Refleksi Natal 2019, Kelahiran Harapan Bagi Semua Manusia

 Refleksi Natal 2019, Kelahiran Harapan Bagi Semua Manusia

Catatan Anthony Leonardo Patty

Ketika Natal tiba kita langsung teringat akan gambaran bayi mungil dengan bapa dan ibunya disebuah gua kandang dan ada beberapa gembala serta domba-domba.

Namun, kali ini, saya malah teringat akan cerita Yesus yang diberi judul Orang Samaria yang baik. Lalu apa hubungannya antara Natal dengan cerita ini? Buat saya, Natal adalah peristiwa tindakan Ilahi untuk berempati langsung terhadap manusia. Sedikit kita perlu melihat latar belakang orang Yahudi kala itu; mereka miskin tertindas oleh penjajahan Romawi dan juga oleh para pejabat atau raja-raja kecil — orang Yahudi atau bukan.

Bayi mungil itu jadi tanda kepedulian akan penderitaan, akan ketidak-pedulian, akan miskinnya empati, bahkan kehilangan harapan akan perubahan lebih baik dari ‘para pahlawan’ kita, yang disebut para pejabat terpilih. Namun Yesus datang bukan untuk membebaskan mereka dari penjajahan dan jadi penguasa atau raja. Dia datang lebih dari sekadar itu, Dia datang untuk membebaskan manusia dari penderitaan dosa dan kematian. Dia datang untuk memindahkan manusia dari kematian kepada kehidupan.

Mungkin perlu sedikit mengutip cerita Orang Samaria yang baik. Diceritakan, dalam perumpamaan, ada seorang Yahudi sedang berjalan dan diserang oleh para perampok dan ditinggalkan tergeletak di tepi jalan. Ada dua orang Yahudi, pemuka agama dan masyarakat, yang memilih untuk meneruskan perjalannya tanpa menolong orang yang malang ini.

Ketika seorang Samaria lewat, dia mendatangi orang itu, merawat, dan membawanya kepenginapan untuk dirawat lebih lanjut. Satu tindakan yang dipandang ‘aneh’ oleh kebanyakan orang Yahudi.

Orang Samaria yang baik juga punya latar belakang yang sangat menarik. Kala itu, Orang Samaria dipandang sebagai warga kelas 2 bagi kalangan Yahudi. Mereka dinilai tidak punya darah murni Yahudi, kebanyakan karena kawin campur dan juga orang asing yang tinggal di wilayah Yahudi.

Orang Samaria juga punya keyakinan berbeda dengan orang Yahudi. Karena dua hal ini saja, Orang Yahudi tidak bergaul dengan Orang Samaria. Inilah salah satu penderitaan dosa — orang tersekat-sekat oleh strata sosial, gengsi, materi, asal usul, bahkan agama.

Karena itu cerita ini punya dimensi Natal yang kuat . Natal menjadi lambang empati kepada semua orang yang tertindas, terpinggirkan, sakit, menderita dan yang kekurangan dalam segala hal.

Kemudian menjadi Orang Samaria yang baik dengan cara memperjuangkan, dengan integritas tentunya, keadilan, kesejahteraan, dan kemerdekaan bagi semua orang — tidak peduli keyakinan, asal, suku, atau strata sosial — menjadi misi bagi tiap orang.

Selamat merayakan Hari Natal —Sang Harapan telah lahir. (*)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *