Pejuang-pejuang ‘Sesuap Nasi’

 Pejuang-pejuang ‘Sesuap Nasi’

Pedagang aneka mainan anak. (foto: ist)

Jayakarta News – Wabah virus corona (covid-19) terhitung sudah hampir memasuki dua bulan melanda Indonesia. Kondisi pandemi global ini sungguh sangat mengkhawatirkan perekonomian bangsa. Mulai dari pebisnis, pekerja formal maupun informal, makin terhimpit. Ada yang dirumahkan, ada di-PHK, ada yang bergiliran masuknya.

Pemerintah sudah mennyerukan social distancing, physical distancing, hingga prosedur PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di sejumlah daerah. Meski begitu, masih banyak masyarakat yang tidak mengindahkan imbauan tetap di rumah, dengan berbagai alasan.

Seperti para pedagang asongan, makanan, sopir angkot dan ojol. Mereka merupakan pekerja harian yang harus keluar rumah jika ingin mengais rezeki. Artinya, jika mereka di rumah, dapur terancam tidak ngebul. Apa boleh buat, bahaya tertular Covid-19 pun diterjang.

Seperti halnya beberapa hari lalu bertemu pedagang somay di jalan sekitar Cibubur, Jaktim. Dan saat itu sepanjang jalan sepi. Ia tampak sedang mendorong gerobak somay. Cuaca pun seakan hendak turun hujan. Di kesunyian  itu terdengar bunyi, “ting…ting…ting…,” itu tanda kehadirannya, dan suara itu dari mangkok yang dipukulkan dengan sendok.

Sepanjang aku perhatikan sampai dekat terlihat tak ada seorang pun yang membeli somaynya. Aku pun memesan dua mangkok. Satu buat aku dan temanku. Sambil menunggu somay dihidangkan, aku memulai obrolan. “Mas kenapa masih tetap jualan? Apa tidak mendengar imbauan untuk tetap di rumah?”

Santai ia menjawab, “Saya tahu bang. Tapi orang seperti saya ini bagaimana bisa di rumah saja? Rezeki hari ini untuk dimakan besok. Belum buat jajan anak-anak.”

Tak lama berselang, hujan rintik-rintik mulai turun ke bumi. Kami mencari tempat berteduh, tapi si pedagang somay tetap berdiri menunggu. “Seandainya ada bantuan untuk menutupi kebutuhan, apakah masih juga berjualan?” Cepat ia menukas, “Ya enggaklah. Kalau ada bantuan, ya saya memilih di rumah.”

Kiri: Pedagang somay. Kanan: ibu-ibu pemulung tetap bekerja menerjang bahaya Covid-19. (foto: monang sitohang)

Di lain kesempatan pagi harinya, di sebuah lorong jalan bertemu seorang pedagang keliling. Seorang pria tua terlihat terlihat mendorong gerobak mainan dan aksesoris. Ada  jepitan rambut, mobil-mobilan, bando, ikat rambut, ada juga tampak serabut untuk cuci piring dan sebagainya. Langkah lelaki tua itu tampak gontai.

Aku sapa dia, “Bagaimana Pak, lancar jualannya?” Ia menjawab, lancar. Lalu melanjutkan, “Biasanya saya jualan di dekat sekolah. Berhubung sekolah libur jadi saya jualan keliling. Alhamdulillah, penghasilan tidak berkurang.”

Di tempat terpisah, di hari yang berbeda, terik matahari pagi tidak menyurutkan semangat seorang wanita setengah baya mengerjakan aktivitasnya. Tampak ia menggunakan baju lengan panjang, hijab berwarna hitam, celana panjang biru dan masker merah muda, dan tangan kanan memegang gancu (besi ujungnya melengkuk runcing utk menggumpalkan barang-barang yang tercecer di jalan) sambil menggendong karung goni.

Setelah berkeliling, sebelum beranjak ke tempat lain wanita itu di ujung lorong jalan kawasan Cibubur sedang membenahi barang-barang yang ada di dalam goni dengan menyerakkan barang-barang rongsokan di dalam goni yang dipikulnya. Satu per satu disusun dan dimasukkannya kembali ke goni, setelah itu kembali dipikulnya.

Di bagian yang lain, seorang pekeja kebersihan kebun dan pekarangan rumah juga bekerja seperti biasa. Tak jauh dari sana tampak pemandangan pria tua memikul rotan, lalu ada talinya yang mengikat keranjang berisi alat bekerja di ladang, seperti parang, garuk, cangkul dan lainnya.

Dan masih banyak lagi pekerja harian yang tidak dapat bertahan di rumah karena alasan perut. Dan para pejuang ‘sesuap nasi’ itu di mana saja berada adalah pahlawan bagi keluarganya.

Mereka keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya, sampai-sampai mengabaikan virus corona, dan nya bertaruh nyawa. (Monang Sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *