• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Media di Bawah Sepatu Lars Oligarki

Media di Bawah Sepatu Lars Oligarki

May 5, 2021
Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

October 19, 2026
LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

October 19, 2026
Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

October 19, 2026
Survei SMRC Simulasi Pilpres: Gibran dan AHY Kalahkan Prabowo

Survei SMRC Simulasi Pilpres: Gibran dan AHY Kalahkan Prabowo

October 18, 2026
Meluncur ke Lokasi, Kepala BNPB Kristomei Pimpin Langsung Operasi Penanganan Karhutla Sumsel

Meluncur ke Lokasi, Kepala BNPB Kristomei Pimpin Langsung Operasi Penanganan Karhutla Sumsel

October 18, 2026
Kejurnas Menembak Piala PPAD 2026: Dedi Iswanto Juara Eksekutif, PPAL 2 Raih Gelar Beregu Purnawirawan

Kejurnas Menembak Piala PPAD 2026: Dedi Iswanto Juara Eksekutif, PPAL 2 Raih Gelar Beregu Purnawirawan

October 18, 2026
Konflik Timteng Mirip ‘Permainan Biliar’, Pergerakan Bolanya Ditentukan Trump dan Netayanhu

Konflik Timteng Mirip ‘Permainan Biliar’, Pergerakan Bolanya Ditentukan Trump dan Netayanhu

October 18, 2026
Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

October 18, 2026
Doll Ghawiah: Mitos Boneka yang Meneror Keluarga di Bandung

Doll Ghawiah: Mitos Boneka yang Meneror Keluarga di Bandung

October 17, 2026
BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

October 17, 2026
KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

October 17, 2026
BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

October 17, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Monday, October 19, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Kementerian UMKM Targetkan Penyaluran KUR 2025 Sebesar Rp 300 Triliun

    Rasio Kewirausahaan Indonesia Ditargetkan Meningkat Hingga Delapan Persen

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kolom

Media di Bawah Sepatu Lars Oligarki

by admin
May 5, 2021
in Kolom
0
Media di Bawah Sepatu Lars Oligarki

(foto: citizentruth.org)

492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
Oleh Achmad Fachrudin
Kaprodi KPI Fakultas Dakwah Institut PTIQ Jakarta
Achmad Fachrudin

Media menurut pakar komunikasi Hafied Changara (2016:137-140) adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Sedangkan media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio dan televisi.        

Ahli komunikasi Dennis McQuail (1987:1) menyebut, media massa merupakan salah satu sarana untuk pengembangan kebudayaan, bukan hanya budaya dalam pengertian seni dan simbol tetapi juga dalam pengertian pengembangan tatacara, mode, gaya hidup dan norma-norma. Sedangkan Elvinaro media massa merupakan sarana pendidikan bagi khalayaknya (to educate), sebagai sarana informasi (to inform) dan juga menghibur (to entertaining).

Selain itu media menurut Eriyanto, media mempunyai tiga peran. Pertama, media mampu menciptakan isu, membuat sebuah isu lebih menonjol dibandingkan dengan lain. Kekuatan ini dikenal sebagai penentuan agenda oleh media (agenda setting). Kedua, media mempunyai kekuatan dalam membingkai (framing) suatu peristiwa, sebagai akibatnya media bisa memengaruhi pandangan publik atau isu. Kekuatan ini disebut dengan teori pembingkain (framing).  Ketiga media mempunyai kemampuan dalam mengarahkan pandangan publik. Penilaian atau evaluasi atas suatu aspek tertentu yang ditonjolkan oleh media. Di titik ini media mempunyai kekuatan, yakni: mampu memberikan stimulus berupa priming dalam mengaitkan memori dan selanjurnya mengarahkan pandangan publik. (Eriyanto:218:4-4).

Mengenai framing menurut Eriyanto (2002:221), berhubungan erat dengan proses editing (peyuntingan) yang melibatkan semua pekerja di bagian keredaksian. Reporter di lapangan menentukan siapa yang diwawancarainya dan siapa yang tidak, serta pertanyaan apa yang diajukan dan apa yang tidak. Redaktur yang bertugas di desk yang bersangkutan, dengan maupun berkonsulitasi dengan redaktur pelaksana atau redaktur umum, menentukan apakah laporan reporter akan dimuat ataukah tidak, dan mengarang judul apa yang akan diberikan. Petugas layouter-dengan atau tanpa berkonsultasi dengan para redaktur-menentukan apakah teks berita itu perlu diberi aksentuasi oleh suatu foto, karikatur atau bahkan ilustrasi mana yang dipilih.

Oleh karena itu, kata Agus Sudibyo (2002:2-7) untuk mencermati fungsi media memerlukan tiga pendekatan. Yakni: pertama, pendekatan ekonomi-politik (the political economy). Pendekatan ini berpendapat bahwa isi media ditentukan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik di luar pengelolaan media. Kedua, pendekatan organisasi (organizational aprouch). Pendekatan ini intinya memosisikan pengelola media menentukan kebihakan dan isu media. Ketiga, pendekatan kulturalis (cultural approuch). Pendekatan ini dilihat sebagai mekanisme rumit yang melibatkan faktor internal media (rutinitas organisasi media) sekaligus juga faktor eksternal di luat media, termasuk di dalamnya politik dan kekuasaan.

Dalam mencermati media, ada  dua paradigma yang  berkembang yang bersumber pada bagaimana berita tersebut diproduksi dan bagaimana kedudukan wartawan dan media bersangkutan dalam keseluruhan proses produksi berita. Pertama, paradigma pluralis yang percaya bahwa wartawan dan media adalah entitas yang otonom, dan berita yang dihasilkan haruslah menggambarkan realitas yang terjadi di lapangan. Kedua paradigma kritis, mempertanyakan posisi wartawan dan media dalam keseluruhan struktur sosial dan kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat. Pada akhirnya posisi tersebut mempengaruhi berita, bukan pencerminan dari realitas yang sesungguhnya. (Eriyanto:2009:31-32).

Kolusi dan Persekongkolan

Sebagai instrumen politik atau kekuasaan, menurut McQuail media memiliki kemampuan untuk menarik dan mengarahkan perhatian, membuka pendapat dan anggapan, mempengaruhi pilihan sikap (misalnya dalam hal pemberian suara dan pembelian), memberikan status dan legitimasi, mendefinisikan dan membentuk persepsi. (1987:82).

Dalam hal ini, peran ideologi sangat berpengaruh dalam media. Berita diproduksi dari ideologi dominan tertentu yang berasal tidak hanya dalam arti ide-ide besar, tetapi juga bisa bermakna politik penandaan dan pemaknaan. Sementara Gramsci mengemukakan bahwa hubungan pemilik modal dan pekerja yang dalam konteks media massa antara wartawan dan pemilik industri media merupakan hubungan yang bersifat hegemonik. Melalui hubungan hegemonik ini, pemilik media melakukan kontrol atas produksi berita yang dijalakan oleh media agar tetap memberikan kepastian bagi ideologi dan kepentingan kapitalnya. (Ahmad Muttaqin:2011).  

Bahkan tidak jarang menurut ahli komunikasi pemasaran politik Firmanzah, kolusi antara partai politik dengan media massa  dapat memutarkan fakta yang sesungguhnya. Padahal informasi inilah yang dicoba dicerna oleh masyarakat. Konsekwensinya, masyarakat semakin jauh dari kondsi rilnya. Selain itu, kemungkinan perang media untuk mendominasi iklan dan pemberitaan juga tidak tertutup. Masing-masing pihak berusaha untuk memasukkan doktrin-doktrin mereka ke benak masyarakat. Kompetisi yang tinggi ini sangat memungkinkan bagi pihak-pihak tertentu untuk mengambil keuntungan dari memutarbalikkan fakta. Akibatnya, berita dan inforomasi tidak diberikan dalam bentuk aslinya, melainkan telah disesuikan berdasarkan kepentingan partai politik tertentu.

Ditambahkan Firmanzah, persengkolan mungkin terjadi antara politikus dengan pengusaha. Pengusaha memberikan dana besar untuk membuat sebuah kelompok ini berkuasa. Mereka ‘membalas jasa’ si pengusaha, dengan memberikan fasilitas-fasilitas yang berbau kolusi. Inilah deviasi yang sangat mencolok di negara-negara berkembang, bahkan terjadi juga di negara-negara maju. Belakangan ini telah menjadi trend masuknya para pengusaha di dunia politik, termasuk di Indonesia sendiri, sehingga timbul bahaya terjadinya oligarki yang telah dikecam sejak lama.

Robert Mitchel dalam bukunya “Political Parties, a Sociological Study of the Oligarchical Tendencies of Modern Democracy” menyebut kemunculan oligarki merupakan konsekwensi dari proses yang terjadi dalam suatu organisasi, termasuk partai politik.  Makin besar organisasi atau partai politik tersebut, kecendrungan mengarah kepada oligarki tidak dapat dihindarkan. Hal itu sudah menjadi “hukum besi oligarki”.

Di Indonesia, ungkap Jeffry A. Winters (2011:19), paska tumbangnya regim Orde Baru, oligarki bukan tidak pernah kembali, tapi tidak pernah pergi dan belum berhasil dijinakkan. Ketika akhirnya rezim tersebut runtuh dan terbentuk demokrasi, semua oligark dan elit masih bercokol. Hampir tak seorangpun diantara mereka jatuh bersama Soeharto kecuali satu atau dua yang yang berada dekat dengannya hingga akhir kekuasaannya. Oligarki bertahan melalui proses transisi dan adaptasi. Mereka (oligark) bukan hanya melakukannya dengan relatif mudah, melainkan juga menempati posisi yang lebih baik ketimbang siapapun dalam merebut dan mendominasi politik elektoral Indonesia yang dikendalikan uang.

Alih-alih tercerai berai, menurut J. Danang Widoyoko (2013:6), oligarki lama mampu mengonsolidasi diri. Bila dulu pada masa Orde Baru penguasaan atas sumber daya publik dilakukan dengan cara-cara kekerasan dan ditandai dengan banyaknya pelanggaran Hak Asasi Manusia, maka kini penguasaan sumber daya publik dilakukan dengan cara-cara yang demokratis, tanpa kekerasan dan dengan cara yang tidak melanggar hukum.

Para oligark (pelaku), menurut Jeffry A. Winters (Prisma, Vol. 33, 2014, hal 19), demikian leluasa memainkan aksi dan misinya karena memiliki uang, kekaisaran media, jaringan dan posisi penting di lingkungan elit Parpol (Parpol) yang memungkinkannya mendominasi sistem demokratis baru dan menjalan­kan berbagai strategi pembangunan kekayaan di luar panggung politik. Untuk memperebutkan jabatan (atau bagi etnis Tionghoa, oligarki harus menebar uang dalam jumlah sangat besar, terkadang sampai ke tingkat desa.  Yang termanifestasi oleh sekelompok elit, yakni: birokrat (legislatif, eksekutif maupun yudikatif), modal (kapitalisme), Parpol (Parpol), dan primordialisme (agama, suku dan etnis).

Dampaknya, menurut analisis Chomsky (2000) sebagaimana dikutip Hen Henry Subiakto dan Rachmah Ida (2012:82), adanya konspirasi para elit yang melakukan kontrol pemberitaan dan informasi. Dengan menggunakan istilah “Manufacturing Consent”, tokoh kritis ini melihat media menjadi alat kepentingan politik, ekonomi, militer, dan kultur kalangan ekslusif. Menurutnya, para get keeper media menjadi pion untuk mencari keuntungan. Dengan kata lain, atas nama kepentingan bisnis, para pejabat mengatur pemberitaan sesuai keinginan mereka. Adapun atas nama pertumbuhan ekonomi, para pebisnis dan pedagang melakukan hal yang sama.

Pemutarbalikan Fakta

Dalam situasi dimana media banyak yang terjebak kepada kepentingan politik dan pemilik modal dan lebih luas lagi kaum oligarki, isi media dipastikan sulit melepaskan diri dari agenda setting, framing dan priming yang dilakukan oleh para pihak yang berkepentingan. Dengan cara antara lain melalui hegemonisasi sumber-sumber pemberitaan, seleksi dan pembatasan terhadap nara sumber untuk bisa tampil di televisi atau media mainstream, pemutarbalikkan opini dengan fakta, pengaburan antara berita dengan informasi, dan sebagainya.

Hal ini berakibat, isi media belum tentu mencerminkan realitas yang sesungguhnya,  melainkan mengkonstruksikan realitas. Isi media adalah hasil para pekerja media merekonstruksikan berbagai realitas yang dipilihnya, diantaranya realitas politik yang seringkali menggunakan bahasa sebagai bahan baku guna memproduksi berita. Tetapi, bagi media, bahasa bukan sekadar alat komunikasi untuk menyampaikan fakta, informasi atau opini, namun juga menentukan gambaran atau citra tertentu yang hendak ditanamkan kepada khalayak. (Alex Sobur:2002, hal 88-89).

Realitas yang ditampilkan media menurut Gun Gun Heryanto (2010:251) adalah realitas yang sudah diseleksi atau sering orang menyebut sebagai realitas tangan kedua (secondhand realty). Sementara kegiatan produksi berita, menurut Ishadi SK (2014:2).  telah mengonstruksi realitas daripada sekadar menggambarkan sebuah realitas.  Dalam keadaan dimana media ditentukan oleh the logic of accumulation and ecxlusion, ungkap Gun Gun Heryanto lagi,  apapun programnya selama menghasilkan uang akan dianggap sebagai sesuatu yang “alami, wajar dan dan sudah seharusnya demikian” Dunia televisi kita misalnya, hingga penghujung tahun ini masing mengusung berbagai femomena ketidakpatutan yang diproduksi secara massal.

Dalam pandangan Firmanzah, berita dan informasi yang dibaca oleh masyarakat boleh jadi tidak mencerminkan keadaan aktual. Media massa dalam hal ini berpotensi sebagai alat propaganda dan manipulasi melalui pemberitaan yang sama sekali tidak mencerminkan kondisi aktual. Dengan kata lain, informasi yang dikonsumsi oleh masyarakat menyesatkan dan menjauhkan masyarakat dari ini permasalahan sebenarnya.

Fungsi Dewan Pers

Padahal Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo menegaskan, wartawan bukan bagian dari tim sukses (timses) atau permainan politik dalam Pilkada dan Pilpres. Wartawan seharusnya jadi wasit. Selain itu Dewan Pers juga meminta kepada petinggi partai politik yang memiliki media, baik TV maupun yang lain untuk tak mempengaruhi independensi wartawan di ruang redaksi. Jika itu terjadi, berarti telah melakukan pelanggaran hukum dan etika jika itu terjadi.

Jauh sebelumnya, Dewan Pers Indonesia telah menerbitkan kode etik jurnalistik yang berisi 11 pasal.  Diantaranya dengan tegas mengatur: wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beriktikad buruk; wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah;  wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul; wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Meskipun pengaturannya sudah cukup jelas dan Ketua Dewan Pers  sudah mengancam dengan  tegas, namun kecendrungan media atau jurnalis terkoptasi atau bahkan di bawah lars dengan oligarki sangat tinggi dan sulit dihindari. Di sisi lain, penegakan hukum yang tegas atas pelanggaran media dan wartawan partisan dan tidak berimbang dalam pemberitaannya, khususnya televisi swasta nasional jarang terdengar. Paling banter teguran lisan, yang di belakang hari acapkali dilanggar kembali.  

Dengan realitas media, jurnalis dan isi media seperti ini—sekalipun tidak bisa dipukul rata—jangan heran dan disalahkan jika konsumen media mainstream (media lama) bermigrasi atau tumpah ruah untuk secara mentah-mentah  mengonsumsi ke media non mainstream atau baru khususnya Media Sosial. Padahal opini atau  informasi di Media Sosial  belum tentu telah  terverifikasi dan akurat. Bahkan bisa saja tak lebih sampah informasi yang telah dipelintir dan penuh dengan jebakan penyesatan. (*)

Tags: jayakartanewsoligarkioligarki media
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

October 19, 2026
LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

October 19, 2026
Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

October 19, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version