Gudang Ilmu yang Dimuseumkan

 Gudang Ilmu yang Dimuseumkan
Museum Nasional di Jalan Medan Merdeka Barat, No.12, Gambir, Jakarta Pusat. (Foto. Monang Sitohang)

JAYAKARTA NEWS – Mengisi liburan dengan mengunjungi museum? Adalah peristiwa langka untuk keluarga zaman now. Lebih banyak keluarga menghabiskan waktu libur mereka dengan mengunjungi pusat perbelanjaan, hang out di kafe, atau berbelanja di supermarket.

Anak milenial jalan-jalan ke museum? Ini sama ajaibnya. Kebanyakan mereka, kalau toh berkunjung ke museum, itu karena tugas sekolah atau kampus. Itu artinya, jika bukan karena kegiatan sekolah atau tugas kampus, hampir bisa dibilang sangat jarang anak muda memilih mengisi aktivitas dengan mengunjungi museum.

Padahal, museum adalah cakrawala. Di sana, banyak hal tentang ilmu pengetahuan bisa didapat. Sebut saja pengetahuan tentang sejarah, seni dan budaya di suatu daerah atau negara, benda-benda bersejarah, peradaban lama, dan banyak hal lain yang sangat menarik. Mengapa menarik? Setidaknya karena merupakan hal baru.

Jika referensi tertulis atau referensi online hanya menyajikan teks dan gambar atau foto, maka di museum kita bisa melihat wujud langsung benda-benda pra-sejarah. Karena itu pula, jika penulis ada kesempatan mengunjungi suatu daerah, dan di daerah itu terdapat museum, maka sebisa mungkin langsung diagendakan untuk dikunjungi.

Seperti baru-baru ini, saat penulis berkesempatan mengunjungi Ibu Kota Jakarta. Waktu yang ada penulis manfaatkan untuk berkunjung ke Museum Nasional di Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Museum ini berada tak jauh dari Istana Negara, Monumen Nasional (Monas) dan sejumlah kantor kementerian. Kawasan museum ini memiliki luas 26.500 m2 terdiri dari dua gedung yakni Gedung A (gedung lama) digunakan untuk memamerkan koleksi museum dan Gedung B (gedung arca).

Museum Nasional ini sudah dikenal masyarakat Indonesia. Sebagian kalangan sering menyebut Museum Nasional dengan Museum Gajah. Karena begitu Anda tiba di di depan Museum Nasional maka di halaman depan terdapat sebuah patung gajah yang terbuat dari perunggu. Patung itu merupakan hadiah yang diberikan oleh Raja Chulalongkom (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum itu tahun 1871.

Dengan tiket masuk Rp 5.000, kita bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan yang sangat banyak. Untuk anak-anak, bahkan hanya dikenakan tarif Rp 2.000. Sedangkan turis asing dikenakan biaya Rp 10.000. Bagi rombongan, lebih murah lagi. Dengan jumlah rombongan minimal 20 anggota, maka per orang dewasa cukup bayar Rp 3.000. Tarif anak dan turis asing, tetap.

Wisatawan asing di lantai satu sedang melihat peninggalan pra-sejarah. (Foto. Monang Sitohang)

Museum ini memiliki jam operasional yang tertentu. Karena itu, informasi ini penting untuk Anda ketahui. Museum Nasional buka setiap hari kecuali hari Senin dan hari libur nasional. Untuk jam buka, harap dicatat, Selasa sampai Jumat buka pukul 08.00 – 16.00 WIB. Hari Sabtu dan Minggu pukul 08.30 – 17.00 WIB.

Setelah mengisi buku tamu dan mendapatkan brosur, pengunjung mulai bisa melakukan perjalanan menikmati berbagai koleksi Museum Nasional. Di pintu masuk sebelah kiri, di depan galeri arkeologi terdapat counter penitipan barang.

“Museum ini sifatnya umum yang terdiri dari berbagai koleksi terutama hasil temuan yang ada di Nusantara, yang awalnya bersifat arkeologis dan benda-benda hasil seni budaya. Secara keseluruhan Museum Nasional menyimpan koleksi lebih dari 160.000 yang diklasifikasikan menjadi tujuh bagian antara lain koleksi prasejarah, arkeologi, numismatik dan heraldik, keramik, etnografi, geografi dan sejarah,” jelas salah seorang petugas informasi Museum Nasional siang itu.

Dengan koleksi selengkap itu, tak heran jika Museum Nasional termasuk salah satu museum terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara. Khusus untuk koleksi arkeologi memiliki jumlah sekitar 14.000, yang merupakan koleksi peninggalan pengaruh kebudayaan, kerajaan-kerajaan Indonesia dan peradaban Hindu dan Budha pada abad V sampai XV masehi. Dan koleksi arkeologi yang ada itu sebagian besar ditemukan di Pulau Jawa Tengah dan Timur.

Untuk koleksi peninggalan arkeologi diketahui sejak kerajaan di Indonesia, dan peradaban masa Hindu dan Budha sekitar abad V, dan ada salah satu prasasti tertua yang ditemukan saat itu, adalah yang tergolong arkeologi prasasti Yupa, atau lebih dikenal dengan prasasti Mulawarman yang merupakan bagian koleksi arkeologi. Karena prasasti itu merupakan tonggak berakhirnya masa prasejarah, setelah ditemukan prasasti sumber tertulis berarti masa prasejarah sudah diangap berakhir.

Taman Arkeologi, tempat menyimpan berbagai arca dan peninggalan-peninggalan yang terbuat dari batu yang dikumpulkan dari Jawa, Bali, Kalimantan dan lainnya. (Foto. Monang Sitohang)

Di kesempatan sama Ria Astuti, petugas informasi di lantai tiga mengatakan Museum Nasional ada empat lantai. Di lantai satu, Manusia dan Lingkungan, Anda dapat menemukan bagian pra-sejarah yang berisi tulang belulang manusia purba, replika manusia purba dan diisi dengan prasasti-prasasti berbentuk batu-batu besar, serta lingkungan yang jadi asal mula dimana Indonesia tumbuh kemudian kapan menurut ilmu pengetahuan adanya manusia.

Lantai dua mengenai Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi. Pengunjung dapat melihat koleksi barang-barang peninggalan yang berhubungan dengan iptek, geografi di masa lampau seperti kendaraan tradisional, delman, sepeda hingga kapal kayu dan lainnya.

Lantai tiga Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman. Di sini tersimpan koleksi barang-barang yang sifatnya kedaerahan seperti miniatur rumah adat, pakaian dan barang-barang lainnya.

Dan lantai empat Khasanah Emas dan Keramik. Di sini tersimpan koleksi barang-barang yang terbuat dari emas, serta harta karun yang ditemukan di Pulau Jawa dan barang regalia ekspedisi militer Belanda.

Mengunjungi Museum Nasional, cukup nyaman karena dilengkapi fasilitas eskalator dan lift. Di bawah terdapat semacam ruang terbuka, yang siang itu sedang terdapat kegiatan pameran kreativitas anak-anak. Letaknya di jalan protokol, memudahkan akses dari segala penjuru dengan moda transportasi Trans Jakarta. (Monang Sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *