Reisa: Apapun Variannya, Kuncinya Disiplin Prokes dan Vaksinasi Covid

JAYAKARTA NEWS— Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, dr. Reisa Broto Asmoro, menjelaskan bahwa disiplin menerapkan protokol kesehatan dan vaksinasi merupakan kunci utama dalam pencegahan penularan Covid-19, termasuk varian Omicron. Oleh karena itu, Reisa mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan hingga mengurangi mobilitas.

“Karena apapun variannya, pencegahannya tetap sama, disiplin menerapkan protokol kesehatan dan vaksinasi,” jelas Reisa dalam keterangan persnya pada Rabu, 19 Januari 2022, sebagaimana dikutip dari laman covid19.go.id

“Mari ketatkan lagi penggunaan masker tertutama di ruang publik dan ketika kita berinteraksi dengan orang lain, menerapkan jaga jarak, dan mencuci tangan dengan rutin, mengurangi mobilitas hanya untuk keperluan yang sangat penting saja,” ajak Reisa.

Hal tersebut sejalan dengan imbauan Presiden Joko Widodo pada tanggal 18 Januari 2022, yang meminta masyarakat mengurangi kegiatan di pusat keramaian jika tidak memiliki keperluan mendesak. Presiden Jokowi juga menyarankan penerapan work from home bagi yang bisa bekerja dari rumah.

“Beliau juga mengimbau agar tidak melakukan perjalanan ke luar negeri terlebih dahulu, kecuali ada hal yang mendesak,” sambung Reisa.

Selain tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan dan mengurangi mobilitas, hal penting lainnya yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah dengan segera mendaftarkan diri untuk memperoleh vaksinasi.

“Segera mendaftarkan diri untuk mendapatkan vaksinasi, apapun jenis vaksinnya, semua terbukti memberikan perlindungan yang efektif terhadap semua varian, sehingga tidak perlu pilih-pilih merek vaksin,” ajak Reisa.

Seiring dengan upaya dari masyarakat, pemerintah juga terus berupaya untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran virus korona varian Omicron melalui beberapa penyesuaian kebijakan, salah satunya adalah penyesuaian kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh wilayah Indonesia.

“Sudah dikeluarkan melalui Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 3 Tahun 2022 untuk pengaturan PPKM Level 3, 2, 1 di Jawa Bali dan Inmendagri No. 4 Tahun 2022 untuk pengaturan PPKM Level 3, 2, 1 di luar Jawa Bali yang terbit Selasa kemarin, 18 Januari, 2022,” jelas Reisa.

Reisa menjelaskan bahwa secara garis besar pemerintah mempertahankan metode PPKM Natal dan Tahun Baru (Nataru). Penyesuaian hanya pada PPKM di Jawa-Bali di mana hanya masyarakat berstatus hijau di aplikasi PeduliLindungi atau yang sudah vaksin dosis lengkap dan sehat yang diperbolehkan masuk ke tempat publik. Inmendagri Nomor 3/2022 akan berlaku selama satu minggu dari tanggal 18 s.d. 24 Januari 2022, sedangkan Inmendagri Nomor 4/2022 berlaku selama dua minggu, dari tanggal 18 s.d. 31 Januari 2022.***ebn

Gerakan Semua Wajib Pakai Masker

JAYAKARTA NEWS— Gerakan Semua Wajib Pakai Masker terus digencarkan. Penelitian Dokter Derek Chu dan koleganya yang diterbitkan pada 1 juni 2020 tahun lalu menyatakan risiko tertular percikan air atau yang kita kenal sebagai droplet dari orang lain dan masuk ke mulut atau hidung kita turun 45% dengan memakai masker kain. Jika memakai masker bedah, risiko makin turun ke tingkat 70%.

“Terbukti efektif kan?” ujar Dokter Reisa Broto Asmoro sebagaimana dikutip dari laman covid19.go.id

Sebagaimana diketahui Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu menyerukan ‘Gerakan Semua Wajib Pakai Masker’. Seruan ini juga dikumandangkan seluruh dunia untuk bisa menekan penularan Covid-19. “Di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, seruan tersebut dikenal dengan ‘Universal Masking’. Maknanya, semua orang wajib memakai masker,” ujar Reisa, yang juga Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Pemerintah Republik Indonesia.   

Universal Masking dianjurkan karena terbukti dapat memperlambat penyebaran Covid-19. Dokter Reisa menyebut bahwa penelitian Dokter Derek Chu dan koleganya yang diterbitkan pada 1 juni 2020 tahun lalu menyatakan risiko tertular percikan air atau yang kita kenal sebagai droplet dari orang lain dan masuk ke mulut atau hidung kita turun 45% dengan memakai masker kain. 

Dalam rangka melawan varian Delta yang lebih mudah dan cepat menular, maka pemerintah sudah melakukan peningkatan upaya melindungi diri dari penularan Covid-19. Salah satunya adalah dengan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagai upaya menurunkan mobilitas dan menekan kontak antara orang dengan orang. 

Bersamaan dengan PPKM, Pemerintah Indonesia juga menyarakan dimulainya kebiasaan memakai dua atau pakai masker ganda (double masking). Pemakaian masker dobel ini artinya memadukan masker bedah dilapisi dengan masker kain.

“Gunanya? Filtrasi atau daya saring masker akan semakin tinggi/ Penelitian Dr. Emily Sickbert Bennet dkk, membuktikan filtrasi masker dobel naik diatas 80%,” ujar Dokter Reisa. 

Dokter Reisa juga menambahkan bahwa penelitian penggunaaan masker kain dan masker medis secara bersamaan juga di konfirmasi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC di Amerika Serikat. Lembaga yang berpusat di Atlanta tersebut melakukan eksperimen untuk mencari cara meningkatkan efektivitas pemakaian masker medis, termasuk memasang masker kain di atas masker medis.

Eksperimen ini menyoroti pentingnya memaksimalkan fungsi masker menutupi bagian hidung dan mulut. Hasilnya menunjukkan bahwa mengenakan masker yang pas di wajah dapat membantu membatasi penyebaran virus penyebab Covid-19.

Meski masker medis secara substansial mengurangi tetesan droplet, namun pemakaian yang lebih erat dan pas di wajah, tanpa ada ruang yang terbuka, akan membuat partikel aerosol yang mungkin ada pada saat berada di ruang tertutup dengan orang lain dapat tertahan masker kain. 

Penelitian CDC tersebut menunjukkan bahwa masker medis memang ditemukan lebih longgar daripada masker respirator seperti N95, namun efektivitas masker kain dan prosedur medis dapat ditingkatkan dengan memastikan bahwa masker tersebut dipasang dengan baik, sesuai kontur atau bentuk wajah pemakai untuk mencegah kebocoran udara di sekitar tepi masker. 

Penelitian CDC menemukan bahwa mengenakan masker kain di atas masker medis atau penunggunaan masker ganda dapat meningkatkan kesesuaian masker medis di wajah dan mengurangi paparan penerima terhadap aerosol dan partikel droplet dengan ukuran kecil yang dianggap faktor utama penularan SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19. 

“Penelitian tersebut menyatakan bahwa paparan penerima berkurang secara maksimal, lebih dari 95% ketika sumber dan penerima dilengkapi dengan masker ganda,” Dokter Reisa mengutip hasil penelitian CDC tersebut. 

Temuan lainnya, tambah Dokter Reisa, ialah bahwa mengikat tali masker medis dengan bentuk simpul dan meratakan masker medis mengikuti bentuk wajah. 

CDC juga menyatakan bahwa sampai dengan kekebalan populasi yang karena program vaksinasi tercapai, Universal Masking adalah cara yang sangat efektif untuk memperlambat penyebaran SARS-CoV-2.

Apabila dikombinasikan dengan tindakan perlindungan lainnya, seperti menjaga jarak aman sekitar dua meter dari orang lain di tempat umum, menghindari keramaian atau kerumunan terutama di ruang tertutup yang ventilasinya tidak baik,  mengurangi bepergian keluar rumah atau menurunkan mobilitas, dan rajin mencuci tangan sesering mungkin sehingga terjaga selalu kebersihannya, maka, upaya inovatif memakai masker ganda akan mendatangkan banyak manfaat menurunkan jumlah kasus harian. 

Hanya saja, perbedaannya adalah kalau kekebalan kelompok dapat dicapai dengan cakupan vaksinasi lebih dari 70% populasi, Universal Masking harus dilakukan semua orang dalam populasi tersebut. Tanpa kecuali. 

“Universal Masking itu artinya Semua Wajib Pakai Masker,” Dokter Reisa menegaskan. 

Jadi, apabila merujuk temuan Satgas Penganangan Covid-19 yang menyatakan kepatuhan memakai masker nasional baru di tingkat 91%, dokter Reisa mengatakan bahwa,  peluang virus menjangkiti orang lain masih terus terbuka.  

 
“Apalagi kita dengar dari Profesor Wiku Adisasmito bahwa masih ada  sekitar 27,03% dari desa atau kelurahan di Indonesia, memiliki kepatuhan rendah dalam menggunakan masker. Kabar ini tidak baik, terutama kepada mereka yang sudah mematuhi protokol kesehatan dengan baik dan sudah mulai mempraktikkan penggunaan masker ganda dengan baik dan benar,” ujarnya. 

Nah, untuk mereka yang masih belum disiplin memakai masker,Dokter Reisa mengajak kita menghormati hak orang lain untuk tetap sehat. Dan menjadi warga yang bertanggung jawab, bersama-sama sukseskan Gerakan Semua Wajib Pakai Masker atau Universal Masking. ***/ctr