Ngapain ke Bogor

 Ngapain ke Bogor
Learning Center BPJS Ketenagakerjaan di Bogor.
Oleh: Joko Intarto

JAYAKARTA NEWS – Memang sudah takdirnya. Media cetak harus menerimanya dengan legowo: ditinggalkan pembacanya. Karena beralih ke platform yang lebih praktis dan handy: media digital.

Pagi ini saya naik kereta commuterline. Dari Stasiun Tebet menuju Stasiun Juanda, Bogor. Dalam gerbong tidak ada satu pun penumpang yang baca koran!

Semua asyik dengan smartphone. Main game. Chatting. Buka media sosial. Nonton Youtube. Atau tidur.

Saya berharap menemukan penumpang yang membaca koran “Indo Pos”. Yang dulu saya kelola bersama Irwan Setiawan. Eh, benar-benar tidak ketemu. Padahal, sepuluh tahun lalu, “Indo Pos” merajai jalur kereta api Bogor – Jakarta. Pelopor koran ‘seribuan’.

***

Saya pilih melek. Sepanjang perjalanan. Sambil menulis di handphone. Tidak terasa, tahu-tahu sudah tiba di stasiun terakhir.

Kemana? Ke Learning Center BPJS Ketenagakerjaan di Jalan Dadali. Menurut Google Maps waktu tempuhnya 9 menit kalau naik sepeda motor. Dua puluh menit bila menggunakan mobil.

Agendanya satu: survey lapangan. Mengecek ruangan, jaringan listrik, jaringan internet dan kebutuhan lighting. Tanggal 13 Maret mendatang akan ada acara konferensi internasional dari gedung ini. Saya diminta BPJS Ketenagakerjaan untuk menyiapkan sistem video conference dan multimedianya.

Seminar ini tergolong kelas berat. Karena dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, pakar manajemen dari London dan sejumlah pembicara nasional.

Pesertanya juga banyak. Para eksekutif perusahaan dengan jumlah karyawan yang besar. Mereka akan mengikuti seminar secara live – interaktif melalui kelas online di 500 kantor BPJS Ketenagakerjaan. Seluruh Indonesia.

Seminar online ini merupakan sebuah terobosan. Khususnya untuk BPJS Ketenagakerjaan. Bisa menyampaikan pesan dengan lebih cepat dan praktis. Dari satu lokasi bisa ke ribuan kantor.

Bagi peserta di daerah, seminar online juga solusi yang sangat murah. Tidak harus beli tiket ke Jakarta. Pun tetap bisa produktif. Tidak harus libur kerja tiga hari. Hanya untuk ikut seminar dua jam saja.

Bagi saya sebagai penyedia jasa webinar, seminar ini menjadi rekor baru. Tahun lalu rekor saya mengelola seminar di 310 kelas. Sekarang 500 kelas. Alhamdulillah.

***

Waktu terus berjalan. Teknologi terus berkembang. Industri media berubah. Karena cara mendapatkan informasi telah mengalami disrupsi.

Berita bukan ditunggu dari koran yang terbit sekali sehari. Berita dicari dari berbagai news portal. Yang terbit setiap detik. Sepanjang hari. Tak pernah berhenti.

Nonton siaran langsung sebuah stasiun TV menggunakan smartphone dulu sudah dianggap kemajuan. Kelak tidak cukup lagi.

Platform TV online harus bisa interaktif. Dua arah. Bukan sekedar bisa berkomentar. Karena kebutuhannya bukan lagi menonton video. Melainkan berkomunikasi menggunakan video.

Disrupsi media terekam begitu nyata. Dalam perjalanan Jakarta – Bogor pagi ini. (*)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *