Taman Topi Menghitung Hari

 Taman Topi Menghitung Hari

Tourist Information Center, Taman Topi Bogor. (foto: aliefien s)

Jayakarta News – Entah berapa lama saya tak sambangi Taman Topi. Tempat ini walau hanya bisa merasakan es doger, es duren dan batagor rasanya sudah sah main-main ke Kota Bogor. Perjalanan ‘kangen’ pun dilakukan Selasa 12 November 2019 lalu.

Setibanya di stasiun Bogor, waktu masih menunjukkan pukul 09.00 pagi, masih bisa sarapan rupanya. Melewati jejeran gerai sebelum menuju tap ke luar, tulisan “19.500 gratis teh” menggugah untuk dihampiri.

Masuk ke gerai yang lumayan luas ini tersadar bahwa selama ini saya belum pernah makan di tempat yang menawarkan satu harga untuk berbagai jenis makan berat. Begitu mengucap soto ayam campur satu, tak lebih dua menit, semangkuk soto Lamogan menggugah selera sarapan saya. Sambal dan jeruk nipis ambil sendiri.

Harga Rp19.500 tak mahal namun juga tak murah. Saat ini boleh dibilang menu makan berat di warung padang atau sekelas warung nasi lainnya sudah lumrah dengan harga segitu. Rasa syukur menjadikan kuah soto dengan perasan jeruk nipis dan sambal membuat lupa persoalan hidup. Nikmat.

Langit di Bogor seolah tak mau kalah dengan kuah soto yang panas, matahari pun melaksanakan tugasnya bersinar dengan teriknya. Niat untuk ke Taman Topi harus disegerakan. Ketika mulai masuk Taman Topi, ada yang berbeda dari biasanya. Muram adalah sambutan saat menginjak kembali Taman Topi. Ada apa gerangan? 

Menu Rp 90.500 gratis teh di taman Topi Bogor. (foto: aliefien)

Riwayatmu kini

Mendengar Taman Topi akan berganti wajah cukup membuat syok warga yang biasa menyambangi sarana rekreasi favorit di Kota Bogor ini. Bukan saja para penghuninya yang biasa berjualan atau menjajakan jasanya yang sedang galau menanti akan seperti apa Taman Topi kedepannya.  Kini, masyarakat khususnya warga Kota Bogor juga pnenasaran apa yang bakal menimpa Taman Topi pada akhir 2019 ini.

Seperti diketahui orang nomor satu di Kota Bogor, Bima Arya medio Juli 2019 lalu mengatakan Taman Topi akan diubah menjadi ruang terbuka hijau sebagai alun-alunya Kota Bogor yang akan dimulai perombakannya pada Desember 2019. Kabar inilah yang menjadikan apa yang ada di Taman Topi seolah mati segan hidup tak mau.    

Apalagi pergantian tahun tinggal beberapa waktu lagi. Dan memasuki bulan Desember yang tinggal hitungan hari ini menjadi penantian yang menyiksa. Kegamangan pun tergambar pada orang-orang yang sudah puluhan tahun menjadi penghuni Taman Topi Bogor, salah satu tujuan wisata kuliner dan rekreasi favorit keluarga (1975-2019) ini.

Senyum getir itu terlihat jelas dari wajah Topik penjual es duren yang sudah berjualan selama 20 tahun di Taman Topi. Seolah ingin berkata apakah es durennya akan menjadi kenangan? Hal itu pula yang membuat Topik gusar. 

Pria asal Cirebon ini berkisah suka duka berjualan di area Taman Topi.  Jauh sebelum booming  penggunaan duren sebagai minuman dan makanan, Topik dan bapaknya sudah menjadikan duren sebagai isian rasa es krimnya dan menjualnya di Taman Topi sejak 1980-an.

Kemudahan mengakses Taman Topi membuat ramai pengunjung, jualan es duren Topik pun laris manis. “Kalau akhir pekan bisa bawa pulang sampai Rp1 juta. Kalau hari bisa antara Rp400.000-Rp500.000,” ucap Bapak dua anak ini dengan senang, Selasa (12/11/2019).

Es krim duren yang terkenal di Taman Topi. (foto: aliefien s)

Seiring berjalan waktu, masa jaya Taman Topi berangsur meredup terlebih saat terjadi pembenahan tata kota Bogor. Berawal dari kemacetan yang terjadi di depan pintu masuk atau patung Plaza Kapten Muslihat Taman Topi membuat aparat berwenang Pemerintah Kota Bogor membuat pagar di tengah jalan sebagai penghalang masyarakat untuk menyebrang sembarangan dan hanya bisa menyebrang di Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) yang tersedia.

Topik menilai dengan adanya pagar di tengah jalan tersebut membuat orang malas menggunakan JPO dan akhirnya lambat laut banyak pembeli es duren langanannya menjadi berkurang. Hal itu sudah berlangsung hampir tiga tahun belakangan ini. Namun penurunan omzet yang drastis menurut Topik terjadi saat kontrak pengelola Taman Topi dengan Pemerintah Kota Bogor berakhir Desember 2018 silam.

“Sekarang untuk mendapatkan Rp200.000 sehari susah. Semakin sepi sekarang ini. Apalagi kebersihan Taman Topi juga tidak seperti dulu lagi,” lirih Topik. Topik tak tahu lagi ia harus bagaimana. Sementara waktu terus berjalan, mau tidak mau dirinya hanya bisa memanfaatkan waktu sebelum Desember ini. Harapannya pedagang seperti dirinya diakomodasi oleh Pemerintah Kota Bogor meski nantinya Taman Topi sudah tak ada lagi.

Desember pun menjadi tanya besar bagi orang-orang yang juga mendiami Taman Topi seperti Herman. Herman seorang pemandu wisata yang kerap bermarkas di gerai Tour Information Center  juga sudah mengetahui Taman Topi dalam waktu dekat akan mejadi kenangan. Herman yang sudah melang melintang 29 tahun memandu wisatawan asing ini hanya menunggu waktu saja.   

Pada kesempatan sama Herman menceritakan keberadaan gerai informasi wisata di Taman Topi yang telah berjasa banyak  bagi Herman. Berawal dari suka mengunjungi Kebun Raya hingga kini ia menjadi pemandu wisata, gerai yang di Taman Topi itulah saksi bagaimmana ia mengawali menjadi pemandu wisata.

Menurut Herman perubahan situasi dan kondisi hanya perlu disikapi dengan semangat bekerja lebih baik lagi. Herman menyebut dirinya pun pernah merasakan masa sibuk sebagai pemandu wisata  yakni pada masa sebelum 2013. Ia membandingkan saat itu sehari bisa mengantar tamu asing hingga 40 orang. Sementara lima tahun belakangan ini untuk mengantarkan tamu yang mau jalan-jalan sehari dua orang saja susah bukan kepalang.

Zaman yang berubah diakui Herman sebagai salah satu faktor peminat jasanya terjun bebas. Dahalu orang masih butuh mobil dan butuh pemandu wisata untuk menuju destinasi wisata. Zaman now semuanya bisa dilakukan sendiri melalui gawai. Dengan internet semuanya jadi mudah.

Herman masih tetap bersyukur gempuran teknologi canggih tersebut tak membuat orang asing berkurang menggunakan tenaganya. Terbukti, Herman berterus terang 90 persen yang masih menggunakan jasanya menuju lokasi wisata adalah orang asing.

“Memang kalau bawa tamu lokal bingung juga mau jelaskan apa. Semuanya mereka bisa akses informasinya. Jadi untuk tamu lokal kita sekarang lebih ke fasilitator saja. Kita siapkan sarana prasarananya,” ungkap Herman yang sering mengantarkan turis dari Belanda menuju destinasi alam Bogor seperti Gunung Salak.

Bagi Herman, Taman Topi ada atau tidak ada lagi, dirinya akan mengikuti kemana nasib membawanya. Jika masih ada tempat seperti Tour Information Center ini ia akan tetap menawarkan jasanya untuk mengantarkan pelancong ke pelosok Bogor. “Saya siap antar ke seluruh tempat wisata,” ujarnya. (aliefien s)

Digiqole ad

Related post

1 Comment

  • Sudah lama gak ke Taman Topi. Duh sayang juga kalo sampai taman topi berubah fungsinya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *