Connect with us

Kabar

Mortir Bu Dar dan Radio Bung Tomo

Published

on

Ilustrasi kolase Bung Tomo memberi semangat dan Bu Dar membawa mortir pada perang 10 November di Surabaya. (Ilustrasi AI oleh Heri Mulyono)

Strategi Perang Rakyat Melawan Tank Inggris di Surabaya

Oleh : Heri Mulyono

Pagi itu, 10 November 1945, langit Surabaya berubah merah membara. Bukan karena fajar menyingsing, melainkan karena dentuman meriam kapal perang Inggris menghujani kota pahlawan. Ribuan pasukan Sekutu dengan persenjataan modern menerjang dari segala penjuru. Namun, yang mereka hadapi bukan tentara terlatih dengan senjata canggih, melainkan rakyat jelata—termasuk perempuan-perempuan tangguh—bersenjata bambu runcing, pedang samurai rampasan, dan semangat membara yang tidak pernah padam.

Di balik perlawanan heroik itu, tiga sosok laki-laki memainkan peran krusial yang mengubah pertempuran militer menjadi perang suci: Kyai Haji Hasyim Asy’ari, sang pendiri Nahdlatul Ulama; Kyai Haji Wahab Hasbullah, organisator ulung gerakan rakyat; dan Sutomo alias Bung Tomo, juru bicara revolusi yang suaranya menggelegar lewat radio. Namun, cerita heroisme Surabaya tidak lengkap tanpa menyebut para perempuan pemberani yang berjuang di garis depan—dari Bu Dar si penembak mortir, Soerabaja Sue yang menantang maut, hingga Tuti Muhammad Amir yang memimpin brigade wanita.

Kesemuanya membentuk mozaik kepemimpinan yang unik—legitimasi spiritual, mobilisasi massa, propaganda, dan keberanian yang melampaui batas gender—yang menjadikan Pertempuran Surabaya sebagai salah satu pertempuran paling heroik dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Resolusi Jihad: Senjata Spiritual yang Menggetarkan Surabaya

Sebelum memahami dahsyatnya Pertempuran 10 November, kita harus mundur sejenak ke 22 Oktober 1945. Di Surabaya, tepatnya di gedung Bubutan, ratusan ulama dari berbagai penjuru Jawa berkumpul dalam sidang yang akan mengubah sejarah. Mereka datang atas seruan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah untuk membahas satu pertanyaan krusial: bagaimana sikap umat Islam menghadapi upaya Belanda dan Sekutu yang ingin kembali menjajah Indonesia?

KH. Hasyim Asy’ari, seorang ulama karismatik berusia 71 tahun yang disegani di seluruh Nusantara, naik ke mimbar. Dengan suara yang menggetarkan hati, beliau menyampaikan sebuah keputusan yang akan ditulis dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa: Resolusi Jihad. Fatwa itu singkat namun penuh kekuatan: “Kemerdekaan Indonesia adalah wajib dibela. Musuh yang mengganggu kemerdekaan adalah musuh agama. Karenanya, memerangi mereka adalah wajib bagi setiap Muslim.”

Ilustrasi KH. Hasyim Asy’ari berdiri di mimbar, menyampaikan Resolusi Jihad di Gudung Bubutan Surabaya pada 22 Oktober 1945. (Ilustrasi AI oleh Heri Mulyono)

Resolusi Jihad bukan sekadar pernyataan politik. Ini adalah senjata spiritual yang mengubah perjuangan kemerdekaan menjadi kewajiban agama. Bagi santri dan umat Islam yang taat, kata-kata KH. Hasyim Asy’ari memiliki bobot yang setara dengan perintah Tuhan. Dalam sekejap, ratusan ribu santri dari pesantren-pesantren di Jawa Timur bergerak menuju Surabaya. Mereka membawa senjata seadanya—bambu runcing, golok, kelewang—namun hati mereka penuh keyakinan bahwa mati dalam pertempuran ini adalah mati syahid.

KH. Wahab Hasbullah, yang lebih muda dan memiliki jiwa organisator, segera menerjemahkan Resolusi Jihad itu menjadi aksi konkret. Sebagai salah satu pendiri NU dan tokoh yang memiliki jaringan luas, beliau mengkoordinasikan mobilisasi massa dengan efisien. Pesantren-pesantren besar seperti Tebuireng (milik KH. Hasyim Asy’ari sendiri), Tambakberas, Denanyar, dan puluhan pesantren lainnya menjadi basis mobilisasi. Para kyai di daerah menyebarkan Resolusi Jihad dari masjid ke masjid, dari kampung ke kampung.

Strategi mobilisasi yang digunakan KH. Wahab Hasbullah sangat efektif karena memanfaatkan struktur sosial yang sudah ada. Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga pusat kekuatan sosial-politik dengan hierarki yang jelas. Ketika kyai besar seperti KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa, para kyai di tingkat bawah akan mengikuti tanpa reserve. Para santri, yang sudah terbiasa dengan disiplin dan ketaatan, menjadi tentara yang siap mati tanpa ragu.

Bung Tomo: Suara Revolusi yang Menggema di Udara

Jika KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah adalah jantung spiritual perlawanan, maka Bung Tomo adalah suaranya. Sutomo, pemuda berusia 25 tahun yang berbicara dengan logat Suroboyoan kental, memiliki bakat luar biasa dalam mengobarkan semangat massa. Sebelum perang meletus, Bung Tomo sudah dikenal sebagai aktivis gerakan pemuda yang vokal dan berani.

Namun, peran Bung Tomo mencapai puncaknya ketika radio menjadi senjata propaganda paling ampuh. Pada masa itu, radio adalah teknologi komunikasi massa paling modern. Dengan menguasai radio, Bung Tomo bisa berbicara langsung kepada seluruh rakyat Surabaya sekaligus. Dan ia memanfaatkan kesempatan itu dengan brilian.

Pidato-pidato Bung Tomo lewat Radio Pemberontakan menjadi legenda. Suaranya yang keras, penuh emosi, dan berapi-api mampu membangkitkan semangat juang yang luar biasa. Salah satu pidato paling ikonik disampaikan pada pagi 10 November 1945, ketika ultimatum Inggris untuk menyerahkan senjata berakhir:

“Merdeka atau mati! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” teriak Bung Tomo. Pidatonya yang legendaris itu tidak hanya berisi seruan untuk berperang, tetapi juga analisis situasi, strategi pertempuran, dan yang terpenting—penegasan bahwa mereka berjuang untuk kemerdekaan yang sudah diproklamasikan.

Bung Tomo memahami psikologi massa dengan baik. Ia tahu bahwa dalam perang asimetris—dimana rakyat bersenjata sederhana melawan tentara modern—moral adalah segalanya. Jika moral pasukan runtuh, mereka akan mudah dikalahkan. Maka, sepanjang pertempuran, Bung Tomo terus menyiarkan berita-berita yang membangkitkan semangat, meski kadang harus mengemas kekalahan sebagai kemenangan moral.

Para Perempuan Baja: Pahlawan Tersembunyi di Balik Asap Mesiu

Di tengah hiruk-pikuk pertempuran yang didominasi narasi kepemimpinan laki-laki, ada sekelompok perempuan luar biasa yang menulis sejarah dengan tinta darah mereka sendiri. Mereka bukan sekadar pendukung dari belakang—mereka adalah pejuang garis depan yang memegang senjata, merawat yang terluka, dan bahkan memimpin pasukan.

Bu Dar “Mortir”: Janda yang Menghancurkan Tank dengan Tembakan Jitu

Dariah, atau yang lebih dikenal sebagai Bu Dar, adalah seorang janda berusia 40-an tahun yang kehilangan suaminya dalam pertempuran awal melawan Jepang. Kehilangan itu tidak membuatnya larut dalam kesedihan. Sebaliknya, ia berubah menjadi pejuang yang ditakuti musuh. Bu Dar memiliki keahlian khusus yang langka: ia bisa menembakkan mortir dengan akurat.

Ilustrasi Bu Dar menembakkan mortir ke konvoi tank Inggris. (Ilustrasi AI oleh Heri Mulyono)

Di tengah pertempuran sengit di Gubeng, Bu Dar mengoperasikan mortir Jepang rampasan. Dengan tenang, di tengah hujan peluru dan dentuman meriam, ia menghitung sudut tembak, memperkirakan jarak, dan menembakkan peluru mortir ke arah konvoi tank Inggris. Saksi mata menceritakan bagaimana tank-tank musuh hancur satu per satu oleh tembakan akurat Bu Dar. Para tentara Inggris tidak pernah menduga bahwa penembak mortir yang mematikan itu adalah seorang perempuan paruh baya berkebaya.

Suatu hari, ketika posisi pertahanan hampir dikepung, Bu Dar tetap bertahan di posnya. “Kalian mundur dulu, Bu akan tembakkan peluru terakhir,” katanya kepada rekan-rekannya. Tembakan mortir terakhirnya menghancurkan tank terdepan musuh, memberi waktu bagi pasukan Indonesia untuk mundur teratur. Bu Dar sendiri gugur dalam pertempuran itu, tubuhnya ditemukan masih berdekatan dengan mortir kesayangannya.

K’tut Tantri: “Soerabaja Sue” yang Menantang Maut dari Udara

Muriel Pearson, seorang perempuan Skotlandia yang mengadopsi nama Bali K’tut Tantri, adalah sosok paling unik dalam Pertempuran Surabaya. Berkulit putih, bermata biru, namun hatinya Indonesia. Sebelum perang, ia sudah lama tinggal di Indonesia dan jatuh cinta dengan negeri ini. Ketika revolusi meletus, ia tidak ragu memihak Indonesia.

K’tut Tantri bekerja sama dengan Bung Tomo di radio. Dengan bahasa Inggris yang fasih, ia menyiarkan propaganda ke dunia internasional, menceritakan kekejaman Sekutu dan keberanian rakyat Indonesia. Namun, perannya tidak berhenti di situ. Ia juga turun langsung ke medan perang, mengemudikan ambulans di tengah tembakan, menyelamatkan yang luka.

Yang paling heroik adalah ketika K’tut Tantri memutuskan untuk menerbangkan pesawat Jepang rampasan untuk membombardir posisi Inggris. Meski tidak memiliki pelatihan formal sebagai pilot tempur, dengan nekad ia belajar dari pilot-pilot Indonesia. Dalam salah satu misi, ia terbang rendah di atas posisi Inggris, menjatuhkan bom-bom buatan sendiri. Pesawatnya ditembaki dari segala arah, berlubang-lubang, namun ia berhasil kembali dengan selamat.

Tentara Inggris memberinya julukan “Soerabaja Sue”—campuran antara kekaguman dan kebencian terhadap perempuan kulit putih yang berkhianat pada “bangsanya sendiri” dan berpihak pada “pemberontak pribumi.” Bagi rakyat Surabaya, K’tut Tantri adalah pahlawan sejati yang membuktikan bahwa perjuangan kemerdekaan melampaui batas ras dan asal-usul.

Tuti Muhammad Amir: Komandan Brigade yang Menginspirasi

Di tengah dominasi komandan laki-laki, Tuti Muhammad Amir muncul sebagai pemimpin Laskar Wanita Indonesia (Laswi) Brigade 1. Perempuan berusia 23 tahun ini memiliki karisma dan keberanian yang luar biasa. Berbeda dengan stereotype perempuan yang hanya mengurus dapur umum atau menjadi perawat, Tuti memimpin pasukannya dalam pertempuran langsung.

Brigade 1 Laswi yang dipimpinnya terdiri dari ratusan perempuan muda yang terlatih menggunakan senjata api, granat, dan bambu runcing. Mereka tidak hanya bertahan di pos-pos pertahanan, tetapi juga melakukan serangan ofensif ke posisi musuh. Dalam pertempuran di kawasan Wonokromo, pasukan Tuti berhasil merebut gudang senjata Inggris, membawa pulang puluhan senapan dan ribuan peluru yang sangat dibutuhkan.

Ilustrasi suasana heroik dan tragis Laskar Wanita Indonesia dalam penyerbuan di Jembatan Merah Surabaya. (Ilustrasi AI oleh Heri Mulyono)

Tuti memiliki prinsip kepemimpinan yang jelas: ia tidak pernah memerintahkan anak buahnya melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan sendiri. Ketika harus menyerang posisi musuh yang dijaga ketat, ia memimpin dari depan. Ketika harus bertahan hingga titik darah penghabisan, ia adalah yang terakhir mundur. Kepemimpinannya menginspirasi tidak hanya perempuan, tetapi juga laki-laki di sekitarnya.

Dalam salah satu pertempuran paling brutal di Jembatan Merah, pasukan Tuti mengalami kerugian besar. Banyak anggota brigade yang gugur. Namun, dengan mata berkaca-kaca tapi penuh tekad, Tuti terus memimpin. “Kita tidak mundur selangkah pun. Di sini kita hidup atau mati bersama!” serunya. Dan mereka bertahan, hingga bantuan datang.

Lukitaningsih: Organizer Perempuan di Balik Garis Depan

Tidak semua pahlawan berada di garis depan dengan senjata. Lukitaningsih, aktivis Persatuan Pemuda Putri Indonesia (PPRI), memainkan peran krusial dalam mengorganisir logistik dan dukungan untuk para pejuang. Ia memimpin ratusan perempuan dalam menyediakan makanan, pakaian, obat-obatan, dan kebutuhan lain bagi ribuan pejuang.

Organisasi yang dipimpinnya mengubah rumah-rumah penduduk menjadi dapur umum, sekolah-sekolah menjadi rumah sakit lapangan, dan gudang-gudang menjadi pos logistik. Lukitaningsih bekerja tanpa henti, tidur hanya beberapa jam sehari, memastikan tidak ada pejuang yang kelaparan atau yang terluka tidak terawat.

Yang luar biasa adalah bagaimana Lukitaningsih mengorganisir jaringan intelijen perempuan. Para penjual sayur, tukang cuci, dan pembantu rumah tangga yang bekerja di area yang dikuasai Inggris menjadi mata-mata yang melaporkan pergerakan musuh. Informasi-informasi ini sangat berharga bagi komandan-komandan lapangan dalam merencanakan serangan.

Dalam salah satu momen paling berbahaya, ketika Inggris mulai mencurigai aktivitas perempuan-perempuan ini, Lukitaningsih tetap tenang. Ia mengatur agar informasi tetap mengalir dengan sistem yang lebih tersembunyi. Keberaniannya membuat jaringan intelijen perempuan tetap berfungsi hingga akhir pertempuran.

Muriel Stuart Walker: Perawat Inggris yang Membelot

Kisah paling tragis dan mulia mungkin adalah kisah Muriel Stuart Walker, seorang perawat Inggris yang bekerja untuk tentara Sekutu. Ketika melihat sendiri penderitaan rakyat Surabaya—anak-anak yang terluka, perempuan tua yang kehilangan rumah, pemuda-pemuda yang mati dengan senjata seadanya—hati nuraninya tergerak.

Dalam salah satu malam yang berisiko tinggi, Muriel memutuskan untuk membelot. Ia menyelundupkan obat-obatan dan perban dari rumah sakit militer Inggris, dan membawanya ke rumah sakit lapangan Indonesia. Tindakannya ketahuan oleh atasannya, dan ia dianggap pengkhianat.

Namun, Muriel tidak peduli. Ia terus membantu merawat para pejuang Indonesia yang terluka, bekerja di rumah sakit lapangan yang minim fasilitas, dalam kondisi yang sangat berbahaya. Keahliannya sebagai perawat terlatih menyelamatkan nyawa ratusan pejuang. Ia gugur ketika rumah sakit lapangan tempat ia bekerja dibombardir oleh pesawat Inggris—ironi yang tragis.

Strategi Perang: Ketika Semangat dan Kecerdikan Mengalahkan Teknologi

Pertempuran 10 November 1945 adalah pertempuran yang sangat tidak seimbang dari segi persenjataan. Di satu sisi, pasukan Inggris memiliki tank Sherman, pesawat tempur Mosquito, kapal perang Cruiser, dan ribuan tentara terlatih. Di sisi lain, para pejuang Indonesia—laki-laki dan perempuan—hanya memiliki senjata api seadanya hasil rampasan Jepang, bambu runcing, dan molotov cocktail buatan sendiri.

Namun, para pemimpin ini memahami bahwa perang tidak hanya soal senjata. Mereka mengembangkan strategi yang memanfaatkan kekuatan mereka: jumlah, pengetahuan medan, dan semangat juang yang tinggi.

Strategi Pertama: Perang Gerilya Urban

KH. Wahab Hasbullah dan para komandan lapangan mengorganisir pasukan rakyat menjadi kelompok-kelompok kecil yang bergerak lincah di lorong-lorong sempit Surabaya. Mereka tidak berhadapan langsung dengan tank dan artileri Inggris di medan terbuka—itu adalah bunuh diri. Sebaliknya, mereka menyerang dari gang-gang sempit, dari balik tembok, dari atap rumah. Para perempuan pejuang sangat efektif dalam strategi ini karena musuh sering meremehkan mereka.

Strategi Kedua: Mobilisasi Total Masyarakat

Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH. Hasyim Asy’ari bukan hanya memobilisasi santri, tetapi seluruh lapisan masyarakat Muslim. Pedagang pasar menyumbang logistik, tukang besi membuat senjata tajam, para perempuan memasak untuk para pejuang dan mengobati yang luka, anak-anak menjadi kurir yang membawa pesan antar-kelompok pejuang.

Strategi Ketiga: Perang Psikologis

Bung Tomo dan K’tut Tantri menggunakan radio sebagai senjata psikologis. Setiap kemenangan kecil dipublikasikan secara besar-besaran untuk meningkatkan moral. Teriakan “Allahu Akbar” yang menggelegar dari ribuan tenggorokan menciptakan teror psikologis bagi tentara Inggris.

Strategi Keempat: Kesyahidan sebagai Kekuatan

Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari telah mengubah paradigma kematian. Dalam logika jihad, mati dalam pertempuran adalah kemenangan tertinggi—syahid. Keyakinan ini menciptakan pasukan yang tidak mengenal mundur, termasuk para perempuan pejuang yang sama beraninya dengan laki-laki.

Klimaks 10 November: Tiga Minggu yang Menggetarkan Dunia

Pertempuran mencapai puncaknya pada 10 November 1945. Sejak subuh, Surabaya dibombardir dari darat, laut, dan udara. Di setiap sudut kota, pertempuran berkobar. Para pejuang perempuan berjuang bahu-membahu dengan laki-laki—Bu Dar dengan mortirnya, pasukan Tuti dengan senapan mereka, Lukitaningsih dengan jaringan logistiknya, dan K’tut Tantri dengan propaganda radionya.

KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah, meski sudah sepuh, tetap berada di Surabaya untuk memberikan dukungan moral. Kehadiran mereka memberikan legitimasi spiritual yang luar biasa. Bung Tomo praktis tidak tidur selama tiga minggu pertempuran, terus menyiarkan pidato-pidato semangat.

Pertempuran berlangsung selama tiga minggu. Inggris berhasil menguasai sebagian besar Surabaya, tetapi dengan harga yang sangat mahal. Sekitar 16.000 pejuang Indonesia gugur, termasuk ratusan perempuan pemberani. Namun, dunia internasional mulai memperhatikan Indonesia, membuktikan bahwa Indonesia serius dengan kemerdekaannya.

Warisan yang Abadi

Peran KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, Bung Tomo, dan para perempuan pahlawan tidak bisa dipisahkan dari kemenangan moral Pertempuran Surabaya. Mereka mewakili elemen penting dalam perjuangan: legitimasi spiritual, organisasi massa, propaganda, dan keberanian tanpa batas gender.

Hari ini, setiap 10 November, kita mengenang mereka yang gugur di Surabaya. Kita harus mengingat bahwa heroisme tidak mengenal gender. Bu Dar, K’tut Tantri, Tuti Muhammad Amir, Lukitaningsih, dan Muriel Stuart Walker membuktikan bahwa perempuan Indonesia sama beraninya, sama kuatnya, dan sama pentingnya dalam perjuangan kemerdekaan.

Surabaya 1945 adalah testimoni tentang kehebatan bangsa Indonesia ketika bersatu untuk tujuan mulia. Dan tugas kita adalah memastikan bahwa pengorbanan mereka—laki-laki dan perempuan—tidak sia-sia, dengan terus membangun Indonesia yang lebih baik.

“Merdeka atau mati!” bukan sekadar slogan. Itu adalah tekad yang telah dibuktikan dengan darah dan nyawa—termasuk darah dan nyawa para perempuan pemberani—di jalan-jalan Surabaya pada November 1945. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement