Kota Bogor Belum Bisa Buka Kelas Tatap Muka

 Kota Bogor Belum Bisa Buka Kelas Tatap Muka

Kadisdik Kota Bogor H. Fachrudin didampingi pihak Telkomsel Sonny Alexander menyerahkan secara simbolis kartu perdana Simpati kepada siswi Kelas 9/D SMPN 14 di rumah siswi Alin Marlina. (foto: ist)

Jayakarta News – Meski protokol ketat kesehatan di masa pandemi corona dilaksanakan, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor H. Fachrudin masih belum menjamin aman untuk harapan dibuka kembali kelas tatap muka bagi pelajar di Kota hujan. Masalahnya bukan di lingkungan sekolah yang dikuatirkan. Justru interaksi di luar sekolah setelah usai belajar, itu kondisi yang paling berisiko terpapar covid-19.

Jayakarta News mengkonfirmasi hal tersebut kepada Kadisdik Kota Bogor, kemarin (26/8) saat pembagian kuota gratis Telkomsel kepada siswa SMPN 14 Situgede, Kota Bogor melalui program Telkomsel Peduli Merdeka Belajar Jarak Jauh. Menurut Fahmi sebutan akrab Kadisdik, perlu pertimbangan hati-hati dan terukur untuk membuka kembali kelas tatap muka. Meski kita tetap dengan disiplin protokol covid-19.

Memang diakui banyak orangtua murid mulai kewalahan dengan sistem sekolah jarak jauh. Beberapa pimpinan Komite Sekolah sebagai wadah orang tua murid juga mempertanyakannya. Ketua Komite Sekolah SMPN 14 Yonathan Nugraha mengakui keadaan pandemi yang sudah berlangsung enam bulan lebih ini membuat banyak siswa stres. Mereka sudah jenuh dengan libur terpaksa ini. Status sekolah tetap belajar tapi tidak di lingkungan sekolah. Hal tersebut menimbulkan banyak persoalan bagi orangtua siswa.

Keluhan orang tua kebanyakan soal rindu lingkungan sekolah bagi anak-anak mereka. Juga soal mengganggu waktu kerja orang tua. Besarnya biaya kuota telepon hingga makin lemahnya disiplin belajar. Banyak tugas sekolah tidak dikerjakan pada waktunya. Berakibat tugas sekolah tertunda dan menumpuk. Jadi beban tambahan perhatian bagi para orang tua. Mereka perlu kesabaran ekstra membimbing putra-putrinya.

Sekretaris Komite Sekolah SMPN 19 Kota Bogor Alfen Jamil mengakui situasi yang sama dialami orangtua siswa di sekolahnya di Kawasan Ciparigi, Bogor Utara. Dia berharap Dinas Pendidikan terus memantau dan melakukan evaluasi serta kajian serius soal dimungkinkannya sekolah tatap muka. Bisa dilakukan dua kali dalam satu minggu misalnya. Karena harus tetap dengan protokol covid 19 yaitu jaga jarak. Siswa harus menghindari kerumunan di sekolah.

Dia memberi contoh kelas 7, 8 dan 9 di tingkat SMP bisa dibagi hanya dua hari belajar dalam satu minggu. Selebihnya bisa dilaksanakan dengan daring. “Saya kira itu sangat membantu merecovery keadaan mental siswa’  jelas mantan aktivis kampus ini.

Yonathan sepakat ada uji coba sistim tatap muka dengan melaksanakan protokol kesehatan secara ketat.  Kalau ada kekuatiran soal interaksi di luar sekolah, mantan Dirut BUMD ini menyarankan solusi.  “Bisa saja diminta orang tua atau wali wajib antar jemput putra-putrinya.”

Menjawab banyaknya pertanyaan orang tua siswa,  Kadisdik Kota Bogor mengajak untuk dialog dengan pimpinan Komite Sekolah. Mungkin saja ada solusi terbaik yang bisa diusulkan ke Walikota Bogor dan Satuan Tugas Daerah Covid 19. Karena berbagai masukan dan usulan masyarakat akan sangat membantu mengatasi dampak pandemi covid 19. (agus s)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *