JAYAKARTA NEWS – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudritek) menggelar upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2023 pada hari Sabtu (25/11). Kepada para guru, secara khusus, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim menyampaikan pesan motivasi untuk melanjutkan gerakan Merdeka Belajar.
“Selamat Hari Guru Nasional. Mari kita rayakan hari ini dengan semangat untuk terus melaju ke depan, dengan derap langkah serentak melanjutkan gerakan Merdeka Belajar,” tutur Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, di Kantor Kemendikbudristek, Senayan, Jakarta, Sabtu (25/11), yang pada kesempatan ini menggunakan baju adat Jawa Tengah.
Tema peringatan HGN tahun 2023 adalah “Bergerak Bersama, Rayakan Merdeka Belajar”. Peringatan HGN tahun ini juga merupakan ruang apresiasi kepada para guru atas semangat belajar, berbagi, dan berkolaborasi dalam Merdeka Belajar demi terwujudnya pembelajaran yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik.
Pada tahun terakhirnya menjabat sebagai Mendikbudristek, Nadiem Makarim tidak dapat menyembunyikan kesedihan akan kerinduannya untuk bertemu dengan para guru di tahun-tahun mendatang. Namun, ia menyimpan keyakinan bahwa semua pendidik di seluruh Indonesia masih akan terus bergerak mewujudkan Merdeka Belajar.
“Saya merasa sedih, karena saya pasti akan rindu bertemu dengan Ibu/Bapak semua. Saya yakin bahwa Ibu dan Bapak guru sebagai nahkoda tidak mau membalikkan lagi arah dari kapal Merdeka Belajar. Keyakinan ini tumbuh dari hal-hal yang berhasil kita capai bersama dalam empat tahun terakhir,” ungkapnya.
Pada tahun pertama Merdeka Belajar, Kemendikbudristek menghapus Ujian Nasional dan memberi kepercayaan kepada guru untuk menilai hasil belajar peserta didiknya. “Kita menerapkan Asesmen Nasional (AN) agar kita semua berfokus menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan menyenangkan. Lingkungan belajar yang menumbuhkan kemampuan literasi dan numerasi serta karakter murid,” terang Menteri Nadiem.
Lalu di tahun berikutnya, Kemendikbudristek meluncurkan Kurikulum Merdeka. Jika Asesmen Nasional bertujuan untuk mengukur tujuan perubahan maka Kurikulum Merdeka bertujuan untuk memberikan petunjuk jalan mencapai tujuan itu.
“Ini adalah kurikulum yang ditunggu-tunggu para guru, karena tidak hanya meringankan beban murid berkat pengurangan pada jumlah materi, dan penekanan pada pemahaman yang mendalam. Tetapi juga memerdekakan guru untuk mengolah kreativitasnya, berinovasi dalam mengembangkan pembelajaran yang menyenangkan sesuai kebutuhan peserta didik,” jelas Nadiem optimistis.
Kini, ruang untuk belajar dan berbagi di antara sesama guru juga semakin luas dengan adanya platform Merdeka Mengajar. Jutaan guru di seluruh Indonesia sekarang saling terhubung, saling belajar dan menginspirasi satu sama lain dalam menerapkan Kurikulum Merdeka.
Kemudian, terobosan besar Kemendikbudristek berikutnya adalah menghadirkan Pendidikan Guru Penggerak. Program ini berbeda dari pelatihan guru yang sudah ada sebelumnya, karena tujuannya untuk mendorong lahirnya generasi pemimpin pembelajaran, kepala sekolah, dan pengawas sekolah yang mampu memimpin perubahan nyata.
Terakhir, kata Nadiem, yang juga sangat membahagiakan baginya adalah semakin dekatnya capaian target 1 juta guru ASN PPPK guna memenuhi kebutuhan guru karena langkah ini dapat meningkatkan kesejahteraan para pendidik.
“Semua (capaian) ini membuat saya percaya bahwa Hari Guru Nasional tahun ini bukanlah salam perpisahan. Sebaliknya, peringatan Hari Guru Nasional tahun ini adalah penanda kesatuan tekad kita untuk mengakselerasi kemajuan sistem pendidikan Indonesia,” pungkas Nadiem.***/mel
JAYAKARTA NEWS— Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat bahwa kebijakan paling menghebohkan dan menimbulkan pro kontra di lapangan dari Mendikbudristek Nadiem Makarim adalah kebijakan “Merdeka Belajar” yang berjilid-jilid. FSGI menyaksikan di lapangan bahwa kebijakan yang sebenarnya bagus secara konsep, namun tidak berhasil membumi sehingga menimbulkan potensi Pendidikan Indonesia tengah berada pada fase konflik.
“Cerita Merdeka Belajar yang berjilid-jilid dan tidak pernah selesai seakan menuju akhir episode yang menghawatirkan. Gagasan kebijakan sampai implementasi di lapangan masih jauh panggang dari api,” ujar Heru Purnomo, Sekjen FSGI.
Heru menambahkan bahwa, ”Sebenarnya Merdeka Belajar yang diusung Kemendikbudristek ini memiliki tujuan untuk mencapai pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia melalui transformasi pada 4 hal, yaitu infrastruktur dan teknologi, kebijakan, prosedur dan pendanaan untuk kepemimpinan masyarakat dan budaya serta kurikulum pedagogis dan penilaian (asesmen). Namun, tampaknya di level pemahaman kebijakan ini saja, masih jauh dari harapan”.
Bermasalah Dari Pendaftaran Hak Merek Merdeka Belajar
Sejak konflik merek Merdeka Belajar FSGI selaku organisasi profesi guru telah memberikan kritik dan rekomendasinya, namun kebijakan ini terus ditayangkan bahkan kini telah mencapai 22 Episode. “Benarkah semuanya telah menuju ke arah transformasi Pendidikan Indonesia, apakah setiap episodenya berjalan berkesinambungan, apakah dapat terlihat masa depan pendidikan Indonesia yang berkualitas ataukah justru terbaca tujuan spekulatif yang tidak berkelanjutan?” Ujar Mansur, Wakil Sekjen FSGI.
Terobosan Merdeka Belajar Episode-1, dengan empat bidang sasaran, yaitu: (1) Mengganti UN menjadi Asesmen Nasional, bahkan membatalkan UN 2020, (2) Menghapus USBN yang bertepatan dengan Pandemi Covid-19(3) Menyederhanakan RPP menjadi 1 Lembar, (4) Menyesuaikan kuota jalur prestasi maupun zonasi.
“Kebijakan ini telah cukup memberi angin segar pendidikan Indonesia ketika itu. Kenyataannya adalah tidak semua episode Merdeka Belajar berdampak bagi pendidikan. Bahkan tidak sedikit yang dinilai kontra produktif terhadap kelangsungan program pendidikan di Indonesia,” tambah Mansur yang juga guru dan Wakasek di Lombok Barat.
Ketika Episode-4 Program Organisasi Penggerak (POP) diluncurkan, kontan berbagai reaksi ketidakpercayaan publik mengemuka. “FSGI memberikan kritik keras dimulai dari proses rekrutmen hingga model impelementasinya. Apa yang terlihat hingga paruh ke-2 tahun bukanlah sebuah kemajuan yang diharapkan,” ungkap Eka Ilham, Kepala Bidang Diklat FSGI.
Eka menambahkan,”Dari fakta lapangan diketahui bahwa kebanyakan pelatihan model online yang diikuti oleh para guru sekolah sasaran sebatas pelatihan 1 – 3 jam atau paling lama dengan durasi 3 hari, kebanyakan berisi teori tanpa dibekali praktik dan tidak disertai pendampingan. Kebanyakan guru justru bingung saat akan mencoba mengimplementasikan, karena tidak ada contoh-contoh praktik yang sudah dilakukan. Akibatnya, pelatihan hanya tinggal pelatihan yang berujung sekadar pengetahuan tanpa implementasi”,
Minim Dukungan Pemda
Pada Episode-5 Program Guru Penggerak (PGP) yang diniatkan sebagai program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan yang mewujudkan SDM unggul Indonesia. Secara konsep program ini sangat baik dan jika berhasil dipercaya dapat menjadi program yang akan berdampak besar pada pendidikan di Indonesia.
“Namun, fakta lapangan menunjukkan bahwa proses seleksi dan pelatihan yang lama bagi Calon Guru Penggerak (CGP) bukannya menjamin perubahan paradigma pembelajaran pada CGP tetapi justru telah menyita waktu dan tenaga para CGP. Bahkan banyak tugas-tugas pokok guru yang mereka abaikan hanya untuk mengejar status lulus,” ujar Fahmi Hatib, Presidium FSGI.
Kebijakan Kemendikbudristek pada program guru penggerak, sebagian besar energi Merdeka Belajar dikerahkan kepada guru penggerak. “Iming-iming calon kepala sekolah, bahkan perubahan nama kantor menjadi serba guru penggerak hanya akan berdampak pada kuantitas yang belum tentu berkelanjutan,” tambah Fahmi yang juga Kepala Sekolah di Kabupaten Bima.
Padahal logikanya, pola pembelajaran daring melalui LMS dengan sesekali pertemuan luring tidak sepenuhnya mengubah pola pikir dan pola tindak CGP. “Apalagi kriteria lulus yang lebih bersifat administratif belaka hanya mengejar kuantitas dan sangat jauh dari cita-cita perubahan paradigma pembelajaran yang berkualitas”, ujar Fahriza Marta Tanjung, Wakil Sekjen FSGI.
Anak Berkebutuhan Khusus Terkendala SDM
Episode-7 Program Sekolah Penggerak, dimaksudkan untuk mengembangkan agen-agen perubahan di sekolah-sekolah yang diawali dengan pemberdayaan kepala sekolah dan guru menjadi SDM unggul melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan intervensi yang holistik dalam hal pembelajaran, perencanaan, digitalisasi, sampai pendampingan selama tiga tahun ajaran bagi sekolah negeri maupun swasta.
“Sayangnya, tujuan baik ini tidak didukung oleh komunikasi dan koordinasi yang baik antara pihak Kemendikbudristek dengan pemerintah daerah. Sehingga, program ini berjalan sendiri tanpa dukungan pemerintah daerah selaku pemilik satuan pendidikan”, tambah Fahriza.
Ketika Sekolah Penggerak juga diniatkan sebagai ujicoba Seperangkat Kurikulum Prototipe, namun pada praktiknya ternyata masih banyak kelemahan. Maka hal tersebut akan berdampak pada pada lemahnya Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) baik pada sekolah penggerak terlebih pada sekolah IKM Mandiri.
Episode-15 Kurikulum dan Platform Merdeka Mengajar, menawarkan Struktur kurikulum yang lebih fleksibel dan fokus pada materi yang esensial sehingga guru lebih leluasa mengajar sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
“Akan tetapi perubahan kurikulum ini tidak berarti banyak ketika tidak diikuti dengan perubahan kebijakan guru. Misalnya saja kebebasan Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk memberikan pelajaran vokasi namun tidak berjalan karena gurunya tidak tersedia,” ungkap Fahmi Hatib, Kepala SLBN Kabupaten Bima.
Fahmi menambahkan, “Sebenarnya melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) Kemendikbud memberikan keleluasaan bagi guru menggunakan berbagai perangkat ajar sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Namun faktanya, PMM ini tidak lebih baik dari aplikasi lainnya yang banyak menampung informasi lama. Baru belakangan ini terdapat berbagai perbaikan, validasi dan verifikasi konten sehingga tidak lagi terkesan sekadar gagah-gagahan aplikasi”.
Apalagi, dalam Episode-22 atau episode terakhir dari merdeka belajar adalah Transformasi seleksi perguruan tinggi negeri yang bertujuan untuk mendorong dan mengasah akal dan karakter swadaya yang lebih holistik dan memberikan kesempatan yang lebih adil bagi semua mahasiswa agar kompeten dalam seleksi perguruan tinggi negeri untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Hal ini butuh penyeiapan SDM, infrastruktur dan perubahan mindset pendidik, peserta didik dan bahkan pejabat di Dinas-dinas Pendidikan Provinsi, kota dan Kabupaten’, pungkas Heru Purnomo yang juga salah satu kepala SMPN di DKI Jakarta.
Heru menambahkan,”FSGI mendorong transformasi seleksi perguruan tinggi negeri ini dapat menjawab keberlangsungan paradigma baru pembelajaran yang di gagas dalam merdeka belajar. Dengan demikian, jika episode ini dapat dijalankan perguruan tinggi dengan baik, maka kesinambungan sistem pendidikan dari dasar menengah akan sejalan dengan perguruan tinggi”.
REKOMENDASI
1. FSGI menyampaikan apresiasi kepada Kemendikbudristek yang telah berupaya keras dalam mentransformasi pendidikan Indonesia yang lebih baik.
2. FSGI mendorong Kemendikbudristek melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala ke berbagai sekolah yang menerapkan kurikulum merdeka agar mendapatkan input dan upaya perbaikan,
3. FSGI mendorong Pemerintah Daerah melalui Dinas-Dinas Pendidikan bersinergi demi keberlangsungan suatu program Pendidikan yang baik hanya dapat tercapai jika disertai penyiapan SDM melalui pelatihan-pelatihan berkualitas, infrastruktur memadai , komitmen semua pihak di lingkungan Pendidikan dan ada evaluasi berkala.
4. FSGI mendorong Kemendikbudristek berkolaborasi dengan pemerintah Daerah untuk menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang massif dan berkualitas untuk para Kepala Sekolah dan pendidik. Karena, pemahaman kurikulum dan paradigma baru pembelajaran yang disosialisasikan secara terstruktur dan masif ke semua guru dan satuan pendidikan dengan melibatkan instansi vertikal kemendikbud dan kolaborasi pemerintah daerah akan lebih baik ketimbang membidik sejumlah guru penggerak dan sekolah penggerak yang gagal secara kuantitas dan kualitas.***
Jayakarta News – “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia” – Nelson Mandela. Apa yang dikatakan Nelson Mandela, pejuang anti-aparheid, tentu saja benar dan dibuktikannya. Ia menjadi orang pertama di keluarga yang mengenyam pendidikan. Dilaluinya dengan tidak mudah. Ia adalah pejuang melawan politik kulit hitam. Perjuangannya ditulis dalam buku yang berjudul “Walk to Freedom”. Ia berhasil menjadi Presiden pertama kulit hitam di Afrika Selatan, 1994-1999, dan membebaskan dunia kulit hitam dari “penjajahan”.
Berbicara tentang pendidikan, tokoh pendidikan dari Brasil, Paulo Freire, pernah menggugat sistem pendidikan dalam masyarakat Brasil. Menurut Freire, sebagaimana diungkapkan Masykur H Masyur dalam tulisannya yang berjudul Pendidikana Ala “Paulo Freire” Sebuah Renungan, sistem pendidikan yang ada, sama sekali tidak berpihak kepada rakyat miskin, tapi sebaliknya justru mengasingkan dan menjadi alat penindasan bagi penguasa, karenanya sistem yang ada harus dihapus dan digantikan dengan sistem yang lebih memihak kepada kaum miskin. Paulo yang meninggal pada 2 Mei 1997, sebagai sosok yang secara teoritis sekaligus praktis telah menjalankan agenda pendidikan. Telah melakukan perubahan-perubahan hidup masyarakat melaluipendidikan. “Dia adalah seorang pejuang pendidikan yang telah membebaskan masyarakat dari kebodohan dan kegelapan. Konsep pendidikannya betul-betul memanusiakan manusia dan memberadabkan manusia,” demikian dijelaskan Masykur Masyur dari IAIN Cirebon DPK FAI Universitas Singaperbangsa Karawang.
Dengan demikian, pendidikan mengembalikan jati diri manusia yang sesungguhnya sebagai manusia yang merdeka, berhak untuk hidup, tidak ditindas, dan tidak diperlakukan secara sewenang-wenang. Pendidikan merupakan malaikat penjaga kebaikan kehidupan manusia dari kejahatan. “Bagi Paulo, pendidikan harus mampu membebaskan. Membebaskan manusia kaum-kaum tertindas dan kaum-kaum penindas dari sistem pendidikan yang menindas,” papar Masykur Masyur lagi.
Pendidikandi Indonesia
Berkibarlah sang saka merah putih. (foto: ist)
Di Indonesia, saat ini, ada Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang sedang mengusung program baru dalam dunia pendidikan. Seolah “menggugat” dunia pendidikan yang selama ini berjalan di bumi pertiwi, Nadiem mencanangkan program Merdeka Belajar.
Sistem pendidikan di Indonesia, menurut Nadiem sifatnya sangat administratif. Guru hanya mengajarkan apa yang tertera di silabus dan mengejar silabus hingga tuntas. Hal inilah yang membuatnya mengusung konsep Merdeka Belajar. Konsep ini membebaskan sekolah untuk menciptakan kreatifitas dan inovasi.
Merdeka Belajar esensinya adalah kemerdekaan berpikir. Ini harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya kepada para murid. Menurut Nadiem, dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi.
Nadiem menjelaskan, dengan konsep merdeka belajar, semua pihak dalam sistem pendidikan akan merasa merdeka. Merdeka dari aturan, baik pemerintah atau lembaga sekolah itu sendiri. Guru merdeka berkreasi dalam kelasnya sendiri, murid merdeka dalam menentukan arah dan level yang cocok untuknya.
Sistem pengajaran juga berubah dari yang semula hanya di dalam kelas menjadi di luar kelas. Dengan demikian, nuansa pembelajaran akan lebih nyaman. Murid dapat berdiskusi lebih nyaman dengan guru, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking yang menurut beberapa survei hanya meresahkan anak dan orang tua saja, karena sebenarnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya dalam bidang masing-masing. Akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat.
Kemerdekaan belajar, menurutnya harus dimulai dari sektor paling bawah, yaitu murid, guru, sekolah dan orang tua. Apabila pergerakan itu tidak dimulai dari bawah, menurut Nadiem program tersebut akan gagal.
Merdeka Belajar di Sekolah Gratis
Pendidikan, mengubah dunia. Pendidikan, memanusiakan manusia. Namun, untuk mendapatkan pendidikan, tidaklah mudah dan murah. Masih sangat banyak masyarakat yang belum dapat menikmati pendidikan dikarenakan biaya yang mahal.
Sebagai contoh di wilayah Kampung Cina, Tajurhalang, Bogor. Warga Kampung Cina umumnya mencari nafkah dengan menjadi buruh di peternakan babi, selain juga ada yang berdagang kecil-kecilan. Penghasilan mereka tidak banyak. Bahkan, mirisnya, untuk membayar biaya pendidikan anak-anak pun, sangat sulit. Ekonomi yang pas-pasan, menjadi faktor tingkat pendidikan di tempat ini, relatif rendah. Banyak orang tua enggan menyekolahkan anaknya di usia dini. Keadaan ini membuat salah seorang warga terpanggil memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak usia sekolah, sejak dini di wilayahnya.
Siswa-siswi SD di Kampung Cina, Tajurhalang, Bogor. (foto: istimewa)
Dirk Denny Sahetapy, pria setengah baya di tempat itu, kepada Jayakarta News mengungkapkan rasa prihatinnya demi melihat banyaknya bocah di Kampung Cina yang tidak sekolah. Terdorong rasa nasionalisme, keinginan turut memajukan bangsa, dan rasa kebersamaan di wilayahnya, ia mendirikan sekolah gratis dengan nama Sekolah Sinar Kasih. Ia mengawali pendidikan gratis dari tingkat TK di tahun 2010. Kemudian pada 2011, tingkat SD. Pada tahun 2019 SMP dimulai bersamaan tingkat Taman Bermain. Saat ini, jumlah murid boleh dibilang cukup banyak. TB dan TK berjumlah sekitar 50-an murid, SD 40-an dan SMP ada 23 siswa.
Untuk mendapatkan pendidikan yang baik tidaklah murah, sehingga tidak semua bisa mendapatkannya. Sekolah Sinar Kasih hadir untuk berusaha menjawab kebutuhan tersebut dengan menyediakan pendidikan yang baik tapi gratis. Demikian diungkapkan Yohanes Tarigan, Kepala Sekolah SD Sinar Kasih. Ia mengatakan, di Sekolah Sinar Kasih para guru bukan hanya berusaha memberikan pendidikan yang baik tapi memberikan teladan hidup yang baik. “Dengan harapan suatu hari nanti dari sekolah Sinar Kasih akan muncul mereka yang bukan hanya cerdas tapi juga memiliki hati yang baik dan mau berkorban bagi orang lain sehingga mereka berguna bagi Tuhan, sesamanya manusia, memberikan dampak yang positif bagi dunia ini.”
Cita-cita luhur dari sekolah tidak berbayar ini, harusnya disambut baik oleh Nadiem dan jajarannya, sebagai pemegang kekuasaan di dunia pendidikan Indonesia. Bahkan harusnya ada perhatian bagi orang-orang seperti Dirk Denny Sahetapy dan Yohanes Tarigan. Merdeka Belajar harus juga memerdekakan sekolah-sekolah gratis seperti Sekolah Sinar Kasih ini bukan hanya dalam program atau sistem pendidikan yang dijalankan, tetapi juga dalam urusan tertentu seperti perijinan dan lainnya.
Konsep Merdeka Belajar Nadiem Makarim ini, terdorong karena keinginannya menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu. Dengan Konsep Merdeka Belajar, tentu saja diharapkan akan membuat masyarakat bergelora dalam belajar.
Belajar menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia. Mengenyam pendidikan dengan konsep yang baru akan menjadi budaya yang menyenangkan. Guru tidak lagi mengajar hanya dengan mengejar selesainya silabus. Murid tidak terpaksa dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Orang tua akan ikut senang melihat anak-anak belajar tanpa tekanan. Pihak sekolah pun menjalankan kewajiban-kewajiban tidak lagi ditekan dengan aneka biaya. Sekolah gratis pun tidak akan tertatih-tatih menjalankan pelayanannya di dunia pendidikan dengan memikul beban aturan bahkan biaya yang harus ditanggungnya. Dengan Merdeka Belajar, Merdekalah Pendidikan di Indonesia. (Melva Tobing)
Jayakarta News – Ketika mendapat kabar bahwa ia diminta mengirimkan video untuk mengikuti Festival Film Internasional Lonely Wolf 2021 di London, Sarwozen tertegun. Sekedipan mata ia tak percaya. Beberapa detik setelahnya, hatinya diliputi rasa bangga. Siswa kelas sembilan SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta ini membayangkan, momen internasional pertamanya itu bakal menjadi pengalaman luar biasa.
“Lonely Wolf mengunjungi media sosial saya. Video pendek yang berjudul Creativity mendapat pujian fantastik,” kata Zen, sapaan akrabnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa video-video karyanya dilihat oleh manajemen Lonely Wolf. Dan ternyata, pemangku kepentingan di ajang festival film bergengsi Inggris itu tak sekadar menyaksikan lantas melewatkannya begitu saja. Creatifity yang diunggah Zen di akun Instagram @zenartstudios pada 28 Juni 2020 itu membetot perhatian mereka.
Selanjutnya pada hari Minggu (26/7), Adrian Perez selaku Direktur Festival Film Lonely Wolf menghubungi Zen lewat pesan pribadi Instagram, dalam bahasa Inggris. Zen menerjemahkannya untuk JayakartaNews.
“Halo Zen Art Studios. Aku sudah memperhatikanmu selama beberapa waktu. Film terakhirmu Creatifity terlihat keren. Itu semua menarik perhatianku. Aku ingin mengundangmu untuk berkompetisi di festivalku, Lonely Wolf. Filmmu berada di standar yang tinggi, dan itu masuk dalam parameter persaingan kita yang ketat. Ke depan, kita memiliki beberapa kompetisi hebat. Kurasa Anda akan bangga bersaing dengan sutradara terkenal di seluruh dunia terutama yang baru saja mengirimkan kepada kami proyek (film) pribadi terbaru. Aku dan para juri ingin menonton film Anda. Atau mungkin menulis ulasan film untuk Anda dan membuat Anda bersaing dengan para best of the best,” tulis Adrian.
“Terima kasih banyak atas informasi Anda. Apakah ada persyaratan untuk bergabung ke festival?” jawab Zen.
“Tidak ada banyak persyaratan untuk mengikuti festival ini. Jika filmmu bukan berbahasa Inggris, Anda harus menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Kirimkan karyamu hanya lewat FilmFreeway,” timpal Adrian.
“Apakah memerlukan biaya untuk mengirimkan filmku?” tanya Zen.
“Kita berbayar. Seperti yang aku katakan di pesan, aku bisa membantumu dengan 20 persen diskon,” tutur personil Lonely Wolf itu.
“Berapa dolar?” Zen kembali bertanya.
Adrian menjawab, “Itu tergantung kategorinya. Ada banyak kategori di dalamnya, antara lain musik video, dokumenter, film pendek dan lain-lain.”
“Terima kasih banyak atas informasimu. Aku berharap filmku bisa selesai dan bisa bersaing dengan yang lain,” tulis Zen.
“Aku mendoakan yang terbaik untuk Anda. Aku akan sangat senang jika Anda berkompetisi karena karya Anda terlihat fantastik,” pungkas Adrian.
Pada 1 Agustus 2020, Adrian Perez kembali membuka percakapan dengan Zen. Ada satu pernyataan dari direktur festival film kelas dunia itu yang membuat Zen menjadi tidak sabar untuk segera memulai proyek filmnya. Zen mencuplik satu pernyataan Adrian dan ia langsung memberikan terjemahannya.
“Jarang aku mencari film dan secara langsung mempertimbangkan untuk memberi kode unik. Jadi aku ingin mengucapkan selamat kepada Anda karena telah menarik perhatianku. Dan aku harap aku bisa membantu Anda dalam membuat platform festival agar lebih mudah diakses. Aku harap ini menjadi berita yang menggembirakan bagi Anda dan aku akan menyambut Anda dalam paket “Serigala” dan bertemu langsung dengan Anda di Festival London suatu hari nanti. Aku akan sangat menantikan kedatanganmu.” Demikian Adrian menulis pesannya.
Zen bercerita, di momen percakapan selanjutnya, Lonely Wolf menambah diskonnya menjadi 40 persen. Ia memilih kategori Drama Fantasi berdurasi maksimal lima menit, bertarif 33 dolar atau Rp 487 ribu. Dengan fasilitas potongan harga sebesar 40 persen, Zen cukup membayar 20 dolar atau sekitar Rp 300 ribu Rupiah.
Zen merekam gambar Candi Prambanan dari berbagai sudut pandang untuk persiapan mengikuti Festival Film Internasional Lonely Wolf 2021 di London. (foto-foto: Ernaningtyas)
Sudah sekitar dua minggu belakangan ini, usai mengikuti pembelajaran jarak jauh, Zen merancang cerita dan menyusun jadwal pengambilan gambar. Pemberian judul akan ditentukan kemudian, sebab katanya, sangat mungkin ada perubahan di tengah jalan. Zen sudah menyelesaikan storyboard (semacam skenario) dan hari Senin (24/8) ia mulai merekam gambar. Candi Prambaban menjadi lokasi pengambilan gambar pertamanya. Selanjutnya, Zen merekam gambar di Desa Albasta Sleman. Ilustrasi musiknya ia buat sendiri. Caranya dengan mengkomposisi elemen-elemen suara alat musik yang tersedia di akun-akun gratis, ditambah bebunyian apa saja yang ia rekam di alam bebas. Salah satunya, suara gemerisik daun kering yang ia injak-injak sendiri.
Ia bertekad menyelesaikan filmnya dengan baik namun dalam suasana tanpa beban. “Saya tidak membidik target juara, dikenal di kancah sineas dunia sudah sangat menyenangkan dan menyemangati,” kata Zen yang bercita-cita menjadi sutradara atau sinematografer.
Sinematografer idola Zen adalah Roger Deakins yang menggarap sinematografi Skyfall,1917 dan Blade Runner 2049. Sementara sutradara kebanggaannya Christopher Nolan dalam film Interstellar, serial Batman, Tenet dan Inception. YouTuber favoritnya adalah Agung Hapsah asal Indonesia. Ia banyak menggarap film pendek berbahasa Inggris, salah satunya “Dear Friend”.
Ben TK dan Sam Kolder juga menjadi favorit Zen. Kedua YouTuber ini mengunggah video perjalanan wisata di media sosial. Ben TK asal Australia, Sam Kolder dari Kanada. “Kreatif, transisinya unik, seamless nggak kasar perpindahannya dan berbeda dari yang lain,” kata Zen memberikan alasannya.
Demi mendapatkan ilmu-ilmu para idolanya itu, Zen berburu tutorial di internet. Anjas Maradita, pengunggah konten-konten kreator sekaligus kreatipreneur papan atas Indonesia, menjadi guru idolanya. Tutor asing kesukaannya adalah Kyler Holland yang banyak membeberkan ilmu tentang efek visual. Akun Youtube “Film Riot” yang banyak membahas pembuatan film juga sering menjadi rujukan Zen.
Kegiatan Zen merekam gambar di Desa Albasta Sleman Yogyakarta. (foto-foto: Ernaningtyas)
Zen percaya, sejalan dengan waktu ia akan menguasai ilmu tentang film. Saat ini, selain menimba pengetahuan, yang ia butuhkan adalah praktek. Dengan banyak berlatih, ilmu yang selama ini telah mengendap di otaknya bisa mendapatkan penyaluran. Pengalaman akan mengasah ketrampilannya. Karena itu di tahap belajarnya ini, Zen belum membidik target juara pada rupa-rupa lomba yang pernah maupun akan ia ikuti dalam waktu dekat. “Belum target award. Butuh proses untuk bisa meraih posisi puncak di Lonely Wolf, juga di ajang Golden Globe, apalagi berjaya di Academy Award dengan merebut piala Oscar seperti Bong Joon-ho,” papar Zen. Ia mengagumi Parasite karya si Bong pada sudut pengambilan gambarnya yang menurutnya unik.
Dalam proses belajarnya Zen mengaku membutuhkan kawan berdiskusi. Karenanya, di dunia maya ia bergabung dengan grup Visual Sans, Visual Art dan Sarang Editor. Belum lama ini, kelompok “Sarang Editor” mengadakan jumpa darat. Di dunia maya, grup yang beranggotakan praktisi video dari seluruh Indonesia ini mengevaluasi dan me-re post karya-karya anggotanya.
Acara jumpa darat pertama itu dihadiri hampir 20 anggota seprovinsi DIY. Agendanya membahas proyek film bersama dengan tema budaya. “Kami akan mengangkat keunikan Yogya,” kata Zen yang dalam pertemuan di Kafe Senja dan Pagi Yogyakarta itu, ia adalah anggota termuda. Zen murid SMP yang berkarakter pendiam itu berada semeja dengan kawan-kawannya yang sudah duduk di bangku SMA dan Perguruan Tinggi. Di proyek bersama itu ia mendapatkan tugas sebagai pemeran atau aktor. Film itu nantinya akan disatukan dengan semua karya anggota “Sarang Editor” di seluruh Indonesia.
Searah jarum jam: Zen makan malam sambil menimba ilmu sinematografi lewat film “The Making of Stranger Things”; Zen (paling kanan) di acara jumpa darat “Sarang Editor”; Zen diapit personil “Sarang Editor”; Kegiatan Zen mengedit video. (foto-foto: Ernaningtyas)
Merdeka Belajar
Merdeka belajar yang sering kali sulit dijangkau nalar dan membuat pusing pikiran orang dewasa itu, ringan-ringan saja dilakukan Zen. Pengalamannya berproses sejak belia, bertumbuh menjadi kanak-kanak, menuju remaja dan perjalanannya meraih usia dewasa dipenuhi nuansa kemerdekaan. Bukan dalam arti semau gue tetapi merdeka menentukan sendiri tema belajar yang ia sukai dan bertanggung jawab pada pilihannya itu. Bagi Zen belajar, baik di sekolah atau pun di rumah, sudah menjadi sebuah budaya yang menyenangkan.
Zen tertarik dengan film sejak balita. Awalnya ia hobi menonton film. Selayaknya bocah sebaya, kala itu ia amat menyukai fim kartun anak-anak, salah satunya Spongebob. Film karya Stephen Hillenburg ini ia tonton berulang kali. “Satu judul film Spongebob ditayangkan televisi berulang-ulang selama beberapa tahun. Tidak bosan saya melihatnya,” tutur Zen mengenang masa silamnya.
Waktu demi waktu berlalu. Seiring perkembangan usianya, genre film yang ia tonton kian bervariasi, seperti horor, fiksi ilmiah, remaja, aksi, misteri. Ia menonton film Indonesia dan asing. Film Indonesia yang pernah ia saksikan antara lain Sultan Agung dan Bumi Manusia karya sutradara Hanung Bramantyo. Sementara deretan film yang paling ia sukai adalah Star Wars, Spiderman, The Invisible Man, Harry Potter, Stranger Things, The Imitation Game, Avengers Series, Joker, Interstellar, Parasite dan lain-lain.
Zen yang sudah melihat ratusan judul film itu mengaku tidak menyukai film komedi. “Aneh saja melihat film komedi, bukan tipe favorit saya,” tutur Zen yang jatuh cita berat pada film-film serius. Film “The Imitation Game” yang dibintangi Benedict Cumberbatch menjadi idolanya. Film ini berkisah tentang drama misteri yang dilatari cerita perang. Ringan-ringan saja Zen memahami film misteri yang rumit dalam bahasa Inggris pula. “Dari film juga saya belajar bahasa Inggris,” tuturnya.
Ibarat sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Lewat sebuah film, Zen tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga menyerap nilai kehidupan, ide membuat cerita, dan tentu saja cara membuat film. “Setiap melihat film, tidak sekadar jalan cerita yang menjadi fokus saya, tetapi saya selalu berpikir, bagaimana ya cara membuat adegan itu baik pencahayaan, transisi gambar, sudut pengambilan gambar dan proses editingnya?” imbuhnya.
“Saya tertawa geli ketika tahu bahwa adegan mobil melaju kencang menghindari lompatan material letusan Yellow Stone Park dalam Film 2012, ternyata terjadi di studio. Mobil yang melaju kencang itu cukup bergoyang-goyang, gambar layar lebar pada latar belakangnyalah yang bergerak. Sementara letusan gunung dan lompatan bebatuan berlangsung di tahap editing,” papar Zen.
Kiri: Zen kelas VI SD, belajar biota air tawar di areal persawahan. Kanan: Zen (ketiga dari kanan) dalam pentas memperingati Hari Musik Nasional bersama kawan-kawan SD. (foto-foto: dokumentasi pribadi)
Dari kegiatan menonton film, akhirnya Zen tertarik membuat video dan menjadikannya sebagai hobi. Sejauh ingatannya, ia mulai mencoba-coba merekam gambar hidup pada kelas tiga Sekolah Dasar (SD). Berbekal hape android, ia mengabadikan obyek yang ada di sekitaran tempat tinggalnya. Aktivitas itu itu gayung bersambut dengan agenda sekolah. “Di kelas enam ada proyek membuat film. Kami dibagi dalam tim dan harus menyelesaikan film itu mulai dari menemukan ide cerita, menulis skenario, menentukan pemain, membuat jadwal, mengambil gambar, mengedit film, sampai memasarkannya dengan penonton para orang tua murid dan adik kelas. Harga satu tiket lima ribu rupiah,” cerita Zen panjang lebar. Di akhir pemutaran film itu, ada agenda “Meet and Greet” (bertemu dan menyapa). Semua kru film dan pemain berjumpa dengan para penonton dalam paket acara bincang-bincang santai.
Zen beruntung karena ia bersekolah di tempat yang memberikan keleluasan untuk menyalurkan hobi. Nyaman-nyaman saja ia melewatkan hari-hari di luar jam sekolah dengan rupa-rupa aktivitas yang ia suka. Tak ada PR (Pekerjaan Rumah) dari sekolah yang menjadi kewajibannya. Saat duduk di SD, kalaupun ada pekerjaan rumah (PR) cukup berupa kegiatan membaca dan meresensi buku. Ulasan ditulis, mulai dalam bentuk paling sederhana di kelas satu sampai yang paling mendalam di kelas-kelas yang lebih tinggi. Buku-buku kesukaan Zen kala itu adalah fiksi, fiksi ilmiah, cerita petualangan Enid Blyton, dan novel remaja.
“Oh ya, ada satu lagi tugas dari sekolah,” sela Zen. Wujudnya adalah berpartisipasi dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dan membiasakan pola hidup sehat. Karena itu, sejak SD Zen sudah terbiasa mandiri. Ia rutin membersihkan kamar sendiri, menyapu seluruh lantai rumah, dan mencuci peralatan makannya. Olah raga setiap hari dan mengkonsumsi makanan sehat menjadi agenda rutin Zen tanpa intervensi orang lain untuk mengingatkannya. Ia gemar senam, lari di tempat juga bermain basket dengan keranjang kardus dan bola plastik. Sementara pepaya, pisang, kelor dan bayam adalah buah dan sayur kesukaannya.
Zen bercerita bahwa guru di sekolah dasarnya duduk semeja dengan anak-anak dalam formasi saling berhadap-hadapan seperti perjamuan di meja makan. “Kami selalu berdiskusi dan mencari banyak informasi bersama-sama, tentang sain, matematika, seni, berkebun dan lain-lain lewat buku referensi atau mencari di internet. Tidak ada buku paket. Materi belajar disampaikan lewat proyek. Kami belajar langsung dari tempatnya seperti pergi ke sawah, kebun sekolah, sungai, umbul, lapangan, rumah Pak Dukuh dan ke tempat-tempat yang jauh dari sekolah seperti Gedung Agung, Museum Wayang, pembangkit kincir angin, candi Prambanan dan banyak lagi,” cerita Zen.
Di rumah Zen tidak direpotkan kegiatan sekolah dalam bentuk menyelesaikan soal-soal, menghafal rupa-rupa materi pelajaran atau mengikuti les rupa-rupa mata pelajaran demi meraih nilai tinggi. Nilai rapor di SD Zen berupa diskripsi, bukan angka, kecuali jika ada permintaan khusus dari orang tua dan untuk kepentingan mendaftar di sekolah lanjutan. Diskripsi itu berisi proses belajar dan pencapaian anak. Sekolah yang berpusat pada pengembangan bakat anak ini tidak memberikan ranking pada hasil belajar. Proses belajar mendapatkan penghargaan lebih besar ketimbang nilai akhir.
Karena itu, di luar sekolah, Zen bisa sangat leluasa menyalurkan hobinya antara lain: menonton film, melukis, membaca cerita, bermain game, dan membuat video.
Awalnya Zen merekam gambar menggunakan hape dengan hasil akhir apa adanya. Lambat laun ia mulai mempelajari editing video dengan menggunakan program Kinemaster. Ia belajar secara otodidak. Internet menjadi wahananya untuk mendapatkan tutorial cara mengedit itu. Tak masalah baginya bila si tutor menyampaikan materi dalam bahasa Inggris. Sebab, SD Zen menggunakan dua bahasa, yakni Inggris dan Indonesia. Selain itu, hobi Zen menonton film asing melatih kepekaan indera pendengarannya terhadap kosa kata bahasa Inggris. Soal arti, bila tidak paham, ia membuka kamus virtual. Tetapi itu tak sering ia lakukan. Sejauh pengalamannya, kendati disajikan dalam bahasa Inggris, tutorial yang dilengkapi sajian praktek itu membuatnya paham. Zen mengunggah video karyanya di akun YouTube “Zen Art Studios” dan Instagram @Zenartstudios.
Kiri: Zen (batik merah) bersama kawan-kawan di SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta. Kanan: Zen (kedua dari kanan) belajar dan bermain di sungai bersama kawan-kawan SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta. (foto-foto: dokumentasi pribadi)
Di SMP, hobi membuat dan menonton film berlanjut. Untunglah, ia masuk ke sekolah yang setipe dengan SD-nya. Ketika banyak siswa lain menonton film di akhir pekan untuk melepas kepenatan belajar sehari-hari, Zen melihat film kapan pun ia mau. Banyak pilihan yang selama ini menjadi sumber untuk menyalurkan hobinya itu. Jika uang saku yang ditabungnya cukup untuk membeli tiket dan ada film yang menarik perhatiannya, ia pergi ke bioskop. Kadang sendiri, suatu kali bersama kawan-kawan sekolah, terkadang ditemani ibunya. Sehari-hari, Zen memburu film-film yang bisa diakses lewat internet.
Hobi membuat video juga terus ia salurkan. Kepiawaiannya mengedit film ia tingkatkan dari waktu ke waktu. Awal tahun 2020, Zen menekuni editing video dengan lebih serius. “Saya mempelajari Adobe Premier Pro dan rupa-rupa program untuk kepentingan editing film secara otodidak,” tutur Zen.
Wabah covid 19 tak menghalangi Zen berproses dengan filmnya. Selepas belajar jarak jauh, ia menonton film, berguru sinematografi lewat turorial virtual dan mengedit video. Karena tidak bisa pergi keluar rumah untuk mengambil gambar sendiri, Zen berburu potongan-potongan film di akun-akun yang menyediakannya secara gratis. Jadilah rupa-rupa video pendek yang sudah ia unggah di akun pribadinya: India, Sweet Scar, Suport Your Culture, Moving Forward, Aventador, Predator Energy, Caffe, Indonesia, Cretaifity.
Creatifity yang berdurasi 19 detik itu ia rekam sendiri gambarnya di dalam rumah. Video singkat itu ia buat untuk kompetisi film pendek. Penyelenggaranya The PanasdalaMovies. Di ajang itu ia kalah. Ini membuat ibunda Zen, Nina Hafez, bertanya-tanya. Creatifity kalah dalam kompetisi di tanah air, bagaimana mungkin ia mendapatkan pujian fantastik dari Lonely Wolf? Apa yang menjadi dasar festival film internasional di negeri Ratu Elizabeth itu menggunakannya sebagai rujukan untuk mengundang Zen?” tanya Nina Hafez.
Nina, demikian ia akrab disapa, menduga bahwa ada kemungkinan lewat film Creatifity Lonely Wolf mengendus bakat Zen. Institusi kaliber dunia itu bisa jadi tidak menggubris hasil akhir. Pengalamannya puluhan tahun di bidang film, mungkin membuat Lonely Wolf piawai meneropong bakat sineas seseorang lewat karya filmnya, kendati karya itu belum mencapai level sempurna. “Saya tidak tahu persis, apa alasan Lonely Wolf memberikan komentar fantastik pada film Creatifity. Atau mungkin film itu memang fantastik ya?,” tanya Nina yang mengaku awam soal dunia film.
Apa pun alasan film Creatifity menjadi dasar Lonely Wolf untuk mengundang Zen ikut berkompetisi di Festival Film Internasional London itu, Nina tak menggubris. Sebab, ia lebih menghargai proses. “Biarlah anak saya berproses dalam menyelesaikan karyanya. Karena ini tantangan besar, saya yakin Zen akan berusaha sebaik mungkin mempersiapkan festival di London itu,” kata Nina.
Zen mengerjakan tugas sekolah, menanam daun bawang di wadah plastik bekas merah putih untuk memperingati 75 tahun Indonesia merdeka. (foto: Ernaningtyas)
Sejak mendampingi Zen berdinamika mulai balita hingga remajanya, Nina selalu menekankan pada proses. “Kalau anak sadar proses, ia tidak akan pernah meraih puncak lewat jalan pintas,” tambahnya. Nina mencontohkan, menyontek, menjiplak skripsi, korupsi, suap menyuap, adalah contoh nyata orang-orang yang bernapsu mencapai puncak lewat jalan pintas tanpa mempedulikan proses.
“Saya betul-betul menekankan agar Zen menikmati proses dalam suasana belajar yang merdeka tanpa tekanan,” pungkasnya. Untunglah, Zen mendapatkan SMP yang kondusif untuk menjalani proses belajar yang merdeka itu. SMP Eksperimental Mangunan yang didirikan budayawan kondang Romo JB Mangunwijaya itu setipe dengan pemikirannya. Selain fokus pada hobinya, Zen tetap menjunjung tinggi tanggung jawabnya sebagai murid di sekolah yang terletak di bilangan Kalasan Yogyakarta itu. Selama empat semester berproses di SMP, ia banyak meraih nilai A dan B di rapornya.
Beberapa waktu lalu, Zen mulai membidik SMA. Ia ingin melanjutkan pendidikan menengah atasnya di Kolese De Brito Yogyakarta. Ini sebuah SMA swasta legendaris yang juga menekankan pengembangan minat dan bakat anak. Ada banyak hal yang menarik Zen di tempat itu. Salah satunya kebebasan. Bebas tapi bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya, menghormati sesama, berempati kepada orang miskin dan peduli lingkungan. Demikian informasi yang didapat Zen dalam penelusurannya di dunia maya tentang profil SMA idolanya itu.
Jika banyak kasus anak lulusan SMA terjebak kebingungan menentukan mau kuliah di mana dan mengambil jurusan apa, sejak SD Zen bercita-cita kuliah di Perancis. “Saya ingin memperdalam Teknologi Informasi (TI) dan film di negara Eiffel itu,” kata Zen.
Alasan mengapa Perancis menjadi pilihannya adalah, kota-kota di negara itu indah, klasik, banyak bangunan tua bersejarah dan masyarakatnya santai. Zen juga terinspirasi pebola Paul Pogba dan kehidupan seni lukis di negera Perancis yang kental. Zen yang telah beberapa kali mengikuti pameran lukisan di kota Yogya itu juga ingin mengembangkan bakat melukisnya sebagai hobi. “Saat ini saya sudah belajar sedikit-sedikit Bahasa Perancis secara otodidak,” tambahnya.
Zen (paling kiri) fokus mengerjakan evaluasi di SMP Eksperimental Mangunan Yogyakarta. (foto: dokumentasi pribadi)
Mengubah Pola Pikir
Di awal jabatannya sebagai Menteri Pendidikan Nasional, Nadiem Makarim melontarkan ide perihal merdeka belajar. Saat dimintai komentarnya terhadap ide mas menteri itu, Nina Hafez menjawab, “Ide Pak Nadiem seperti gunung yang tiba-tiba menyembul di keramaian pasar, bikin heboh, membuat bingung, dan memicu rupa-rupa pemahaman,” tuturnya. Ia mengakui ide itu sebagai sebuah gagasan yang brilian. Sebab, demikianlah semestinya belajar. Ia harus berada pada atmosfer kemerdekaan.
Nina sadar diri, sebenarnya bukan kapasitasnya untuk mengomentari itu. Ia hanyalah ibu rumah tangga yang sedang mendampingi seorang anak bertumbuh, bukan pakar pedagogi pun bukan pribadi yang berkutat dengan dunia pendidikan formal. Sebagai pihak yang bukan siapa-siapa ia hanya bisa menyaksikan, betapa banyak ibu di kampungnya kebingungan, merdeka belajar seperti apa yang mesti dijalani buah hati mereka.
“Berdasarkan pengalaman saya selama ini, ada satu hal yang mesti ditempuh sebelum merealisasikan ide merdeka belajar, yakni mengubah pola pikir,” tegas Nina. Pengubahan pola pikir itu pertama-tama harus berlangsung di tataran orang tua. Nina mengutarakan, konsep merdeka belajar Mas Menteri pasti berbeda dengan sistem kurikulum dan target pencapaiannya yang selama ini dijalankan sekolah formal. “Ketika ada perbedaan tanpa ada perubahan pola pikir, pasti akan menimbulkan protes dan selanjutnya akan memicu keserampangan ketimbang sebuah gerak langkah maju yang rapi, serempak dan leluasa,” tambahnya.
Nina menceritakan pengalamannya. Ia memiliki kawan yang memasukkan anaknya ke sekolah dasar inklusif. Harapan si kawan, di tempat itu anaknya bisa menempuh pendidikan secara bebas tanpa tekanan. Tetapi, kemudian ketika ia menyaksikan bahwa di sekolah si anak lebih banyak bermain ketimbang belajar, nilai rapor berupa pemaparan cerita bukannya angka-angka, si kawan melancarkan protes. Protes itu berlanjut ketika si anak tak pernah mendapatkan PR berupa soal-soal tanya jawab.
Pembelajaran Jarak Jauh. Zen membedah persoalan sampah plastik kemasan makanan, sekaligus belajar mengukur volume benda padat. (foto: Ernaningtyas)
Pengalaman Nina yang lain adalah soal belajar membaca di usia Taman kanak-kanak (TK). Konon, peraturan menyebutkan bahwa pelajaran membaca semestinya dilakukan ketika anak duduk di kelas satu SD. “Tetapi, betapa orang tua bangga jika anak-anak mereka bisa membaca di usia jauh sebelum SD-nya tiba,” tuturnya. Ia banyak menemukan kasus bahwa orang tua begitu bahagia ketika mendapati putra putri mereka mampu membaca di usia yang sangat belia. Tetapi, para orang tua itu seperti tidak peduli ketika di usia selanjutnya anak-anak mereka hanya bisa membaca tanpa tahu makna yang terkandung di dalamnya. “Inilah yang membuat anak terjebak pada hafalan,” imbuhnya.
Soal ranking juga dilihat Nina sebagai satu hal mesti direvolusi ketika merdeka belajar benar-benar dilaksanakan. Menurutnya, merdeka belajar membebaskan anak berkembang sesuai minat dan bakatnya, karenanya untuk menakar keberhasilan tidak bisa dilihat lewat indikator ranking. Sebab, ranking mengukur keberhasilan pada semua bidang pelajaran. “Acapkali saya melihat betapa orang tua bangga dengan ranking. Usai penerimaan rapor misalnya, pasti para orang tua saling bertanya ranking berapa anakmu?” kata Nina. Pujian pasti ditujukan pada anak-anak yang nangkring di ranking atas. Sebaliknya, betapa mindernya para orang tua pemilik anak yang mendapatkan ranking rendah.
Mengukur keberhasilan lewat ranking membuat para orang tua berlomba-lomba memasukkan buah hati mereka ke tempat-tempat les. Demi mendongkrak nilai pada pelajaran yang dianggap kurang bisa dikuasai anak. “Pagi sekolah, sore les matematika dan bahasa Inggris, otak anak diperas-peras, kapan bermainnya?” tambahnya.
Nina memaparkan, jika pola pikir orang tua sudah berubah, maka merdeka belajar akan ikut terkondisikan, pelan tapi pasti. Karena itu, sangat penting untuk menjadikan orang tua sebagai agen perubahan dalam membangun merdeka belajar. Perubahan pola pikir itu selayaknya sebuah infratsruktur. Ia menjadi pondasi atau jalan untuk mencapai tujuan.
Di sekolah, dalam semangat merdeka belajar, orang tua akan protes kalau guru sekadar berbicara menyampaikan materi dan lupa mengajak anak-anak berdiskusi. Orang tua pasti menuntut guru agar anak-anak mereka diajak berdinamika di luar kelas. Orang tua tidak akan memasukkan anak mereka les pada mata pelajaran yang nilainya rendah. Di alam merdeka belajar, nilai rendah mengindikasikan bahwa si anak tak memiliki minat di situ. Justru pada pencapaian nilai yang tinggi, kemampuan si anak dikembangkan. Sudah lazim anak mencapai nilai tinggi mata pelajaran yang disukainya.
Zen, fokus mengambil gambar Candi Prambanan, Yogyakarta. (foto: Ernaningtyas)
Di rumah, dalam nuansa merdeka belajar, orang tua tidak akan sewot melihat anaknya memukul-mukul kaleng bekas. Suara cempreng yang menggampari indera pendengaran itu bagi orang tua sungguh mengganggu. Tetapi bagi si anak, ia mungkin saja sedang membayangkan diri selayaknya Gilang Ramadan di belakang drum, di atas panggung terhormat, di hadapan tamu-tamu istimewa. Para orang tua pun tak akan pernah melarang anak-anak mereka hujan-hujanan. Sebab, aktivitas yang acapkali dikhawatirkan memicu masuk angin itu, di mata anak adalah sesuatu yang asyik. Siapa tahu lewat kebiasaannya bermain hujan, anak lebih mencintai alam semesta. Kelak mungkin ia akan menjadi tokoh lingkungan penyelamat bumi lewat konservasi sumber-sumber air. Para orang tua pun menjadi maklum, jika anak-anak mereka berusaha mati-matian mempertahankan pendapat. Sebab, siapa tahu si anak kelak menjadi wakil negara di meja perundingan PBB yang membahas penyerobotan pulau terluar Indonesia oleh negara tetangga.
Pola seperti itu akan membuat anak senang belajar. Ketika anak melakukan sesuatu dengan senang, otomatis akan terjadi pengulangan. Budaya belajar dengan media apa saja, entah di sekolah juga di rumah, akan berlangsung dengan sendirinya. Dan ini membuat anak-anak bahagia. Rasa bahagia membuat anak rindu sekolah juga bersemangat melakukan banyak eksperimen di rumah.
Mengubah pola pikir orang tua adalah satu dasar yang penting. Jika pemerintah serius dengan merdeka belajar ini, harus ada kampanye yang bersifat masif. “Seperti kampanye pada program imunisasi anak nasional,” kata Nina. Kampanye itu akan membuka mata dan hati orang tua, bahwa pola belajar di sekolah yang kental dengan kurikulum dan pencapaian target seperti saat ini, sama saja membebani anak dengan sekarung beras di lintasan lari. Si anak mencapai garis finis dalam kondisi kepayahan total.
“Bukankah lebih menggembirakan jika anak berlari mencapai finish tanpa beban yang kelewatan? Bukankah tanpa beban berat anak pun bisa mencapai garis finish?” tambahnya. Bila diibaratkan sekarung beras itu kurikulum, maka tugas selanjutnya adalah menyiapkan guru, sumber daya manusia (SDM) paling penting dalam agenda merdeka belajar. Atmosfer merdeka belajar membutuhkan guru yang kreatif dan sekolah yang mampu melahirkan “warna baru” isi “karung beras” itu. Kebaruan itu ada pada implementasi di lapangan, agar kurikulum itu menjadi ringan, menyenangkan, tidak membebani. Pemerintah cukup sebagai pihak yang berperan di ranah regulasi.
Nina menyatakan, tanpa mengubah pola pikir orang tua, Nadiem Makarim dengan merdeka belajarnya ibarat membangun rumah tanpa pondasi. Bagus penampakannya, tetapi rapuh konstruksinya. Rumah itu mudah roboh. (Ernaningtyas)
Jayakarta News – Kawasan di sisi selatan Gunung Merapi itu bernama Pakem. Letaknya yang tinggi membuat zona ini terasa sejuk hampir di sepanjang hari. Bila langit cerah, pucuk gunung di sisi utara, hamparan pepohonan dan angkasa di atasnya, menampakkan diri serupa lukisan alam raksasa. Petak-petak sawah dan pepohonan masih mendominasi areal di antara lahan-lahan fungsional lainnya seperti permukiman, kantor, sekolah, pasar, dll.
Di satu bagian wilayah Pakem, berdiri SMP Talentschool. Ini sebuah sekolah inklusif. Pada Selasa 16 Juni 2020, sekolah yang hadir sejak tiga tahun lalu itu mencatat sejarah kelulusan murid angkatan pertamanya. Tiga orang jumlahnya, satu siswa inklusif, dua pelajar reguler: Belinda Azalia Sispravasthi, Upasara Wulung dan Alviresta Christyola. Wisuda kelulusan digelar di Erista Garden, sebuah area sawah di Dusun Demen, Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta.
Talentschool sekolah alam. Konsepnya homeschooling. Tak ada seragam khusus, tak ada buku paket. Pembelajaran dilakukan berdasarkan student centre. Murid adalah subyek, guru fasilitator. Pada acara seremoni kelulusan siswa SMP perdana, semua siswa yang lulus menerima sertifikat. Dua siswa yang akan melanjutkan pendidikan di sekolah lain, masing-masing menerima sebuah pot berisi tanaman jeruk kingkit (triphasia trifolia). Tanaman buah karya siswa sendiri ini diharapkan terus dipelihara di rumah dan menjadi kenangan indah selama mereka belajar di Talentschool.
Keluarga Besar Talenschool. (Foto: Thomas Hartanta)Thomas Hartanta, kepala sekolah dan pendiri Talentschool. (ist)
Merdeka Belajar
Thomas Hartanta, Kepala Sekolah sekaligus pendiri, ketika memberikan sambutan pelepasan kelulusan siswa SMP Talentschool mengatakan bahwa dunia pendidikan nasional sedang mengalami transisi bahkan revolusi. “Pendidikan yang semula berupa instruksi dari atas, mulai dari Kementerian sampai ke siswa berubah menjadi suatu gerakan dari bawah ke atas, seperti konsep Mas Menteri Nadiem Makarim pada wacana merdeka belajar,” papar Thomas. Siswa siswi Talentschool beruntung, sebab, jauh sebelum konsep merdeka belajar dilontarkan Menteri Pendidikan Nasional, sekolah ini telah menjalankannya sejak awal berdiri.
“Merdeka belajar yang kami jalankan, murid menentukan sendiri materi yang akan dipelajari,” kata Thomas. Ini penting, sebab setiap siswa memiliki selera masing-masing, berdasar pada bakat dan minatnya. Tak sekedar memilih materi, murid pula yang menentukan metode belajar. Jika harus melakukan presentasi, siswa juga yang menentukan caranya, entah lewat puisi, membuat lagu atau menjelaskan mindmap (kata-kata kunci). Pengamatan lapangan juga dibiasakan dalam proses belajar di Talentschool. Lewat observasi, daya ingin tahu siswa mendapatkan jawaban lebih lengkap dan dalam.
Salah satu bentuk observasi favorit adalah berkebun. Segala hal ihwal tentang proses hidup tumbuhan, mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan, pemanenan, pengolahan hasil sampai dengan manfaat tanaman bagi lingkungan dan makhluk hidup, diamati siswa. Murid Talentschool mengerjakan sendiri tahap demi tahap proses bertanam itu dari awal hingga akhir.
Ketika bahan, metode dan observasi dipilih dan dilakukan sendiri, kemampuan siswa untuk menjadi paham relatif lebih mudah. Sebab, tidak ada keharusan-keharusan yang kaku, instruksional dan membebani, seperti yang terjadi pada pembelajaran dimana guru memberikan materi, murid mendengarkannya, lantas menghafalkannya ketika waktu evaluasi tiba.
Tak hanya proses menyerap ilmu. Talentschool juga mendorong agar siswa mampu mengkomunikasikan pemikiran, ide, atau apa saja kepada pihak lain. “Siswa diberi kesempatan mengemukakan pendapat setelah pengamatan selesai,” tutur Thomas.
Melakukan persentasi dan mengemukakan pendapat adalah satu bentuk pembangunan karakter yang penting untuk mempersiapkan masa depan anak. Di sini siswa belajar berbicara secara runtut, argumentatif berdasarkan logika. Kemampuan berkomunikasi seperti ini penting dimiliki setiap anak untuk berproses menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi, memasuki dunia kerja sampai dengan ketika mereka berdinamika di kehidupan yang lebih luas.
Wulung, Belinda, dan Ola. Lulusan pertama SMP Talentschool. (Foto: Thomas Hartanta)Belinda (kiri) dan Bunda Nining (kanan). (ist)
Gembira dan Pede
Merdeka belajar di Talentschool membuat para siswa selalu gembira dalam menjalani step demi step proses pengembangan diri. Ketiganya kompak menyakan bahwa SMP ini membentuk pribadi-pribadi yang ceria dan penuh percaya diri. Belinda Azalia Sispravasthi, Upasara Wulung dan Alviresta Christyola, murid angkatan pertama membagi pengalaman mereka.
Belinda Azalia Sispravasthi lulus dari SD My School yang berkonsep homeschooling. Karena itu, saat memilih SMP, Belinda pun mencari sekolah yang berkonsep sama. “Saya memilih Talentschool karena sekolah ini mirip SD saya dulu,” tutur Belinda, nama panggilannya.
Belinda siswi istimewa. Ia mantap masuk SMP Talentschool karena belajar di tempat ini tidak sepenuhnya akademis dan proses belajarnya menyenangkan “Banyak praktek dan banyak kegiatan di luar sekolah, para pendamping luar biasa dan teman saya baik-baik,” cerita Belinda. Sementara sang bunda, Nining, menyatakan bahwa meskipun Talentschool sekolah alam dan banyak melakukan prakek, biaya pendidikan di tempat ini tidaklah mahal.
Selulus dari Talentschool, Nining mengakui bahwa putri keduanya itu menjadi pribadi yang penuh percaya diri. Kemampuannya membaca, menulis dan berhitung kian mantap. “Belinda cekatan memainkan alat musik gamelan, berani tampil di depan orang lain baik dalam presentasi maupun pentas seni,” papar Nining.
Upasara Wulung
Upasara Wulung juga merasakan bahwa sekolah di Talentschool membuatnya senang. “Bebas, santai, tidak underpressure, di sekolah seperti berada di tengah keluarga, guru tidak galak,” kata Wulung, panggilan akrabnya. Ocke Sekarini, sang bunda, memberikan testimoninya. Wulung nyaman sekolah di Talentschool. Ini tampak dari perilakunya yang selalu bersemangat setiap kali berangkat ke sekolah. “Tidak ada keluhan atau rasa aras-arasen (malas) yang mengarah kepada kondisi tidak nyaman, padahal ada satu murid yang nyebelin dan satu murid yang akrab dengan Wulung pindah ke SMP lain. Tetapi Wulung tetap bisa adaptasi dan enjoy,” papar Ocke, panggilan akrabnya.
Ocke bercerita saat-saat awal Wulung memilih Talentschool. Nilai hasil ujian SD putra sulungnya itu tak sesuai harapan. Akhirnya, daripada bersekolah di SMP swasta ecek-ecek, Wulung memilih homeschooling. Ada dua opsi homeschooling waktu itu, Ansa dan Talentschool. Ansa dicoret, sebab sekolah rumah ini tidak masuk setiap hari, hanya dua atau tiga kali seminggu jadwal sekolah berlangsung. Akhirnya Wulung memilih Talentschool. “Kebetulan di sini ada sosok Pak Thomas yang direkomendasikan oleh seorang kawan saya,” tambahnya. Kebetulan pula, Homeschooling Talentschool berlokasi tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Kegiatan berkebun murid Talentschool. (Foto: Thomas Hartanta)
Ada banyak perkembangan yang dirasakan Wulung selama tiga tahun berdinamika di Talentschool. “Rasa percaya diri meningkat. Saya berani berbicara di depan orang-orang yang belum saya kenal dan melakukan story telling di hadapan banyak orang,” kata Wulung. Ia menambahkan bahwa Talentschool menumbuhkan rasa cinta lingkungan dan memberikan pengalaman istimewa melakukan kegiatan-kegiatan di luar kelas bahkan di luar lingkungan sekolah. Di tempat ini pula Wulung mengasah ketrampilan bermain musik gamelan. Di lingkup akademis, Wulung mendapatkan pengalaman luar biasa. Ia bukan penyuka matematika dan fisika. Namun, sosok Thomas bisa membuatnya memahami dua bidang studi yang sama sekali bukan favoritnya itu, lewat cara-cara yang mnyenangkan.
Ocke merasa lega. Sebab, Wulung lolos tes masuk ke sekolah favorit di kota Jogja, SMA Bopkri 1. Saat tes wawancara berlangsung, Wulung sangat pede menghadapi dewan penguji dalam sebuah komunikasi berbahasa Inggris.
Alviresta Christiola
Senada dengan Belinda dan Wulung, Alviresta Christiola juga menyatakan bahwa Talentschool adalah sekolah yang ia impikan. “Sekolah di Talentschool menyenangkan, ada kebebasan dan langsung praktek,” kata Ola, sapaan akrabnya. Sebelumnya, Ola sempat masuk sebuah SMP formal. Namun ia tak betah berproses di sekolah dengan sistem klasikal dan sarat beban tugas. Untunglah, ia menemukan Talentschool yang kebetulan terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Ola bercerita, awalnya ia tak memiliki rasa percaya diri. Setelah berproses di Talentschool pede-nya tumbuh dan kian menguat. “Karena sering presentasi saya menjadi pribadi yang berani tampil untuk menyampaikan gagasan, ide, atau pemikiran di depan banyak orang,” tutur remaja putri yang ingin melanjutkan sekolah di SMK Negeri 1 Kalasan, Yogyakarta.
Kendala
Thomas Hartanta mengakui, banyak kendala yang ia hadapi selama berdinamika di dunia pendidikan homeschooling yang inklusif. “Di sekolah seperti ini, perbedaan kecerdasan masing-masing anak cukup besar. Kompetensi dasar yang diminta kurikulum sangat bisa terlewatkan,” kata Thomas.
Untuk mengatasinya Thomas menjalankan strategi khusus. Lulusan ITB yang telah lama malang melintang di dunia pendidikan homeschooling ini menjalankan strategi pengelompokan. Setiap grup beranggotakan anak yang memiliki tingkat kecerdasan hampir sama. Selain itu, ia dibantu guru pendamping lainnya menemani masing-masing anak belajar secara individual. “Supaya kompetensi dasar yang diminta bisa dipenuhi semua, setiap akhir semester dilakukan evaluasi bersama siswa untuk melihat kompetensi dasar mana yang belum tercapai,” paparnya.
Ke depan, pencarian bentuk merdeka belajar akan merebak di dunia pendidikan tanah air. Cita-cita Thomas, Talentschool bisa menjadi model sekolah inklusif yang berpusat pada pengembangan minat dan bakat masing-masing anak dari jenjang SD hingga SMA. Untuk itu, pihaknya menjalin rupa-rupa kerjasama dengan berbagai lembaga lain maupun masyarakat luas. (Ernaningtyas)