Janji Kembali untuk Burung Goreng Ruak-ruak

 Janji Kembali untuk Burung Goreng Ruak-ruak

Burung goreng ruak-ruak khas Pematang Siantar. (foto: monang sitohang)

Jayakarta News – Inilah sejarah lahirnya nama “burung gereja” versi General Manager (GM) Geopark Kaldera Toba, Hidayati. “Sambil menunggu hidangan burung goreng, saya ada joke nih, tentang asal-usul nama burung gereja. Ada yang tahu?” Kami diam menyimak, tak kunjung ada yang jawab.

Bu Ida, sapaan akrabnya, melanjutkan, “Ternyata, burung gereja tuh dulunya bernama burung masjid. Tapi karena takut disunat, lalu mengganti nama mereka menjadi burung gereja….” Yang mendengar spontan tertawa seraya menimpali, “takut dia rupanya…. Sudah kecil, disunat pula…. habislah… ha… ha … ha….”

Jam makan siang sudah lewat dua jam, ketika kami tiba di RM Beringin Indah 1, Pemantang Siantar, Sumatera Utara. Belum reda obrolan ringan berlangsung, hidangan satu per satu datang. Ada tahu goreng, sayur daun singkong, dan seterusnya. Setelah nasi putih, giliran menu utama datang, “burung goreng” !

Model hidangannya menggunakan satu piring melamin lonjong bermotif hijau daun. Di atasnya, terdapat lima ekor burung goreng dengan aroma mengundang rasa. Ituluhan keseluruhan porsi ala rumah makan ini

Ada dua pilihan sambal yang dihidangkan bersamaan. Yang pertama sambal terasi dan yang kedua sambal kecap yang khas sekali rasanya. Khusus sambal kecap, sangat cocok bagi yang kurang suka cabai. Pedasnya sambal ini, berkurang lantaran adonan kecap. Aroma bawang putih serta jeruk limau yang harum, membuat sambal cocok dicocol daging burung goreng.

Ada tiga pilihan burung di RM Beringin Indah: Burung ruak-ruak, merpati, dan puyuh. Siang itu, kami menyantap burung ruak-ruak goreng. Secara ukuran, ruak-ruak memiliki body paling bongsor, dibanding merpati dan puyuh. Akan tetapi, sebesar-besarnya burung goreng, tetap saja lebih kecil dibanding ayam goreng.

RM Beringin Indah 1, Pematang Siantar, Sumatera Utara. (foto: roso daras)

Di restoran yang telah memiliki tiga cabang (satu di Medan, dua di Pematang Siantar) itu, tiga jenis burung itu digoreng utuh. Karena ukuran yang kecil, maka satu porsi berisi lima ekor burung sekaligus. Satu porsi burung goreng ruak-ruak, ideal dimakan untuk dua sampai tiga orang. Sebab memang, satu burung terlalu kecil, dua burung tidak ada kata cukup untuk menu yang satu ini.

Harga satu porsi burung ruak-ruak (lima ekor), dibanderol Rp 90.000. Itu artinya, sama dengan Rp 18.000 per ekor burung. Relatif murah.

Bu Ida yang sering melakukan perjalanan dinas dari Medan ke Toba, menyebut restoran ini menjadi salah satu restoran favoritnya untuk singgah makan. Ia hafal betul setiap nama menu yang ada di situ. Kelihatan dari kefasihannya mengorder menu demi menu makan siang untuk kami yang bersembilan orang.

“Sebelum dimasak, burung ini melalui proses direndam air kelapa. Makanya rasanya enak, dagingnya empuk, dan gurih. Setelah itu, baru di-‘ungkep’,” katanya.

Tampak tumpukan burung ruak-ruak sebelum digoreng menggunakan deep fryer. (foto: monang sitohang)

Sekilas, warna daging burung yang kemerahan mengingatkan kita pada menu ayam atau burung goreng bacem khas Yogyakarta. Tapi, tidak ada tradisi masak bacem di masyarakat Pematang Siantar. Karenanya bisa dipastikan, efek merah pada gorengan burung ruak-ruak itu karena rendaman air kelapa dan proses ‘ungkep’.

Metode ‘ungkep’ membuat daging lebih empuk, serta bumbu yang lebih meresap. Tak heran, jika semua daging yang diungkep sebelum digoreng, memiliki tekstur rasa yang tebal. Persis seperti menu burung goreng ruak-ruak yang ada di RM Beringin Indah, Pematang Siantar ini.

Seberapa enak burung ruak-ruak goreng bisa dideskripsikan? Hm… tidak mudah. Yang jelas, satu ekor burung, terasa kurang. Bisa jadi, jika Anda dalam keadaan lapar, tiga ekor burung ruak-ruak pun bisa habis disantap.

Karena efek rendaman air kelapa, membuat rasa burung gurih cenderung manis. Rasa manis yang tipis dan rasa gurih yang tebal adalah adalah keseluruhan paket rasa burung goreng ruak-ruak. Bisa dikatakan inilah “burung bacem ala Pematang Siantar”.

Bacem yang tidak menggunakan air gula, tetapi air kelapa. Bukankah gula merah didapat dari hasil olahan air kelapa? Cara menggoreng yang menggunakan deep fryer makin menjanjikan tingkat kematangan yang sempurna untuk sebuah rasa yang terjaga.

Pendek kalimat, menyantap daging burung ruak-ruak di Pematang Siantar, adalah pengalaman kuliner yang sangat mengesankan. Kesan yang terbawa pulang adalah sebuah janji kembali, jika berkunjung kesana lain kali. (roso daras)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *