Kolom
Pakis Giwang Antingnya Kanjeng Ratu Kidul
Gde Mahesa
Pohon pakis termasuk tanaman prasejarah, jenisnya sangat bervariasi di seluruh dunia. Bahkan sering kali dikaitkan dengan sihir, perlindungan, dan misteri alam. Karena pakis adalah tumbuhan kuno yang bereproduksi melalui spora (bukan bunga atau biji), budaya kuno sering menganggapnya memiliki kekuatan magis.
Secara keseluruhan, pakis dalam mitologi adalah perwakilan dari misteri hutan yang teduh, simbol kekuatan batin, dan keajaiban yang tersembunyi dari alam. Pakis bukan hanya sekadar tanaman taman yang indah atau dedaunan dalam rangkaian bunga dari toko bunga, tetapi pakis juga merupakan pengingat yang kuat akan konsep-konsep seperti kelahiran kembali, penyembuhan, dan bahkan tarian dalam ritual.
Apa yang dilambangkan pakis tergantung pada budaya serta jenis pakisnya, dan sangat menarik untuk dipelajari akan maknanya yang lebih dalam.
Lebih dari 12.000 jenis pakis yang berbeda tumbuh di seluruh dunia, dan dapat ditemukan di setiap benua (bahkan Antartika). Banyak di antaranya memiliki khasiat obat, dan beberapa bahkan dapat dimakan. Kegunaan juga keberadaannya yang meluas menjadikan pakis sangat penting dalam banyak budaya, dan tidak mengherankan jika pakis juga memiliki nilai simbolis yang tinggi.
Mitologi pohon pakis di Indonesia erat kaitannya dengan simbol kesuburan, kemakmuran, dan kearifan lokal, terutama dalam budaya Jawa.
Pakis yang dikenal sebagai tanaman purba melambangkan kehidupan baru, salah satu jenis pakis yang menjadi mitos adalah “Pakis Giwang” dan cuma tumbuh di tebing yang paling sering makan korban. Kenapa ? Karena jawabannya ada di satu tetes air asin yang bukan dari laut. Itu air mata. Dan pemiliknya tidak suka ditanya.”
Adiantum capillus-veneris atau Lindsaea orbiculata adalah nama ilmiah dari Pakis Giwang, Suplir Giwang, Pakis Perak, berdaun bulat kecil setipis kertas, bertangkai hitam legam mengkilat. Jika kena matahari sore di tebing, kilaunya bagai emas putih, sehingga menyerupai giwang atau anting.
Pakis giwang hanya tumbuh menempel di tebing karang Pantai Selatan Jawa. Dari Parangtritis, Pelabuhan Ratu, sampe Karang Bolong. Tempat atau tebing yang tanpa henti selalu dihajar ombak dan angin laut.
Pohon ini sangat tahan air laut yang bergaram. Akarnya menyengkram batu karang hingga sampai ribuan tahun. Bahkan bisa dikatakan lebih tua dari jaman Mataram Kuno, yang artinya pohon pakis tersebut sudah ada sebelum manusia mengenal nama “Ratu Kidul”.
Lantas bagaimana bisa berkaitan dengan NYI Roro Kidul ?
Konon ada sebuah versi Nyi Roro Kidul atau Ratu Laut Selatan yang Singgasananya di dasar laut, tiap malam bulan purnama, Sang Ratu naik ke darat untuk memastikan “niteni” wilayahnya.
Ketika sedang berada di tebing, tanpa sengaja antingnya tersangkut diranting pohon dan kemudian terjatuh. Kono seketika anting tersebut berubah menjadi rumpun pakis yang berkilau.
Rumpun kilau pakis yang berada ditebing diyakini menjadi radar bagi Sang Ratu, sehingga siapa pun yang memetik sembarangan, akan diketahui. Kilauan pakis itu menjadi “mata-mata” dari Sang Ratu Laut Selatan.
Tetapi ada versi lain dari Pelabuhan Ratu – Jawa Barat.
Versi dari tlatah Pasundan ini sangat dramatis. Syahdan Nyi Roro Kidul dulunya bernama Putri Kadita. Dibuang karena guna-guna, kena penyakit, dan dengan kepedihan yang dalam ia menangis di atas batu karang. Derai air matanya jatuh ke bebatuan, dan berubah tumbuh menjadi pohon pakis giwang. Kemudian ia lari ke arah laut menceburkan diri dan menuju ketengah laut lepas, hingga tertelan ombak sehingga moksa dikemudian hari menjadi ratu penguasa laut selatan.
Pakis Giwang adalah “air mata yang membatu”. Simbol luka yang jadi indah. Sehingga siapapun yang memetik dengan niat serakah, derita luka sang Ratu bakal pindah ke sipemetik.
Berbeda lagi dengan versi masyarakat Gunung Kidul.
Sebagian masyarakat nelayan percaya bahwa tebing yang ada pohon Pakis Giwang merupakan “gerbang gaib”. Mereka meyakini bahwa pakis itu bukan tanaman. Melainkan “rambut” Nyi Roro Kidul yang sengaja dijulurkan ke darat. Untuk menarik sukma orang yang memakai baju hijau ke laut. Konon warna hijau merupakan warna “kesukaan” sang Ratu, sekaligus menjadi “larangan” untuk masyarakat jika berada dipantai selatan.
Dalam ritual tradisi sedekah laut yang diselenggarakan oleh kraton tiap 8 Sura, Keraton Yogyakarta & Surakarta “labuhan” sesajen ke Laut Selatan, berisi kepala kerbau, kembang setaman dan pakis giwang.
Syarat memetik pakis giwang ini, harus “Abdi Dalem Keparak” yang udah puasa & dapet “wisik”.
Cara memetiknya tidak boleh menggunakan nggak pake, tetapi memakai bambu kuning.
Mitos larangan bagi masyarakat pada umumnya, tidak boleh memperjual belikan pohon pakis giwang, sebab pohon tsb bukanlah tanaman hias, tetapi “barang kerajaan gaib”. Dijual salam artinya dengan mencuri, yang beresiko “kesambet” atau akan ditegor dan “ditagih lewat mimpi”.
Larangan yang lain adalah, apabila masyarakat nelayan hendak memanjat tebing, maka harus memutar untuk menghindari menginjak rumpun pakis, yang berarti telah menginjak rambut Sang Ratu. Selain itu tidak boleh membawa pulang kerumah pohon pakis giwang, sebab bisa menyebabkan musibah.
Para “dukun” pantai selatan dalam prakteknya sering menggunakan pakis Giwang kering yang dibakar. Abunya dicampur dengan minyak tertentu. Bermanfaat untuk “membuka mata batin” & “pagar dari santet laut”. Tapi cuma dukun yang “dapet izin” untuk bisa meramu. Jika dukun abal-abal, yang terjadi malah “diboyong” ke laut.
Pesan Kanjeng Ratu Laut Kidul ;
“Pakis Giwang itu lembut, tapi kuat hidup di karang yang dihantam ombak tiap detik. Kecantikan sejati tidak butuh tanah subur. Dia tumbuh dari luka, dari hantaman air ombak bergaram.
Pakis Giwang tumbuh tepat di batas darat dan laut. Tidak sepenuhnya di darat, dan tidak tenggelam di laut.
Ada wilayah yang bukan hakmu. Ada misteri yang tidak usah diutak-atik. Hormati sesuai batasannya.
Bulll….. bullllll …. klepussss….
