Radikalisme, Kita Bodoh atau Dibodohi?

 Radikalisme, Kita Bodoh atau Dibodohi?
Prof (Ris) Hermawan “Kikiek” Sulistyo tengah menyampaikan materi di seminar Bersama-sama Mencegah Paham Radikalisme dan Konflik Sosial, auditorium Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Bekasi. (foto: teguh)

Jayakarta News – Bersama-sama Mencegah Paham Radikalisme dan Konflik Sosial Serta Menjaga Kearifan Lokal. Itulah tema seminar nasional yang diadakan BEM Universitas Bhayangkara Jakarta Raya di Auditorium Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Kampus II Bekasi), Sabtu (12/10) lalu.  

Sekitar 200 peserta seminar yang terdiri dari 90 mahasiswa UBHARA perwakilan dari 6 fakultas, Fakultas Ilmu Komunikasi, Hukum, Eknomi, Teknik, Ilmu Pedidikan dan Psikologi  yang terdapat di universitas tersebut. Serta delegasi dari perguruan tinggi lain dan masyarakat umum. Hadir sebagai pemateri Moch. Chairil Anwar, SH, Kasubdit Pengawasan BNPT (badan Nasional Penanggulan Terorisme) sebagai pembicara 1, Prof (Ris) Hermawan Sulistyo, M.A, PhD., APU pembicara 2 dan Yeksa Serkeh Chandra, Ketua Forum Seniman Bekasi (FSB). Jalannya seminar dipandu oleh Ir Djuni Thamrin, M.Sc., PhD.

Acara dimulai pada pukul 09.24 WIB. Setelah acara dibuka, seluruh panitia berdiri untuk menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Berikutnya sambutan-sambutan. Sambutan pertama dari ketua panitia pelaksana, wakil Walikota Bekasi, dan Wakil Rektor 2 UBHARA.

Kesempatan pertama diberikan kepada Kikiek, panggilan akrab  Prof (Ris) Hermawan Sulistyo, M.A., PhD., APU. Menurut Mas Kikiek, “Saya mau ke akarnya dulu. Kita ini bodoh dan dibodohi,” kata Kikiek mengawali presentasinya.

Kikiek yang menyukai Ilmu Fisika, maka memulai dengan terjadinya kiamat. Matahari yang telah berusia 100 miliar tahun, adalah salah satu sumber energi bagi manusia yang hidup di bumi. “Sumber energi kita cuma satu matahari. Pada saatnya kan habis. Kalau matahari habis maka terjadi kiamat. Tak ada kehidupan lagi di bumi,” ujar Kikiek. 

Matahari hanya salah satu bintang di angkasa yang jumlahnya ratusan miliar. Cahaya matahari sampai di bumi, yang akhirnya menjadi sumber energi dan kehidupan bagi mahkluk di bumi termasuk manusia, sebelumnya di dalam matahari sendiri terdapat reaktor nuklir. Yang membutuhkan masa berjumlah milyaran ton untuk melakukan reaksi nuklir tersebut. Dan matahari kemungkinan masih bisa digunakan hingga 100 milyar tahun ke depan. Akan tetapi manusia hanya berusia 100 tahun.

“Tapi saya tidak mau mati di usia 100 tahun. Nanti tidak ada yang melayat,” celetuk Kikiek dalam seminarnya yang disambut tepuk tangan.

Kemudian Kikiek menceritakan pengalaman dirinya yang pernah mengalami mati suri, pertama saat terkena stroke dan kedua karena serangan penyakit malaria. “Dalam kematian pertama saya bertemu malaikat. Kematian yang disebabkan stroke itu enak. Setelah terkena vertigo lalu hilang. Tapi kalau terkena malaria itu sakit semua,” celoteh Kikiek.

Kermatian itu juga diyakini oleh penganut agama-agama lain. Kalau Budhisme itu bukan agama. Tapi ajaran untuk hidup lebih baik lagi. Kalau berlaku buruk, maka setelah mati akan bereinkarnasi menjadi binatang. Tapi kalau berlaku baik terus maka, akan bereinkarnasi menjadi manusia yang tingkatanya lebih baik lagi. Kalau sudah menjadi raja, tidak akan mati lagi. Nah di dalam Islam juga mempunyai konsep kematian tersendiri. Bagi penganut Islam, Islam lah yang benar. Bagi penganut kepercayaan lain, maka keparcayaan itulah yang benar. “Yang tidak boleh adalah memaksakan keyakinan kita kepada orang lain,” kata Kikiek.

Nah yang terjadi di Indonesia adalah seperti yang terjadi di Vatikan 500 tahun silam. Ketika pihak Gereja menghukum mati Galieo Galilei karena teorinya bertentangan dengan Gereja tentang bumi itu bulat.

Kejadian di Papua,adalah masalah konflik sosial. Para pendatang lebih banyak menguasai kesempatan berbisnis dan kegiatan apa pun. Orang Asli Papua hanya sebagai penonotn. Lama-lama kecemburuan itu terus menumpuk. Nah kejadian di Wamena, orang Wamena tidak melakukan apa-apa. Tapi orang Papua dari daerah lain yang melihat berita melalui sosmed, yang sakit hati dikatain monyet merasa sakit hati.  Lalu konflik melebar.

Sedangkan, menurut Chairil Anwar dari BNPT, bahwa tipe teroris ada beberapa. Salah satunya kerusuhan di Wamena juga bentuk teror. Yang berlanjut ingin memisahkan diri dari NKRI. Radikal yang ujungnya akan memisahkan diri ini sangat berbahaya. Nah kejadian yang baru saja menimpa Menkoplhukam Wiranto salah satu yang dipicu oleh ideologi. Walaupun belakangan pihak kepolisian menyatakan pelaku terkena gangguan jiwa.

Salah satu upaya untuk meredam timbulnya radikalisme dan terorisme adalah dengan pendekatan budaya. Masyarakat dikembalikan kepada akar budayanya. Menurut Yekah Serkeh Chandra dari Forum Seniman Bekasi mengatakan, radikalisme dan terorismei bisa diredam dengan jalur kebudayaan. (guh)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *