi gambar, sudut pengambilan gambar dan proses editingnya?” imbuhnya. 

“Saya tertawa geli ketika tahu bahwa adegan mobil melaju kencang menghindari lompatan material letusan Yellow Stone Park dalam Film 2012, ternyata terjadi di studio. Mobil yang melaju kencang itu cukup bergoyang-goyang, gambar layar lebar pada latar belakangnyalah yang bergerak. Sementara letusan gunung dan lompatan bebatuan berlangsung di tahap editing,” papar Zen.                     

Kiri: Zen kelas VI SD, belajar biota air tawar di areal persawahan. Kanan: Zen (ketiga dari kanan) dalam pentas memperingati Hari Musik Nasional bersama kawan-kawan SD. (foto-foto: dokumentasi pribadi)

Dari kegiatan menonton film, akhirnya Zen tertarik membuat video dan menjadikannya sebagai hobi. Sejauh ingatannya, ia mulai mencoba-coba merekam gambar hidup pada kelas tiga Sekolah Dasar (SD). Berbekal hape android, ia mengabadikan obyek yang ada di sekitaran tempat tinggalnya. Aktivitas itu itu gayung bersambut dengan agenda sekolah. “Di kelas enam ada proyek membuat film. Kami dibagi dalam tim dan harus menyelesaikan film itu mulai dari menemukan ide cerita, menulis skenario,  menentukan pemain, membuat jadwal, mengambil gambar, mengedit film, sampai memasarkannya dengan penonton para orang tua murid dan adik kelas. Harga satu tiket lima ribu rupiah,” cerita Zen panjang lebar. Di akhir pemutaran film itu, ada agenda “Meet and Greet” (bertemu dan menyapa). Semua kru film dan pemain berjumpa dengan para penonton dalam paket acara bincang-bincang santai.

Zen beruntung karena ia bersekolah di tempat yang memberikan keleluasan untuk menyalurkan hobi. Nyaman-nyaman saja ia melewatkan hari-hari di luar jam sekolah dengan rupa-rupa aktivitas yang ia suka. Tak ada PR (Pekerjaan Rumah) dari sekolah yang menjadi kewajibannya. Saat duduk di SD, kalaupun ada pekerjaan rumah (PR) cukup berupa kegiatan membaca dan meresensi buku. Ulasan ditulis, mulai dalam bentuk paling sederhana di kelas satu sampai yang paling mendalam di kelas-kelas yang lebih tinggi. Buku-buku kesukaan Zen kala itu adalah fiksi, fiksi ilmiah, cerita petualangan Enid Blyton, dan novel remaja. 

“Oh ya, ada satu lagi tugas dari sekolah,” sela Zen. Wujudnya adalah berpartisipasi dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dan membiasakan pola hidup sehat. Karena itu, sejak SD Zen sudah terbiasa mandiri. Ia rutin membersihkan kamar sendiri, menyapu seluruh lantai rumah, dan mencuci peralatan makannya. Olah raga setiap hari dan mengkonsumsi makanan sehat menjadi agenda rutin Zen tanpa intervensi orang lain untuk mengingatkannya. Ia gemar senam, lari di tempat juga bermain basket dengan keranjang kardus dan bola plastik. Sementara pepaya, pisang, kelor dan bayam adalah buah dan sayur kesukaannya.

Zen bercerita bahwa guru di sekolah dasarnya duduk semeja dengan anak-anak dalam formasi saling berhadap-hadapan seperti perjamuan di meja makan. “Kami selalu berdiskusi dan mencari banyak informasi bersama-sama, tentang sain, matematika, seni, berkebun dan lain-lain lewat buku referensi atau mencari  di internet. Tidak ada buku paket. Materi belajar disampaikan lewat proyek. Kami belajar langsung dari tempatnya seperti pergi ke sawah, kebun sekolah, sungai, umbul, lapangan, rumah Pak Dukuh dan ke tempat-tempat yang jauh dari sekolah seperti Gedung Agung, Museum Wayang, pembangkit kincir angin, candi Prambanan dan banyak lagi,” cerita Zen.    

Di rumah Zen tidak direpotkan kegiatan sekolah dalam bentuk menyelesaikan soal-soal, menghafal rupa-rupa materi pelajaran atau mengikuti les rupa-rupa mata pelajaran demi meraih nilai tinggi. Nilai rapor di SD Zen berupa diskripsi, bukan angka, kecuali jika ada permintaan khusus dari orang tua dan untuk kepentingan mendaftar di sekolah lanjutan. Diskripsi itu berisi proses belajar dan pencapaian anak.  Sekolah yang berpusat pada pengembangan bakat anak ini tidak memberikan ranking pada hasil belajar.  Proses belajar mendapatkan penghargaan lebih besar ketimbang  nilai akhir. 

Karena itu, di luar sekolah, Zen bisa sangat leluasa menyalurkan hobinya antara lain: menonton film, melukis, membaca cerita, bermain game, dan membuat video.  

Awalnya Zen merekam gambar menggunakan hape dengan hasil akhir apa adanya. Lambat laun ia mulai mempelajari editing video dengan menggunakan program Kinemaster. Ia belajar secara otodidak. Internet menjadi wahananya untuk mendapatkan tutorial cara mengedit itu. Tak masalah baginya bila si tutor menyampaikan materi dalam bahasa Inggris. Sebab, SD Zen menggunakan dua bahasa, yakni Inggris dan Indonesia. Selain itu, hobi Zen menonton film asing melatih kepekaan indera pendengarannya terhadap kosa kata bahasa Inggris. Soal arti, bila tidak paham, ia membuka kamus virtual. Tetapi itu tak sering ia lakukan. Sejauh pengalamannya, kendati disajikan dalam bahasa Inggris, tutorial yang dilengkapi sajian praktek itu membuatnya paham. Zen mengunggah video karyanya di akun YouTube “Zen Art Studios” dan Instagram @Zenartstudios.

Kiri: Zen (batik merah) bersama kawan-kawan di SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta. Kanan: Zen (kedua dari kanan) belajar dan bermain di sungai bersama kawan-kawan SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta. (foto-foto: dokumentasi pribadi)

Di SMP, hobi membuat dan menonton film berlanjut. Untunglah, ia masuk ke sekolah yang setipe dengan SD-nya. Ketika banyak siswa lain menonton film di akhir pekan untuk melepas kepenatan belajar sehari-hari, Zen melihat film kapan pun ia mau. Banyak pilihan yang selama ini menjadi sumber untuk menyalurkan hobinya itu. Jika uang saku yang ditabungnya cukup untuk membeli tiket dan ada film yang menarik perhatiannya, ia pergi ke bioskop. Kadang sendiri, suatu kali bersama kawan-kawan sekolah, terkadang ditemani ibunya. Sehari-hari, Zen memburu film-film yang bisa diakses lewat internet. 

Hobi membuat video juga terus ia salurkan. Kepiawaiannya mengedit film ia tingkatkan dari waktu ke waktu. Awal tahun 2020, Zen menekuni editing video dengan lebih serius. “Saya mempelajari Adobe Premier Pro dan rupa-rupa program untuk kepentingan editing film secara otodidak,” tutur Zen.

Wabah covid 19 tak menghalangi Zen berproses dengan filmnya. Selepas belajar jarak jauh, ia menonton film, berguru sinematografi lewat turorial virtual dan mengedit video. Karena tidak bisa pergi keluar rumah untuk mengambil gambar sendiri, Zen berburu potongan-potongan film di akun-akun yang menyediakannya secara gratis. Jadilah rupa-rupa video pendek yang sudah ia unggah di akun pribadinya: India, Sweet Scar, Suport Your Culture, Moving Forward, Aventador, Predator Energy, Caffe, Indonesia, Cretaifity.    

Creatifity yang berdurasi 19 detik itu ia rekam sendiri gambarnya di dalam rumah. Video singkat itu ia buat untuk kompetisi film pendek. Penyelenggaranya The PanasdalaMovies. Di ajang itu ia kalah. Ini membuat ibunda Zen, Nina Hafez, bertanya-tanya. Creatifity kalah dalam kompetisi di tanah air, bagaimana mungkin ia mendapatkan pujian fantastik dari Lonely Wolf? Apa yang menjadi dasar festival film internasional di negeri Ratu Elizabeth itu menggunakannya sebagai rujukan untuk mengundang Zen?” tanya Nina Hafez.

Nina, demikian ia akrab disapa, menduga bahwa ada kemungkinan lewat film Creatifity Lonely Wolf mengendus bakat Zen. Institusi kaliber dunia itu bisa jadi tidak menggubris hasil akhir. Pengalamannya puluhan tahun di bidang film, mungkin membuat Lonely Wolf piawai meneropong bakat sineas seseorang lewat karya filmnya, kendati karya itu belum mencapai level sempurna. “Saya tidak tahu persis, apa alasan Lonely Wolf memberikan komentar fantastik pada film Creatifity. Atau mungkin film itu memang fantastik ya?,” tanya Nina yang mengaku awam soal dunia film.  

Apa pun alasan film Creatifity menjadi dasar Lonely Wolf untuk mengundang Zen ikut berkompetisi di Festival Film Internasional London itu, Nina tak menggubris. Sebab, ia lebih menghargai proses. “Biarlah  anak saya berproses dalam menyelesaikan karyanya. Karena ini tantangan besar, saya yakin Zen akan berusaha sebaik mungkin mempersiapkan festival di London itu,” kata Nina. 

Zen mengerjakan tugas sekolah, menanam daun bawang di wadah plastik bekas merah putih untuk memperingati 75 tahun Indonesia merdeka. (foto: Ernaningtyas)

Sejak mendampingi Zen berdinamika mulai balita hingga remajanya, Nina selalu menekankan pada proses. “Kalau anak sadar proses, ia tidak akan pernah meraih puncak lewat jalan pintas,” tambahnya.   Nina mencontohkan, menyontek, menjiplak skripsi, korupsi, suap menyuap, adalah contoh nyata orang-orang yang bernapsu mencapai puncak lewat jalan pintas tanpa mempedulikan proses.

“Saya betul-betul menekankan agar Zen menikmati proses dalam suasana belajar yang merdeka tanpa tekanan,” pungkasnya. Untunglah, Zen mendapatkan SMP yang kondusif untuk menjalani proses belajar yang merdeka itu. SMP Eksperimental Mangunan yang didirikan budayawan kondang Romo JB Mangunwijaya itu setipe dengan pemikirannya. Selain fokus pada hobinya, Zen tetap menjunjung tinggi tanggung jawabnya sebagai murid di sekolah yang terletak di bilangan Kalasan Yogyakarta itu. Selama empat semester berproses di SMP, ia banyak meraih nilai A dan B di rapornya. 

Beberapa waktu lalu, Zen mulai membidik SMA. Ia ingin melanjutkan pendidikan menengah atasnya di Kolese De Brito Yogyakarta. Ini sebuah SMA swasta legendaris yang juga menekankan pengembangan minat dan bakat anak. Ada banyak hal yang menarik Zen di tempat itu. Salah satunya kebebasan. Bebas tapi bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya, menghormati sesama, berempati kepada orang miskin dan peduli lingkungan. Demikian informasi yang didapat Zen dalam penelusurannya di dunia maya tentang profil SMA idolanya itu. 

Jika banyak kasus anak lulusan SMA terjebak kebingungan menentukan mau kuliah di mana dan mengambil jurusan apa, sejak SD Zen bercita-cita kuliah di Perancis. “Saya ingin memperdalam Teknologi Informasi (TI) dan film di negara Eiffel itu,” kata Zen.

Alasan mengapa Perancis menjadi pilihannya adalah, kota-kota di negara itu indah, klasik, banyak bangunan tua bersejarah dan masyarakatnya santai. Zen juga  terinspirasi pebola Paul Pogba dan  kehidupan seni lukis di negera Perancis yang  kental. Zen yang telah beberapa kali mengikuti pameran lukisan di kota Yogya itu juga ingin mengembangkan bakat melukisnya sebagai hobi. “Saat ini saya sudah belajar sedikit-sedikit Bahasa Perancis secara otodidak,” tambahnya.

Zen (paling kiri) fokus mengerjakan evaluasi di SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta. (foto: dokumentasi pribadi)

Mengubah Pola Pikir

Di awal jabatannya sebagai Menteri Pendidikan Nasional, Nadiem Makarim melontarkan ide perihal merdeka belajar. Saat dimintai komentarnya terhadap ide mas menteri itu, Nina Hafez menjawab, “Ide Pak Nadiem seperti gunung yang tiba-tiba menyembul di keramaian pasar, bikin heboh, membuat bingung, dan memicu rupa-rupa pemahaman,” tuturnya. Ia mengakui ide itu sebagai sebuah gagasan yang brilian. Sebab, demikianlah semestinya belajar. Ia harus berada pada atmosfer kemerdekaan.    

Nina sadar diri, sebenarnya bukan kapasitasnya untuk mengomentari itu. Ia hanyalah ibu rumah tangga yang sedang mendampingi seorang anak bertumbuh, bukan pakar pedagogi pun bukan pribadi yang berkutat dengan dunia pendidikan formal. Sebagai pihak yang bukan siapa-siapa ia hanya bisa menyaksikan, betapa banyak ibu di kampungnya kebingungan, merdeka belajar seperti apa yang mesti dijalani buah hati mereka. 

“Berdasarkan pengalaman saya selama ini, ada satu hal yang mesti ditempuh sebelum merealisasikan  ide merdeka belajar, yakni mengubah pola pikir,” tegas Nina. Pengubahan pola pikir itu pertama-tama harus berlangsung di tataran orang tua. Nina mengutarakan, konsep merdeka belajar Mas Menteri pasti berbeda dengan sistem kurikulum dan target pencapaiannya yang selama ini dijalankan sekolah formal.  “Ketika ada perbedaan tanpa ada perubahan pola pikir, pasti akan menimbulkan protes dan selanjutnya akan memicu keserampangan ketimbang sebuah gerak langkah maju yang rapi, serempak  dan leluasa,” tambahnya.

Nina menceritakan pengalamannya. Ia memiliki kawan yang memasukkan anaknya ke sekolah dasar inklusif. Harapan si kawan, di tempat itu anaknya bisa menempuh pendidikan secara bebas tanpa tekanan. Tetapi, kemudian ketika ia menyaksikan bahwa di sekolah si anak lebih banyak bermain ketimbang belajar, nilai rapor berupa pemaparan cerita bukannya angka-angka, si kawan melancarkan protes. Protes itu berlanjut ketika si anak tak pernah mendapatkan PR berupa soal-soal tanya jawab.

Pembelajaran Jarak Jauh. Zen membedah persoalan sampah plastik kemasan makanan, sekaligus belajar mengukur volume benda padat. (foto: Ernaningtyas)

Pengalaman Nina yang lain adalah soal belajar membaca di usia Taman kanak-kanak (TK). Konon, peraturan menyebutkan bahwa pelajaran membaca semestinya dilakukan ketika anak duduk di kelas satu SD. “Tetapi, betapa orang tua bangga jika anak-anak mereka bisa membaca di usia jauh sebelum SD-nya tiba,” tuturnya. Ia banyak menemukan kasus bahwa orang tua begitu bahagia ketika mendapati putra putri mereka mampu membaca di usia yang sangat belia. Tetapi, para orang tua itu seperti tidak peduli ketika di usia selanjutnya anak-anak mereka hanya bisa membaca tanpa tahu makna yang terkandung di dalamnya. “Inilah yang membuat anak terjebak pada hafalan,” imbuhnya. 

Soal ranking juga dilihat Nina sebagai satu hal mesti direvolusi ketika merdeka belajar benar-benar dilaksanakan. Menurutnya, merdeka belajar membebaskan anak berkembang sesuai minat dan bakatnya, karenanya untuk menakar keberhasilan tidak bisa dilihat lewat indikator ranking. Sebab, ranking mengukur keberhasilan pada semua bidang pelajaran. “Acapkali saya melihat betapa orang tua bangga dengan ranking. Usai penerimaan rapor misalnya, pasti para orang tua saling bertanya ranking berapa anakmu?” kata Nina. Pujian pasti ditujukan pada anak-anak yang nangkring di ranking atas. Sebaliknya, betapa mindernya para orang tua pemilik anak yang mendapatkan ranking rendah.

Mengukur keberhasilan lewat ranking membuat para orang tua berlomba-lomba memasukkan buah hati mereka ke tempat-tempat les. Demi mendongkrak nilai pada pelajaran yang dianggap kurang bisa dikuasai anak. “Pagi sekolah, sore les matematika dan bahasa Inggris, otak anak diperas-peras, kapan bermainnya?” tambahnya.

Nina memaparkan, jika pola pikir orang tua sudah berubah, maka merdeka belajar akan ikut terkondisikan, pelan tapi pasti. Karena itu, sangat penting untuk menjadikan orang tua sebagai agen perubahan dalam membangun merdeka belajar. Perubahan pola pikir itu selayaknya sebuah infratsruktur. Ia menjadi pondasi atau jalan untuk mencapai tujuan.

Di sekolah, dalam semangat merdeka belajar, orang tua akan protes kalau guru sekadar berbicara menyampaikan materi dan lupa mengajak anak-anak berdiskusi. Orang tua pasti menuntut guru agar anak-anak mereka diajak berdinamika di luar kelas. Orang tua tidak akan memasukkan anak mereka les pada mata pelajaran yang nilainya rendah. Di alam merdeka belajar, nilai rendah mengindikasikan bahwa si anak tak memiliki minat di situ. Justru pada pencapaian nilai yang tinggi, kemampuan si anak dikembangkan. Sudah lazim anak mencapai nilai tinggi mata pelajaran yang disukainya.

Zen, fokus mengambil gambar Candi Prambanan, Yogyakarta. (foto: Ernaningtyas)

Di rumah, dalam nuansa merdeka belajar, orang tua tidak akan sewot melihat anaknya memukul-mukul kaleng bekas. Suara cempreng yang menggampari indera pendengaran itu bagi orang tua sungguh mengganggu. Tetapi bagi si anak, ia mungkin saja sedang membayangkan diri selayaknya Gilang Ramadan di belakang drum, di atas panggung terhormat, di hadapan tamu-tamu istimewa. Para orang tua pun tak akan pernah melarang anak-anak mereka hujan-hujanan. Sebab, aktivitas yang acapkali dikhawatirkan memicu  masuk angin itu, di mata anak adalah sesuatu yang asyik. Siapa tahu lewat kebiasaannya bermain hujan, anak lebih mencintai alam semesta. Kelak mungkin ia akan menjadi tokoh lingkungan penyelamat bumi lewat konservasi sumber-sumber air. Para orang tua pun menjadi maklum, jika anak-anak mereka berusaha mati-matian mempertahankan pendapat. Sebab, siapa tahu si anak kelak menjadi wakil negara di meja perundingan PBB yang membahas penyerobotan pulau terluar Indonesia oleh negara tetangga.     

Pola seperti itu akan membuat anak senang belajar. Ketika anak melakukan sesuatu dengan senang, otomatis akan terjadi pengulangan. Budaya belajar dengan media apa saja, entah di sekolah juga di rumah, akan berlangsung dengan sendirinya. Dan ini membuat anak-anak bahagia. Rasa bahagia membuat anak rindu sekolah juga bersemangat melakukan banyak eksperimen di rumah.

Mengubah pola pikir orang tua adalah satu dasar yang penting. Jika pemerintah serius dengan merdeka belajar ini, harus ada kampanye yang bersifat masif. “Seperti kampanye pada program imunisasi anak nasional,” kata Nina. Kampanye itu akan membuka mata dan hati orang tua, bahwa pola belajar di sekolah yang kental dengan kurikulum dan pencapaian target seperti saat ini, sama saja membebani anak dengan sekarung beras di lintasan lari. Si anak mencapai garis finis dalam kondisi kepayahan total.

“Bukankah lebih menggembirakan jika anak berlari mencapai finish tanpa beban yang kelewatan?  Bukankah tanpa beban berat anak pun bisa mencapai garis finish?” tambahnya. Bila diibaratkan sekarung beras itu kurikulum, maka tugas selanjutnya adalah menyiapkan guru, sumber daya manusia (SDM) paling penting dalam agenda merdeka belajar. Atmosfer merdeka belajar membutuhkan guru yang kreatif dan sekolah yang mampu melahirkan “warna baru” isi “karung beras” itu. Kebaruan itu ada pada implementasi di lapangan, agar kurikulum itu menjadi ringan, menyenangkan, tidak membebani. Pemerintah cukup sebagai pihak yang berperan di ranah regulasi.

Nina menyatakan, tanpa mengubah pola pikir orang tua, Nadiem Makarim dengan merdeka belajarnya  ibarat membangun rumah  tanpa pondasi. Bagus penampakannya, tetapi rapuh konstruksinya. Rumah itu mudah roboh. (Ernaningtyas)

Talentschool, Profil Sekolah Merdeka

Jayakarta News – Kawasan di sisi selatan Gunung Merapi itu bernama Pakem. Letaknya yang tinggi membuat zona ini terasa sejuk hampir di sepanjang hari. Bila langit cerah, pucuk gunung di sisi utara, hamparan pepohonan dan angkasa di atasnya, menampakkan diri serupa lukisan alam raksasa. Petak-petak sawah dan pepohonan masih mendominasi areal di antara lahan-lahan fungsional lainnya seperti permukiman, kantor, sekolah, pasar, dll.

Di satu bagian wilayah Pakem, berdiri SMP Talentschool. Ini sebuah sekolah inklusif. Pada Selasa 16 Juni 2020, sekolah yang hadir sejak tiga tahun lalu itu mencatat sejarah kelulusan murid angkatan pertamanya. Tiga orang jumlahnya, satu siswa inklusif, dua pelajar reguler: Belinda Azalia Sispravasthi, Upasara Wulung dan Alviresta Christyola. Wisuda kelulusan digelar di Erista Garden, sebuah area sawah di Dusun Demen, Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta.

Talentschool sekolah alam. Konsepnya homeschooling. Tak ada seragam khusus, tak ada buku paket.  Pembelajaran dilakukan berdasarkan student centre. Murid adalah subyek, guru fasilitator. Pada acara seremoni kelulusan siswa SMP perdana, semua siswa yang lulus menerima sertifikat. Dua siswa yang akan melanjutkan pendidikan di sekolah lain, masing-masing menerima sebuah pot berisi tanaman jeruk kingkit (triphasia trifolia). Tanaman buah karya siswa sendiri ini diharapkan terus dipelihara di rumah dan menjadi kenangan indah selama mereka belajar di Talentschool.

Keluarga Besar Talenschool. (Foto: Thomas Hartanta)
Thomas Hartanta, kepala sekolah dan pendiri Talentschool. (ist)

Merdeka Belajar

Thomas Hartanta, Kepala Sekolah sekaligus pendiri, ketika memberikan sambutan pelepasan kelulusan siswa SMP Talentschool mengatakan bahwa dunia pendidikan nasional sedang mengalami transisi bahkan revolusi. “Pendidikan yang semula berupa instruksi dari atas, mulai dari Kementerian sampai ke siswa berubah menjadi suatu gerakan dari bawah ke atas, seperti konsep Mas Menteri Nadiem Makarim pada wacana merdeka belajar,” papar Thomas. Siswa siswi Talentschool beruntung, sebab, jauh sebelum konsep merdeka belajar dilontarkan Menteri Pendidikan Nasional, sekolah ini telah menjalankannya sejak awal berdiri. 

“Merdeka belajar yang kami jalankan, murid menentukan sendiri materi yang akan dipelajari,” kata Thomas. Ini penting, sebab setiap siswa memiliki selera masing-masing, berdasar pada bakat dan minatnya. Tak sekedar memilih materi, murid pula yang menentukan metode belajar. Jika harus melakukan presentasi, siswa juga yang menentukan caranya, entah lewat puisi, membuat lagu atau menjelaskan mindmap (kata-kata kunci). Pengamatan lapangan juga dibiasakan dalam proses belajar di Talentschool. Lewat observasi, daya ingin tahu siswa mendapatkan jawaban lebih lengkap dan dalam.

Salah satu bentuk observasi favorit adalah berkebun. Segala hal ihwal tentang proses hidup tumbuhan, mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan, pemanenan, pengolahan hasil sampai dengan manfaat tanaman bagi lingkungan dan makhluk hidup, diamati siswa. Murid Talentschool mengerjakan sendiri tahap demi tahap proses bertanam itu dari awal hingga akhir. 

Ketika bahan, metode dan observasi dipilih dan dilakukan sendiri, kemampuan siswa untuk menjadi paham relatif lebih mudah. Sebab, tidak ada keharusan-keharusan yang kaku, instruksional dan membebani, seperti yang terjadi pada pembelajaran dimana guru memberikan materi, murid mendengarkannya, lantas menghafalkannya ketika waktu evaluasi tiba.  

Tak hanya proses menyerap ilmu. Talentschool juga mendorong agar siswa mampu mengkomunikasikan pemikiran, ide, atau apa saja kepada pihak lain. “Siswa diberi kesempatan mengemukakan pendapat setelah pengamatan selesai,” tutur Thomas. 

Melakukan persentasi dan mengemukakan pendapat adalah satu bentuk pembangunan karakter yang penting untuk mempersiapkan masa depan anak. Di sini siswa belajar berbicara secara runtut, argumentatif berdasarkan logika. Kemampuan berkomunikasi seperti ini penting dimiliki setiap anak untuk berproses menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi, memasuki dunia kerja sampai dengan ketika mereka berdinamika di kehidupan yang lebih luas.    

Wulung, Belinda, dan Ola. Lulusan pertama SMP Talentschool. (Foto: Thomas Hartanta)
Belinda (kiri) dan Bunda Nining (kanan). (ist)

Gembira dan Pede

Merdeka belajar di Talentschool membuat para siswa selalu gembira dalam menjalani step demi step proses pengembangan diri. Ketiganya kompak menyakan bahwa SMP ini membentuk pribadi-pribadi yang ceria dan penuh percaya diri. Belinda Azalia Sispravasthi, Upasara Wulung dan Alviresta Christyola, murid angkatan pertama membagi pengalaman mereka.

Belinda Azalia Sispravasthi lulus dari SD My School yang berkonsep homeschooling. Karena itu, saat memilih SMP, Belinda pun mencari sekolah yang berkonsep sama. “Saya memilih Talentschool karena sekolah ini mirip SD saya dulu,” tutur Belinda, nama panggilannya. 

Belinda siswi istimewa. Ia mantap masuk SMP Talentschool karena belajar di tempat ini tidak sepenuhnya akademis dan proses belajarnya menyenangkan “Banyak praktek dan banyak kegiatan di luar sekolah, para pendamping luar biasa dan teman saya baik-baik,” cerita Belinda. Sementara sang bunda, Nining, menyatakan bahwa meskipun Talentschool sekolah alam dan banyak melakukan prakek, biaya pendidikan di tempat ini tidaklah mahal. 

Selulus dari Talentschool, Nining mengakui bahwa putri keduanya itu menjadi pribadi yang penuh percaya diri. Kemampuannya membaca, menulis dan berhitung kian mantap. “Belinda cekatan memainkan alat musik gamelan, berani tampil di depan orang lain baik dalam presentasi maupun pentas seni,” papar Nining. 

Upasara Wulung

Upasara Wulung juga merasakan bahwa sekolah di Talentschool membuatnya senang. “Bebas, santai, tidak underpressure, di sekolah seperti berada di tengah keluarga, guru tidak galak,” kata Wulung, panggilan akrabnya. Ocke Sekarini, sang bunda, memberikan testimoninya. Wulung nyaman sekolah di Talentschool. Ini tampak dari perilakunya yang selalu bersemangat setiap kali berangkat ke sekolah. “Tidak ada keluhan atau rasa aras-arasen (malas) yang mengarah kepada kondisi tidak nyaman, padahal ada satu murid yang nyebelin dan satu murid yang akrab dengan Wulung pindah ke SMP lain. Tetapi Wulung tetap bisa adaptasi dan enjoy,” papar Ocke, panggilan akrabnya.

Ocke bercerita saat-saat awal Wulung memilih Talentschool. Nilai hasil ujian SD putra sulungnya itu tak sesuai harapan. Akhirnya, daripada bersekolah di SMP swasta ecek-ecek, Wulung memilih homeschooling. Ada dua opsi homeschooling waktu itu, Ansa dan Talentschool. Ansa dicoret, sebab sekolah rumah ini tidak masuk setiap hari, hanya dua atau tiga kali seminggu jadwal sekolah berlangsung. Akhirnya Wulung memilih Talentschool. “Kebetulan di sini ada sosok Pak Thomas yang direkomendasikan oleh seorang kawan saya,” tambahnya. Kebetulan pula, Homeschooling Talentschool berlokasi tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Kegiatan berkebun murid Talentschool. (Foto: Thomas Hartanta)

Ada banyak perkembangan yang dirasakan Wulung selama tiga tahun berdinamika di Talentschool. “Rasa percaya diri meningkat. Saya berani berbicara di depan orang-orang yang belum saya kenal dan melakukan story telling di hadapan banyak orang,” kata Wulung. Ia menambahkan bahwa Talentschool menumbuhkan rasa cinta lingkungan dan memberikan pengalaman istimewa melakukan kegiatan-kegiatan di luar kelas bahkan di luar lingkungan sekolah. Di tempat ini pula Wulung mengasah ketrampilan bermain musik gamelan. Di lingkup akademis, Wulung mendapatkan pengalaman luar biasa. Ia bukan penyuka matematika dan fisika. Namun, sosok Thomas bisa membuatnya memahami dua bidang studi yang sama sekali bukan favoritnya itu, lewat cara-cara yang mnyenangkan.

Ocke merasa lega. Sebab, Wulung lolos tes masuk ke sekolah favorit di kota Jogja, SMA Bopkri 1.  Saat tes wawancara berlangsung, Wulung sangat pede menghadapi dewan penguji dalam sebuah komunikasi berbahasa Inggris. 

Alviresta Christiola

Senada dengan Belinda dan Wulung, Alviresta Christiola juga menyatakan bahwa Talentschool adalah sekolah yang ia impikan. “Sekolah di Talentschool menyenangkan, ada kebebasan dan langsung praktek,” kata Ola, sapaan akrabnya. Sebelumnya, Ola sempat masuk sebuah SMP formal. Namun ia tak betah berproses di sekolah dengan sistem klasikal dan sarat beban tugas. Untunglah, ia menemukan Talentschool yang kebetulan terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Ola bercerita, awalnya ia tak memiliki rasa percaya diri. Setelah berproses di Talentschool  pede-nya tumbuh dan kian menguat. “Karena sering presentasi saya menjadi pribadi yang berani tampil untuk menyampaikan gagasan, ide, atau pemikiran di depan banyak orang,” tutur remaja putri yang ingin melanjutkan sekolah di SMK Negeri 1 Kalasan, Yogyakarta.

Kendala

Thomas Hartanta mengakui, banyak kendala yang ia hadapi selama berdinamika di dunia pendidikan homeschooling yang inklusif. “Di sekolah seperti ini, perbedaan kecerdasan masing-masing anak cukup besar. Kompetensi dasar yang diminta kurikulum sangat bisa terlewatkan,” kata Thomas. 

Untuk mengatasinya Thomas menjalankan strategi khusus. Lulusan ITB yang telah lama malang melintang di dunia pendidikan homeschooling ini menjalankan strategi pengelompokan. Setiap grup beranggotakan anak yang memiliki tingkat kecerdasan hampir sama.  Selain itu, ia dibantu guru pendamping lainnya menemani masing-masing anak belajar secara individual. “Supaya kompetensi dasar yang diminta bisa dipenuhi semua, setiap akhir semester dilakukan evaluasi bersama siswa untuk melihat kompetensi dasar mana yang belum tercapai,” paparnya. 

Ke depan, pencarian bentuk merdeka belajar akan merebak di dunia pendidikan tanah air. Cita-cita Thomas, Talentschool bisa menjadi model sekolah inklusif yang berpusat pada pengembangan minat dan bakat masing-masing anak dari jenjang SD hingga SMA. Untuk itu, pihaknya menjalin rupa-rupa kerjasama dengan berbagai lembaga lain maupun masyarakat luas. (Ernaningtyas)

Salam – Mangunan, Potret Sekolah Merdeka

Jayakarta News – Bangunan sekolah Sanggar Anak Alam (Salam) tak berpagar. Tiga gedung tempat anak-anak belajar terpisah oleh petak-petak sawah. Tepat di depannya, sungai irigasi dari arah utara berbelok ke timur menyalurkan air yang memberikan kesan sejuk dan segar sepanjang hari. Jalan setapak yang tercipta di pinggir pengairan ini memberi alur koneksi bagi siapa saja yang hendak bergerak dari jalan raya menuju gedung sekolah itu.

Atau sebaliknya. Lewat pematang yang sama pula mereka berjalan kaki meninggalkan areal sekolah yang beralamat di Nitiprayan, Kasihan, Bantul Yogyakarta ini. Dari pusat kota Yogyakarta, tempat ini berjarak sekitar empat kilometer ke arah barat daya.

Ke arah timur laut sejauh sekitar 12 kilometer dari titik nol Yogyakarta ada sekolah serupa, Sekolah Eksperimental Mangunan. Sama dengan Salam, sekolah ini berjarak beberapa puluh meter dari jalan besar serta berdekatan dengan lahan persawahan. Bukan pematang seperti Salam yang digunakan sebagai jalur penghubung lalu lintas dari dan ke tempat ini, tetapi sebuah gang kecil yang cukup dilewati mobil tanpa bisa bersimpangan. Tak seperti Salam yang setiap gedungnya dikitari lahan sawah. Di Mangunan, lahan persawahan hanya bisa disaksikan di belakang kompleks sekolah saja.     

Sekolah Eksperimental Mangunan bertetangga dengan rel kereta api jurusan Yogya-Solo. Puluhan kali sehari, deru mesin kereta mengirimkan suara khas pemecah keheningan di sekolah yang menyatu dengan permukiman warga kampung Mangunan, Kalitirto, Berbah, Sleman ini.

Bila di tempat ini sedang riuh ocehan anak-anak berfrekuensi tinggi, suara sepur itu sekejapan membaur, menambah gaduh, kemudian lenyap menjauh. Bila keheningan sedang mendominasi tempat ini, begitu kuat bunyi itu menggampari gendang telinga, seolah-olah si kereta sedang melaju kencang persis di samping bangunan kelas. Seperti Salam, Mangunan pun terbuka, tak berpagar. 

Suasana belajar di Salam. (foto: ernaningtyas)

Salam juga Mangunan, sepertinya tak menunjukkan tanda-tanda bahwa tempat itu adalah sekolahan. Salam terkesan seperti rumah yang pemilikya jatuh cinta pada areal persawahan dengan segala pernak-perniknya: irigasi yang hidup oleh gemericik air, petani dengan atribut caping dan cangkul di pundak, traktor yang berputar-putar membajak tanah, suasana panen dan tanam yang khas, serta teriakan para petani yang sedang berkomunikasi satu sama lain di tempat terbuka.

Sementara Sekolah Eksperimental Mangunan lebih cocok sebagai lansekap perkampungan. Ruang-ruang kelas sekolah Mangunan serupa rumah-rumah kayu mungil berdinding bambu saling berhimpitan namun teratur. Lapangan besar di belakang pendapa selayaknya tempat berkumpul warga di sebuah perkampungan adat yang khas.

Salam dan Mangunan unik lagi berkarakter. Siswa-siswinya tak berseragam. Tak ada gepokan buku paket berjejalan di tas-tas yang membebani punggung-punggung atau pundak-pundak para murid. Tak ada pembatas antara guru dan murid. Keduanya sejajar, duduk bersama, akrab, selayaknya relasi antarsahabat yang sedang mengobrol santai.

Kurikulum yang kaku dan instruksional tak berlaku di kedua tempat ini. Ringan, tanpa beban, gembira dan bebas merdeka tampak dari wajah-wajah mereka. Beginilah suasana belajar anak-anak Salam dan murid-murid Sekolah Eksperiental Mangunan.

Suasana belajar di Salam. (foto: ernaningtyas)

Salam berstatus sebagai PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Posisi demikian membuatnya luwes mendampingi anak-anak berposes. Tak ada beban kurikulum drop-dropan, bebas buku paket dan tak ada buku latihan soal-soal. Murid-murid Salam  belajar apa saja dengan cara melakukan riset. Tema penelitian bebas. Anak-anak memilih sendiri topik eksperimennya. Apa saja yang memikat atau menarik perhatian, boleh mereka jadikan bahan eksplorasi.

Semuanya terkesan lokal dan dekat dengan kehidupan keseharian anak-anak. Ada yang meneliti batik, yang lain tertarik dengan tanaman herbal bahan dasar jejamuan, ada pula yang mempelajari kerang lengkap dengan cara pengolahannya serta yang mendalami masalah seputar kopi pun ada. Setiap anak memiliki ketertarikannya masing-masing. Dengan kata lain, jika ada seribu kepala di Salam, ada seribu ide pula yang siap dieksekusi menjadi tema penelitian.

Dari satu tema riset, anak-anak bisa belajar aneka hal  yang saling terkait. Misal tema: mengolah singkong. Sambil memasak, anak-anak belajar biologi tentang tumbuhan singkong yang berakar serabut, bertulang daun menjari sampai belajar cara budidaya tanaman itu. Pelajaran matematika pun ikut serta. Mereka belajar hitung-hitungan atau mengukur berat tatkala menakar bahan seperti satu kilogram singkong, setengah kilogram gula Jawa, satu sendok teh garam, dll.

Bahasa pun masuk ketika anak-anak menyusun resep atau mempresentasikan hasil masakan. Tak hanya bahasa Indonesia tetapi juga yang lainnya seperti Jawa dan Inggris. Hitung-hitungan ekonomi tak ketinggalan pula. Ketika hasil masakan singkong itu dipasarkan, anak-anak akan tahu cara menghitung harga jual sekaligus hasil akhirnya, laba ataukah rugi. Semakin tinggi tingkatan kelas, semakin mendalam yang mereka pelajari dari tema memasak singkong ini. Kian tinggi jenjang kelas pula kian mengerucut pada tema yang lebih spesifik.        

Upacara Sumpah Pemuda di Sekolah Mangunan. (foto: ernaningtyas)
Siswi SMP Eksperimental Mangunan berbaju daerah pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2019. (foto: ernaningtyas)

Begitu juga murid-murid Sekolah Eksperimental Mangunan. Sekolah yang dirintis rohaniwan Katolik YB Mangunwijaya ini memiliki kurikulumnya sendiri, kurikulum Mangunan. Berstatus sebagai sekolah formal, membuat sekolah ini mengikuti pola seperti sekolah pada umumnya dengan mata pelajaran yang terbagi pada jam-jam tertentu. Namun, mereka memiliki tema besar. Tahun 2019-2020 tema yang dipilih adalah Mekar Bersama di Bumi Indonesia Tanah Pancasila. Setiap mata pelajaran mengacu pada tema besar ini, salah satunya Retorika di jenjang SMP dan Kotak Pertanyaan (Koper) di tingkat Sekolah Dasar.        

Retorika adalah proses belajar yang mengasah anak untuk bepikir logis dan runtut. Di sini anak-anak dipupuk untuk bisa mengemukakan pendapat secara konstruktif dan solutif. Semuanya dikemas dalam wujud diskusi dan dialog yang kritis dan terarah. Anak-anak dibiasakan bertanya dan berpendapat.

Forumnya sebelas-duabelas bila disandingkan dengan panggung debat presiden atau sidang akademik di perguruan tinggi. Ada penyaji, ada pembahas, ada audiens. Mereka duduk bersama mengkritisi sebuah tema. Jika debat presiden mengkritisi Indonesia lewat kacamata politik, ekonomi, kemiskinan, sosial budaya dll, retorika Mangunan membedah Indonesia dari sudut pandang yang lebih santai, misal lewat lagu Koes Plus “Kolam Susu” atau dari aneka tradisi yang terserak di jantung-jantung suku bangsanya.

Anak-anak mencari sendiri data rupa-rupa tradisi di Nusantara lantas mempresentasikan di depan kawan-kawan dan guru. Guru mendengar seperti lazimya murid, murid berperan selayaknya guru. Di salah satu dinding Sekolah Mangunan ada tulisan di atas selembar kotak kayu: Murid adalah Guru.      

Dalam setiap langkah mendampingi anak-anak, Salam dan Mangunan memiliki satu nafas yang sama:  memekarkan nilai kemanusiaan (jujur, tanggung jawab, cinta sesama, percaya diri, kerja keras, dll) serta mengedepankan budaya dan kearifan lokal.

Keduanya mampu keluar dari sistem pendidikan dengan kurikulum yang kaku dan instrukif serta tidak berorientasi pada hasil berupa nilai kognisi yang diurutkan dalam bentuk ranking. Segala bentuk penyeragaman tak berlaku di tempat ini. Salam dan Sekolah Eksperimental Mangunan adalah potret sekolah merdeka! ***  

Sri Wahyaningsih, penggagas Salam. (foto: ernaningtyas)

Sri Wahyaningsih: Siswa Indonesia Asing di Negeri Sendiri

“Terjebak pada hafalan, tidak adaptif terhadap lingkungan yang ada sehingga anak-anak Indonesia menjadi asing di negeri sendiri,” tutur Sri Wahyaningsih mengomentari pendidikan di Tanah Air. Dari Sabang sampai Merauke, di pusat kota atau pelosok desa, di kawasan pertanian, pesisir, pedalaman, perindustrian atau pun perkampungan semua siswa di sekolah-sekolah dengan lingkungan yang  berbeda itu mempelajari hal yang sama. Kurikulum dan buku paket drop-dropan dari pusat menjadi semacam koridor yang mesti dilalui, ditaati, lurus, terpola, instruksional. Melihat kenyataan ini, Sri Wahyaningsih pun merasa resah dan gelisah.   

Wahya, demikian panggilan akrab Sri Wahyaningsih, lantas menciptakan atmosfer baru dunia pendidikan. Ia menggagas berdirinya Sanggar Anak Alam (Salam) di awal abad ke-21 ini. Ia sadar Salam adalah sesuatu yang baru. Bila disandingkan dengan dunia pendidikan di Tanah Air pada umumnya, Salam menjadi tak lazim.

Belajar budaya dan unggah-ungguh leluhur. (foto: ernaningtyas)

Murid sekolah ini tak berseragam, kurikulum dibuat sendiri, sama sekali tak berbasis mata pelajaran. Pemekaran bakat anak ditempuh melalui metode riset. Sampai dengan kelas tiga SD riset dilakukan secara berkelompok. Kelas empat SD sampai SMA riset dilakukan masing-masing anak. Setiap anak memilih tema sendiri berdasar ketertarikan masing-masing.

Ada empat tema besar yakni pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya. “Setiap siswa mempresentasikan apa yang telah mereka pelajari,” tutur Wahya. Metode seperti ini membuat anak-anak dekat dengan apa yang dipelajari, mengerti betul prosesnya, menemukan sendiri jawaban dari sesuatu yang mereka ingin tahu. Ini semua membuat anak-anak paham, sehingga tidak terjebak pada kabiasaan hafalan yang temanya jauh dari kehidupan anak-anak. Tak hanya itu, jiwa-jiwa mandiri tampak pada anak-anak Salam. 

Salam berstatus sebagai PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Dengan posisi demikian, setiap siswa yang menginginkan ijazah bisa mendapatkannya dengan cara mengikuti ujian Kejar Paket A, B, dan C. Wahya menjelaskan bahwa demi kepentingan ini Salam mengintip kurikulum pemerintah untuk mengambil kompetensi dasarnya. Bahan yang digunakan untuk membedah kompetensi dasar tersebut adalah hasil riset anak-anak. “Hampir semua anak ikut andil, jadi mereka tidak asing,” tambahnya.

Yudhistira Aridayan, ketua PKBM Salam. (foto: ernaningtyas)

Yudhistira Aridayan, Ketua PKBM Salam, menjelaskan, beberapa bulan sebelum mengikuti ujian kejar paket, anak-anak melakukan riset tentang soal-soal ujian. Ini penting untuk mempersiapkan anak-anak  mengenali tipe soal dan cara-cara penyelesaiannya. Yudhis mengungkapkan sebuah cerita menarik. Suatu ketika, anak-anak menyalahkan soal yang mereka riset. Ia mencontohkan sebuah soal pilihan ganda. Pot terbuat dari: a. Logam b. Plastik c. Tanah liat d. Kayu. “Mungkin maksud pembuat soal adalah pot gerabah, dengan demikian jawaban yang benar adalah tanah liat. Tetapi anak-anak kan tahu bahwa pot bisa juga dibuat dari logam, kayu atau plastik dan mereka pernah melihat pot yang berbahan aneka rupa itu. Jadi mereka menyalahkan soalnya,” papar Yudhis.

Tak ada guru di Salam, yang ia punya fasilitator, berstatus voluntir. Fasilitator ini datang dari berbagai latar belakang. Ada mahasiswa tingkat akhir, ada pula orang tua siswa. Sementara anak menjadi “guru” atas dirinya sendiri. “Tantangan besar para fasilitator ini adalah mereka sering ingin memberitahu,” tutur Yudhis. Sementara para orang tua yang menjadi fasilitator, menurut pengalaman Yudhis, terkadang mereka susah menerima anak apa adanya.

Salam menerima sejumlah 15 murid di setiap jenjang kelas mulai dari Kelompok Bermain, Taman Anak, SD, SMP, dan SMA. Masing-masing jenjang itu hadir bertahap. Tahun 2004 Wahya mendirikan Kelompok Bermain, 2006 Taman Anak, 2008 SD, 2012 SMP, dan 2017 SMA. Kini sekitar 200-an murid belajar di Salam setiap harinya. Sepuluh persen di antaranya anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).      

Wahya tak ingin memekarkan Salam dengan cara membuka cabang. “Saya tak ingin terjebak pada penyeragaman, karena setiap tempat memiliki kekhasan masing-masing,” tutur Wahya memberikan alasan. Metode pendidikan yang mandiri dan merdeka ala Salam telah menginspirasi banyak komunitas, di antaranya Sekolah Akar Rumput di Sewon, Bantul DIY, Sekar Pelangi di Balikpapan, dan Edu House di Semarang. ***

Dr Rm Mulyatno: Penyeragaman Mematikan Identitas

Pendidikan di Indonesia serba seragam: satu kurikulum dan satu model diaplikasikan untuk semua sekolah dari Sabang sampai Merauke. Tak sebatas itu, baju sekolah pun dibuat seragam. “Penyeragaman itu mematikan identitas. Kembalikan pendidikan dasar kita kepada kebutuhan anak dan sesuaikan pendidikan dengan konteks kearifan lokal,” kata Dr Rm Mulyatno, Ketua Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED). 

Dr Rm Mulyatno Pr. Ketua Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED). (foto: ernaningtyas)

Mulyatno menceritakan bahwa YB Mangunwijaya amat prihatin dengan rupa dunia pendidikan dasar di Indonesia yang seragam, instruktif, penuh kompetisi, mengutamakan kognisi serta keberhasilan diukur lewat ranking. “Pendidikan yang benar tidak seperti itu,” tutur Mulyatno.

Karena itulah, tambah Mulyatno, Mangunwijaya mendirikan sekolah Eksperimental Mangunan. Awalnya, sekolah yang menyatu dengan rumah-rumah penduduk Mangunan itu dibuat Romo Mangun, demikian rohaniwan Katolik itu biasa disapa, untuk orang-orang miskin setempat. Dalam prosesnya hingga detik ini, para murid tak hanya berasal dari kampung Mangunan dan sekitarnya. Mereka yang berumah di Bantul, Yogya kota, Muntilan bahkan Klaten Jawa Tengah pun tak sedikit yang memilih bersekolah di Mangunan. Para murid juga berasal dari latar belakang beragam mulai dari sosial, ekonomi, agama, suku bangsa. Seperti juga Salam, Mangunan merangkul pula anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).  

Mulyatno adalah rohaniwan adik kelas Romo Mangun. Ia kini duduk di kursi Ketua Yayasan DED.  Yayasan ini menaungi Sekolah Eksperimental Mangunan yang didirikan Romo Mangun 25 tahun silam untuk jenjang SD dan TK serta SMP yang baru mulai dua tahun belakangan ini. “Sekolah Eksperimental Mangunan memberi kesempatan kepada anak-anak untuk belajar dengan gembira dan merdeka sesuai usia mereka, namun terarah pada pengembangan bakat secara eksploratif, kreatif, dan integral,” tutur Mulyatno.

Jiwa eksplorasi mendorong kemampuan berkreasi, kemampuan menemukan ide. Selanjutnya anak-anak akan mampu membuat karya inovatif serta menjelajah wilayah-wilayah baru. Semua itu dilakukan dengan tetap menghargai keberagaman, kearifan lokal khas Indonesia. “Atmosfer yang kemudian kami bangun adalah memberi kemerdekaan seluas-luasnya agar anak mampu bertanya,” tutur Mulyatno. Dalam setiap kesempatan, Romo Mangun memang selalu menekankan bahwa mendidik anak bertanya jauh lebih penting dibanding seribu jawaban anak-anak atas sebuah pertanyaan yang belum tentu tepat bagi mereka. 

Pelajaran IPS, anak-anak belajar tentang angin sekaligus keberagaman dalam satu permainan. (foto: ernaningtyas)
Belajar Bahasa Inggris dengan bermain drama. (foto: ernaningtyas)

Sementara untuk pemekaran bakat anak, Mangunan mengembangkan tujuh potensi dasar yang ada pada setiap anak yakni: karakter (nilai religiusitas, kesetiakawanan, kejujuran, kemandirian), bahasa (ekspresi diri dalam berkomunikasi lisan maupun tertulis plus kemampuan literasi), identitas dan orientasi diri (pengenalan terhadap lingkungan keluarga, masyarakat dan cita-cita hidup), logika dasar (kemampuan berpikir secara logis), pengenalan piranti atau perkakas yang dipakai untuk hidup keseharian, kerjasama tim dan berorganisasi, kemampuan kinestetik (bakat dan minat olah raga), serta mengenal norma-norma umum dalam kehidupan.

Setiap anak, menurut Mulyatno, memiliki bakat dan minatnya sendiri. Untuk mengetahuinya para guru melakukan penelitian tindakan. Ini penting agar proses pembelajaran berorientasi pada pemekaran bakat anak. Prosesnya melibatkan dialog dan kerjasama antara guru, anak dan orang tua. Sekolah Eksperimental Mangunan berstatus formal. Namun, status itu tak mengurangi keleluasaan dalam memberikan warna berbeda. Ia tetap menjadi sekolah merdeka, memiliki karakter khas dalam mendampingi anak-anak.    

Sekolah Eksperimental Mangunan menerima sejumlah 25 anak untuk setiap kelas. Ada dua kelas paralel di setiap jenjang pendidikan. Kini, ratusan anak setiap hari mendatangi Sekolah Eksperimental Mangunan untuk berproses dan berdinamika dalam mengembangkan bakat dan minat mereka. *** 

Nadiem Makarim, Kerang, dan Tradisi

Selasa 29 Oktober 2019, ada perhelatan di Sekolah Eksperimental Mangunan. Bertempat di ruang pendapa berlangsung seminar bertajuk “Guru yang Punya Hati Memekarkan Anak Melalui Penelitian Tindakan”. Seminar berlangsung sewajarnya, hingga pada sesi tanya jawab terakhir seorang peserta unjuk jari. “Saya ingin bertanya, seandainya Pak Nadiem Makarim hadir dalam acara ini, apa yang akan Anda katakan pada beliau?” Tawa hadirin pun pecah.

Tak jelas, apa yang memancing gelak tawa itu. Yang jelas, beberapa hari sebelumnya, 23 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo melantik menteri-menterinya untuk periode jabatannya yang kedua. Bos Go-Jek Nadiem Makarim ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan. Di dunia maya maupun nyata, ramai orang berkomentar. Mungkin ada sesuatu yang lucu, ketika bos Go-Jek yang muda dan milenial itu menduduki kursi Menteri Pendidikan. Dan mungkin, saat nama Nadiem disebut oleh si peserta seminar, kelucuan itu terlintas kembali dalam pikiran mereka. Bisa jadi pula bukan itu penyebab tawa hadirin, tetapi berkaitan dengan tema seminar.       

Para pembicara seminar, dari kiri: Novi Dwi Rusmawaty, Rm Edi Wiyanto Pr, M.Hum, dan St Kartono. (foto: ernaningtyas)

Seminar itu bertema pemekaran anak melalui penelitian tindakan. Pembicara pertama Romo Edi Wiyanto Pr, M.Hum menjelaskan perihal pentingnya guru pembelajar yang punya hati. “Kehadiran guru yang punya hati ini harus terus diperjuangkan, karena ketika guru meletakkan hatinya maka anak akan tumbuh mekar,” kata Edi. Ini sejalan dengan “quote” Romo Mangun yang berbunyi “Di mana hati diletakkan, di situ proses belajar dan maju dimulai”.

Pembicara kedua St Kartono, kolumnis pemerhati masalah pendidikan dan guru SMA Kolese De Brito Yogyakarta, mengungkapkan pentingnya gembira dan berkembang  menjadi guru. “Kalau guru berkembang tapi tidak gembira, ia tertindas. Kalau guru gembira tapi tidak berkembang ia sekadar numpang hidup,” kata Kartono di hadapan seratus lebih peserta seminar yang mayoritas berprofesi sebagai guru dan berasal dari berbagai kota di pulau Jawa.

Pembicara ketiga Novi Dwi Rusmawaty guru SD Mangunan memaparkan bahwa dia beruntung menjadi guru di Sekolah Eksperimental Mangunan. Di tempat ini ia berusaha memberikan hatinya kepada anak-anak. “Satu per satu semua murid saya kenali,” kata Novi. Dengan mengenal, ia memiliki data tentang apa yang dibutuhkan anak demi memekarkan bakatnya berdasarkan tujuh modal dasar yang dimiliki setiap anak. Ada yang butuh dimekarkan kemampuan membacanya, kemampuan motoriknya, afeksinya, dan lain sebagainya. Novi beruntung, komunitasnya memiliki tim teaching yang membantunya dalam berdinamika bersama anak-anak. “Saya ini orang biasa yang ingin menjadi guru yang luar biasa,” ucapnya. 

Singkatnya, materi yang dibawakan ketiganya tampak seperti “dunia lain” jika disandingkan dengan image dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya. Sementara seratus lebih peserta seminar berasal dari sekolah yang berkategori “pada umumnya” itu. Di benak para peserta seminar sepertinya Nadiem tak akan bisa berkutik menghadapi carut marut dunia pendidikan di Tanah Air yang terbelenggu beban  kurikulum dan susah menerima perubahan. Pesimisme inilah yang mungkin memancing gelak tawa saat seorang peserta seminar mengemukakan pertanyaannya, “Apa yang akan Anda katakan kepada Pak Nadiem Makarim jika beliau hadir di sini?”   

St Kartono angkat jawaban untuk pertanyaan itu. Katanya, “Pak Nadiem, kami hanya guru kecil. Yang menjadi persoalan dan harus dibongkar adalah lembaga Anda dan guru-guru besar yang ada di tempat itu. Lakukan perubahan, kita butuh revolusi mental,” kata Kartono dengan semangat membara.

Windu Aji, guru Sekolah Eksperimental Mangunan yang saat itu menjadi moderator pun memberikan jawaban. “Pak Nadiem, saya ingin sekolah Indonesia menjadi tempat yang asyik yang bisa mewadahi semua keanekaragaman,” kata Windu.    

Dalam perjalanan waktu kemudian, ada sesuatu yang tak biasa. Nadiem Makarim, si muda yang dipercaya memegang departemen raksasa yang kiprahnya tersebar merata di seluruh penjuru negeri ini sepertinya tak akan mengikuti seniornya, menduduki kursi menteri tanpa perubahan mendasar. Nada-nadanya Nadiem berbeda. Mas Menteri, demikian sapaan kekinian Nadiem, bertemu dengan sebarisan praktisi dan pakar pendidikan yang tak biasa. Salah satunya Sri Wahyaningsih, penggagas Salam. Dalam pesan yang beredar melalui whatsapp, Wahya menuliskan masukannya kepada Nadiem. Salah satunya, janganlah kurikulum dipukul rata. Biarlah sekolah atau guru membuat kurikulumnya sendiri sesuai situasi dan kondisi setempat. Tugas pemerintah cukup sebatas membuat peraturan yang esensial untuk dipatuhi bersama.

Nadiem bergeming. Dalam sebuah pesan whatsapp pula Mas Menteri angkat bicara. Ia berpidato khusus untuk menyambut Hari Guru 25 November 2019. Setelah sedikit berbasa-basi di awal, Nadiem masuk pada inti pidatonya. “Guru Indonesia tercinta, tugas Anda adalah yang termulia dan yang tersulit. Anda ditugaskan untuk membetuk masa depan bangsa tetapi sering diberi aturan dari pada pertolongan. Anda ingin membantu murid yang tertinggal di kelas tetapi waktu Anda habis mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas. Anda tahu betul potensi anak tidak bisa diukur dari hasil ujian, tapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan. Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk untuk belajar dari dunia sekitarnya tetapi kurikulum yang padat menutup pintu petualangan. Anda frustrasi karena Anda tahu di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi yang akan menentukan kesuksesan anak bukan kemampuan menghafal. Anda tahu setiap anak punya kebutuhan yang berbeda tapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi. Anda ingin setiap murid terinspirasi tetapi Anda tidak diberikan kepercayaan untuk berinovasi. Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia. Tapi perubahan tidak bisa dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dengan guru. Jangan menunggu aba-aba. Jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama! Besok di manapun Anda berada lakukan perubahan kecil di kelas Anda. Ajaklah kelas berdiskusi, jangan hanya mendengar….” kata Nadiem panjang lebar.          

Elang bersama Ika sedang membahas kerang. (foto: ernaningtyas)

Elang Sakti Wiwardhana sudah mendapatkan kemerdekaan belajarnya jauh sebelum pidato Mas Menteri dipesanberantaikan lewat ponsel pintar. Ia ingin menjadi koki profesional yang ahli memasak kerang. Elang, demikian ia akrab disapa meneliti kerang. Semua seluk beluk kerang ia pelajari. Segala hal  yang berkaitan tentang kerang ia cari sendiri di perpustakaan. Ia juga berselancar di internet untuk mendapatkan informasi tentang binatang bercangkang itu.

Di sekolah bersama fasilitator Natalia Ika Prasetyo Kurniawaty, Elang mendiskusikan temuannya. Berawal dari ketertarikannya terhadap kerang, Elang bisa belajar apa saja: matematika, bahasa, komunikasi, biologi, dll. Semua kemampuannya baik motorik, kognisi maupun afeksi terasah hanya dari seekor binatang yang memiliki rupa-rupa jenis itu. Elang, siswa kelas tiga SD ini bisa mendapatkan kemerdekaan belajarnya karena ia murid Sekolah Salam.

Yolessa Roosando, M.Pd mengampu pelajaran Retorika di Sekolah Eksperimental Mangunan. Anak-anak ia minta mempresentasikan “sesuatu” berdasarkan tema besar “Mekar Bersama di Bumi Indonesia Tanah Pancasila”.

Dari Kiri Antonio, Ayik, Sebi, dan Denting sedang mempresentasikan tradisi. (foto: ernaningtyas)

Satu kelompok remaja, Ayik, Atonio, Sebi dan Denting berdiskusi dan sepakat membedah tema itu lewat sudut pandang beragam tradisi yang ada di Indonesia. Bahan dan data mereka dapatkan dari perpustakaan dan internet. Setelah siap semuanya, mereka mempresentasikan temuan itu di hadapan kawan-kawan dan gurunya. Selayaknya peneliti kawakan, semua presenter angkat bicara termasuk Sebi siswa ABK. Siswa lain menjadi penanggap. Forum itu persis seperti sebuah sidang akademik di perguruan tinggi. 

Ayik dan kawan-kawan di Sekolah Eksperimental Mangunan serta Elang di Salam adalah anak-anak yang  berproses dalam kemerdekaannya. Tampaknya Nadiem ingin pengalaman anak-anak ini juga menjadi pengalaman murid-murid lain di seluruh pelosok tanah air. Sepenggal ucapan dalam pidato Nadiem berbunyi “Besok di manapun Anda berada lakukan perubahan kecil di kelas anda. Ajaklah kelas berdiskusi, jangan hanya mendengar….”

Usia pidato itu terhitung baru beberapa hari sejak diucapkan Mas Menteri 25 November silam. Tak ada data yang jelas, apakah sudah ada guru yang meresponnya. Tentu saja guru yang berkarya di sekolah-sekolah pada umumnya. Sekolah yang terlanjur menjalankan tradisi kurikulum drop-dropan, sekolah yang mengukur keberhasilan siswanya dengan angka-angka dan mengurutkannya dalam ranking-ranking, serta sekolah yang sering menjadi momok karena murid-muridnya trauma terhadap pelajaran tertentu, biasanya matematika atau bahasa Inggris.

Wajar-wajar saja, seandainya belum ada respon. Mas Menteri dalam pidatonya sudah menyadari bahwa perubahan itu sulit dan penuh ketidaknyamanan. Sementara guru di Indonesia pun terlanjur nyaman bermonolog di depan kelas, mentransfer pengetahuan sesuai kurikulum, mengandalkan buku paket dan lembar kerja yang instan serta membuat nilai dari ulangan dan ujian akhir.

Puluhan tahun ritual itu dijalani para guru. Puluhan tahun pula para penyedia buku-buku dan sederetan birokrat yang terlibat mendapatkan keuntungan fiansial dari bisnis buku pelajaran. Namun demikian, ST Kartono yang berharap agar Mas Menteri membongkar semua permasalahan yang ada di lembaganya serta harapan Windu Aji agar tercipta sekolah yang asyik, tampaknya tetap optimis. Di awal menjabat, bertepatan dengan Hari Guru, Nadiem Makarim menyatakan tekadnya siap berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia. (Ernaningtyas)