Pasar Senthir, Pasar Istimewa Kota Yogya

 Pasar Senthir, Pasar Istimewa Kota Yogya
Suasana Pasar Senthir, Yogyakarta. Ramai, nyaman, aman, dan menyenangkan. Foto: Gde Mahesa

“YOGYA istimewa”, sebuah tagline kreasi zaman. Sekali menginjak bumi Yogya, enggan kaki untuk hengkang. Tidak heran jika wisatawan berkunjung ke Yogya, langsung didera “rindu kembali” ketika sudah pulang. Tidak sedikit pula, para pelajar dan mahasiswa yang menimba ilmu di sana, seperti enggan pulang ke tempat asal. Kalau toh harus kembali atau melanjutkan karier ke kota lain, banyak yang kemudian menjadikan Yogya sebagai “kota kelahiran”-nya yang kedua.

Yogya, kota istimewa yang menggeliat lentur. Ia hadir sebagai kota yang klop dan cocok bagi setiap individu yang ada di dalamnya. Bisa jadi, karena setiap spot, venue, dan situasi yang ada, terkemas atau sengaja dikemas menjadi begitu spesial, sekalipun untuk hal yang tampak sepele.

Seperti yang satu ini: Pasar Senthir.

 

Daru sekrup karatan sampai barang elektronik ada. Dari jeans belel sampai sepati branded pun tersedia. Foto: Gde Mahesa

Pasar, Anda sudah tahu artinya. Senthir, adalah lampu minyak, lampu teplok, dian. Inilah pasar yang awalnya berpenerangan lampu senthir. Dikatakan “awalnya”, karena sekarang mereka sudah menggunakan lampu neon. Senthir sebagai sejarah awal mula pasar itu berada, kemudian diabadikan sebagai nama.

Lokasi Pasar Senthir ada di parkiran Pasar Beringharjo, ujung Jalan Malioboro yang legend itu. “Kalau siang jadi area parkir, kalau malam, pasar Beringharjo tutup, lokasi parkir yang kosong dijadikan pasar klithikan,”ujar Bambang, koordinator parkiran Pasar Senthir. Klithikan yang ia maksud, artinya rongsok atau rongsokan.

Dus, secara lokasi, Pasar Senthir sangatlah strategis. Ia berada di antara tembok utara Benteng Vredeburg, dan jalan samping Pasar Beringharjo, memanjang dari barat ke timur. Itu artinya benar-benar di jantung kota Yogya. Tak jauh dari Keraton, selemparan batu dari Istana Negara.

Di area sekitar 2.500 meter persegi, tercatat lebih dari 500 pedagang klithikan. “Yang resmi terdaftar ada 325 pedagang, yang tidak terdaftar atau belum terdaftar ada sekitar 200,” ujar Bambang.

Para pedagang tertata apik. Lapak dagangannya pun dipajang dengan menarik. Ini diakui oleh para pengunjung, baik turis lokal ataupun turis asing. Bahkan, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, yang lebih dari sekali mengunjungi Pasar Senthir, mengakui senang jalan-jalan ke Pasar Senthir.

Bambang sendiri, terbilang tukang parkir yang kekinian. Ia lekas mengenal, kalau ada public figure datang ke Pasar Senthir. “Artis-artis Jakarta sering kesini. Kalau artis lokal ya banyak. Yang lumayan sering terlihat itu mas Djadhuk Ferianto,” katanya. Gregorius Djadhuk Ferianto, adik Butet Kartarajasa, bungsu Bagong Kussudiardja ini adalah seorang aktor, musisi, pentolan Kua Etnika, yang tidak asing di dunia seni panggung Yogyakarta bahkan Jakarta.

Bule ini nongkrong di Pasar Senthir tiap malam. Tahu=tahu menghilang. Sekian waktu kemudian, datang lagi dan menunjukkan sebuah buku tentang Pasar Senthir.

Yang menarik, kata Bambang, pernah suatu ketika, ada seorang bule yang setiap malam nongkrong di Pasar Senthir. Bambang mulanya tidak tahu, apa maksud si bule itu. Apalagi, bilangan bule yang datang, memang susah dibilang, saking banyaknya. Terhadap satu bule yang rutin datang, belakangan baru ketahuan, bahwa ternyata ia sedang menulis buku tentang Pasar Senthir. Dan ketika buku itu selesai ditulis dan dicetak, ia kembali lagi ke Yogyakarta, dan datang ke Pasar Senthir, menunjukkan dan membagikannya kepada pengelola Pasar Senthir. Benar-benar ajaib. Sayang, Bambang lupa nama bule baik hati dan berdedikasi itu. “Namanya ada di buku, lihat saja,” kata Bambang, enteng.

Pendek kata, Pasar Senthir Yogyakarta belakangan makin kesohor saja. Padahal, kata Bambang, yang dijual relatif sama dengan pasar rongsok kebanyakan. Entah magnet apa yang membuat pengunjung begitu menyukai tempat ini. Terlebih, area pasar yang terbuka membuat situasi misbar, alias gerimis bubar. “Ya, begitulah. Kalau cuaca cerah, saya perkirakan setiap malam tak kurang dari dua ribu orang datang kesini. Itu baru hitungan kasar dari seribu lembar karcis parkir, dengan rata-rata per kendaraan dua orang. Padahal, banyak juga yang datang jalan kaki,” katanya.

Jika begitu antusias orang meramaikan Pasar Senthir, tentu ada perputaran ekonomi yang lumayan besar di sana. Dugaan itu tidak keliru. Seorang pedagang bernama Sugeng, mengaku kalau sedang ramai, ia bisa mengantongi lima ratus ribu rupiah semalam. “Itu kalau rezeki sedang lancar mas…. Kalau lagi sepi, terkadang cuma dapat tiga puluh ribu. Tapi saya tetap bersyukur,” kata Sugeng seraya menambahkan, “karakter pembeli di sini aneh… susah ditebak.”

Dari sekilas yang dikemukakan Sugeng, kita bisa menarik rata-rata per pedagang meraup seratus ribu rupiah per malam. Jika di dalam Pasar Senthir ada sekitar 500 pedagang, maka setiap malam tak kurang dari Rp 50 juta uang berputar di pasar ini. Sungguh sebuah perekonomian rakyat yang berputar kencang.

Parkiran Pasar Senthir. Insert: Bambang. Foto: Gde Mahesa

Pasar Senthir ibarat pasar sagala-aya, semua ada. Mulai dari sekrup karatan sampai aneka barang elektronik. Mulai dari jeans belel sampai sepatu branded. Jika jeli mencermati satu per satu barang rongsok yang ada, bukan tidak mungkin pengunjung akan menemukan barang langka, atau barang rongsok yang bernilai puluhan kali lipat, dengan sedikit perbaikan.

Menilik hikayatnya, Pasar Senthir ternyata sudah berumur tak kurang dari 15 tahun. Awalnya memang bukan di tempat yang sekarang, melainkan di bagian belakang (sisi timur) Pasar Beringharjo. Mereka menggelar lapak malam hari dengan lampu senthir. Berkat inisiatif pejabat Pemerintah Kota Yogyakarta, mereka direlokasi ke tempat yang sekarang.

By the way… ada satu info lain yang sangat menarik di Pasar Senthir Yogyakarta. Ternyata, dari keseluruhan pedagang, sekitar dua-per-tiganya mantan narapidana. Mereka insaf, sadar, dan kembali ke jalan benar dengan menjadi penjual barang rongsok. Tidak heran, karena para pedagangnya banyak yang mantan napi, justru Pasar Senthir menjadi sangat-sangat aman. Jauh dari keliaran copet. Bahkan tidak jarang, ketika dompet atau bawaan pengunjung tertinggal atau terjatuh, siapa pun yang menemukan segera menyerahkan ke pengelola. Oleh pengelola segera diumumkan lewat pengeras suara.

Benar-benar istimewa. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *