Memet dan Ike, Dua Nada Satu Irama

 Memet dan Ike, Dua Nada Satu Irama
Buku “Mendidik Dari Hati” Ike Kusumawati. (ist)

JAYAKARTA NEWS – Sepasang musisi berprestasi, Memet Chairul Slamet dan Ike Kusumawati. Memet dengan kelompok musik etnik-kontemporer Gangsadewa, sementara Ike lebih menekuni dunia pengajaran, khususnya mengajar piano. Keduanya tinggal di Yogyakarta.

Memet telah melanglang buana dengan idealisme bermusiknya. Bahkan pernah memecahkan rekor Muri ketika tampil bersama 1.700 musisi. Ia juga menukangi banyak repertoar sebagai penata musik. Termasuk penataan musik teater.

Sang istri, Ika Kusumawati adalah pianis yang juga telah melahirkan banyak karya lewat pertunjukan opera, banyak menggubah lagu anak-anak, dan mengajar piano di studio virtual miliknya. Selain itu, ia juga menulis buku.

Karya buku terbaru Ike berjudul “Mendidik Dari Hati”. Buku ini merupakan otobiografi Ike. Banyak bertutur pengalaman mengajar musik pada anak didik yang notabene terdiri dari latar belakang dan status sosial yg berbeda.

Pengalaman Ike banyak didapat ketika mengajar di salah satu sekolah musik ternama di Yogyakarta. Saat tuntutan mendidik anak dan tuntutan harus lebih intens berada di tengah keluarga, lalu Ike didukung Memet sang suami, keluar dari sekolah musik tempat ia bekerja, dan mendirikan sekolah musik Virtuoso Music Course di rumah sekaligus studionya.

Ihwal buku yang telah diterbitkan, meski berbentuk otobiografi sejatinya bisa juga dibilang tutorial tentang bagaimana menjadi mentor pemula. Sebab, di dalamnya terdapat kiat-kiat mengajar berdasar pengalaman Ike. Para murid yang ia didik bermain piano selama ini, adalah bagian dari proses pematangan dirinya yang kemudian ia tularkan melalui penuangan ke dalam sebuah buku.

Memet Chairul Slamett dan Ike Kusumawati. (ist)

Lebih dari segalanya, Ike berprinsip, ilmu tidak dibawa ke liang kubur. Karenanya, sebaik-baiknya sikap adalah membagikannya kepada khayalak, disertai doa semoga bermanfaat.

Saat launching buku di sebuah cafe di bilangan Minggiran Yogyakarta, Ike sempat memainkan sejumlah nomor. Jari-jemarinya begitu lincah menari-niari di atas tuts. Saat Jayakarta menanyakan kemungkinan keduanya berkolaborasi mencitpakan sebuah karya monumental, Memet dan Ike hanya tersenyum dan mengucap “Amin”.

Yang pasti, jika Ike usai meluncurkan buku kembali sibuk menekuni Virtuoso Music Course, maka Memet pun sama. Usah menukangi penataan musik pementasan Montserrat (Teater Alam), kini ia pun tengah berkonsentrasi menyiapkan ilustrasi musik untuk pementasan Teater Alam bulan Juli 2019, dalam lakon Pusaran.

“Dalam Pusaran saya janjikan audiens akan mendengar ilustrasi musik yang lebih dinamis dan ndugal. Ini adalah tantangan buat saya. Doakan saja,” ujar musisi berambut gondrong itu.

Memet Chairul Slamet dan Ike Kusumawati, memang dua nada dalam satu irama. Mereka masing-masing meniti simponi hidup bermusik dengan nada yang berbeda. Bukankah beda itu indah? (gde mahesa)

Ike Kusumawati
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *