Gerakan Semua Wajib Pakai Masker

 Gerakan Semua Wajib Pakai Masker

Ilustrasi– Disiplin Protokol Kesehatan– foto cottonbro/pexels.com

JAYAKARTA NEWS— Gerakan Semua Wajib Pakai Masker terus digencarkan. Penelitian Dokter Derek Chu dan koleganya yang diterbitkan pada 1 juni 2020 tahun lalu menyatakan risiko tertular percikan air atau yang kita kenal sebagai droplet dari orang lain dan masuk ke mulut atau hidung kita turun 45% dengan memakai masker kain. Jika memakai masker bedah, risiko makin turun ke tingkat 70%.

“Terbukti efektif kan?” ujar Dokter Reisa Broto Asmoro sebagaimana dikutip dari laman covid19.go.id

Sebagaimana diketahui Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu menyerukan ‘Gerakan Semua Wajib Pakai Masker’. Seruan ini juga dikumandangkan seluruh dunia untuk bisa menekan penularan Covid-19. “Di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, seruan tersebut dikenal dengan ‘Universal Masking’. Maknanya, semua orang wajib memakai masker,” ujar Reisa, yang juga Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Pemerintah Republik Indonesia.   

Universal Masking dianjurkan karena terbukti dapat memperlambat penyebaran Covid-19. Dokter Reisa menyebut bahwa penelitian Dokter Derek Chu dan koleganya yang diterbitkan pada 1 juni 2020 tahun lalu menyatakan risiko tertular percikan air atau yang kita kenal sebagai droplet dari orang lain dan masuk ke mulut atau hidung kita turun 45% dengan memakai masker kain. 

Dalam rangka melawan varian Delta yang lebih mudah dan cepat menular, maka pemerintah sudah melakukan peningkatan upaya melindungi diri dari penularan Covid-19. Salah satunya adalah dengan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagai upaya menurunkan mobilitas dan menekan kontak antara orang dengan orang. 

Bersamaan dengan PPKM, Pemerintah Indonesia juga menyarakan dimulainya kebiasaan memakai dua atau pakai masker ganda (double masking). Pemakaian masker dobel ini artinya memadukan masker bedah dilapisi dengan masker kain.

“Gunanya? Filtrasi atau daya saring masker akan semakin tinggi/ Penelitian Dr. Emily Sickbert Bennet dkk, membuktikan filtrasi masker dobel naik diatas 80%,” ujar Dokter Reisa. 

Dokter Reisa juga menambahkan bahwa penelitian penggunaaan masker kain dan masker medis secara bersamaan juga di konfirmasi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC di Amerika Serikat. Lembaga yang berpusat di Atlanta tersebut melakukan eksperimen untuk mencari cara meningkatkan efektivitas pemakaian masker medis, termasuk memasang masker kain di atas masker medis.

Eksperimen ini menyoroti pentingnya memaksimalkan fungsi masker menutupi bagian hidung dan mulut. Hasilnya menunjukkan bahwa mengenakan masker yang pas di wajah dapat membantu membatasi penyebaran virus penyebab Covid-19.

Meski masker medis secara substansial mengurangi tetesan droplet, namun pemakaian yang lebih erat dan pas di wajah, tanpa ada ruang yang terbuka, akan membuat partikel aerosol yang mungkin ada pada saat berada di ruang tertutup dengan orang lain dapat tertahan masker kain. 

Penelitian CDC tersebut menunjukkan bahwa masker medis memang ditemukan lebih longgar daripada masker respirator seperti N95, namun efektivitas masker kain dan prosedur medis dapat ditingkatkan dengan memastikan bahwa masker tersebut dipasang dengan baik, sesuai kontur atau bentuk wajah pemakai untuk mencegah kebocoran udara di sekitar tepi masker. 

Penelitian CDC menemukan bahwa mengenakan masker kain di atas masker medis atau penunggunaan masker ganda dapat meningkatkan kesesuaian masker medis di wajah dan mengurangi paparan penerima terhadap aerosol dan partikel droplet dengan ukuran kecil yang dianggap faktor utama penularan SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19. 

“Penelitian tersebut menyatakan bahwa paparan penerima berkurang secara maksimal, lebih dari 95% ketika sumber dan penerima dilengkapi dengan masker ganda,” Dokter Reisa mengutip hasil penelitian CDC tersebut. 

Temuan lainnya, tambah Dokter Reisa, ialah bahwa mengikat tali masker medis dengan bentuk simpul dan meratakan masker medis mengikuti bentuk wajah. 

CDC juga menyatakan bahwa sampai dengan kekebalan populasi yang karena program vaksinasi tercapai, Universal Masking adalah cara yang sangat efektif untuk memperlambat penyebaran SARS-CoV-2.

Apabila dikombinasikan dengan tindakan perlindungan lainnya, seperti menjaga jarak aman sekitar dua meter dari orang lain di tempat umum, menghindari keramaian atau kerumunan terutama di ruang tertutup yang ventilasinya tidak baik,  mengurangi bepergian keluar rumah atau menurunkan mobilitas, dan rajin mencuci tangan sesering mungkin sehingga terjaga selalu kebersihannya, maka, upaya inovatif memakai masker ganda akan mendatangkan banyak manfaat menurunkan jumlah kasus harian. 

Hanya saja, perbedaannya adalah kalau kekebalan kelompok dapat dicapai dengan cakupan vaksinasi lebih dari 70% populasi, Universal Masking harus dilakukan semua orang dalam populasi tersebut. Tanpa kecuali. 

“Universal Masking itu artinya Semua Wajib Pakai Masker,” Dokter Reisa menegaskan. 

Jadi, apabila merujuk temuan Satgas Penganangan Covid-19 yang menyatakan kepatuhan memakai masker nasional baru di tingkat 91%, dokter Reisa mengatakan bahwa,  peluang virus menjangkiti orang lain masih terus terbuka.  

 
“Apalagi kita dengar dari Profesor Wiku Adisasmito bahwa masih ada  sekitar 27,03% dari desa atau kelurahan di Indonesia, memiliki kepatuhan rendah dalam menggunakan masker. Kabar ini tidak baik, terutama kepada mereka yang sudah mematuhi protokol kesehatan dengan baik dan sudah mulai mempraktikkan penggunaan masker ganda dengan baik dan benar,” ujarnya. 

Nah, untuk mereka yang masih belum disiplin memakai masker,Dokter Reisa mengajak kita menghormati hak orang lain untuk tetap sehat. Dan menjadi warga yang bertanggung jawab, bersama-sama sukseskan Gerakan Semua Wajib Pakai Masker atau Universal Masking. ***/ctr

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *